in

Melipat Jarak (Untuk Sekjen PSI yang Milad ke-40 hari ini)


Apa yang tersisa dari setiap perjuangan adalah keberanian, akan terwujud jika segala ketakutan lekas dipadamkan.

Untuk Sekjen PSI, Raja Juli Antoni yang berulang tahun ke-40 hari ini, 13 juli 1977.

109 tahun yang lalu, 13 juli 1908 sebuah harapan akan kesetaraan diunggah dalam sebuah pagelaran olahraga terbesar di dunia diwujudkan. Setelah untuk pertama kali atlet wanita diijinkan berpartisipasi dalam olimpiade modern ditengah maskulinitas olahraga.
Jauh dari peristiwa penting di dunia olahraga tersebut, 224 tahun yang lalu, pada 13 juli 1793. Salah satu pemimpin revolusi Prancis, Perempuan politik bernama Jean-Paul Marat, mati dibunuh karena konsistensinya berjuang melawan sistem monarki absolut di Prancis.

Lebih lanjut, kematian Manat dianggap sebagai martirnya seorang revolusioner, pejuang republik Prancis. Ia sangat dicintai banyak orang, hingga pada makamnya ditulis “Unité, Indivisibilité de la République, Liberté, Égalité, Fraternité ou la mort” – Kesatuan, keutuhan Republik, Kebebasan, Kesetaraan, persaudaraan atau kematian

****
Setiap perjuangan tentu punya jalannya sendiri-sendiri. Soal jalan mana yang akan ditempuhnya adalah sebuah pilihan, hal tersulit tentu bila pilihan itu benar-benar tidak pernah tersedia.

Tinggal bagaimana membaca ini sebagai sebuah kewajiban. Menempuh jalan beliku menanjak penuh kerikil-kerikil demi sebuah puzzle sejarah bernama politik Keragaman, yang selama ini tertutup oleh kekuasaan di yang sangat feodal.

****
Bro Raja Juli Antoni, Sekjen PSI yang kami yakin masih merawat harapan…

Baca Juga :   Ingat, 2018 Tahun Politik Bukan 'Jomblo'

Bila politik itu soal adalah soal kekuasan, maka partai politik adalah jalan utamanya. Layaknya jalan utama, sejatinya politik itu bisa pula diakses semua orang, tak berjarak; tua-muda, laki-laki-perempuan atau minoritas-mayoritas tak jadi soal.

Tinggal bagaimana cara kita membuat politik itu tak berjarak, pun bagaimana kita menerjemahkan politik itu. Apakah hanya soal bagaimana kita akan berkuasa, atau bagaimana seni dalam berkuasa hingga tujuan kemakmuran rakyat itu bisa segera diwujudkan.

Lebih lanjut, Ini tahun 2017. Beberapa minggu ke depan PSI akan mendaftarkan diri menjadi salah satu partai politik peserta pemilu ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perjuangan 2,5 tahun ini akan dipertaruhkan dalam bentuk administrasi dan di koreksi secara faktual.


Kami masih ingat, pesan yang kau sampaikan setahun yang lalu. Kala PSI bersiap diri akan diverifikasi oleh Kemenhumham.

“Tumpukan dokumen yang sudah diantarkan ke Kemenkumham bukanlah sekadar tumpukan kertas adminstratif semata. PSI membawa harapan anak muda dari Sabang sampai Merauke untuk menciptakan sebuah tatatan politik baru yang berpihak kepada masa depan orang-orang muda di Indonesia”

Hari ini kami percaya, harapan itu masih sama. Cita-cita akan tatatan politik baru ini menjadi pegangan kami bahwa di masa depan; elitisisme politik, oligarki politik dan politik dinasti akan segera hancur dengan sendirinya mengikuti zaman. Bahwa gagasan ragam anak muda dari PSI akan mewarnai politik Indonesia yang lebih berkeadilan dan berkemajuan akan menemukan jalannya sendiri.

Baca Juga :   "Penistaan Organisasi"

Sebab, bila kemulian politik hanya dipertaruhkan untuk sekadar korupsi dan memperoleh kemudahan akses sumber daya di Indonesia. Maka, petaka pun akan sigap menerpa bangsa ini, apalagi jika pada akhirnya anak-anak muda hanya diam, cuek dan apatis terhadap politik.

****
Bro Raja Juli Antoni, Sekjen PSI yang egaliter….

Menjadi bagian dari generasi milenial, kau pasti paham cara berfikir anak-anak muda millenial. Perilaku alay, galau dan hits, generasi millenial adalah sebuah proses pendewasaan yang terkadang tidak dimengerti banyak orang yang membentuk bentangan jarak antara generasi sebelumnya (generasi X).

Pada akhirnya, kau pun mengerti, bahwa generasi millenial adalah generasi yang terabaikan selama ini. Generasi yang dikucilkan, generasi yang dianggap tidak bisa hidup tanpa bateri, wi-fi dan koneksi.

Namun, di PSI generasi ini justru mendapatkan posisi politik dan diberi akses politik untuk ikut berjuang layaknya generasi sebelumnya memasuki partai politik yang mereka sebut “partai mapan”. Padahal bagi kader-kader anak muda millenial PSI, partai mapan itu adalah partai yang semua kadernya setara, tidak ada patronase politik, tidak ada korupsi dan tidak ada intoleransi.

****

Bro Raja Juli Antoni yang mampu melipat jarak…

Di Indonesia, khususnya dalam era post-otoritianisme rezim orde baru. Tantangan utama reformasi bidang politik adalah menciptakan keadilan sosial dengan memutus patronase yang menyerupai piramida dibentuk oleh Soeharto. Piramida yang dibangun atas dasar tiga pilar; ABRI, Golkar dan Birokrasi.

Baca Juga :   Mendoakan dan Merawat Kebangsaan Kita

Sebuah model klientelisme dengan format feodalisme politik yang mengakar hingga saat ini. Feodalisme politik seperti ini tentu bertentangan dengan cita-cita demokrasi di era reformasi yang menekankan kadilan dan jaminan persamaan hak politik setiap warga negara.

Setidaknya hal ini terbukti dengan melihat karakteristik demokrasi Indonesia pasca reformasi. Khususnya terkait partai politik yang masih terkoptasi kepentingan politisi lama, mantan perwira militer hingga konglomerat yang mendapatkan berbagai akses dan fasilitas di jaman orde baru.

Politisi lama tersebut kemudian eksis memasuki partai-partai baru dengan aktivitas baru yang disokong oleh para konglomerat yang eksis di masa pemerintahan orde baru. Akibatnya nilai-nilai kebajikan untuk memajukan kesejahteraan umum sangat susah tercapai dan politik elitis begitu berjarak dengan masyarakat.

Namun, hal ini pula yang menjadi tantangan PSI ditengah arus reformasi. Bahwa jarak itu harus segera dilipat menjadi satu kesatuan utuh di Indonesia. Semoga, harapan dan cita-cita itu akan bisa segera diwujudkan.

Selamat Ulang Tahun ke-40, Bro Sekjen PSI……

Keterangan :
Melipat jarak adalah salah satu judul dari puisi Sapardi Djoko Damono


Written by Anwar Saragih

Penulis, Peneliti dan Peminum Kopi.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR