OUR NETWORK

Melawan Narasi Politik Kebohongan (Bagian 1)

Dunia tersentak dengan kemenangan politisi yang dijuluki “Donald Trump-nya Brazil” ini

Jair Bolsonaro, akhirnya terpilih menjadi presiden Brazil setelah menang atas pasangan Fernando Haddad dan Manuel d’Avila pada Pemilu 28 Oktober 2018 yang lalu. Bolsonaro meraih 55,13% suara pemilih Brazil sementara pesaingnya hanya meraup 44,87% suara.

Dunia tersentak dengan kemenangan politisi yang dijuluki “Donald Trump-nya Brazil” ini. Sebab, cara kampanyenya di Pilpres Brazil jauh dari kepatutan politik yang memperhatikan moral karena mirip Trump ketika memenangkan Pilpres Amerika Serikat. Sangat rasis, anti-minoritas, suka berbohong  dan kerap mengampanyekan ketakutan dalam setiap pidato politiknya.

Siapapun yang mengkritik keras Bolsonaro, pasti akan dituduhnya komunis. Siapapun itu dan apapun ideologinya. Tak terkecuali untuk tokoh sekelas Fancis Fukuyama, seorang ilmuan ekonomi politik yang ideologinya bisa dibilang sudah “kanan mentok” atau liberal, bisa dituduhkan sebagai komunis oleh para pendukung Bolsonaro.

Anehnya semua propaganda terkait Bolsonaro ini disebarkan melalui WhatsApp ini dengan cepat dipercaya oleh masyarakat Brazil tanpa melakukan verifikasi informasi terlebih dahulu. Sebab, media propaganda Bolsonaro tidak melalui media-media mainstream atau resmi Brazil tapi melalui grup-grup WhatsApp yang dibuat sebanyak mungkin.

Strategi ini mirip dengan propaganda yang dilakukan oleh Joseph Goebbels saat membantu Adolf Hitler di Jerman pada dekade 1933-1945 yang rutin memproduksi kebohongan dan propaganda ketakutan masyarakat mayoritas atas eksistensi minoritas.

Bahkan suatu ketika Goebels (1941) pernah berucap : “a lie told once remains a lie but a lie told a thousand times becomes the truth”– Kebohongan yang diceritakan sekali saja akan tetap menjadi kebohongan tetapi kebohongan yang diceritakan seribu kali suatu saat akan menjadi sebuah kebenaran.

Jauh daripada itu, diantara Bolsonaro, Trump dan Hitler yang sama-sama sangat rasis juga memiliki tagline propaganda yang hampir sama pula dengan penguatan terhadap ultra-nasionalisme dengan kalimat-kalimat metafor yang merujuk kepada kekelaman masa depan negaranya. Sekaligus membangdingkan dengan kejayaan pemerintahan masa lalu yang sebenarnya sangat bersifat abstrak.

Jair Bolsonaro (2018) mengatakan “Brazil diatas segalanya” sembari menjustifikasi para lawan politiknya dengan tuduhan komunis.

Lalu Adolf Hitler (1933) berteriak “Deutschland über alles – Jerman diatas segalanya” sambil menguatkan fanatisme terhadap bangsa asli jerman yaitu Ras Arya dengan mengutuk semua hal tentang bangsa Yahudi dan kulit hitam

Sementara Donald Trump (2016) mengkampanyekan “Make America Great Again – Kembalikan Kejayaan Amerika” sembari memprogandakan sentimen anti-minoritas dan anti-islam untuk menarik simpati masyarakat AS.

Politik Kebohongan

Pertanyaan paling penting tentang kebohongan adalah kenapa orang bisa berbohong? apa motivasi orang untuk bohong? Apa keuntungan yang didapat seseorang jika dirinya suka berbohong? Kenapa orang tidak takut berbohong?

Rentetan pertanyaan ini rasanya penting untuk dikaji lebih jauh melihat kebohongan yang sering diucapkan oleh tokoh publik sekelas kandidat presiden tanpa pernah takut dampaknya secara khusus membuat orang-orang tidak lagi percaya pada setiap ucapannya.

Asumsinya adalah pada setiap manusia terdapat rasa takut. Rasa takut ini kemudian dirangsang untuk memuncak maksimal hingga melebihi nilai-nilai kebajikan yang ada dalam setiap individu manusia. Hal ini pula yang diharapkan kelak memunculkan kekhawatiran terkait situasi masa depan yang sangat buruk, menyesuaikan situasi secara alamiah di dalam setiap otak manusia. Rasa takut ini lalu dikapitalisasi oleh politisi melampaui asas kepatutan hingga memunculkan rasa benci.

Misalnya ketika seorang individu rutin mendengar cerita tentang kelinci yang membunuh dan memakan manusia setiap pagi, setiap sore, setiap malam dan diucapkan berulang-ulang setiap harinya. Maka suatu saat rasa benci kita pada kelinci akan muncul. Pengetahuan kita tentang kelinci tentang hewan pemakan tumbuhan (herbivora) akan berubah menjadi hewan pemakan daging (karnivora).

Lebih parahnya lagi, pergeseran perspektif itu akan membuat kita percaya pada setiap cerita bohong; bahwa setiap kelinci adalah hewan kanibal pemakan manusia dan kelinci layak kita anggap sebagai hewan yang menjijikkan dan mengharuskan kita membencinya tanpa pernah memverifikasi kebenaran cerita terkait kelinci tersebut.

Kebohongan model seperti ini sengaja didesain dengan mengabaikan data dan fakta yang sebenarnya dengan memanfaatkan dikotomi pilihan politik yang sudah lama terpecah di masyarakat. Tentu saja, dikotomi pilihan politik tersebut tidak muncul tiba-tiba tapi sudah terbentuk sejak lama melalui data dari lembaga konsultan politik yang memiliki informasi terkait sifat, kecenderungan dan orientasi kepribadian manusia.

Seperti data yang sempat disalahgunakan oleh Lembaga Konsultan Asal Inggris, Cambridge Analityca (CA) yang sempat heboh karena terbukti mencuri dan menyalahgunakan informasi pribadi pengguna Facebook yang terkuak beberapa bulan yang lalu…. (Bersambung)

Penulis, Dosen dan Peminum Kopi. Direktur Riset di S75 Branding House.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…