Sabtu, Oktober 31, 2020

Memanusiakan Manusia dengan Cara Jawa

Dilema Intelektual Muslim dalam Revitalisasi Peradaban Tauhid

Pembahasan tentang peradaban memang tidak akan ada habisnya, khususnya peradaban Islam. Pada masanya, Islam pernah menjadi sistem aturan hidup yang memberi kesejahteraan, kebahagiaan serta...

Bangkit Membangun Bangsa

Pada 8 dan 9 Mei 2018 terjadi tragedi peledakan bom di Jawa Timur. Baik peristiwa peledakan di Surabaya, Wonocolo, dan Sidoarjo, memiliki sebuah benang...

‘Merdeka’ dari Politik Uang

Indonesia saat ini memasuki usia 75 tahun Kemerdekaan, jika dahulu para founding father melawan penjajah dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Saat ini bangsa Indonesia menghadapi ‘musuh’...

Belenggu Angka Penyelesaian Sengketa Pemilukada di MK

Mahkamah Konstitusi (MK) telah memutus kurang lebih 57 kasus tentang Perselisihan Hasil Pemilihan (PHP) Kepala Daerah yang dikeluarkan pada bulan Agustus ini. Hampir seluruh...
Ahmad Ashim Muttaqin
Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang.

Salah satu etika Jawa adalah keselarasan antara manusia. Berangkat dari pendapat tersebut, bisa dikatakan bahwa etika Jawa sangat merefleksikan tentang hubungan kosmis, yaitu antara manusia satu dengan manusia lain. Suatu hubungan yang dapat menjadi dasar didalam mencipotakan suatu kedamaian di dunia. Kedamaian yang menjadi faktor terciptanya ketentraman hidup manusia. Karena perang yang menimbulkan banyak jiwa, raga, harta dan benda.

Di dalam kehidupan di dunia, manusia niscaya berhubungan dengan manusia yang lain. Agar hubungan ini tetap terjalin baik, manusia harus memulai hubungan di dalam keluarga terlebih dahulu. Hubungan antara suami dengan ibu dan anak-anaknya. Bila hubungan anggota keluarga di dalam satu rumah tanga sudah berjalan baik, kemudian ditingkatkan pada hubungan antar tetangga, teman, saudara dan sebagainya.

Hubungan ditingkatkan lagi antara kelompok manusia satu dengan lainnya tanpa memandang suku, agama, dan ras. Kemudian hubungan ditingkatkan lagi antara rakyat dengan pemerintah di dalam suatu negara. Terkahir, hubungan harus dikembangkan pada lingkup lebih luas, yaitu antara negara satu dengan lainnnya, sehingga kedamaian di dunia bisa tercipta.

Di lingkup masyarakat Jawa, etika yang diterapkan oleh seseorang sangat dicirikan ketika menjalin hubngan dengan orang lain. Apabila hubungan mereka berlangsung baik, maka etika yang diterapkan oleh salah seorang adalah etika baik. Apabila hubungan mereka tidak berjalan lancar, maka salah seorang diantara keduanya tidak menerapkan etika yang baik. Sehingga hubungan persahabatan yang semula dijalin berubah menjadi perseteruan.

Meskipun persahabatan antara manusia satu dengan lainnya berakhir pada perseteruan, namun salah seorang memakluminya atas etika yang dilakukan oleh sahabatnya itu. Sehingga dari sini dapat ditarik kesimpulan, bahwa orang Jawa itu suka memaklumi perbuatan kurang baik yang dilakukan orang lain. Padahal perbuatan tersebut telah merugikannya.

Masyarakat Jawa memang dikenal dengan kesabaran dan kelembutan hatinya. Mereka sangat memegang erat filosofi andhap asor, nrimo, dan  ajadumeh.  Andhap asor mengajarkan kepada manusia untuk bersikap rendah hati dan ikhlas terhadap apa yang telah digariskan oleh Sang Pencipta.

Nrimo mengajarkan kepada manusia untuk bersikap hidup yang tidak memaksakan kehendak, atau tidak bersikap ambisius. Ajadumeh mengajarkan kepada manusia agar tidak sok atau sombong saat hidup bergelimang harta dan benda atau saat berkuasa. Ketiga hal tersebut diajarkan oleh nenek moyang masyarakat Jawa dan masih sangat relevan hingga saat ini.

