Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Memahami Milenial

Kearifan Lokal yang Dilupakan

Kalau kita melihat bangsa-bangsa lain yang maju seperti Jepan, korea Selatan, China serta lainnya, mereka berpijak pada tradisi dan kearifan lokal yang berkembang di...

Ironi Tentang Pendaki Gunung

Semasa duduk di bangku sekolah menengah pertama, naik turun bukit adalah rutinitas keseharian. Jarak rumah dari sekolah sekitar satu kilometer, ditempuh selama dua puluh...

Nasib Penyewa Hunian di Tengah Pandemi

“Setiap orang berhak atas standar hidup yang memadai untuk kesehatan, kesejahteraan diri sendiri dan keluarganya, termasuk makanan, pakaian, perumahan, perawatan medis dan layanan sosial...

Memahami Makna Ideologi dan Kebahagiaan Melalui Kacamata Zizek

Belum lama ini dunia baru saja disuguhi oleh debat yang digadang-gadang sebagai “The Debate of the Century” antara dua intelektual terkenal yang amat kontroversial,...
Novita Puspasari
Lecturer at Universitas Jenderal Soedirman. Researcher at Kopkun Institute. Erasmus University Rotterdam alumni

“Anak jaman sekarang nggak mau susah, maunya yang instan-instan”

“Dasar anak jaman sekarang kurang sopan santun”

“Anak kemarin sore aja kok sok tau”

Kalimat-kalimat tersebut seringkali kita temui saat ini, diungkapkan dengan nada kesal dari orang yang lebih tua ke yang lebih muda. Kalimat tersebut kerap diungkapkan oleh generasi baby boomers (generasi yang lahir pada tahun 1960-an) atau generasi X (lahir tahun 1970-an) kepada generasi Y atau generasi milenial (lahir akhir tahun 1980an, 1990 hingga 2000an). Mengapa penting mengkaji milenial?, milenial penting dikaji karena mereka akan mendominasi lebih dari 50% angkatan kerja di seluruh dunia pada tahun 2020. Menurut Price Waterhouse Cooper (PCW), aspirasi, perilaku, dan pengetahuan yang dimiliki milenial akan menentukan kultur organisasi Abad ke-21.

Generasi milenial memang unik. Generasi ini disebut oleh National Chamber Foundation (NCF, 2013) sebagai generasi yang penuh kontradiksi. Betapa tidak di satu sisi mereka begitu ambisius mengejar goals mereka, tapi di sisi lain mereka tidak dapat fokus mengejarnya. Di satu sisi mereka sangat toleran terhadap perbedaan, di sisi lain mereka tidak tahan jika harus berhadapan dengan orang-orang yang dianggap sulit. Di satu sisi mereka berambisi untuk memberikan kontribusi untuk dunia, di sisi lain mereka tidak mau bersusah payah berproses dari awal, memulai dari mengerjakan hal remeh temeh. “the millenials, they are distate for menial work”, begitu hasil riset dari West Midland Family Center (WMFC) pada tahun 2012. Artinya, milenial tidak mau bekerja kasar dan remeh. Mereka pintar secara intelektual, berpendidikan tinggi, visinya besar, idenya inovatif namun tidak cukup punya kesabaran untuk berproses dalam mengubah visi menjadi tindakan nyata. Paradoks!

Distraksi Milenial

Distraksi terbesar milenial adalah teknologi. Milenial tumbuh dengan memiliki identitas pada facebook, instagram, twitter, path, dan sejenisnya. Laptop, ponsel dan internet tidak dapat dipisahkan dari mereka. Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika di tahun 2014 ada sekitar 83, 7 juta orang pengguna internet di Indonesia. Sementara pengguna Instagram di Indonesia adalah yang terbesar di dunia (22 juta pengguna). Menurut NCF (2013), sekitar 75% milenial adalah technological savvy (ahli dalam teknologi). Masih riset dari NCF, 80% milenial bahkan tidur dengan ponsel di samping tempat tidurnya. Ini menegaskan fakta bahwa relasi yang terbentuk antara milenial dan teknologi telah menggantikan bentuk-bentuk relasi milenial yang lain seperti dengan individu lain dan buku.

Herbert Simon, seorang peraih Nobel di bidang ekonomi pernah meramalkan luberan informasi yang didukung oleh perkembangan teknologi ini jauh sebelumnya pada tahun 1977. Menurut Simon, akan datang dunia yang kaya dengan informasi, dan informasi tersebut akan mengkonsumsi “perhatian dari para penerimanya”. Karena itulah luberan informasi akan menciptakan kemiskinan atensi.

Kemiskinan atensi merupakan isu fundamental yang terjadi pada milenial. Karena mereka menerima terlalu banyak informasi dari internet, mereka cenderung tidak fokus dan kehilangan atensi atas banyak hal. Distraksi informasi ini membuat milenial cenderung gelisah dan merasa tidak ingin terjebak dalam kondisi yang sama dalam jangka waktu lama. Sisi positifnya, milenial dinamis, cepat beradaptasi mengikuti perkembangan zaman,  selain itu mereka juga multitasking.  Di dunia bisnis, misalnya, milenial dapat mengubah peta persaingan bisnis yang awalnya didominasi oleh pemilik kapital besar. Mal-mal mulai ditinggalkan pengunjungnya, sebaliknya penjualan online yang didominasi oleh pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) bertumbuh pesat.

Tantangan yang dihadapi organisasi saat ini dalam mengelola milenial adalah, kecepatan untuk berubah. Namun seringkali kecepatan ini tidak diimbangi dengan ketepatan dan manajemen konflik dalam organisasi. Baik organisasi dengan lingkup besar seperti perusahaan maupun organisasi lingkup kecil seperti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus tertatih-tatih menghadapi kompleksitas milenial. Energi dan optimisme yang dimiliki oleh milenial, sayangnya tidak diimbangi oleh loyalitas terhadap organisasi.

Treatment bagi Milenial

Potensi yang dimiliki milenial sebenarnya sangat banyak. Menurut WMFC (2012), milenial memiliki nilai-nilai seperti optimis, terbuka pada ide-ide baru, toleran, inovatif, percaya diri, kompetitif, cerdas, independen dan banyak kelebihan-kelebihan lainnya.  Nilai-nilai yang dibawa milenial berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Sayangnya, perlakuan (treatment) yang diberikan kepada milenial justru tidak berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya.

Menurut PWC (2015), milenial memerlukan mentor yang dapat menjadi role model bagi mereka. Figur mentor bagi milenial harus seseorang yang memiliki karakter kuat, dapat mengarahkan mereka, sekaligus memahami bagaimana milenial berfungsi. Sebagai generasi yang paling menghargai keberagaman dan kesetaraan,  orang yang menjadi mentor bagi milenial harus terbuka dan egaliter.

Saluran komunikasi yang terbuka dan fleksibilitas hubungan akan membuat milenial dapat memaksimalkan potensinya dan membuat organisasi tidak kehilangan aset-aset terbaiknya.  Mengembangkan apa yang pernah dikatakan Albert Einstein, kita tidak akan bisa menyelesaikan masalah berbeda dengan cara berpikir dan metode yang sama. Generasi yang berbeda memerlukan perlakuan yang berbeda. Tidak ada gunanya merasa generasi yang satu lebih baik dari generasi yang lain, karena perubahan adalah sebuah keniscayaan. Tidak perlu juga khawatir berlebihan tentang ketidakpantasan “anak jaman sekarang” karena manusia, sama seperti sejak jaman prasejarah, akan selalu beradaptasi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan.

Novita Puspasari
Lecturer at Universitas Jenderal Soedirman. Researcher at Kopkun Institute. Erasmus University Rotterdam alumni
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.