Rabu, Januari 20, 2021

Melawan Miskonsepsi Janda dan Ibu Tunggal

Telaah “Asal-Usul” Tindakan Bos First Travel

Sahabat saya yang seorang essais muda, yakni Khudori Husnan, di dalam calistoeng.blogspot.com, mengulas soal kehidupan pencitraan akut sejoli yang tengah menjadi hot issue belakangan...

Raja Ampat dan Mereka yang Tak Dapat Bersekolah

Sejak krisis 1998, angka kemiskinan di Indonesia per Maret 2018 diklaim merupakan keberhasilan Pemerintah mengentaskan kemiskinan sejak dua dasawarsa terakhir. Berdasarkan survey yang dilakukan...

Apresiasi Puan Maharani atas BEC sebagai Etalase Seni

BEC merupakan salah satu bentuk etalase seni yang patut mendapat apresiasi (Puan Maharani)Menampilkan ragam kebudayaan lokal selalu merupakan hal yang membahagiakan. Pertama, sebab setiap lokal...

Dihadapi Bukan Menjauh dan Lari

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah sangat menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka,...
Selma Kirana Haryadi
A passionate writer with a big interest in politics, gender, cultural and media studies. Currently studying journalism at Padjadjaran University.

“Teriakan minta tolong terakhir janda beranak tiga di Riau!” tulis salah satu media daring.

“Kisah Andhika Pratama yang tak disetujui nenikah dengan Ussy karena Janda!” tulis media daring lain di sebuah kesempatan.

Tiga judul berita itu hanyalah sebagian kecil dari banyaknya berita-berita di media massa di Indonesia yang substansinya menyudutkan dan mengobjektifikasi perempuan dengan status janda. Seolah itu adalah hal yang buruk dan memalukan, sumber informasi utama masyarakat ini seolah tak pernah berhenti menambahkan aneka macam bumbu ke dalam pemberitaan mengenai perempuan berstatus janda.

Tak berhenti sampai di situ. Perempuan berstatus janda yang memiliki anak, biasa disebut juga dengan sebutan ibu tunggal (single mother), juga kerap menjadi sasaran pemberitaan miring. Padahal, apapun keadaannya, ibu tetaplah seseorang yang berjasa karena telah melahirkan dan merawat anak-anaknya.

Ditambah lagi, penghargaan besar terhadap sosok ibu telah diakui dalam bentuk ditetapkannya Hari Ibu Nasional setiap tanggal 22 Desember. Lantas mengapa stigma yang terbentuk di masyarakat terhadap ibu tunggal kerap mengarah pada hal buruk? Mengapa kelompok tersebut amat rentan menjadi bahan objektifikasi dan penyudutan dari media dan masyarakat sekitar?

Hal tersebut ternyata berkaitan dengan kegagalan media massa untuk merepresentasikan perempuan secara adil dan komperhensif. Hal tersebut disampaikan pakar media Ott dan Mack dalam teori analisis feminis.

Teori tersebut menekankan bagaimana media mengakomodir distribusi kekuasaan dan kekuatan yang tidak adil terhadap perempuan. Lambat laun, hal itu mendorong lahirnya objektifikasi terhadap perempuan sebagai turunan dari inferioritas yang media bangun ketika merepresentasikan sosok perempuan.

Sunarto dalam bukunya yang berjudul Televisi, Kekerasan, dan Perempuan mengatakan bahwa media massa merepresentasikan perempuan semata memiliki peran di rumah tangga, bergantung pada pria, tidak mampu membuat keputusan penting, berperan sebagai objek atau simbol seks, objek pelecehan dan kekerasan, dan lain-lain.

Sebenarnya, objektifikasi secara seksual dan emosional tidak hanya menimpa kelompok janda dan para ibu tunggal. Perempuan secara umum juga turut menjadi sasaran hal tersebut. Hanya saja, kaum janda dan ibu tunggal kerap dianggap sebagai perempuan pada posisi yang lemah, tidak berdaya, dan perlu dikasihani sehingga sering kali terjadi ketidakadilan terhadap mereka.

Media massa juga memiliki kecenderungan untuk memanfaatkan stigma tersebut untuk mengobjektifikasi status janda dan ibu tunggal secara seksual. Hal itu diperkuat dengan pandangan Profesor Jurnalisme, Linda Steiner, dalam bukunya New Approaches and Reconsiderations Feminist Media Theory bahwa sesungguhnya media tidak bisa merepresentasikan perempuan secarara akurat. Tidak ada media yang tidak tergiur untuk mengobjektifikasi perempuan dengan memfokuskan visualisasi pada bagian-bagian tubuh seperti bibir, dada (payudara), dan kaki untuk kepuasan para penonton laki-lakinya.

