in

‘Melawan Kemusyrikan di Purwakarta’


Semenjak di Pimpin oleh Dedi Mulyadi Purwakarta memang menjadi primadona di kancah nasional maupun Internasional.

Selain karena sederet prestasi yang di gapai dengan berbagai kebijakan, juga karena dianggap meyimpangnya nilai-nilai reigius dari Dedi Mulyadi sebgai bupati setempat.

Sebelum kita membahas judul yang di tulis di atas, saya akan menjelaskan definisi musyrik itu sendiri.

Musyrik berasal dari bahasa Arab yang artinya menurut syariat Islam adalah perbuatan menyekutukan Allah dengan apa pun. Atau singkatnya, kemusyrikan yaitu beribadah kepada selain Allah.

Apakah benar Dedi Mulyadi musyrik seperti yang di katakan oleh mereka, apakah ada orang yang menyembah patung yang di buat oleh Dedi Mulyadi?

Tidak ada sama sekali yang menyembah patung yang di buat oleh Dedi Mulyadi, semuanya beribadah sesuai dengan agamanya masing-masing.

Kalau patung memang dilarang, kenapa hanya patung di Purwakrta saja yang di permasalahkan, bukankah di tempat lain di Jawa Barat juga banyak patung.

Mengutif pernyataan ketua MUI kabupaten Purwakarta kiayi John Dien, Dedi Mulyadi tidak menyimpang. Malahan, apa yang di lakukan Dedi Mulyadi selama memimpin Purwakarta sejalan dengan Nilai-nilai keagamaan.

Jawaban dari MUI tersebut saya kira sudah membuka siapa Dedi Mulyadi sebenarnya, hanya saja media maupun media sosial mendorong ketidak benaran tersebut untuk merusak citra dari Dedi Mulyadi sendiri.

Baca Juga :   Pilgub Jawa Barat : Cagub Survei, Cagub Artis, dan Cagub Rakyat

Setiap menjelang Pemilu, isu musrik selalu mendera Dedi Mulyadi. Bukan sekarang saja, tetapi telah di lakukan oleh mereka semenjak Dedi mengikuti pemilu pada pencalonan Bupati pada periode Pertama.

Lantas, siapakah mereka yang menganggap Dedi Mulyadi bertentangan nilai-nilai keagamaan?

Mereka merupakan kelompok yang mengatasnamakan Ulama dan Ustad di Purwakarta. Pada awalnya, ketidak sukaan mereka terhadap Dedi Mulyadi dipicu pada kalahnya calon Bupati mereka usung pada pilkada pada tahun 2008 lalu.

Selanjutnya, kekalahan mereka sampai pada puncaknya tatkala pilkada 2013, Dedi yang berpasangaan dengan Dadan Koswara berhasil menang telak dengan persentase 65% lebih di dapatkan Dedi Mulyadi.

Posisi mereka yang bersebrangan dengan Dedi Mulyadi kembali kalah, maka dengan kekalahan tersebut membuat ketidak sukaan terhadap Dedi Mulyadi semakin menjadi-jadi.

Maka dilihat dari kronologi tersebut, tuduhan memojokan Dedi dengan tuduhan Musyrik, kafir, klenik dan sebagainya mutlak bukanlah isu agama, melainkan isu politik karena pasangan calon Bupati mereka terdahulu yang mereka usung selalu kalah.

Bahkan penghancuran patung-patung wayang yang terjadi tempo lalu di Purwakarta pun di lakukan oleh kelompok mereka.

Maka, seketika Dedi Mulyadi tahun ini di dorong oleh masyrakat Jawa Barat untuk mengikuti pilkada, di tentang oleh mereka yang pernah sakit hati dengan cara menggoreng tuduhan yang tidak berdasar.

Kecurigaan terbesar saya saat memontum Pilkada serentak tahun depan, dimana Dedi Mulyadi berada dalam posisi yang pro pemerintah, dekat dengan ulama, serta di usung oleh Partai Golkar dan PDIP serta Partai lainnya yang menyatakan sikap siap mendukung Dedi, maka tuduhan Musyrik terhadapnya dimodali oleh salah satu calon peserta Pilgub Jabar.

Baca Juga :   Dua Stagnasi Besar: Demokrasi Prosedural dan Birokrasi Prasejarah

Memang sangat beralasan seketika Dedi di tebang dari kiri dan kanan dengan tuduhan tersebut, walaupun memiliki hasil survei berada dalam posisi ke-3, dibawah Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar, tetapi lumbung suara Dedi di pelosok dan pedesaan jawa barat tidak pernah terexpos.

Besar kemungkinan, ketika Pemilihan Gubernur tahun depan merupakan taunnya Dedi Mulyadi untuk menjadi Gubernur Jawa Barat.

Maka, dengan ketakutan yang teramat besar, segala cara di lakukan untuk menebang dan menjatuhkan Dedi Mulyadi.

Mengutif pernyataan dari kesepakatan para ulama tentang larangan untuk tidak memusyrik-musyrikan dan mengkafir-kafirkan orang lain. ‘larangan Nabi Muhammad. Saw untuk tidak mengkafir dan memusyrikan orang lain, kalau orang itu tidak kafir dan musyrik maka tuduhan itu kembali kepadanya’

Terakhir, bukti nyata Purwakarta merupakan sosok yang tidak menyimpang, bahkan merupakan sosok yang Religius. Ia mebumikan Pancasila dan menjadikan Purwakarta sebagai daerah paling toleran di Jawa Barat.

‘Puncak dari ibadah adalah ahlak dan puncak dari akal adalah toleran’

Maka saya tegaskan, mereka yang memusyrik-musyrikan orang lain adalah orang yang terkurung dalam kebodohannya sendiri.


Written by Aming_Soedrajat

Pegiat Media Sosial

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR