Senin, Januari 18, 2021

Memanusiakan Manusia dengan Cara Jawa

Ruang Dialog dalam Pembelajaran Agama di Sekolah, Mungkinkah?

Pembelajaran agama diharapkan memberikan kontribusi penting dalam penanaman budi pekerti pada individu. Pembelajaran agama yang di dalamnya terdapat proses peningkatan pengetahuan, penanaman sikap serta...

Data Statistik di Tengah Hiruk Pikuk Tahun Politik

Tahun politik sudah datang. Hiruk pikuk persiapannya mulai lalu lalang di setiap lini kehidupan. Televisi, koran, kanal berita online, bahkan baliho-baliho di pinggir jalan mulai...

Clickbait dan Judul Provokatif Media Sudah Tidak Sehat Lagi

Bagi sebuah organisasi, media massa bisa dijadikan sebagai kawan maupun lawan, sebab kebaradaannya bisa saja menguntungkan dan bisa pula merugikan. Hal ini tidak terlepas...

Menyoal Fungsi Legislasi DPD

Lumrahnya, lembaga legislatif adalah lembaga pembuat undang-undang. Demikianlah teori hukum bersabda. Dimana, dalam satu negara hukum, kekuasaan harus dibagi dan didistribusikan ke banyak cabang...
Ahmad Ashim Muttaqin
Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang.

Salah satu etika Jawa adalah keselarasan antara manusia. Berangkat dari pendapat tersebut, bisa dikatakan bahwa etika Jawa sangat merefleksikan tentang hubungan kosmis, yaitu antara manusia satu dengan manusia lain. Suatu hubungan yang dapat menjadi dasar didalam mencipotakan suatu kedamaian di dunia. Kedamaian yang menjadi faktor terciptanya ketentraman hidup manusia. Karena perang yang menimbulkan banyak jiwa, raga, harta dan benda.

Di dalam kehidupan di dunia, manusia niscaya berhubungan dengan manusia yang lain. Agar hubungan ini tetap terjalin baik, manusia harus memulai hubungan di dalam keluarga terlebih dahulu. Hubungan antara suami dengan ibu dan anak-anaknya. Bila hubungan anggota keluarga di dalam satu rumah tanga sudah berjalan baik, kemudian ditingkatkan pada hubungan antar tetangga, teman, saudara dan sebagainya.

Hubungan ditingkatkan lagi antara kelompok manusia satu dengan lainnya tanpa memandang suku, agama, dan ras. Kemudian hubungan ditingkatkan lagi antara rakyat dengan pemerintah di dalam suatu negara. Terkahir, hubungan harus dikembangkan pada lingkup lebih luas, yaitu antara negara satu dengan lainnnya, sehingga kedamaian di dunia bisa tercipta.

Di lingkup masyarakat Jawa, etika yang diterapkan oleh seseorang sangat dicirikan ketika menjalin hubngan dengan orang lain. Apabila hubungan mereka berlangsung baik, maka etika yang diterapkan oleh salah seorang adalah etika baik. Apabila hubungan mereka tidak berjalan lancar, maka salah seorang diantara keduanya tidak menerapkan etika yang baik. Sehingga hubungan persahabatan yang semula dijalin berubah menjadi perseteruan.

Meskipun persahabatan antara manusia satu dengan lainnya berakhir pada perseteruan, namun salah seorang memakluminya atas etika yang dilakukan oleh sahabatnya itu. Sehingga dari sini dapat ditarik kesimpulan, bahwa orang Jawa itu suka memaklumi perbuatan kurang baik yang dilakukan orang lain. Padahal perbuatan tersebut telah merugikannya.

Masyarakat Jawa memang dikenal dengan kesabaran dan kelembutan hatinya. Mereka sangat memegang erat filosofi andhap asor, nrimo, dan  ajadumeh.  Andhap asor mengajarkan kepada manusia untuk bersikap rendah hati dan ikhlas terhadap apa yang telah digariskan oleh Sang Pencipta.

