Banner Uhamka
Selasa, September 22, 2020
Banner Uhamka

Melawan dengan Tagar #CrazyRichSurabayan

Beberapa Alasan Kenapa Kita Harus Berhenti Belajar Filsafat

“Lama ga ketemu, nih. Udah kuliah ya? Kuliah di mana sekarang?” “Sekarang saya kuliah di UI, Om.” “Wah, hebat ya! Ambil jurusan apa di UI?” “Saya jurusan...

Persatuan Bangsa: Jokowi dan Prabowo Belajarlah Kepada Gus Dur

Pemilihan capres dan cawapres telah usai pada Rabu (17/4). Sejumlah lembaga survei merilis hasil hitung cepat di mana pasangan petahana Jokowi-Maruf memperoleh suara di...

Serangan Fajar: Sebuah Kemunduran Peradaban Demokrasi

Kasus serangan fajar yang dilakukan oleh caleg menjadi bukti nyata akan adanya praktik politik berbiaya mahal yang akhirnya menyebabkan kemunduran peradaban sistem demokrasi di...

Kontroversi Dokter Terawan dan Posisi Penelitian

Kerap orang berkata “ini sudah diteliti” atau “itu sudah ada penelitiannya” dengan maksud memberi argumen bahwa hal yang sudah diteliti tersebut pasti benar atau...
Murdianto An Nawie
Dosen Program Pascasarjana IAI Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Twitter diramaikan dengan tagar #CrazyRichSurabayan pada pertengahan September 2018. Barangkali guyon terhadap gaya hidup dan perilaku orang tajir Surabaya bisa ditafsirkan sebagai lucu-lucuan semata, namun ada yang lebih dari itu semua.

Kita mencermati ada semacam semangat tersembunyi dalam #CrazyRichSurabayan yakni perlawanan kelompok sosial tertentu secara tersembunyi. Warganet (netizen) yang mayoritas kaum muda kelas menengah dan (sedang terancam turun kelas), rupanya sedang menteralisir rasa sakit dan ingin membangun perlawanan tersembunyi terhadap kesenjangan sosial yang ada dengan status guyonan dan lucu-lucuan pada dinding media sosialnya.

Praktek perlawanan kelompok sosial, bisa diibaratkan posisi seorang editor surat kabar yang bekerja di bawah sensor yang ketat dari atasannya. Penuh siasat dalam menyisipkan pesan dalam pekerjaannya.

Situasi tersebut sebagaimana dialami oleh sekelompok masyarakat kelas pinggiran, atau mereka yang kurang beruntung secara sosial ekonomi, atau masyarakat kelas bawah yang mendapati dirinya dalam posisi serba sulit dihadapan kelas masyarakat yang jauh lebih beruntung dibandingkan mereka.

Posisinya yang lemah membuat kelompok sosial harus berlaku sedemikian rupa sehingga ia tetap bisa menyampaikan pesan yang dikehendakinya tanpa terlihat menantang norma yang hidup dimasyarakat. Dibutuhkan upaya uji coba tanpa henti dan kreatifitas menggunakan semua celah untuk mengekspresikan misi dan perlawanannya atas situasi sosial yang sedang terjadi.

Saat suara kelompok sosial tertentu, dianggap menyinggung kelompok sosial lain dan dapat dinilai sebagai tindakan melawan norma, mengguncang stabilitas dan kenyamanan sosial, maka muncul apa yang disebut sebagai perlawanan tersembunyi.

James C Scott dalam buku yang telah klasik yakni Weapon of Weak (1985) telah menggambarkan apa yang disebut sebagai ‘perlawanan tersembunyi’. Setidaknya ada tiga bentuk perlawanan tersembunyi tersebut yakni anonimitas (anonymity), penghalusan ungkapan (euphemism), dan kadang berupa perlaku menggerutu (grumbling).

Siasat Perlawanan melalui Media Sosial

Dalam era informasi digital saat ini, anonimitas muncul sangat nyata dalam bentuk penyamaran profile pelaku perlawanan di balik identitas lain atau bahkan disembunyikan sepenuhnya dengan apa yang sebut sebagai akun Anonim. Bentuk ini ibarat orang yang menembak musuh dari persembunyian.

Menyembunyikan jatidiri ini adalah langkah dari kelompok sosial marginal yang seringkali menyembunyikan suara hatinya yang sesungguhnya karena takut terhadap pembalasan kelompok dominan, namun mereka mencari celah untuk tetap bersuara sambil menyembunyikan dirinya.

Kelompok marginal memiliki cara yang cukup beragam untuk menyembunyikan identitas dirinya sambil pada saat yang sama tetap bersuara kritis. Teknik-teknik yang biasa dilakukan adalah membuat gosip, melakukan serangan hacker melalui dunia maya atau bahkan menggunakan jasa paranormal, sampai membuat rumor yang terkadang jatuh pada penyebaran Hoax.