Dan yang mencirikan masyarakat Jawa, adalah melestarikan budaya warisan nenek moyangnya. Salah satu budaya leluhur tersebut, yaitu upacara adat yang dilaksanakan secara turun temurun. Namun sesudah budaya modern mulai menjangkiti masyarakat Jawa, satu per satu upacara adat tersebut seperti ditelan zaman. Meskipun masih ada beberapa upacara adat yang hingga sekarang dilestarikan oleh sebagian masyarakat.

Upacara adat di Jawa senantiasa berhubungan dengan 3 hal, yaitu berhubungan dengan kehidupan manusia, berhubungan dengan alam, serta berhubungan dengan agama dan kepercayan. Dari sini dapat ditangkap, bahwa masyarakat Jawa sangat mendambakan hubungan dinamis antara manusia dengan alam dan Tuhan. Hubungan ideal antara mikrokosmis (jagad alit) dan makrokosmis (jagad ageng), yang mengarah pada hamemayu hayuning pribadi, hamemayu hayuning kaluwarga, hamemayu hayuning sasama, dan hamemayu hayuning bawana.

Sebagai hamba Tuhan yang mulia, keberadaan manusia sejak berada dalam Rahim ibu hingga kematiannya sangat dihargai oleh masyarakat Jawa. Berbagai upacara adat dilaksanakan agar keberadan manusia di muka bumi akan mendapatkan keselamatan dan kesentosaan, memiliki keutamaan budi, ketajaman intelektual, dan kepekaan rasa, memperoleh derajat yang tinggi, berbakti kepada Tuhan, serta mendapatkan surga.

Ketika manusia masih berupa janin di rahim ibu, masyarakat Jawa melaksanakan serentetan upacara adat, antara lain; ngebor-ngebori, ngloroni, neloni, ngapati, nglimani, ngenemi, mitoni/tingkeban, ngwoluni dan nyangani. Upacara tingkeban ditandai dengan siraman sepasang suami istri, memberikan filosofis agar bayi yang kelak dilahirkan ibunya itu mendapatkan pitulungan (mitoni/tujuh) atau pertolongan dari Tuhan.

Bila seorang ibu telah melahirkan bayinya, maka masyarakat Jawa kembali melakukan upacara adat, seperti mengubu ari-ari, brokohan, sepasaran, kekahan, puput puser, selapanan dan matang puluhi. Selama seminggu setelah kelahiran bayi, masyarakat Jawa juga melaksanakan jagongan. Di masa silam, orang-orang lelaki yang melakukan jagongan sambil mengidungkan tembang-tembang berisikan tentang ajaran-ajarn leluhur Jawa.

Penghargaan dan penghormatan masyarakat Jawa kepada manusia bukan sekedar ketika masih hidup, namun juga ketika sudah mati. Serangkaian upacara adat yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa kepada manusia yang telah meninggal, yaitu bedhah bumi, surtanah, nelung dina, mitung dina, pendhak pisan, nyewu dan ngekoli. Secara filosofis, serangkaian upacara adat tersebut mengajarkan manusia agar senantiasa memberikan doa kepada sesamanya yang meninggal. Sebab, doa tersebut diharapkan dapat menjadi sarana bagi seseorang yang telah meninggal akan mendapat suatu tempat terbaik di alam kelanggengan-nya.

Sebegitu luasnya khazanah etika dan budaya masyarakat Jawa. Yang menjadikan manusia sebagai manusia sebenarnya. Tanpa mengurangi haknya dan melebihkan derajatnya. Serta menjaga keharmonisan dan keselarasan pada setiap dimensi kehidupan. Bisa dibayangkan apabila masyarakat dunia menerapkan etika Jawa ini, maka tidak akan ada lagi peperangan dan permusuhan.

Ahmad Ashim Muttaqin
Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menjaga Kesehatan Tubuh dari Covid-19

Menjaga kesehatan menjadi hal yang penting dilakukan semua kalangan. Apalagi dengan kondisi alam yang semakin merabahnya virus covid 19. Terkadang hal sederhana yang rutin...

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.