Sabtu, Maret 6, 2021

Memaknai Pandemi, Sinyal Revolusi!

Narasi Ekologi yang Tenggelam

Apa itu ekologi? Apakah sama dengan lingkungan hidup? Sementara ini istilah yang populer adalah lingkungan hidup dibandingkan ekologi. Saya memilih menggunakan istilah ekologi terkait...

Pertumbuhan Ekonomi VS Harmoni Ekologi Dari Film Sexy Killers

Sexy Killers adalah film dokumenter yang disutradarai oleh Dandhy Laksono, film ini diunggah di Youtube pada masa tenang pemilu 2019, dan yang akhirnya ramai...

Mendukung Cerdas Adalah Pilihan Kita

Saat kita berada di jalan banyak melihat spanduk bergambar foto orang. Tahun ini adalah tahun yang berbeda, orang-orang menyebut tahun ini adalah tahun politik....

Anak Muda dan Partai Politik

Tak dapat disangkal, gelombang demokratisasi seiring dengan gerakan reformasi 1998 telah mengantarkan kita pada suatu elan kehidupan publik yang terbuka, egaliter, dan demokratis. Reformasi...
Aan Afriangga
Saya biasa dipanggil Aan. Salah satu mahasiswa dari Fakultas Ilmu Komunikasi, Program Studi Jurnalistik, di Universitas Mpu Tantular. Memiliki kebiasaan menikmati kepulan asap imajinasi dengan secangkir kopi.

“Sebuah revolusi bukanlah taman mawar. Sebuah revolusi adalah pertarungan sampai mati antara masa depan dan masa lalu.” —Fidel Castro

Sebagai seorang pejuang yang mendambakan perubahan saat ketimpangan masih terjadi. Kutipan tokoh di atas mungkin sangat familiar di indera pendengarannya. Namun, pertanyaan di sini ialah: “Bagaimana pandemi ini direlevansikan dengan sinyal revolusi bagi bangsa Indonesia yang belum lama merayakan hari kemerdekaannya?”

Tepat beberapa hari lalu. Negara kita: Indonesia, baru saja memperingati hari yang patut kita syukuri. Yakni, Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang ke-75 tahun. Karenanya, dari peringatan hari bersejarah tersebut. Kita perlu menuju ke arah yang lebih baik lagi: mengimbangi negara lain, atau syukur-syukur—bisa lebih unggul daripada negara lain.

Untuk menggapai impian tersebut. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan. Salah satunya: kita bisa menempuhnya melalui proses pembangunan. Menurut Alexander (1994:18), pembangunan (development) adalah proses perubahan yang mencakup seluruh sistem sosial, seperti politik, ekonomi, infrastruktur, pertahanan, pendidikan, dan teknologi, kelembagaan, dan budaya. Tak lupa juga, bahwa proses pembangunan membutuhkan sebuah perjuangan yang konsisten, dan juga usaha yang konstan. Kerja sama antara pemerintah dan rakyatnya adalah hal yang paling utama.

Akan tetapi, pandemi yang masih terjadi hingga saat ini, telah mengakibatkan beberapa sektor pembangunan menjadi terhenti, mengalami degradasi, dan mengakibatkan para pemangku kebijakannya harus merumuskan ulang upaya pembangunan yang sedang dilakukan. Maka dari itu, sebagai masyarakat yang juga merasakan dampaknya.

Kita memerlukan sebuah terobosan baru, atau mungkin; sebuah alternatif untuk melakukan perubahan dengan cepat setelah pandemi ini dinyatakan berlalu: mengganti cara lama dengan cara baru, atau sebaliknya (pertimbangan untung-ruginya), menyingkirkan kebiasaan lama dengan kebiasaan yang luar biasa (extraordinary); dan untuk para mahasiswa, kita harus menjadi garda terdepan—guna melakukan suatu perubahan yang signifikan.

Namun, sebelum lebih jauh. Hal yang perlu digarisbawahi pada kesempatan kali ini. Saya akan memfokuskan dua hal: kembali ke demoktratisasi ekonomi, dan upaya revolusi pendidikan tinggi. Mengapa demikian? Karena, saya rasa, sektor ekonomi dan pendidikan adalah dua hal yang tidak bisa kita pisahkan.

