in

Memahami Hukuman dan Ujian Bagi Peserta Didik Sekolah Kehidupan


Dalam hidup ini, kita kerap berada dalam tahap-tahap kesulitan-kesulitan. Mau tak mau, kapan saja lepas dari prediksi kita, kesulitan-kesulitan itu gagah berdiri tepat dihadapan kita. Menghadang langkah kita. Katakanlah ia musibah atau persoalan yang mengharuskan kita untuk melalui dan menuntaskannya. Kadang ia bisa terasa menyengsarakan dan membuat menderita.

Saat mengalaminya, kadang kita mencoba sedikit meraba kegelapan itu. Berupaya memahaminya agar mudah untuk menyelesaikannya. Jatuh bangun menerobosnya sekuat tenaga. Tapi di lain waktu, dada kita semakin sesak, tangis kian pecah, dan energy pun ikut melemah. Lalu membawa kita secara tiba-tiba ke lorong kebingungan dalam upaya menerkanya; suatu hukuman atau ujian kah yang sedang menimpai kita saat itu?

Saya rasa ada pendekatan yang semoga dapat mengatasi kebingungan itu. Tapi sebelumnya, mari bersepakat dengan saya terlebih dahulu untuk memenuhi syarat utama dalam memecahkannya. Adalah dengan menganggap diri– yang sedang hidup di dunia yang ini– sebagai peserta didik. Ya, amat sederhana. Cukup dengan menyadari posisi kita sebagai murid.

Setelah itu, mari coba pahami bersama secara perlahan melalui pertanyaan. Pertama, adakah tujuan primer peserta didik selain menjadi orang terdidik? Kedua, adakah tugas dan cara terampuh untuk mencapai tujuan itu selain dengan belajar agar mendapatkan ilmu?

Premisnya adalah setiap peserta didik atau murid memiliki kewajiban belajar untuk menjadi orang terdidik. Kewajiban belajar dan menjadi terdidik. Saat kapan murid merasakan hukuman atau merasakan ujian, ternyata tergantung bagaimana kesasadaran setiap murid terhadap soal-soal yang diterimanya. Kesadaran yang amat dipengaruhi oleh kemauan belajar dari masing-asing mereka.

Baca Juga :   Filem Pengkhianatan G 30 S/PKI, Apa yang Salah?

Analoginya begini. Saya dan Anda adalah bagian dari sepuluh orang dalam satu ruang kelas. Oleh guru, kita diberi persoalan yang sama. Nah, bisa jadi persoalan itu diterima sebagai hal yang berbeda oleh masing-masing peserta didik. Terutama yang paling kentara berbeda adalah bagi yang belajar dengan yang tidak.

Bagi Anda yang belajar, saat soal-soal itu dikerjakan akan lebih terasa sebagai ujian. Kenapa demikian? Karena Anda telah belajar sebelumnya, otomatis lebih siap menjawab soal-soal. Bahkan bisa menyadari saat di depan nanti pasti dihadapkan dengan pelbagai soal-soal. Sukur-sukur kalau yang Anda jadikan bahan belajar itu tidak hanya soal-soal yang pernah datang padamu, tapi juga pada orang lain.

Namun, bagi yang tidak belajar, bisa jadi soal-soal lebih terasa sebagai hukuman. Membuat kalut dan kelam. Alasannya sangat simpel. Dengan tidak belajar berarti telah membuat dirinya melanggar kewajiban seorang peserta didik. Konsekuensi logisnya, setiap pelanggar pasti akan mendapat hukuman. Terasa seperti nerakalah saat proses mengerjakannya.

Tentu saja, belajar atau tidak belajar, tidak akan menjamin bisa menuntaskan semua persoalan. Tapi, setidaknya orang yang belajar pasti akan lebih siap daripada yang tidak belajar. Kesiapan itu membuatnya lebih sadar terhadap nomor-nomor soal yang mana yang sanggup ia kerjakan dan mana yang tidak. Kesadaran inilah yang membuat seseorang pada akhirnya akan lebih bersikap tenang.

Baca Juga :   Presiden Jokowi dan Kompleks Perumahan

Ketenangan inilah hal yang mencirikan perbedaan sikap diantara keduanya. Lalu, tahukah Anda kenapa seseorang tidak belajar? Atau lebih tepatnya tidak mau belajar?

Begitu banyak penyebabnya. Tapi, bagi keparat yang sering tidak belajar seperti saya ini, penyebab utamanya adalah terlalu menganggap persoalan-persoalan itu tidak penting. Atau dikata lain, tidak pernah terpikir bahwa persoalan-persoalan itu memang sangat penting bagi kehidupan. Malah cenderung menganggap persoalan sebagai gangguan karena terasa amat menyulitkan.

Oleh karena anggapan yang terpelincir itulah, maka alokasi waktu lebih banyak dihabiskan untuk mengejar hal-hal yang enak dan serba mudah dan serba instan. Sengaja membuat diri agar terbiasa terlena melayani kesenangan-kesenangan. Cenderung menghindari kesulitan. Barangkali kebiasaan ini yang membuat diri tidak bisa menempuh kedewasaan berpikir dan ketenangan dalam bersikap.

Mungkin juga karena kematangan butuh waktu amat panjang nan menjenuhkan. Atau mungkin karena kedewasaan hanya bisa ditempuh dengan soal-soal penderitaan, maka lebih rela memasungkan jiwa pada hal-hal yang sifatnya sementara.

Untungnya Sang Maha Guru Sejati senantiasa membagi samodera kasih sayang kepada peserta didiknya. Maka, diganjar hukuman bisa berarti masih disayang, karena telah diperingatkan. Di-re-member-kan. Berkesempatan menjadi bagian dari ‘anggota’ kembali. Sementara, diberi ujian berarti dikasih kepercayaan, bahwa masih kompeten untuk melanjutkan naik ke kelas berikutnya.

Hukuman dan ujian mungkin menghasilkan akibat yang beda. Yang satu bisa diperuntukkan meningkatkan kesabaran, sementara yang lain meningkatkan kecerdasan sikap. Mungkin. Tapi musabab keduanya masih sama, yakni bermuara dari Cinta-Nya.


Baca Juga :   Identitas Mahasiswa

Written by khotib

Orang yang (masih) sesat

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR