Selasa, Januari 19, 2021

Memaafkan Ratna Sarumpaet

PK Ahok Ditolak MA: Antara Keadilan dan Ketidakadilan Hukum

Masyarakat tak begitu terkejut ketika Hakim Agung Artidjo Alkostar yang memimpin sidang peninjauan kembali (PK) mantan Gubernur Jakarta Ahok, mengetok palu usai memutuskan PK...

Fundamentalisme dan Hancurnya Negara

Sering sekali kita mendengar istilah fundamentalisme dewasa ini. Saya tidak akan membedah secara mendalam tentang pengertian dari istilah tersebut karena saya bukan ahli bahasa. Namun...

Buku-Buku Pesakitan

Sekolah dan/atau kampus sejatinya ialah sebentuk upaya manusia demi pencapaian diri kemanusiaanya yang hakiki. Kendati tak sedikit cela terhadap unsur-unsur pendidikan yang sejatinya pun...

Dejavu Pilpres 14/19 (Mudah ditebak)

Duel ulang pertarungan pilpres antara Jokowi vs Prabowo menjadi sajian kontestasi politik yang bisa dikatakan membosankan. Ini tidak lain karena tidak adanya pilihan lain,...
Herlina Butar-Butar
Laboratorium Medis, Manajer di Alkes, Owner Laboratorium, Wartawan, NGO, Mendirikan BUMDES pertambangan (Non-Mercurial Gold Mining Project)

Hari ini, jaksa membacakan tuntutan hukuman 6 tahun atas Ratna Sarumpaet (RS), perempuan berusia 70 tahun itu atas kasus menyampaikan berita bohong yang menimbulkan keonaran.

Masih segar dalam ingatan, candaan publik menetapkan sebagai 3 Oktober sebagai hari hoaks nasional. Hiruk pikuk berantai panjang, dimulai dari celoteh seorang tokoh publik.

Celoteh sambung menyambung kepada tokoh-tokoh publik lain yang ikut sibuk menyebarkan berita bahwa tanggal 21 September, terjadi pemukulan RS beberapa laki-laki tak dikenal di sebuah lokasi di Bandung. Muncul lingkaran pembentukan persepsi bahwa pemukulan dilakukan oleh “rezim” pemerintah.

Ho ho!!! Gorengan gurih, renyah dan lezat.

Membaca situasi, muncul tulisan Tompi yang dokter ahli bedah plastik. Melihat pola lebam wajah RS, Tompi justru meragukan adanya pemukulan. Tompi membeberkan analisanya sebagai dokter bedah plastik, bahwa kemungkinan besar lebam seperti orang habis oplas. Kunciran, lebam dan adanya sayatan simetris.

Barangkali ada gerombolan yang memiliki prinsip hidup, “hoaks must go on”. Analisa Tompi diabaikan, yang terjadi malah sebuah konferensi pers keprihatinan atas pemukulan yang disampaikan secara resmi oleh Prabowo.

Episode berita bohong RS berakhir tanggal 4 Oktober 2018. RS membuat pengakuan dan minta maaf kepada publik, pada hari yang sama, polisi menangkap RS saat akan berangkat ke Chile.

Oplas Pembawa Masalah

Lazimnya manusia, berusaha menutupi kekurangan fisiknya agar senantiasa terlihat lebih baik. Pada kebanyakan perempuan, kekhawatiran usia yang dibareni bertambahnya kerut-kemerut disiasati dengan obat, krim, penanaman benang hingga operasi plastik untuk menarik kulit dan menanam bantalan untuk mengisi kulit.

Demikian juga, pada kebanyakan laki-laki yang khawatir dengan kemampuan seksual, ukuran vital hingga kebotakan. Banyak laki-laki yang menutupi kebotakan dengan potongan rambut palsu.

Siasat-siasat untuk menutupi kekurangan fisik pada diri manusia, tentu ingin disembunyikan. Tidak ingin diketahui publik.

Saat Sidang, RS Berusaha Jujur

Menurut saya, sepanjang sidang berlangsung, RS berusaha membeberkan kejadian sejujur-jujurnya. RS berusaha memberikan keterangan apa adanya. Tidak mengelak, tidak menyangkal untuk membela diri dan tidak mempersulit sidang.

Walaupun RS adalah seorang aktris pemain watak, namun matanya menampilkan sorot mata lepas tanpa beban. Menurut saya, RS hanya ingin menyampaikan bahwa bila kita di posisinya, mungkin akan melakukan hal yang sama.

Benar bahwa RS berbohong soal lebam, dan RS telah jujur mengakui kebohongannya. Kebohongannya hanya untuk menutupi siasatnya. Mestinya tidak menjadi kegaduhan pada apapun.

Saya menyadari, mungkin bila kita akan melakukan oplas, kita akan diam-diam. Kita tidak ingin orang lain mengetahui, termasuk keluarga sendiri. Lalu, jika ada yang mempertanyakan lebam karena oplas, kemungkinan mengaku lebam karena jatuh, karena alergi, karena habis dipukuli atau mengarang cerita lain supaya lain sesuai dengan kondisinya.

Saya menyayangkan telah terjadinya kebohongan RS menjadi bahan untuk menimbulkan kegaduhan oleh tokoh-tokoh publik di Indonesia.

Tokoh-tokoh publik yang kelihatan pintar, tetapi tanpa niat menelusuri informasi, tanpa niat membantu masalah pemukulannya, tanpa malu melakukan celotehan tak bertanggung jawab demi kepentingan pribadi.

Menggoreng informasi menjadi gorengan gurih, renyah dan lezat, lalu menyajikan kepada publik sehingga publik memiliki resiko penyakit jantung karena kebanyakan makan gorengan.

Para tokoh-tokoh publik yang terlibat dalam penyebaran kebohongan yang menimbulkan kegaduhan ini harus bertanggung jawab secara hukum.

Adil Katalino, Bacuramin Kasuraga, Basengat Kajubata…

Herlina Butar-Butar
Laboratorium Medis, Manajer di Alkes, Owner Laboratorium, Wartawan, NGO, Mendirikan BUMDES pertambangan (Non-Mercurial Gold Mining Project)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.