OUR NETWORK

Membaca Sebagai Laku Hidup

Kita akan dapati pemandangan yang seragam, yaitu mayoritas akan kita lihat orang-orang yang asik dengan gadget. Hampir tidak ada yang memegang buku bacaan. Kalaupun ada, ini sangat jarang sekali terjadi.

Membaca, bukan perkara hobi atau kebutuhan belajar di sekolah dan bangku kuliah. Lebih dari itu, membaca adalah sebuah laku hidup. Dengan membaca kita berupaya untuk menyelami teks bacaan dan sekaligus teks diri kita sendiri. Apa yang kita cari dan seharusnya kita temukan dalam kegiatan membaca adalah, diri kita sendiri. Oleh karenanya, saya menyebut kegiatan membaca sebagai Laku Hidup.

Sekarang mari kita coba perhatikan situasi tempat-tempat umum di sekitar kita. Misalnya di ruang tunggu bandara, stasiun kereta, dan halte busway. Aktivitas apa yang biasa dilakukan oleh mayoritas orang (untuk tak mengatakan semuanya) saat mengisi waktu senggang tersebut? Kita akan dapati pemandangan yang seragam, yaitu mayoritas akan kita lihat orang-orang yang asik dengan gadget. Hampir tidak ada yang memegang buku bacaan. Kalaupun ada, ini sangat jarang sekali terjadi.

Fenomena di atas juga bisa kita dapati dalam acara pertemuan-pertemuan di masyarakat, baik itu saat arisan, atau reuni pertemanan, maka fenomena gadget mindedakan sangat mudah dijumpai. Dunia ada di telunjuk jemari. Demikian kata yang menggambarkan kondisi, dimana gadget menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kita.

Pakar marketing Hermawan Kartajaya pernah berkata dalam sebuah seminar di Hotel Ritz Carlton Jakarta, “kalau orang zaman dulu prinsipnya makan gak makan yang penting kumpul. Tapi orang zaman sekarang berbeda, makan gak makan yang penting connect”. Maksudnya adalah connectdengan internet, yang seringkali berupa media sosial.

Islam adalah peradaban teks, demikian tulis Nidhal Gousoum dalam karyanya “Islam dan Sains Modern” (2014). Pernyataan dari professor dari American University of Sharjah, Uni Emirat Arab tersebut sejalan adanya dengan ayat dari kitab suci Al Quran yang pertama turun, Iqra, Bacalah!

Profesor yang memiliki penguasaan fasih dalam khazanah ilmu klasik Islam dan juga sains modern, mengingatkan bahwa Islam sebagai sebuah agama dan ajaran, bukan hanya sangat menghargai, dan menghormati teks, bahkan lebih dari itu tak bisa dipisahkan dengan teks. Karena memang sumber utama ajaran Islam harus dirujukkan kepada Al Quran dan Hadist, juga Sunnah. Dimana hal ini menuntut ketekunan, kegigihan dan keuletan dalam kegiatan membaca.

Tanpa adanya budaya baca yang tinggi, akan sulit rasanya ajaran Islam dapat dijalankan secara sempurna (kaffah). Sayangnya, ke kaffah an dalam ber-Islam hari ini lebih nyaring disuarakan dengan sudut pandang politik berupa pengauasaan akan kursi kekuasaan. Dan cenderung mengabaikan sisi intelektualitas berupa menyuburkan tradisi intelektualitas seperti tradisi memabaca. Padahal, membaca merupakan firman pertama dan ini berarti juga perintah pertama Tuhan kepada kaum muslim.

Tanah air kita, sebagai negeri muslim terbesar di muka bumi, ternyata tak mampu menjadi teladan dalam hal budaya baca. Dari data yang pernah dirilis oleh UNESCO tahun 2012, indeks baca masyarakat kita 0,001. Artinya dari jumlah seribu penduduk, hanya ada satu orang yang mau dan mampu membaca secara serius. Penelitian lainnya, misalnya dari Central Connecticut State University, USA, ternyata hasilnya senada dengan informasi dari UNESCO, yang menempatkan tanah air kita pada posisi ke-60 dari total 61 negara yang disurvey perihal budaya baca.

