Senin, Maret 8, 2021

Melihat Tingkah Generasi Milenial dan Netizen di Media Sosial

Memilih Berdaulat Dengan Prinsip Pancasila

Dewasa ini kita telah disuguhkan bagaimana riuhnya suasana menjelang Pemilu 2019, mulai dari deretan kampanye masing-masing calon ,hingga debat-debat yang terjadi di dunia maya...

Asian Games Di Mata Puan Maharani

Tinggal menghitung hari Asian Games akan dimulai. Masih tersiar kabar sebagian fasilitas olah raga di Stadion Jakabaring Palembang rusak akibat ulah suporter sepak bola....

Petani dan Ironi Pekerja Informal Pedesaan

Masih teringat di memori pikiran kita peringatan Hari Tani Nasional 2019 dengan aksi besar-besaran di beberapa daerah. Aksi yang dilakukan oleh aliansi yang terdiri...

Agar Air Tak Memusuhi Kita

Air ialah yang diperjuangkan Yu Sukinah dan kawan-kawannya dari Kendeng dan berbagai tempat lainnya. Sumber air dan lingkungan mereka adalah bagian dari identitas mereka....
Ikbal Rizki
Pecinta literasi dan seni.

Siang itu begitu terik, kopi di meja yang dipesan beberapa menit lalu sudah tidak lagi menarik perhatian, sebab kopi tersebut sudah dingin karena saya –seperti orang-orang lainnya di kafe itu–sibuk memainkan gawai yang memberikan hiburan seru di dalamnya.

Beberapa menit kemudian datang seorang pemuda dari arah kiri, dengan memakai baju kemeja hitam yang begitu rapi dan menenteng tas kecil di tangan kanannya. Itulah ia si selebtweet dan selebgram kita.

Mudah untuk mengenali pemuda ini dari perawakan yang unik dan mukanya yang tidak pasaran. Ia duduk sembari matanya tetap terfokus ke layar gawai. Di media sosial twitter, saya melihat orang ini begitu riang gembira, lucu dan tampak seperti pribadi yang hangat. Berbeda sekali dengan apa yang sedang saya lihat sekarang, ia tampak begitu kesepian, ringkih, seperti terasing, dan tidak mempunyai teman untuk diajak bicara empat mata.

Apakah orang ini merupakan representasi dari generasi milenial yang begitu riuh dan ramai di media sosial tetapi begitu terasing dan kesepian di dunia nyata? Saya tidak tahu. Tetapi setidaknya kita bisa memberikan jawaban tersendiri untuk pertanyaan macam ini, bukan?

 

Budaya Menertawakan Orang Lain

Akui saja, menertawakan orang lain di media sosial adalah hal seru, bukan? Entah itu menertawakan teman sendiri atau menertawakan orang lain bahkan yang tidak pernah kita kenal sekalipun.

Dalam batas-batas tertentu, menertawakan sesuatu, bisa jadi hiburan-hiburan yang segar untuk kehidupan yang terlalu serius dan membosankan. Di zaman begini, di mana lagi kita harus mencari hiburan-hiburan selain di media sosial yang menyajikannya dengan sangat beragam?

Masalahnya baru muncul apabila kita lupa akan posisi kita sendiri. Menertawakan sesuatu hal yang lucu adalah hal yang etis, tetapi bagaimana dengan ketika menertawakannya sudah melewati batas? Dan membuat orang yang ditertawakan secara berjamaah di media sosial itu jadi tertekan?

Akui sajalah, mereka yang suka menertawakan orang lain secara ekstrem, yang dimamahbiakkan oleh selebtweet yang terhormat itu, sejatinya adalah untuk menutup fakta bahwa kehidupan mereka sebenarnya juga menyedihkan. Jadi mereka butuh hiburan.

Budaya Main Keroyokan, Berpikiran Dangkal dan Mudah Tersinggung

Di media sosial di abad yang sangat beradab ini, sering terjadi fenomena keroyokan virtual, bagaimana tidak, ketika ada sedikit  tulisan, postingan atau video yang menyinggung pihak tentu–yang-nama-tidak-boleh-disebutkan-itu—harus bersiap menerima azab caci maki dan bully dari segala penjuru.

Tak kurang bahasa-bahasa binatang terkadang ikut disertakan dalam parade ini. Entah di facebook atau twitter,  nampaknya sama saja. Sering juga ada seruan boikot-boikot kepada pihak berbeda pandangan politik atau agama yang nampaknya kalau kita berpikiran jernih, tidak masuk akal sama sekali.

Yang penting menambah segala keseruan bersosial media, orang yang jadi korban bisa kehilangan pekerjaan, bahkan ada pula yang mengeluarkan daftar nama target-target mereka apabila terjadi pergantian kepemimpinan. Betapa mengerikan!

Media sosial yang mula jadi tempat bersosialisasi, bertemu kawan lama, atau sekadar tempat mencari jodoh, makin ke sini seperti berubah fungsi menjadi tempat menghasut, provokasi dan menebar kebencian.

Alamak. Jika di facebook tampak seperti tempat berkembangbiaknya berita-berita hoaks nan provakatif, twitter adalah tempat bercongkolnya sarang pem-bully yang dengan gagah dan beramai-ramai mengajak pengikutnya mengamini postingannya.

Seharusnya yang bersuluk di timeline twitter itu lebih bijaksana dan menahan diri ketika menanggapi suatu hal. Tetapi apa boleh bikin! Kita semua butuh hiburan dan itu jadi sebuah dilema pula.

Semoga ini tidak berlanjut semakin parah, saya yakin di samping itu, banyak juga timbul generasi millenial yang cerdas yang bisa memilah mana baik dan mana buruk. Tabik!

Ikbal Rizki
Pecinta literasi dan seni.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.