Banner Uhamka
Selasa, September 29, 2020
Banner Uhamka

Melihat Tingkah Generasi Milenial dan Netizen di Media Sosial

Membersihkan Radikalisme dari Kampus

Kampus telah menjadi lahan subur bagi perkembangan gerakan radikalisme. Fenomena ini sebenarnya sudah berlangsung lama. Setidaknya sejak dekade 1990an ketika pertama kali gerakan ini...

Golput Otonom dan Tantangan Demokratisasi

Golput (Golongan Putih) di Indonesia bukanlah hal baru. Ia adalah gerakan sosial dalam artinya yang paling populis (kerakayatan) sekaligus politik (demokrasi) warga dalam upaya...

Tuhan, Cinta, dan Rumi

Cinta adalah bagian dari fitrah manusia yang diberikan oleh Tuhan. Dengan cinta, kehidupan manusia dimulai. Misalkan saja dalam agama Islam di mana manusia pertama...

Tanpa Ada Bendungan Air, Petani Bisa Panen?

Acara debat presiden yang pertama saya menonton kalau saya tidak salah mendengar sekilas ada kata kata capres yang keluar mengatakan begini  “tanpa ada bendungan...
Ikbal Rizki
Pecinta literasi dan seni.

Siang itu begitu terik, kopi di meja yang dipesan beberapa menit lalu sudah tidak lagi menarik perhatian, sebab kopi tersebut sudah dingin karena saya –seperti orang-orang lainnya di kafe itu–sibuk memainkan gawai yang memberikan hiburan seru di dalamnya.

Beberapa menit kemudian datang seorang pemuda dari arah kiri, dengan memakai baju kemeja hitam yang begitu rapi dan menenteng tas kecil di tangan kanannya. Itulah ia si selebtweet dan selebgram kita.

Mudah untuk mengenali pemuda ini dari perawakan yang unik dan mukanya yang tidak pasaran. Ia duduk sembari matanya tetap terfokus ke layar gawai. Di media sosial twitter, saya melihat orang ini begitu riang gembira, lucu dan tampak seperti pribadi yang hangat. Berbeda sekali dengan apa yang sedang saya lihat sekarang, ia tampak begitu kesepian, ringkih, seperti terasing, dan tidak mempunyai teman untuk diajak bicara empat mata.

Apakah orang ini merupakan representasi dari generasi milenial yang begitu riuh dan ramai di media sosial tetapi begitu terasing dan kesepian di dunia nyata? Saya tidak tahu. Tetapi setidaknya kita bisa memberikan jawaban tersendiri untuk pertanyaan macam ini, bukan?

 

Budaya Menertawakan Orang Lain

Akui saja, menertawakan orang lain di media sosial adalah hal seru, bukan? Entah itu menertawakan teman sendiri atau menertawakan orang lain bahkan yang tidak pernah kita kenal sekalipun.

Dalam batas-batas tertentu, menertawakan sesuatu, bisa jadi hiburan-hiburan yang segar untuk kehidupan yang terlalu serius dan membosankan. Di zaman begini, di mana lagi kita harus mencari hiburan-hiburan selain di media sosial yang menyajikannya dengan sangat beragam?

Masalahnya baru muncul apabila kita lupa akan posisi kita sendiri. Menertawakan sesuatu hal yang lucu adalah hal yang etis, tetapi bagaimana dengan ketika menertawakannya sudah melewati batas? Dan membuat orang yang ditertawakan secara berjamaah di media sosial itu jadi tertekan?

Akui sajalah, mereka yang suka menertawakan orang lain secara ekstrem, yang dimamahbiakkan oleh selebtweet yang terhormat itu, sejatinya adalah untuk menutup fakta bahwa kehidupan mereka sebenarnya juga menyedihkan. Jadi mereka butuh hiburan.

Budaya Main Keroyokan, Berpikiran Dangkal dan Mudah Tersinggung

Di media sosial di abad yang sangat beradab ini, sering terjadi fenomena keroyokan virtual, bagaimana tidak, ketika ada sedikit  tulisan, postingan atau video yang menyinggung pihak tentu–yang-nama-tidak-boleh-disebutkan-itu—harus bersiap menerima azab caci maki dan bully dari segala penjuru.

Tak kurang bahasa-bahasa binatang terkadang ikut disertakan dalam parade ini. Entah di facebook atau twitter,  nampaknya sama saja. Sering juga ada seruan boikot-boikot kepada pihak berbeda pandangan politik atau agama yang nampaknya kalau kita berpikiran jernih, tidak masuk akal sama sekali.

Yang penting menambah segala keseruan bersosial media, orang yang jadi korban bisa kehilangan pekerjaan, bahkan ada pula yang mengeluarkan daftar nama target-target mereka apabila terjadi pergantian kepemimpinan. Betapa mengerikan!

Media sosial yang mula jadi tempat bersosialisasi, bertemu kawan lama, atau sekadar tempat mencari jodoh, makin ke sini seperti berubah fungsi menjadi tempat menghasut, provokasi dan menebar kebencian.

Alamak. Jika di facebook tampak seperti tempat berkembangbiaknya berita-berita hoaks nan provakatif, twitter adalah tempat bercongkolnya sarang pem-bully yang dengan gagah dan beramai-ramai mengajak pengikutnya mengamini postingannya.

Seharusnya yang bersuluk di timeline twitter itu lebih bijaksana dan menahan diri ketika menanggapi suatu hal. Tetapi apa boleh bikin! Kita semua butuh hiburan dan itu jadi sebuah dilema pula.

Semoga ini tidak berlanjut semakin parah, saya yakin di samping itu, banyak juga timbul generasi millenial yang cerdas yang bisa memilah mana baik dan mana buruk. Tabik!

Ikbal Rizki
Pecinta literasi dan seni.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

Civil Society, Pariwisata Nasional, dan Dikotomi Ekonomi Vs Kesehatan

Dalam beberapa tahun terakhir, pariwisata telah menjadi sumber pendapatan devisa terbesar nomor dua (280 triliun Rupiah pada 2019) di Indonesia untuk kategori non-migas. Ini...

PKI dan Narasi Sejarah Indonesia

Bagaimanakah kita menyikapi narasi PKI dalam sejarah Indonesia? Sejarah resmi mencatat PKI adalah organisasi politik yang telah menorehkan “tinta hitam” dalam lembaran sejarah nasional,...

Janji Manis Penyelesaian HAM

Setiap memasuki bulan September, negeri ini selalu dibangkitkan dengan memori tentang sebuah tragedi kelam yang terjadi sekiranya 55 tahun silam. Peristiwa diawali dengan terbunuhnya enam...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.