Pernahkah Anda membayangkan, bagaimana jika ayat Al Quran yang pertama kali turun bukan berbunyi Iqra’ maka akan seperti apa wajah budaya baca bangsa kita ini. Jika ayat yang pertama kali turun saja tak mampu meng encourage para pemeluknya untuk diyakinkan akan penting dan perlunya membaca. Adakah yang salah dengan ayat tersebut ? Atau justru persepsi dan pemahaman kita yang kurang tepat akan makna ayat yang pertama kali turun tersebut. Hingga tradisi membaca kita menjadi babak belur tak karuan seperti sekarang ini.

Data penelitian tentang rendahnya budaya baca bangsa kita di atas, mungkin bagi sebagian kalangan masih akan diperdebatkan dan digugat validitasnya. Namun indikasi lainnya dapat kita lihat pada kondisi dunia perbukuan tanah air. Terkenal istilah kutukan 3,000 di kalangan perbukuan tanah air, dimana setiap judul buku yang dicetak umumnya hanya sejumlah 3,000. Bahkan saat ini banyak buku yang cetak terbatas di bawah angka 3,000. Jika kita bandingkan dengan Turki, yang jumlah penduduknya sepertiga kita, namun rata-rata per bukunya dapat dicetak tiga kali lipat kita, sejumlah 10,000.

Perihal buku, yang seringkali dijadikan keluhan kebanyakan orang terkait dengan harga yang dianggap mahal. Namun kita bisa saksikan betapa bioskop XXI di kala weekend tak pernah sepi. Juga fakta menarik lainnya, misalnya beberapa jenis gadget memilih tanah air sebagai tempat launching perdana di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa perkara rendahnya budaya baca tidak sekaku karena harga. Juga bukan karena masyarakat tak mampu membelinya. Namun masalahnya adalah, karena cinta dan perhatian kita yang cukup rendah dalam menghargai sebuah budaya membaca.

Jika di Amerika, seorang pemimpin perusahaan merasa belum beradab jika tidak mampu menyediakan ruang perpustakaan di perusahaannya. Maka di sini sebaliknya, mungkin beberapa bos bos perusahaan akan terheran-heran dengan anak buahnya yang suka membaca.

Seloroh yang acap terdengar ialah, “Buat apa membaca buku-buku, toh juga takkan berdampak bagi karier dan belum tentu bisa diterapkan dalam pekerjaan”. Bagi masyarakat yang imajinasinya masih terjebak sebatas pada urusan makan dan kenyang, keindahan bacaan memang tak mampu dibayangkannya. Kita akan kesulitan memahami kata Jorge Luis Borgez yang mengatakan, “I have always imagined that paradise will be a kind of library”.

Nicholass Carr, pernah menerbitkan hasil penelitiannya tentang dampak internet bagi kehidupan, dalam buku The Shallow (2012) ia menyimpulkan, ternyata internet menyebabkan kedangkalan berpikir. Luberan informasi ternyata tidak ekuivalen dengan meningkatnya kecerdasan penggunanya.

Di tengah kehidupan berlimpah ruah informasi seperti sekarang ini, ternyata justru menghilangkan kemampuan kita untuk berpikir secara mendalam. Kelimpah ruahan informasi. Ironisnya, ternyata limpahan informasi tidak parallel dengan limpahan saling pengertian sesama kita. Sebaliknya justru berbarengan dengan semakin meruyaknya ujaran kebencian, permusuhan, dan hoax yang menyebar sangat cepat seperti cendawan di musim hujan di tengah-tengah kehidupan kita.

Mengapa hoax begitu mudah menyebar dalam lingkungan kita, salah satunya karena budaya baca di masyarakat kita masih sangat rendah dan belum mapan. Akibatnya daya berpikir kritis kitapun tak cukup memadai untuk merespon informasi yang datang bertubi-tubi. Dan kebiasaan mempertanyakan validitas informasi juga belum terbiasa. Maka kegiatan membaca perlu kita tegakkan sebagai Laku Hidup kita sehari-hari.

Penulis (Embun Kerinduan), Bergiat di Rumi Institute Jakarta & Center of Living Islamic Philosophy Jakarta IG: raewellmina / FB: rae wellmina / Twitter : @RaeWellmina / Youtube : Rumi Institute

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…