Minggu, April 11, 2021

Melihat Bebuahan dari Mata Vandana Shiva (Hari Buah Sedunia)

Mahasiswa dan Idealisme?

“Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat Indonesia” rasanya tidak asing bukan mendengar doktrin tersebut? tentu kita sering mendengarnya di kehidupan kampus. Kehidupan mahasiswa menjadi suatu dinamika...

Konsumerisme dan Falsafah Hidup Masyarakat Indonesia

Hasil riset yang dirilis oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menunjukkan bahwa ternyata masyarakat Indonesia tergolong sebagai tipe masyarakat yang memiliki tingkat kepercayaan diri...

Menyuntik DNA Inovator demi Menyambut 5.0

Perlahan tapi pasti, masyarakat dunia sudah mulai berpikir untuk meninggalkan era 4.0. Hal tersebut seiring dengan gebrakan baru yang dilakukan oleh Kabinet Pemerintahan Jepang...

Langkah Mundur Kementerian Kelautan dan Perikanan

Tanggal 9 Juni lalu, baru saja kita memperingati Hari Laut Sedunia. Indonesia sebagai negara maritim dengan kepulauan terbesar di dunia seharusnya mampu menunjukkan kepada...
A.S. Rosyid
Literacy and sustainability enthusiast. Interested in Ethics and Maqasid Studies.

Bebuahan yang melangka

Pada 1 Juli 2019, tidak banyak yang merayakannya sebagai Hari Buah Sedunia. Padahal ia merupakan realitas paling dekat dengan manusia: pangan. Saya sempat merayakannya bersama sejumlah kawan dan lewat tulisan ini ingin saya ucapkan sekali lagi: Selamat Hari Buah Sedunia.

Sebagai negeri tropis yang subur, tanah Indonesia ramah bebuahan. Buah yang ditumbuhkan di Indonesia tidak seluruhnya ‘pribumi’—kebanyakan benih luar yang dikembangkan di Indonesia. Buah asli Indonesia hanya beberapa, dan beberapa di antaranya telah melangka. Seberapa banyak dari kita yang telinganya akrab dengan nama Kemayau, Keledang, Manau, dan Lai?

Bagaimanapun juga, melangkanya bebuahan tertentu bukanlah tanpa alasan. Mungkin faktor-faktor produksi dan distribusi merupakan penyebabnya, namun, menurut hemat saya, faktor terbesar adalah karena manusia melupakannya.

Ada relasi, antara manusia dan alam, yang tidak lagi erat dan sakral. Manusia adalah bagian alam; ia lahir dari alam, membesarkan diri dengan unsur-unsur alam, bergerak dengan menimbang tabiat alam, dan mati kembali ke alam. Alam sesungguhnya merupakan induk, dan manusia anak-anaknya.

Kesadaran itulah yang tercerabut. Terutama setelah revolusi industri pada abad ke-18, manusia mengembangkan kebudayaannya tidak dengan berinteraksi langsung dengan alam. Hampir seluruh kebutuhan didapatkan dari membeli sebagai konsumen. Sedangkan produsen menganggap alam sebagai sekadar ‘bahan baku’ untuk mengembangkan laba. Pada akhirnya, manusia memproduksi dan mengkonsumsi barang-barang. Manusia “melupakan” apa yang alami, yang bukan artifisial.

Dengan ketercerabutan, buah-buahan terlupakan. Ia lantas melangka karena tak disentuh.

Pangan itu sakral

Dr. Vandana Shiva menulis sebuah esai berjudul Fake Food, Fake Meat: Big Food’s Desperate Attempt to Further the Industrialisation of Food. Ia meluncurkan kritik terhadap industri makanan yang menyederhanakan dimensi alam yang sesungguhnya sakral, sebab alam dipenuhi dengan energi penciptaan, yang menumbuhkan dan merawat, yang saling utuh-mengutuhi. Alam bekerja dengan prinsip “berbagi”, “secukupnya”, “kualitas” dan “orisinalitas”.

Kebudayaan apapun yang dikembangkan manusia yang tidak bersandar pada prinsip-prinsip tersebut hanya akan mengantar kehidupan pada kerusakan. Atas dasar itulah, kritik kemudian dikembangkan: bahkan hal sesederhana pangan tidak boleh diperlakukan dengan “privatisasi”, “eksploitasi”, “kuantifikasi”, dan “artifisial”.

Sementara, Vandana Shiva memandang industri pangan bukan saja memproduksi pangan dengan mode produksi terlarang itu, melainkan mengubah cara pandang manusia pada pangan.

Sebagai seorang Hindu yang ekofeminis dan sekaligus pemikir lingkungan yang cukup disegani di dunia, Vandana Shiva merumuskan ontologi pangan. Menurutnya, pangan tidak boleh dianggap “barang”, dan pangan seharusnya bukan dianggap sebagai komoditi. Dengan demikian, hubungan manusia dan pangan bukanlah hubungan mekanikal di laboratorium pabrik-pabrik. Sebab, pangan adalah kehidupan.

