OUR NETWORK

Memanusiakan Aplikasi Ojek Online

Dengan seenaknya jemari memencet cancel dan mengetik komentar buruk, tanpa mempertimbangkan dampak yang terjadi pada si driver yang bisa saja langsung kehilangan pekerjaan.
Ilustrasi. Gojek. Antara

Ojek Online atau yang acap kali dibunyikan Ojol seketika menjadi primadona di Indonesia sejak kelahirannya beberapa tahun silam. Untuk wilayah Banjarmasin khususnya, kehadiran Ojol ini baru seumur jagung, tetapi pengguna dan armadanya sudah sangat banyak.

Antusiasme masyarakat terhadap kehadiran Ojol ini tentu dilatarbelakangi oleh banyak hal. Selain aplikasinya yang bisa dengan mudah diunduh melalui play store, Aplikasi Ojol khususnya Go-Jek menawarkan sesuatu yang abstrak, tetapi sangat dibutuhkan oleh masyarakat modern kekinian. Ia tidak berbentuk barang, melainkan jasa.

Mari teroka aplikasi Go-Jek, beragam kemudahan ditawarkan olehnya. Hanya dengan satu aplikasi, pengguna sudah bisa mengakses banyak jasa. Go-Jek tidak hanya menawarkan Go-Ride dan Go-Car tetapi juga ada Go-food, Go-Clean, Go-Massage Go-Shop, dan Go-Send . Aplikasi ini nampak mengait-kelindankan kemampuan teknologi dan manusia, di mana teknologi menjadi perantara untuk memesan sebuah jasa dari seorang manusia.

Kolaborasi yang apik antara ciptaan manusia (teknologi) dan ciptaan Tuhan (manusia) yang menyatu dalam sebuah aplikasi ini tentu memberikan dampak yang signifikan dalam kelangsungan hidup. Bagi para mitra (driver), keberadaan Go-Jek tentu menjadi lahan yang subur untuk menyemai rupiah demi menghidupi keluarga. Jam kerja yang fleksibel serta bonus yang diberikan membuat mereka bersemangat untuk bekerja. Selain itu, syarat untuk bergabung pun tak rumit.

Salah seorang driver yang saya temui pada akhir Maret 2018 berujar, untuk Go-Car sendiri, setiap 15 transaksi, bonus yang mereka peroleh mencapai Rp. 300.000,00. Belum lagi ditambah dengan bonus lain apabila performa mereka (yang ditandai dengan pemberian bintang) dianggap bagus dan tarif yang dibayar penumpang. Driver Go-Jek yang saya naiki waktu di Yogyakarta tahun lalu mengaku pernah mendapatkan untung bersih sebesar 10 Juta dalam satu bulan.

Dari sudut pandang pengguna (customer), kehadiran aplikasi ini juga mempermudah mereka. Cukup dengan sekali pencet, seseorang akan datang dan memberikan jasanya sesuai dengan pesanan anda. Canggihnya lagi, anda dapat memantau dan memberi evaluasi secara langsung terhadap kinerja mereka dengan fasilitas pemberian bintang dan komentar. Dengan kata lain, nasib mereka ada di tangan anda.

Drama Dehumanisasi

Keterlibatan pengguna dalam memberikan penilaian terhadap sang driver atau mitra Go-Jek yang mereka pesan sesuai jasa yang dibutuhkan bisa dilihat dari dua sisi. Dengan aturan ini, mitra Go-Jek tentu akan memberikan pelayanan yang maksimal terhadap pengguna agar memperoleh timbal balik yang positif. Akan tetapi, tak jarang para pengguna bersikap seenaknya, bak raja yang berhak bertindak sesuka hati terhadap rakyatnya.

Beberapa bulan yang lalu, media sosial diramaikan dengan unggahan seorang driver ojol yang mengaku kehilangan pekerjaan dikarenakan seorang pengguna memberikan bintang rendah dan komentar negatif. Alasannya hanya karena plat mobilnya tidak sesuai dengan yang tertera di aplikasi.

Ada lagi unggahan lain yang menyiratkan kesemena-menaan yang sama. Dalam unggahan itu diceritakan bahwa si pengguna memberikan komentar negatif yang berujung pembekuan akun sang driver dikarenakan sang pengguna terlalu lama menunggu uang kembalian dari driver.

Kala itu, pengguna memberikan uang Rp. 100.000, sementara argonya hanya Rp. 8.000,00. Karena tidak kunjung menemukan uang kembalian dalam waktu yang lama, akhirnya si driver menggratiskan ongkosnya. Sang pengguna yang merasa menunggu lama, tak terima dengan perlakuan tersebut, hingga akhirnya memberi pengguna respons negatif, tak peduli sang driver sudah berbaik hati menggratiskan perjalanannya.

