Rabu, April 14, 2021

Melawan Lupa Sejarah Politik Angkatan Muda

Bedanya Prinsip Syari’ah dan Syari’ah Pada Lembaga Perbankan

Pada saat sekarang ini ada tiga macam model perbankan di Indonesia yaitu sistem konvensional, sistem syari’ah, dan sistem konvensional sekaligus cabang syari’ah. Perbankan diatur...

Hate Spin: Politik Manipulasi Kebencian

Intoleransi menjadi tema sentral dalam kehidupan bermasyarakat dewasa ini menyusul dominannya diskursus kesetaraan dan kebebasan. Tentu boleh dikatakan bahwa keduanya menandakan sebuah relasi kausalitas. Ide...

Dilema Seniman dan Gerakan Sosial

Belum lewat ingatan kita tentang Ratna Sarumpaet, seorang seniman Teater yang cukup senior yang menjadi sorotan. Bukan karena karya monumental yang dipentaskan, namun karena...

Debat Kedua Capres: Prabowo Berjanji, Jokowi Berbukti

Fakta membuktikan bahwa debat kedua capres yang digelar Minggu malam 17 Februari 2019, jauh lebih menarik dan berkualitas dibandingkan dengan debat perdana capres 17...
arief azizy
Esais dan Peneliti di Laboratorium Psikologi Sosial UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Pramoedya Ananta Toer Adalah seorang Bengawan Sastra ulung Indonesia yang merasa yakin bahwa “sejarah dunia adalah sejarah orang muda. Jika angkatan muda mati rasa, matilah sejarah sebuah bangsa”, ujarnya. Seolah menimpali, Soekarno dalam pidatonya yang berapi-api menganalogikan anak muda sebagai tonggak penguasa di dunia.

Pernyataan di atas bukanlah isapan jempol belaka. Memang sudah seharusnya lah Generasi muda yang nantinya maju sebagai pilar penentu nasib dan arah perjuangan bangsa ini. Pemuda selalu di identikkan dengan perubahan atau Revolusi. Sejarah telah menjadi bukti tindak-tanduk pemuda yang tak kenal lelah dengan perjuangan dengan penuh semangat meskipun konsekuensi logisnya harus “menggadaikan” jiwa dan raga.

Generasi muda zaman dulu di anggap sebagai era emas kejayaan pemuda Indonesia. Betapa tidak ? pemuda saat itu mempunyai kecenderungan sikap skeptis dan empatik dengan keadaan sosial pada waktu itu. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan lahirnya Sumpah Pemuda. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi perjuangan dan peran pemuda untuk cita-cita membentuk negara Indonesia.

Sekaligus menegaskan bahwa mereka begitu antusias dan tidak apatis dengan peristiwa politik pada waktu itu. Masih di era yang sama, peran pemuda juga sangat dirasakan ketika perjuangan senjata dan diplomasi pada tahun 1940. Saat itu, angkatan bersenjata kerap kali tampil sebagai “Dewa Penyelamat Bangsa”, contohnya dalam kegiatan perlawanan terhadap pemberontakan dan juga perjuangan melawan para penjajah. Sederet peristiwa politik dan militerisme di era 90-an tidak dapat dilepaskan begitu saja dari peran pemuda.

Ironisnya, mengapa generasi muda sekarang kurang menyukai politik ? Mayoritas lebih menggemari kepiawaian seorang Cristiano Ronaldo, Messi dalam hal menggiring bola ketimbang mengidolakan seorang Soekarno yang juga mahir menyampaikan orasi-orasi politik di depan muka umum. Anak muda sekarang lebih bangga mengenakan kaos trendi ala Korea style ketimbang poster Soe Hok Gie, pejuang yang mati muda itu. Mungkin saja seolah-olah politik tak lebih dari sekedar medan laga tentang perebutan kekuasaan dan kedudukan yang tidak memenuhi cita-cita ideal anak muda.

Anak-anak muda zaman sekarang sepertinya tidak menemukan nilai-nilai moralitas serta keteladanan dalam berbagai aktivitas politik di indonesia dewasa ini. Lagi pula, belakangan ini mulai terungkap berbagai skandal korupsi, ditambah lagi peristiwa rivalitas antara dua institusi negara yang akhir-akhir ini kerap menghiasi layar kaca, belum lagi kehidupan Glamour sejumlah elite politisi yang tentu saja semakin menjauhkan politik dari perhatian generasi muda dan tentu saja angan-angan akan kepemimpinan yang “Progressive Revolusioner” seperti yang diidealkan semakin mengawang.

Perubahan saatnya digalakkan, tidak ada kata selain harus melakukan “Revolusi Mental” terhadap pemuda. Pemuda sudah seharusnya peka terhadap suatau permasalahan di sekitarnya dan yang paling terpenting adalah “melek” terhadap politik, seorang penyair kontemporer seperti Bertold Breneth berulangkali mengingatkan akan suatu penyakit sosial yakni kebutaan, bukan kebutaan secara fisik, melainkan buta politik. Lebih lanjut, ia mengatakan suatu peristiwa sosial sekecil apapun didak lepas dari satu keputusan yang berdimensi politik.

Politik seperti kata yang asing bagi anak muda zaman sekarang, hanya segelintir yang mau mengkaji dan mendalaminya sebagai perluasan wawasan dan pengetahuan. Diakui memang tidak mudah untuk mengubah pola pikir atau mindset anak muda terhadap politik. Opini politik sudah terlanjur negatif lantaran ulah dan tindak-tanduk elite politisi. Tetapi kita, sebagai generasi penerus bangsa harus tetap optimis, opini mengenai politik sudah seharusnya diluruskan dan didiskusikan kembali. Dan siapa lagi kalau bukan generasi muda ?.

arief azizy
Esais dan Peneliti di Laboratorium Psikologi Sosial UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menolak lupa: Seputar Perjalanan Covid-19 di Indonesia

Tidak terasa kasus pandemi Covid-19 di Indonesia hampir berusia 1 tahun. Apabila kita ibaratkan sebagai manusia, tentu pada usia tersebut belum bisa berbuat banyak,...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Dibalik Kunjungan Paus Fransiskus ke Timur Tengah

  Tak dapat disangkal kekristenan bertumbuh dan berkembang dari Timur Tengah. Sebut saja, antara abad 1-3 masehi, kekristenan praktisnya berkembang pesat di sekitar wilayah Asia...

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Peranan Terbesar Manajemen Dalam Bisnis Perhotelan

Melihat fenomena sekarang ini mengenai bisnis pariwisata di Indonesia yang terus tumbuh sesuai dengan anggapan positif dunia atas stabilnya keamanan di Indonesia mendorong tumbuhnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.