Kamis, Oktober 29, 2020

Memahami Kembali Pandemi Covid-19

Redupnya Anak Muda karena Negara Orang Tua

Mengapa di dalam setiap wacana maupun perumusan kebijakan anak muda justru lebih dominan peran dan tafsiran “orang tua” ketimbang anak muda itu sendiri. “Orang...

Sejarah Paskibraka dan Nasionalisme Kita

Pasukan khusus yang bertugas di bulan Agustus berlatih untuk menunaikan tugas mulia, yaitu untuk mengibarkan bendera pusaka merah putih. Baik level Kabupaten/Kota, Provinsi, maupun...

Hoaks dan Krisis Simpati

Musibah baru saja terjadi di sektor transportasi udara kita. Indonesia masih berduka atas jatuhnya pesawat Lion Air JT610 tujuan Jakarta-Pangkal Pinang di Perairan Tanjung...

Iklan, Budaya Massa dan Konsumen Kreatif

Salah satu cara menjaga citra suatu produk baik dalam bentuk barang dan jasa adalah iklan. Suatu siasat untuk membuat produk tersebut hadir dalam memori...
Hieronimus Adiyoga
Mahasiswa non aktivis tapi tidak mau apatis.

Wabah Covid-19 yang disebabkan virus corona jenis baru telah memasuki bulan ke-6 sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Per tulisan ini dibuat (14/9), virus SARS-CoV-2 telah menginfeksi 29.272.462 orang dengan angka kematian sebesar 929.775 jiwa di seluruh dunia.

Di Indonesia sendiri, ada tambahan 3.141 kasus infeksi, sehingga secara total Indonesia sudah mengonfirmasi 221.523 kasus, dengan 54.277 kasus berada dalam tahap perawatan, 158.405 kasus sembuh dan 8.841 kasus kematian.

Pengetahuan paling mutakhir mengenai penanganan wabah sampai saat ini masih terbatas pada cuci tangan, menggunakan masker, jaga jarak dan durasi kontak dengan orang banyak. Tidak heran, turunan dari pengetahuan ini menghasilkan kebijakan pembatasan sosial di hampir semua negara di dunia, yang menyebabkan terganggunya kegiatan ekonomi global, sehingga beberapa negara sudah dipastikan mengalami resesi, dan Indonesia akan segera menyusul.

Sementara, proses pengembangan vaksin yang dilakukan di seluruh dunia, hanya vaksin produksi Gamaleya dari Rusia yang sudah memasuki tahap regulatory approval pada bulan Agustus lalu, di mana studi uji klinik tahap 1/2 yang dilakukan sudah dipublikasikan di laman jurnal The Lancet. Calon vaksin lain yang diajukan oleh Sinovac Biotech, Oxford-Astrazeneca, Wuhan-Beijing-Sinopharm, dan BioNTech-Fosun-Pfizer sedang melakukan uji klinis fase III, untuk membuktikan efikasi vaksin dalam jangka waktu tertentu dengan protokol uji klinis yang ketat.

Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia melewati bulan Februari dengan meremehkan virus ini, di mana pemerintah terus percaya virus ini tidak akan sampai ke Indonesia. Ketika Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pertama pada awal Maret, idealnya, pemerintah sudah harus bersiap-siap melakukan tes real time-PCR secara masif, di mana skema pembiayaan tampaknya lebih baik jika negara melakukan subsidi atau menggratiskan tes, melakukan pengaturan harga untuk tes secara mandiri, dan tentunya memperbanyak kapasitas laboratorium BSL untuk menunjang tes PCR seluas-luasnya.

Banyak yang mungkin bertanya, mengapa tes PCR harus dilakukan seluas-luasnya? Tidakkah itu akan memboroskan uang yang kita punya? Jawabannya adalah, sampai sekarang, hanya tes PCR yang dapat menjadi standar emas dalam melakukan diagnosis terhadap terduga pasien Covid-19.

Rapid test bisa jadi tidak berguna, karena pada prinsipnya, orang yang terinfeksi virus lain juga dapat mengalami positif palsu karena hanya mendeteksi antibodi yang dihasilkan orang pada keadaan infeksi. Selain itu, selama virus SARS-CoV-2 baru masuk beberapa hari, sistem imun yang sedang bekerja barulah innate immunity, di mana antibodi (termasuk adaptive immunity) masih belum terbentuk dan terjadi negatif palsu. Ya, sistem imun perlu waktu untuk mengenali agen infeksius sebelum mengerahkan tentara elitnya yang sesuai.

Di samping itu, tes PCR yang masif dilakukan akan mendukung terjadinya test, trace dan isolate. Dengan melakukan pengujian pada seorang terduga, ketika hasilnya positif, pasien dapat segera diisolasi sehingga tidak berkontak dengan orang lain, dan diharapkan dapat memutus rantai penularan.

Dengan memastikan pasien telah terinfeksi, kemudian dilakukan pelacakan, sampai sedikitnya melacak 30 orang yang pernah berkontak dengan pasien. Dites lagi, diisolasi, dilacak lagi. Demikianlah, idealnya wabah ini bisa dikendalikan. Sebagai informasi, di Wuhan yang pernah menjadi episentrum penularan virus, sudah dilakukan tes kepada hampir 10 juta penduduk.

Per tulisan ini dibuat, Provinsi DKI Jakarta juga sedang memasuki hari pertama PSBB-kembali, setelah beberapa bulan menjalani PSBB Transisi yang waktunya lebih lama dibandingkan PSBB musim pertama. Tentu bukan tanpa alasan, di mana kita ketahui Wisma Atlet Kemayoran telah penuh dan angka infeksi harian di Jakarta yang meningkat lagi, terutama setelah pembatasan sosial dilonggarkan.

Dalam pandangan penulis, PSBB di Jakarta adalah momentum. Tidak hanya bagi Jakarta, tetapi bagi Indonesia yang selama seminggu ini konsisten mencatatkan 3000+ infeksi hampir setiap harinya. Ini adalah momentum, untuk kita bisa meningkatkan kapasitas tes kita. Untuk negara dengan 270 juta penduduk dan luas daratan hampir 2 juta kilometer yang setengahnya terkonsentrasi di pulau Jawa, kita perlu melakukan tes yang masif. Sekurang-kurangnya, tes terhadap 100.000 – 300.000 orang per hari, bukan spesimen.

Mungkin akan banyak yang berpikir saya kurang waras, tidak paham ekonomi, terbatasnya ruang fiskal pemerintah, dan tuduhan lain sebagainya. Ya, saya memang orang kesehatan. Tetapi sekali lagi saya perlu mengingatkan, ekonomi tidak akan pernah bangkit jika wabah tidak bisa dikendalikan.

Wabah tidak akan bisa dikendalikan, jika jumlah tes masih sedikit. Ibaratnya berperang melawan warga yang membelot untuk agensi asing dan menghasut warga lain untuk ikut membelot, semakin banyak kita mengetahui warga yang membelot, semakin mudah kita menekuk musuh. Semakin banyak kita bisa melacak orang yang terinfeksi, semakin mudah bagi kita untuk mengisolasinya sampai sembuh, dan memulangkannya ketika sudah dipastikan sembuh.

Apa yang Bisa dilakukan Setiap Individu

Seperti yang telah saya singgung sebelumnya, pengetahuan mengenai virus ini masih terbatas pada pakai masker, cuci tangan, jaga jarak dan durasi kontak dengan orang lain. Jika anda bekerja, bekerjalah dengan menerapkan protokol kesehatan. Ketika istirahat bekerja, berjaga jaraklah dengan rekan kerja anda.

Bawalah peralatan makan anda sendiri, dan jangan banyak berbicara. Selesai bekerja, pulanglah jika tidak ada hal penting yang harus dilakukan. Jika ingin makan di luar, manfaatkanlah teknologi pesan antar. Jika ingin belanja, belanjalah secara daring, atau belanja ketika toko belanja baru dibuka atau memang sedang sepi. Jangan pernah absen memakai masker dan mencuci tangan. Lebih baik memakai masker, daripada dipasangkan ventilator, bukan?

Membatasi diri dengan kegiatan sosial perlu kesadaran. Ini bukan dilakukan untuk menciptakan ketakutan, bukan dilakukan untuk menekan negara lemah, karena hanya orang yang berpikiran sempit yang mengatakan itu, melainkan ini dilakukan untuk meminimalisir segala risiko infeksi yang mungkin terjadi. Bukan tidak mungkin, keluarga yang anda sayangi, justru menjadi penyebar virus ini dan menciptakan cluster keluarga seperti yang sudah terjadi akhir-akhir ini.

Kita tidak tahu sampai kapan wabah ini berakhir. Bahkan ketika vaksin yang lolos approval sudah diberikan, perlu waktu untuk melakukan vaksinasi terhadap tujuh puluh persen populasi yang dipercaya akan memberikan kekebalan kawanan (herd immunity). Sampai ada titik terang wabah ini berakhir, maka yang dapat kita lakukan sebagai individu adalah tidak pernah absen memakai masker, rajin cuci tangan, menjaga jarak dan durasi kontak dengan orang lain. Kalau anda aktivis, manfaatkanlah jaringan yang anda punya untuk mendesak pemerintah melakukan tes semasif mungkin. That’s it and that’s all.

Hieronimus Adiyoga
Mahasiswa non aktivis tapi tidak mau apatis.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

Anak Muda dan Partai Politik

Tak dapat disangkal, gelombang demokratisasi seiring dengan gerakan reformasi 1998 telah mengantarkan kita pada suatu elan kehidupan publik yang terbuka, egaliter, dan demokratis. Reformasi...

Machiavelli: Pemikir yang Banyak Disalah Pahami

Dalam kajian Ilmu Politik, nama Nicollo Machiavelli dipandang sebagai penggagas teori politik modern. Tentu hal tersebut sangat beralasan, mengingat posisi Machiavelli yang secara tegas...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dialog Sang Penyemangat

Ketika Sang Penyemangat datang kepadaku untuk memberikan tausiyah yang membarakan kalbu, Jiwaku begitu menggebu-gebu. Setiap kudengar tausiyah suci itu rangkai katanya merona dikalbu dan...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Machiavelli: Pemikir yang Banyak Disalah Pahami

Dalam kajian Ilmu Politik, nama Nicollo Machiavelli dipandang sebagai penggagas teori politik modern. Tentu hal tersebut sangat beralasan, mengingat posisi Machiavelli yang secara tegas...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.