Rabu, Januari 20, 2021

Memahami Zionisme Melalui Kitab Ester

Valentine’s Day, Seremonial Absurd Kaum Milenial

Pernahkah Anda merayakan hari kasih sayang atau Valentine’s day secara khusus? Jawabannya hanya Anda yang tahu. Dalam sepuluh tahun terakhir ini, tampak ada semacam...

Hapus Pasal Karet UU ITE Solusi Tuntas Bebaskan Baiq Nuril

Mahkamah Agung (MA) menolak permohonan Peninjauan Kembali (PK) terpidana Baiq Nuril Maknun dengan Nomor 83 PK/Pid.Sus/2019. Penolakan ini membuat keputusan kasasi MA yang menghukum...

Hadits: Yang Otentik Atau Progresif?

Di acara TV Indonesian Lawyer Club (ILC), pada tanggal 5 Desember 2017, dialog antara Abu Janda (Permadi Arya) dan Felix Siauw menjadi sorotan publik....

Menanggapi istilah Go green, mindset salah kaprah (Revisi)

Go green, istilah yang akhir-akhir ini ramai dibincangkan. Istilah go green pada dasarnya merupakan istilah untuk mengkampanyekan menggunakan produk-produk dari alam dan yang tidak dapat...
Avatar
Budi Kasmanto
1994-2017 menggembalakan jemaat, kini fokus menulis. Penulis buku Panggilan Berkhotbah, Penerbit ANDI Yogya. Kontributor Majalah Suara Baptis.