Pemilihan judul-judul berita yang sensasional mengenai janda dan ibu tunggal dilakukan media untuk memprovokasi perhatian atau membangkitkan respons emosional tertentu pada khalayak. Media turut menyumbang aspek pendukung objektifikasi terhadap perempuan. Pilihan kata yang subjektif seperti “cantik”, “gadis”, atau “janda” yang dikontekstualisasikan dengan substansi cabul membuat masyarakat mengadopsi rape culture atau budaya yang menormalkan perkosaaan dalam sistem masyarakat yang patriarkis.

Hal itu berkaitan dengan pendapat Ahli Sejarah dan Filsafat dari Babes-Bolyai University Romania, Diana Damean, dalam Media and Gender: Constructing Feminine Identities in a Postmodern Culture bahwa media mengikuti tiga koordinat ketika menggambarkan sosok perempuan, yaitu gambar (jika dia menginginkan kecantikan), kehidupan pribadi (jika dia memiliki pasangan dan anak), dan karier (berbakat-tidaknya dia dalam pekerjaannya). Skema ini berpeluang memanipulasi sikap perempuan terhadap citra dan waktu luang. Hal ini yang membuat citra terhadap kehidupan pribadi peempuan dianggap lebih penting ketimbang aktivitasnya di ruang publik.

Bila ditelisik lebih jauh, sesungguhnya setiap perempuan memiliki banyak aspek lain dari dirinya yang lebih layak untuk diberitakan dan diketahui publik, seperti karir dan profesi, hobi, pengalaman hidup, dan sebagainya. Tapi, media malah memiliki kecenderungan untuk menekankan aspek kehidupan pribadi perempuan, khususnya janda dan ibu tunggal. Padahal, sesungguhnya hal tersebut tak lagi relevan dengan perkembangan zaman yang seharusnya mengakomodasi kesetaraan gender.

Dalam hal ini, media tidak berperan sendirian. Teori dependensi media membahas bahwa media merepresentasikan sekaligus mengikuti sistem realitas sosial di masyarakat sekitar. Media juga berperan mengekspresikan konstruksi realitas sosial tertentu. Sementara, sistem sosial di sebagian besar masyarakat di dunia, termasuk Indonesia, masih menganut patriarkisme, sebuah sistem yang melestarikan subordinasi perempuan.

Terdapat beberapa tradisi dalam kebudayaan masyarakat Indonesia yang turut menyumbang pembentukan dan pelestarian stigma buruk ini. Salah satunya adalah perempuan yang bercerai di usia muda, atau dikenal dengan sebutan janda kembang, lebih diinginkan secara seksual ketimbang janda yang umurnya lebih tua. Hal itu menunjukkan bahwa stigmatisasi seksual juga berkaitan dengan umur perempuan.

Stigmatisasi terekstrem terjadi pada “janda komunis”, atau para istri anggota Partai Komunis Indonesia yang terbunuh pada kisaran tahun 1965. Di sekitar mereka, masyarakat melontarkan berbagai mitos aneh yang membuat terminologi janda memiliki konotasi berbahaya dan kelainan seksual.

Penelitian I Nyoman Darma Putra dan Helen Creese yang berjudul Negotiating cultural constraints: strategic decision-making by widows and divorcees (janda) in contemporary Bali juga menguatkan pendapat bahwa identitas sebagai ibu yang baik memiliki jarak dengan perempuan yang berstatus sebagai janda.

Untuk menebus “dosa” tersebut, perempuan memiliki beban untuk mengabdi pada agama dan berhubungan kembali dengan keluarga. Ketakutan akan rasa malu dan anggapan buruk masyarakat bahkan membuat banyak perempuan mempertahankan pernikahan yang tidak bahagia dan menyiksa alih-alih berpisah.

Hal itu salah satunya disebabkan oleh representasi buruk mengenai status janda di berbagai tayangan televisi, khususnya sinetron. Stigma buruk terhadap janda dan ibu tunggal telah menyerang identitas moral dan nilai diri mereka sehingga membuatnya sulit membangun reputasi sebagai perempuan terhormat yang memiliki moral baik dalam kehidupan.

Media massa sebagai sumber informasi masyarakat seharusnya bisa merealisasikan fungsi edukasinya pada ranah isu-isu yang relevan. Salah satunya adalah isu kesetaraan gender. Objektifikasi status janda dan ibu tunggal bukanlah hal yang seharusnya dilestarikan.

Ibu tunggal atau bukan ibu tunggal tak seharusnya menghentikan tiap anak untuk menghargai ibunya. Justru, ketika dunia terasa begitu melelahkan, di situlah ibu bisa mengandalkan anak-anaknya untuk memberi kekuatan yang menyelamatkan dia.

Selma Kirana Haryadi
A passionate writer with a big interest in politics, gender, cultural and media studies. Currently studying journalism at Padjadjaran University.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Bagaimana Masa Depan Islam Mazhab Ciputat?

Sejak tahun 80-an Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta dikenal "angker" oleh sebagian masyarakat, pasalnya mereka menduga IAIN Jakarta adalah sarangnya orang-orang Islam liberal,...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.