Kesetaraan perekonomian dan kualitas pendidikan sangatlah berperan penting bagi jalannya roda pembangunan. Jika pendidikan dan perekonomian di tiap-tiap invidu saja masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Bagaimana mungkin, kita melakukan sebuah perubahan setelah pandemi ini dinyatakan berakhir, sedangkan di sisi lain; urusan moral dan isi perut saja, masih karut-marut? Dari sanalah, dua point tersebut, saya rasa perlu dipertimbangkan atau bahkan dilakukan sesegera mungkin.

Demokratisasi Ekonomi

Pandemi yang melanda tentu memukul banyak sektor pembangunan; dan hal itu, pastinya kita ketahui secara bersama-sama. Berbulan-bulan pandemi ini menggelayuti, dan berbulan-bulan pula kita merasakan dampaknya. Seluruh sektor porak-poranda; dan dalam menangani pandemi ini saja, pemerintah selaku pihak yang sangat bertanggung jawab terhadap rakyatnya sampai dibuat kewalahan bak pusing tujuh keliling.

Akibatnya, menurut laporan Kementerian Ketenagakerjaan (01/05/2020), terdapat 2,9 juta pekerja yang terkena dampak langsung selama masa pandemi. Hal ini kemudian mendegradasi kemampuan rumah tangga dalam mengonsumsi kebutuhan sehari-hari. Jadi, secara singkat, saya rasa, telah ada indikasi resesi ekonomi—meskipun perkembangannya perlu kita telusuri.

Untuk memperbaiki keadaan perekonomian kita pasca pandemi. Saya pikir, kita perlu kembali ke demokratisasi ekonomi. Dalam UUD 1945 pasal 33, telah ditegaskan: “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara, dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat” (Pasal 33 ayat 3).

Kemudian, “Perekonomian nasional diselenggarakan berdasarkan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional” (Pasal 33 ayat 4). Perlu kita terapkan kembali, dan secepatnya, kita jungkirbalikkan bersama sistem ekonomi yang hanya dikuasai oleh segelintir oligarki. Tujuannya: supaya terciptanya kesejahteraan untuk kita bersama.

Revolusi Pendidikan Tinggi

Kemudian, hal kedua, sekaligus point terakhir yang ingin saya fokuskan saat pandemi ini, ialah: sektor pendidikan. Akibat pandemi ini, ia juga telah memukul salah satu sektor pembangunan yang teramat penting; baik dari tingkat dasar hingga di tingkat perguruan tinggi: jaringan internet yang tidak merata, kuota internet menjadi beban baru, dan tenaga pendidikan yang gagap teknologi—juga menjadi pekerjaan rumah kita bersama.

Kita mengetahui bersama-sama bahwa pendidikan tinggi telah sejak lama digadang-gadang sebagai sumber mata air para agen perubahan (agent of change), dan pendidikan yang seharusnya dijamin oleh negara—kini sedang porak-poranda. Biaya pendidikan yang mencekik saat perekonomian sedang karut-marut, adalah problema yang harus diprioritaskan, dan harus bisa diselesaikan dalam proses pembangunan.

Bahkan, esensi pendidikan sempat diperjelas oleh Redja Mudyahardjo (2001:3). Menurutnya, pendidikan adalah hidup. Pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi individu.

Maka dari itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan selaku fasilitator pendidikan. Perlu terjun ke lapangan sesering mungkin: mengobservasi kekacauan pendidikan tingkat dasar hingga tingkat pendidikan tinggi saat pandemi, melihat bagaimana kualitas pendidikan saat pandemi, memonitoring kebijakan yang sedang diterapkan, dan mengevaluasi seluruh kebijakan yang sudah diterapkan—terutama, pada saat pandemi seperti ini.

Ketika semua data sudah terakumulasi, lantas kita pertanyakan: apakah semuanya sudah terselesaikan, atau ada hal yang perlu kita rumuskan ulang? Dan saya rasa, dari hal-hal kecil seperti itulah—upaya untuk memantik semangat revolusi pendidikan tinggi bisa segera terealisasi; dan tentunya, semua upaya akan tercapai, apabila melibatkan kita semua selaku masyarakatnya.

Aan Afriangga
Saya biasa dipanggil Aan. Salah satu mahasiswa dari Fakultas Ilmu Komunikasi, Program Studi Jurnalistik, di Universitas Mpu Tantular. Memiliki kebiasaan menikmati kepulan asap imajinasi dengan secangkir kopi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.