Rabu, Oktober 28, 2020

Melawan Kesalahan Logika Berpikir untuk Hidup yang Bernilai Baik

Saatnya Upgrade Budaya Kampus

Menurut artikel Fachrirozi dengan judul Paradigma kampus sebagai center of exelent, disana terdapat beberapa bahasan yang menarik. Beberapa bahasan tersebut adalah menjelaskan mengenai kampus...

Mengukur Efektifitas “Jokowi Effect”

Hasil hitung cepat yang dilakukan oleh beberapa lembaga survei, pasangan nomor urut 01 Joko Widodo dan Maruf Amin unggul di atas rivalnya, yakni pasangan...

Covid-19, Drama Korea dan Feminisme

Bagi remaja Indonesia, terutama yang masih jomblo, film Drama Korea atau sering disebut drakor seperti kehidupan surga yang selalu di damba-dambakan. Momen ketika si...

Nasionalisme dan Persatuan Umat Islam

Sudah 72 tahun Indonesia merasakan kemerdekaan. Pada masa kemerdekaan pertama yang dibacakan oleh sang proklamator Ir.H Soekarno dan Drs. H Moh. Hatta menyatakan bahwa...
Fikri Muhammad
Mahasiswa S1 Ilmu Politik Unpad 2013 Pemimpin Umum Dipanpers Angkatan 2

Otak yang ada dikaki dan tengkorak yang menggantikan rambut  menggambarkan salahnya logika seseorang. logikanya hanya sebatas kaki dan isi kepalanya yang mati. Gambar muka dan bunga merupakan hidup yang "terlihat" baik padahal logika yang dipakainya salah. seperti perumpamaan orang yang mempunyai pandangan kodrati/agamis. terlihat indah namun pada realita belum tentu itu benar.
https://www.instagram.com/hardiye/

Mengenai narasi mencapai hidup yang bernilai baik (euzen) sering dimaknai dengan slogan “hidup yang bermanfaat”. Kultus yang demikian adalah pedoman kunci sebagian individu yang ingin mempersembahkan cita-citanya. Kita tentu mengerti tujuan dari slogan tersebut adalah imajinasi dari premis tunggal “kebaikan” tetapi bagaimana pola berpikir untuk mencapainya masih menjadi sesuatu yang awam bagi kita sebagai generasi muram berpikir.

Paham relijius sering dipakai  menjadi  rasionalisasi untuk mencapai hidup yang baik. “Semacam ada hirarki moral dimana anda tidak mempunyai identitas selain identitas yang diberikan komunitas. Individu kehilangan eksistensi dalam komunitas yang isinya dalil agama. Kita sengaja membiarkan agama sebagai bahan yang agung dan bahkan sebagai bahan pertengkaran politik,” ucap Rocky Gerung dalam Merawat Indonesia dengan Akal Sehat.

Dalam konteks Indonesia yang masih menunjukan sikap gegabah dalam menanggapi suatu isu kita mudah tersulut sumbu pendek karena dikuasai nafsu dan emosi yang juga disebut oleh Agustinus sebagai nafsu-nafsu rendah (concupiscentia). Contoh saja PP Muhammadiyah yang berkeyakinan bahwa kita dikuasai oleh sesuatu diluar kita. Menyerukan penolakan, pembelian,  dan pemboikotan Starbucks karena perusahaan tersebut mendukung Mahkamah Agung AS yang secara resmi melegalkan pernikahan sesama jenis pada 2013 lalu. Suatu dilema jika kita mengesampingkan cinta rasa Doubleshot Espresso, Frappuccino, dan Pink Drink yang Instagramable dengan kekawatiran PP Muhammadiyah terhadap pada pandangan hidup Starbucks yang akan menggerogoti dan menguasai Pancasila. Jika kita menolak secara ide sepatutnya tidak perlu meninggalkan apa yang sejatinya menjadi substansi Starbucks yaitu kopi.

Bisa dipahami mengapa kita seakan-akan terpecah belah ditarik kesana-sini. Dorongan irasional lah yang menyebabkan kita tidak menjadi diri sendiri. Rancunya pemikiran tersebut merupakan suatu gambaran gagalnya anatomi berpikir secara logis. Kita sering melupakan ide substansi  lawan bicara dan lebih menyerang emosi, karakter, moral dan sifat subjektif lainya. Pemikiran seperti ini disebut Ad Hominem. Selain kasus Starbucks pengambilan keputusan suami yang melarang istri untuk bekerja dikarenakan ia seorang perempuan juga Ad Hominem.

Plato dalam pencerahanya mengenai “perumpamaan tentang goa” sudah lebih dulu menggambarkan kesalahan logika berpikir. Alkisah, terdapat goa yang didalamnya terdapat sekelompok tahanan yang menghadap tembok belakang goa. Mereka tidak dapat memutarkan badan atau duduk. Di belakang mereka terdapat api besar dan budak-budak yang membawa berbagai benda, patung dll. Yang dapat dilihat oleh para tahanan adalah bayangan dari benda-benda tersebut. Karena itu, mereka berpendapat bahwa bayangan tersebut merupakan suatu realitas. Satuketika, ada satu dari para tahanan yang lepas. Ia berpaling dan melihat benda-benda yang dibawa oleh para budak dan api itu. Setelah itu, dengan susah payah ia keluar dari goa dan matanya membiasakan diri dengan cahaya, melihat pohon, rumah, dan dunia nyata di luar goa. Akhirnya, ia mengerti bahwa apa yang dahulu dianggap realitas bukanlah realitas yang sebenarnya. Melainkan, hanya bayang-bayang dari benda (patung, dll) yang merupakan tiruan dari realitas sebenarnya di luar goa. Namun, ketika ia kembali dalam goa dan mengajak para tahanan lainya untuk ikut keluar, mereka malah marah dan tidak mau meninggalkan goa (Magnis-Suseno, 1997).