Belum lagi kisah pilu lainnya perihal pesanan Go-Food, di mana sang pengguna tiba-tiba membatalkan pesanan yang sudah dibayar sang driver, hanya karena telalu lama menunggu. Dengan seenaknya jemari memencet cancel dan mengetik komentar buruk, tanpa mempertimbangkan dampak yang terjadi pada si driver yang bisa saja langsung kehilangan pekerjaan.

Tindakan semena-mena yang dilakukan oleh para pengguna ini sungguh ironis. Posisi pengguna laiknya majikan pada aplikasi seakan menumbukan kembali benih-benih feodalisme di mana mereka memiliki kekuasaan penuh atas para driver. Pada akhirnya, keadaan ini menerbitkan dehumanisasi yang tanpa disadari mengikis rasa empati, menyuburkan egoisme dan melunturkan kepedulian. Mengapa ini bisa terjadi?

Kecanggihan teknologi yang dikemas dalam aplikasi ojek online ini memang mengagumkan. Namun, pengguna tak jarang dibuat lupa bahwa aplikasi hanyalah perantara untuk mengakomodir pesanan jasa yang nantinya akan dikerjakan oleh seorang manusia.

Keterlenaan terhadap kemudahaan yang diberikan oleh teknologi menguliti kesadaran mereka. Pemesanan lewat aplikasi tidak memberi ruang interaksi secara langsung antara yang meminta dan yang dipintai. Tidak ada komunikasi hangat yang terjalin sebagaimana permintaan tolong pada umumnya.

Yang nampak adalah hubungan seorang majikan dan pesuruh. Arkian, sebagian dari mereka memposisikan sang driver sebagai robot, yang dianggap tidak memiliki kehidupan, kepentingan, perasaan, dan bisa diperlakukan sesuka hati.

Rangkaian kejadian ini kiranya cukup menjadi bukti bahwa keberadaan aplikasi ojol tanpa disadari membangkitkan kondisi yang tidak berperikemanusian, atau paling tidak, mengabaikan nilai kemanusian–dehumanisasi.

Sistem aplikasi juga tak memberikan ruang untuk berkompromi. Akun sang driver serta-merta akan dibekukan jika performa mereka menurun dan mereka terdeteksi melakukan pelanggaran. Performa ini ditentukan oleh pemberian bintang dan komentar dari para pengguna

Pembekuan (suspend) secara otomatis oleh sistem ini bisa berlaku beberapa jam, hari, atau bahkan bulan. Kemungkinan terburuknya, akun mereka tidak bisa dipakai untuk menerima pesanan lagi (baca: putus mitra). Ada dua jenis suspend yang diberikan, yaitu Auto-Suspend (pembekuan secara otomatis, apabila driver melanggar aturan seperti melakukan orderan fiktif), dan Manual-Suspend (pembekuan akibat laporan dari pihak lain, sebagaimana contoh kasus di atas).

Teknologi yang pada dasarnya ciptaan manusia, tentu tidak memiliki akal untuk mempertimbangkan sesuatu. Pun, tak memiliki perasaan untuk bersimpati dan berempati dengan orang lain, termasuk dengan driver yang bisa jadi tidak sepenuhnya salah. Pada titik inilah peran aplikator muncul untuk memidiasi menemukan solusi yang tepat.

Kemudahan yang ditawarkan teknologi, khususnya keberadaan aplikasi ojek online, seyogyanya membuat kita menjadi semakin bijaksana dan menghargai orang lain. Bagaimanapun, pada hakikatnya, kita meminta bantuan dari mereka, baik untuk mengantar-jemput, membelikan makanan dan mengantarkan barang ke tempat lain.

Meskipun sebenarnya ini sudah menjadi pekerjaan mereka yang kita bayar, tapi tak ada salahnya untuk bersikap baik dan tidak semena-mena. Sebab, yang mengerjakan tetap manusia, bukan aplikasinya. Fakta bahwa pengguna adalah raja tidaklah bisa ditampik, tetapi raja era kiwari kiranya tak perlu bermental feodal lagi.

Sebaliknya, jadilah raja yang bijaksana dan menjunjung tinggi nilai-nilai humanis. Bukankah agama mengajarkan kita untuk selalu bersikap baik terhadap sesama?

Husnul Athiya merupakan alumni UIN Antasari Banjarmasin. Gadis kelahiran 21 Oktober 1994 ini sekarang sedang melanjutkan study pascasarjana di UGM jurusan Ilmu Linguistik. Gemar menulis essay dalam berbagai topik. Pecinta hujan dan aroma buku baru, Bisa ditemui di instagram @yaya_athiya

TINGGALKAN KOMENTAR

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.