Pangan punya posisi penting dalam urusan hidup menghidupkan. “Segala hal adalah makanan bagi yang lain,” tulis Vandana Shiva dengan mengutip Upanishad. Esensi dari pangan adalah energi, dan energi adalah kebutuhan mendasar untuk tumbuh, dan bergerak.

Dengan demikian, pangan adalah sokoguru kehidupan sekaligus kebudayaan. Pangan berperan menghadirkan kesehatan dan mengobati penyakit. Pangan memastikan jejaring kehidupan tidak bersifat sia-sia. Pangan adalah representasi dari keabadian dan kemurahan Tuhan.

Namun, agaknya, bukan industri pangan yang diserang oleh Vandana Shiva, melainkan paradigma industri yang mereduksi kesakralan. Persoalannya bukanlah ketiga pangan dijual, melainkan ketika pangan tidak dilihat kecuali disertai bayang-bayang akan lembar-lembar uang.

Paradigma itu tentu bisa dimiliki baik oleh industri kecil hingga raksasa atau tidak keduanya. Paradigma yang salah pada pangan akan mendorong kapitalisasi sebagai motif dan eksploitasi sebagai modus, yang akhirnya, memupus kesakralan.

Dunia hari ini mengalami 75% kerusakan tanah, air, dan udara sebab alih fungsi lahan tak terkontrol demi kapitalisasi. Akibatnya, biodiversitas yang bersemayam di alam menjadi rusak. Itu yang terjadi ketika hutan disulap menjadi lahan perkebunan sawit, atau ketika ruang terbuka hijau kota disulap menjadi mal.

Sebab, yang lebih berharga adalah kapital atau berlipatgandanya uang, sedangkan rumah besar bernama alam beserta seluruh anggotanya bukanlah pertimbangan utama.

Buah dalam konteks Indonesia

Sejak tahun 1993, Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) melaporkan bahwa konsumsi sayuran mengalami kenaikan sebesar 0,62%, sedangkan konsumsi bebuahan turun hingga 0,40%.

Sesuatu yang dianggap mengherankan karena dalam pada itu Indonesia menunjukkan peningkatan mutu ekonomi dan kesejahteraan umumnya diikuti dengan konsumsi bahan pangan sehat. Artinya, konsumsi masyarakat teralihkan pada produk pangan lain, yang mungkin bersifat pabrikatif.

Tugas negara adalah merekacipta kebijakan untuk meninggikan bebuahan nasional di dunia internasional; tugas petani adalah memproduksi bebuahan berkualitas, dan tugas akademisi memastikan informasi ilmiah tentang manfaat bebuahan. Sedangkan pada peringatan Hari Buah Sedunia yang keduabelas, sebagai rakyat awam, kita bisa melakukan lebih dari sekadar berdoa: menumbuhkan lagi kesakralan pada pangan dengan menjadikan bebuahan sebagai batu loncatan.

Ke depan, kita harus terus mencoba kembali pada gaya pangan tradisioal―pangan yang diproduksi sendiri, dan didistribusikan tidak dengan nafsu kapital. Gaya pangan semacam ini akan menyelamatkan lingkungan sebab manusia akan mengolah tanah, menekan kemasan tidak ramah lingkungan, sekaligus menjinakkan hasrat dan imajinasi manusia akan kesejahteraan, dari yang serba uang menuju yang serba berkah.

Selamat Hari Buah Sedunia. Semoga pangan yang baik terus dicurahkan pada kita.

A.S. Rosyid
Literacy and sustainability enthusiast. Interested in Ethics and Maqasid Studies.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Stop Propaganda Anti Syiah, Bersatulah Sunni dan Syiah

Apabila kita search dengan kata kunci Syiah, entah itu di youtube, google, instagram, dan lain sebagainya. Kita pasti akan menemui berbagai gambar atau video...

Kudeta Militer Myanmar, Asumsi Media Tentang Posisi Indonesia

Pada awal tahun 2021 dunia internasional dikejutkan dengan peristiwa yang terjadi di salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yakni Myanmar. Negara yang dulunya...

Barter Fatwa, Bolehkah?

Saya tersentak atas pemberitaan media yang mensinyalemen adanya barter fatwa. Barter fatwa yang dimaksud adalah menukar fatwa halal dengan jabatan komisaris sebuah BUMN. Majalah Tempo...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Remaja dan Zona Nyaman

Remaja pada umumnya selain terlihat fisiknya yang berubah, tetapi juga mengubah perlahan tentang pola pikirnya. Pola pikir ini berhubungan dengan sebuah tahanan sesorang remaja...

Presiden Joe Biden: Gesture pada Islam dan Dunia Muslim

Joe Biden telah empat bulan lalu dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat ke 46 pada 20 Januari 2021. Joe Biden bersama pasangan wakil presiden Kamala...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.