Dengan perumpamaan ini, Plato ingin memperlihatkan bahwa apa yang pada umumnya dianggap sebagai kebenaran masih jauh sekali dari kenyataan yang sebenarnya. Manusia yang keluar dari goa akan terbebas dari belenggu-belenggu yang ada dan sampai pada kenyataan yang sesungguhnya.

Untuk meresapi pemikiran Plato dan menghindari kesalahan logika berpikir kita perlu mencari kebahagiaan pribadi ditengah dunia yang bergejolak. Walaupun terkesan individualistis hal ini penting untuk gagasan dasar dalam kedalaman berpikir.

Gagasan tersebut didapatkan dari kebijaksanaan (phronesis). Seorang filsuf bernama Epikuros menyebut orang yang bijaksana merupakan seniman hidup, seorang yang pandai mempertimbangkan rasa nikmat atau rasa sakit. Epikuros berpendapat jika manusia memilih nikmat sesaat akan menghasilkan penderitaan yang panjang, begitu juga sebaliknya rasa sakit yang sesaat akan menghasilkan kenikmatan yang panjang. Suatu kenikmatan hakikatnya didapatkan pada ketentraman jiwa yang tenang. Ajaran Epikuros ialah mencapai kebahagiaan pribadi dengan menarik diri dari kehidupan umum. Dalam bahasa populer yang kita sebut sebagai me time. Proyeksi me time berguna untuk memahami dan mengoreksi diri sendiri. Tetapi, bukan berarti me time ala Epikuros mengagungkan individualitas, ia yakin bahwa berbuat baik lebih menyenangkan daripada menerima kebaikan karena menurutnya kebaikan terbesar adalah persahabatan. Me time dapat memaklumi seni kehidupan manusia dengan memaksimalkan ketenangan dan kebebasan dari berbagai penderitaan ditengah dunia yang mengejutkan. Ia dapat memberikan kita berbagai keutamaan seperti kesederhanaan, tahu diri, penguasaan diri, dan bergembira di segala situasi. Kita dapat mempelajari pengalaman mana yang kita rasakan sebagai rasa sakit lalu menstimulasikanya menjadi kenikmatan yang panjang.

Setelah  fase me time barulah kita beranjak untuk keluar dari penjara guna melihat dunia diluar goa. Jika sebelumnya pemikiran manusia awam hanya berpegang teguh pada hukum kodrat seperti yang dimaksud Thomas Aquinas sebagai realitas, struktur realitas, atau realitas yang ada. Kita harus membiasakan diri untuk melepas pemikiran tersebut. Perlu diingat bahwa manusia adalah satu-satunya mahluk yang dapat menyeleweng dari kodratnya. Dahulu, kodrat ilmu kedokteran adalah untuk memperpanjang umur manusia. Sekarang, ilmu kedokteran bisa berkembang menjadi lahan finansial yang menguntungkan. Selain itu,  Hidup pecandu video games yang dikodratkan oleh para orangtua sebagai seseorang dengan masa depan yang rendah berubah dengan adanya Dendi Na’Vi atau Reza Arap “si gamers ganteng”. Bahkan, penyelewengan kodrat terjadi ketika manusia bisa mencintai sesama jenis.

Hukum kodrat dikonotasikan berupa segala sesuatu yang datang dari Tuhan. Ketika dilanggar manusia memutuskan untuk bermusuhan dengan Tuhan. Kekhawatiran itulah yang membawa manusia pada fanatisme sempit dalam berpikir. Hukum kodrat adalah nyata berasaskan penciptaan bumi serta segala isinya untuk manusia. Lalu, penciptaan manusia dalam bentuk yang sempurna dengan dua kaki, dua tangan, dan satu kepala. Bagaimana dengan seorang anak yang dilahirkan dengan dua kepala, satu tangan, dan satu kaki? Apakah Tuhan melanggar kodrat yang dibuatnya sendiri? Apakah kejadian tersebut berasal dari dosa orangtua? Sebetulnya, Tuhan ingin agar manusia tidak mengkotakan “apa yang seharusnya terbentuk”. Tuhan tidak ingin manusia sempit akal. Ia sengaja memberikan manusia  suatu rahmat (gratia) untuk mengamati, memahami, dan memaklumi berbagai hal. Maka, disinilah fase ketika manusia keluar dari goa. Ia akan terus mencari nilai kebaikan.

Sumber

Magnis-Suseno, F. (1997). 13 Tokoh Etika Sejak Zaman Yunani Sampai Abad ke-19. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Fikri Muhammad
Mahasiswa S1 Ilmu Politik Unpad 2013 Pemimpin Umum Dipanpers Angkatan 2
Berita sebelumnya‘Harvard’ pun Kalah
Berita berikutnyaMenonton Film Lincoln
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Politik dan Monopoli Media Sosial

Saat ini, kita hidup di era cyberspace (dunia maya). Era yang pertama kali diperkenalkan oleh William Gibson dalam buku Neuromancer itu, dimaknai sebagai suatu...

Candu Media Sosial, Kajian Filosofis dan Psikologis

Bermain ria di “alam medsos” terkadang meng-asyikkan. Tapi akhirnya menganggap dunia nyata jadi tak menarik untuk bersosialisasi dan mengemban hidup secara hakiki. Untuk melihat...

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Mengenal Dua Tokoh Ateisme: Feuerbach dan Marx

Ludwid Feuerbach (1804-1872) dan Karl Marx (1818-1883) menjadi dua tokoh besar ateisme dalam sejarah peradaban manusia. Keduanya digolongkan filsuf materialistis karena bagi mereka pemikiran...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.