Anonimitas pelaku melalui dunia digital dan internet pada saat ini akan mudah mendapatkan balasan, selain karena mudah dilacak, pelaku biasanya melakukan perlawanan terlalu agresif sehingga mudah untuk ditemukan. Namun ada cara lain penghalusan kata (baca plesetan) semacam viral #CrazyRichSurabayan.

Jika yang pertama yang disamarkan adalah messenger atau pemberi pesannya, maka yang kedua ini yang disamarkan adalah message-nya (pesannya). Jika anonimitas bisa berupa perlawanan vulgar, maka eufemisme menunjukkan perlawanan dengan “kehalusan” bahasa.

Bentuk ketiga perlawanan kelompok marginal adalah gerundelan (grumbling). Kita barangkali sudah teramat terbiasa mendengar gerundelan pada komunitas para pekerja di ruang pekerjaanya. Gerundelan tersebut dapat dilihat sebagai bentuk dari komplain terselubung.

Seringkali, tujuan di balik gerundelan adalah untuk mengomunikasikan ketidakpuasan tanpa harus melakukannya secara terbuka dan spesifik. Ia mungkin sangat jelas bagi pendengarnya jika dilihat dalam satu konteks tertentu, namun melalui gerundelan, pelaku  menghindari suatu insiden dan jika ditekan, dia bisa mengingkari tujuan gerundelannya.

Barangkali ada yang menganggap ekspresi perlawanan tesembunyi ini bukan sebagai perlawanan yang sesungguhnya. Memang perlawanan ala tagar-tagaran semacam #CrazyRichSurabayan ini bisa jadi belum memenuhi persyaratan perlawanan yang bersifat organik, sistematik, memiliki prinsip dan tidak mementingkan diri sendiri dan tak berdampak pada suatu tindakan berkonsekuensi revolusioner.

Namun justru karena warganet dengan tagar ini bergerak tak terkoordinasi, namun perlawanan ini justru memiliki kelenturan dan ketahanan diri. Disinilah letak keunggulan perlawanan tersembunyi ini.

Barangkali warganet dengan tagarnya tidak dapat memusnahkan kesenjangan sosial yang mereka hadapi, namun mereka kenyinyiran warganet ini dapat menghabiskan tenaga kelompok lain yang dikritiknya. Warganet yang sedang bergerak dengan #CrazyRichSurabayan barangkali tidak akan dapat merubah kesenjangan sosial yang nyata dihadapan mereka, namun dengan itu mereka akan dapat bertahan hidup dengan tersenyum dalam sistem yang tak adil tersebut.

Bisa jadi pula upaya-upaya mereka yang terus menerus untuk memberi kritik terhadap gaya hidup  kaum tajir mungkin tidak membawa hasil yang memuaskan, tapi bisa jadi berbagai gerutu, gerundelan dan bahkan olok-olok yang mereka buat dapat mengurangi rasa sakit mereka dalam hidup serba terbatas, mereorganisasi batas-batas dominasi kelas atas,  bahkan bisa mengubah perilaku kelompok sosial elite, dan bahkan arah kebijakan kekuasaan. Semua serba mungkin…

Murdianto An Nawie
Dosen Program Pascasarjana IAI Sunan Giri (INSURI) Ponorogo
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Disiplin, Senjata Ampuh Melawan Corona

Sejak ditemukan penyakit Covid-19 yang diakibatkan oleh virus corona pada akhir tahun 2019, pandemi ini telah menembus angka 30 juta korban kasus positif di...

Teriakan yang Mematikan Pohon di Kepulauan Solomon

Ada kebiasaan menarik dari penduduk yang tinggal di Kepulauan Solomon: Meneriaki pohon. Untuk apa? Untuk menebang pohon yang mengganggu. Jika pohon itu terlalu besar, kayunya...

Menelisik Politik Hukum dan Kebijakan Kita

Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai keragaman, mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara secara harmonis merupakan hal yang esensial. Kehidupan yang inklusif atau keberdampingan para...

Jalan Buntu Reformasi Polri?

Perbincangan mengenai kepolisian tampak menghangat dalam beberapa bulan terakhir. Bukan karena prestasi semata Ia lantas diperbincangkan, melainkan keputusan dan tindak tanduk dari oknum-oknum anggota...

Komunis Pertama dalam Tubuh Organisasi Islam Di Indonesia

Pada tahun 1913 H. J. F. M. Sneevliet (1883-1942) tiba di Indonesia. Dia memulai karirnya sebagai seorang pengamut mistik Katolik tetapi kemudian beralih ke...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.