Memahami Zionisme Melalui Kitab Ester
Oleh Budi Kasmanto

Alkitab terdiri dari dua bagian yakni Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama dibagi dalam empat kelompok, yakni kitab-kitab Musa, sejarah, puisi dan nabi-nabi. Kitab-kitab sejarah mengisahkan kehidupan orang Israel atau Yahudi sejak menempati tanah Palestina hingga zaman pembuangan. Dan kitab sejarah terakhir adalah kitab Ester.
Kitab Ester adalah catatan sejarah orang Yahudi yang hidup di pembuangan pada zaman raja Ahasyweros atau Xerxes. Di dalamnya termuat penetapan hari raya Purim, yang disebut juga sebagai “Hari Mordekhai”, hari kemenangan Yahudi dari musuh-musuhnya, yang dirayakan dengan membacakan isi kitab ini. Pengaruhnya yang kuat terhadap orang Yahudi, membuat kitab ini bukan sekadar catatan sejarah mereka, tetapi memberi gambaran tentang karakteristik atau sifat khas mereka yang melekat hingga kini.
Hidup dalam Diaspora
Orang Israel mulai hidup di luar tanah kelahiran mereka sejak ditaklukkan oleh Asyur dan Babel. Mereka yang pulang pada zaman raja Koresh (Cyrus) dan tinggal di Yudea mengalami penyerakan lagi ketika Jenderal Titus menghancurkan Yerusalem pada tahun 70 dan menyerakkan penduduknya.
Orang-orang yang tersisa bertambah jumlahnya, tetapi pada tahun 132-135 terjadi pengusiran lagi secara besar-besaran. Lalu tahun 628. Akibatnya, populasi mereka di “tanah terjanji” menjadi sangat tak berarti. Dan mereka mengembara dari satu tempat ke tempat lain dan dijuluki “wandering Jews”.
Hilang dan munculnya kembali identitas mereka
Kitab Ester mencatat bahwa orang Yahudi menyembunyikan identitas mereka (Est. 2:10, 20) hingga keadaan berubah dan menguntungkan mereka.
Selama hampir dua puluh abad mereka seolah kehilangan identitas, tetapi muncul secara mengejutkan melalui Kongres Yahudi Internasional pertama di Bazel, Swiss, tahun 1897. Kongres ini melahirkan Gerakan Zionisme bertujuan mendirikan negara Yahudi di Timur Tengah. Dan berdirilah negara Israel pada 14 Mei 1948 yang menjadi wujud identitas mereka.
Paradoks kebencian dan penerimaan
Dalam kitab Ester orang Yahudi mengalami antara kebencian dan penerimaan. Terancam pembinasaan, tetapi akhirnya beroleh kekuasaan. Akhirnya banyak orang masuk Yahudi dan menjadi penyokong, karena ditimpa ketakutan kepada orang Yahudi dan kepada Mordekhai (lihat Est. 8:17 dan Est. 9:3).
Sampai sekarang pun, mereka masih mengalami kebencian. Penguasa radikal negara-negara tetangga mengancam akan menghapus Israel dari peta dunia. Kelompok-kelompok religius atau ideologis garis keras tertentu di berbagai negara masih bersikap menolak mereka.
Tetapi sebenarnya dunia “mendua hati” terhadap orang Yahudi. Dapat diamati paradoks dari kebencian dan penerimaan. Mereka menghujat Israel atau Yahudi, tetapi secara tersembunyi melakukan hubungan-hubungan dengan Negara ini. Tidak sedikit dari mereka yang membenci akhirnya menjadi mitra atau penyokong kepentingan Yahudi.
Kemampuan intelijen terbaik
Kemampuan intelijen Yahudi tercatat dalam kitab Ester 2:21-23, yang menyebutkan bahwa Mordekhai mengetahui persekongkolan yang berencana membunuh raja Ahasyweros. Lalu perkaranya diperiksa dan ternyata benar, maka orang-orang tersebut dihukum mati dan Mordekhai memperoleh penghargaan atas jasanya.
Di masa kini biro intelijen Israel diakui terbaik di dunia. Di seluruh dunia, terutama di negara-negara Arab dan berpenduduk Islam terbesar, intelijen Israel bekerja untuk memperlemah ekonomi dan politik negara-negara tersebut agar tidak menghalangi rencana mereka menguasai Palestina seutuhnya.
Antara ketakutan dan kegalakan
Dalam kitab Ester orang Yahudi mengalami ketakutan luar biasa ketika terancam dibinasakan oleh Haman. Ketakutan itu digambarkan sangat dramatis. Mordekhai mengenakan kain kabung, berjalan di tengah-tengah kota sambil melolong-lolong dengan nyaring dan pedih (Est. 4:1). Dan di tiap-tiap daerah, ada perkabungan yang besar di antara orang Yahudi disertai puasa dan ratap tangis (Est. 4:3). Tetapi, beberapa waktu kemudian mereka menunjukkan kegalakan luar biasa dengan membinasakan musuh-musuh mereka dengan sekehendak hati mereka (Est. 9:5).
Ketakutan dan kegalakan terlihat pada perilaku Yahudi masa kini. Rasa tidak aman yang sangat membuat Israel waspada berlebihan. Trauma masa lalu, kekejaman dan penganiayaan yang pernah mereka alami, membuat mereka kelewat galak.
Di Timur Tengah kegalakan Israel dilakukan terhadap negara-negara tetangganya, terutama warga Palestina. Juga terhadap Negara-negara pendukung perjuangan Palestina atau yang menghalangi kebijakan Israel di Timur Tengah.
Yahudi di puncak kekuasaan dunia
Kitab Ester bagian akhir mencatat keberhasilan Mordekhai meraih kekuasaan tinggi di kerajaan Ahasyweros. Mereka memperolehnya setelah mengalami masa kesesakan besar. Di masa kini, setelah melewati berbagai kesengsaraan, Yahudi berada di puncak kekuasaan dunia.
Berdirinya Negara Israel di Palestina membuktikan betapa besar kekuatan orang Yahudi masa kini. Protes dunia terhadap perilaku Israel yang semena-mena terhadap orang Palestina tidak pernah membuat mereka surut. Terhadap resolusi-resolusi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), mereka mengabaikannya.
Dukungan yang tetap kuat dari negara-negara Barat, terutama AS, menunjukkan kuatnya pengakuan atas eksistensi Israel dan Yahudi Internasional.
Dewasa ini Kongres Yahudi Internasional, melalui Negara Israel, sedang mewujudkan mimpi tentang Israel Raya dengan wilayah seluas kerajaan Israel di masa raja Daud.
Bagaimanakah akhir dari ambisi mereka? Jawaban pertanyaan ini sedang digeluti oleh para pemikir eskatologi alkitabiah yang mempelajari nubuatan-nubuatan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada akhir zaman. Hal ini seperti ditulis dalam kitab Daniel, “Tetapi engkau, Daniel, sembunyikanlah segala firman itu, dan meteraikanlah Kitab itu sampai pada akhir zaman; banyak orang akan menyelidikinya, dan pengetahuan akan bertambah” (Daniel 12:4).

• Budi Kasmanto, mantan pendeta, penulis buku dan kontributor majalah Kristen.

Avatar
Budi Kasmanto
1994-2017 menggembalakan jemaat, kini fokus menulis. Penulis buku Panggilan Berkhotbah, Penerbit ANDI Yogya. Kontributor Majalah Suara Baptis.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Tanpa Fatwa Halal, Pak Jokowi Tetap Harus Menjalankan Vaksinasi

Akhirnya MUI mengatakan jika vaksin Sinovac suci dan tayyib pada tanggal 8 Januari 2021. Pak Jokowi sendiri sudah divaksin sejak Rabu, 13 Januari 2021,...

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Apa Itu Tasalsul? Mengapa Tasalsul Mustahil?

Berbeda halnya dengan para teolog (al-Mutakallimun) yang bersandar pada dalil al-Huduts (dalam kebaruan alam), para filsuf Muslim pada umumnya menggunakan dalil al-Imkan (dalil kemungkinan...

Bagaimana Masa Depan Islam Mazhab Ciputat?

Sejak tahun 80-an Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta dikenal "angker" oleh sebagian masyarakat, pasalnya mereka menduga IAIN Jakarta adalah sarangnya orang-orang Islam liberal,...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.