Nrimo mengajarkan kepada manusia untuk bersikap hidup yang tidak memaksakan kehendak, atau tidak bersikap ambisius. Ajadumeh mengajarkan kepada manusia agar tidak sok atau sombong saat hidup bergelimang harta dan benda atau saat berkuasa. Ketiga hal tersebut diajarkan oleh nenek moyang masyarakat Jawa dan masih sangat relevan hingga saat ini.

Dan yang mencirikan masyarakat Jawa, adalah melestarikan budaya warisan nenek moyangnya. Salah satu budaya leluhur tersebut, yaitu upacara adat yang dilaksanakan secara turun temurun. Namun sesudah budaya modern mulai menjangkiti masyarakat Jawa, satu per satu upacara adat tersebut seperti ditelan zaman. Meskipun masih ada beberapa upacara adat yang hingga sekarang dilestarikan oleh sebagian masyarakat.

Upacara adat di Jawa senantiasa berhubungan dengan 3 hal, yaitu berhubungan dengan kehidupan manusia, berhubungan dengan alam, serta berhubungan dengan agama dan kepercayan. Dari sini dapat ditangkap, bahwa masyarakat Jawa sangat mendambakan hubungan dinamis antara manusia dengan alam dan Tuhan. Hubungan ideal antara mikrokosmis (jagad alit) dan makrokosmis (jagad ageng), yang mengarah pada hamemayu hayuning pribadi, hamemayu hayuning kaluwarga, hamemayu hayuning sasama, dan hamemayu hayuning bawana.

Sebagai hamba Tuhan yang mulia, keberadaan manusia sejak berada dalam Rahim ibu hingga kematiannya sangat dihargai oleh masyarakat Jawa. Berbagai upacara adat dilaksanakan agar keberadan manusia di muka bumi akan mendapatkan keselamatan dan kesentosaan, memiliki keutamaan budi, ketajaman intelektual, dan kepekaan rasa, memperoleh derajat yang tinggi, berbakti kepada Tuhan, serta mendapatkan surga.

Ketika manusia masih berupa janin di rahim ibu, masyarakat Jawa melaksanakan serentetan upacara adat, antara lain; ngebor-ngebori, ngloroni, neloni, ngapati, nglimani, ngenemi, mitoni/tingkeban, ngwoluni dan nyangani. Upacara tingkeban ditandai dengan siraman sepasang suami istri, memberikan filosofis agar bayi yang kelak dilahirkan ibunya itu mendapatkan pitulungan (mitoni/tujuh) atau pertolongan dari Tuhan.

Bila seorang ibu telah melahirkan bayinya, maka masyarakat Jawa kembali melakukan upacara adat, seperti mengubu ari-ari, brokohan, sepasaran, kekahan, puput puser, selapanan dan matang puluhi. Selama seminggu setelah kelahiran bayi, masyarakat Jawa juga melaksanakan jagongan. Di masa silam, orang-orang lelaki yang melakukan jagongan sambil mengidungkan tembang-tembang berisikan tentang ajaran-ajarn leluhur Jawa.

Penghargaan dan penghormatan masyarakat Jawa kepada manusia bukan sekedar ketika masih hidup, namun juga ketika sudah mati. Serangkaian upacara adat yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa kepada manusia yang telah meninggal, yaitu bedhah bumi, surtanah, nelung dina, mitung dina, pendhak pisan, nyewu dan ngekoli. Secara filosofis, serangkaian upacara adat tersebut mengajarkan manusia agar senantiasa memberikan doa kepada sesamanya yang meninggal. Sebab, doa tersebut diharapkan dapat menjadi sarana bagi seseorang yang telah meninggal akan mendapat suatu tempat terbaik di alam kelanggengan-nya.

Sebegitu luasnya khazanah etika dan budaya masyarakat Jawa. Yang menjadikan manusia sebagai manusia sebenarnya. Tanpa mengurangi haknya dan melebihkan derajatnya. Serta menjaga keharmonisan dan keselarasan pada setiap dimensi kehidupan. Bisa dibayangkan apabila masyarakat dunia menerapkan etika Jawa ini, maka tidak akan ada lagi peperangan dan permusuhan.

Ahmad Ashim Muttaqin
Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.