Rabu, Maret 3, 2021

Melawan dengan Tagar #CrazyRichSurabayan

Keistimewaan Sebuah Buku

Bagiku, buku adalah sesuatu yang istimewa. Terlebih buku tersebut memang bacaan yang aku sukai dan sebagai gizi isi kepala. Beberapa kali aku sering kalap...

Kelemahan Capres Prabowo Tampil “Asal Beda”

Dalam debat calon presiden pada Sabtu, 30 Maret 2019, penonton disuguhi suasana kurang pas. Mungkin banyak orang jadi marah. Marah karena Prabowo menghina, meremehkan...

Mendadak Ahli dalam Segala Bidang

Jujur saja, ada kebanggaan dalam hati melihat perkembangan kecerdasan manusia Indonesia. Belakangan, kebanyakan manusia Indonesia terlampau cerdas, yang imbasnya adalah tanggap dalam menanggapi segala...

Bagaimana Visi Penanggulangan Bencana Calon Kepala Daerah?

Berapa banyak kandidat Pilkada serentak tahun depan memiliki komitmen terhadap penanggulangan bencana alam? Jika hanya diukur dari janji politik, tentu mengecewakan. Bisa jadi berharap...
Murdianto An Nawie
Dosen Program Pascasarjana IAI Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Twitter diramaikan dengan tagar #CrazyRichSurabayan pada pertengahan September 2018. Barangkali guyon terhadap gaya hidup dan perilaku orang tajir Surabaya bisa ditafsirkan sebagai lucu-lucuan semata, namun ada yang lebih dari itu semua.

Kita mencermati ada semacam semangat tersembunyi dalam #CrazyRichSurabayan yakni perlawanan kelompok sosial tertentu secara tersembunyi. Warganet (netizen) yang mayoritas kaum muda kelas menengah dan (sedang terancam turun kelas), rupanya sedang menteralisir rasa sakit dan ingin membangun perlawanan tersembunyi terhadap kesenjangan sosial yang ada dengan status guyonan dan lucu-lucuan pada dinding media sosialnya.

Praktek perlawanan kelompok sosial, bisa diibaratkan posisi seorang editor surat kabar yang bekerja di bawah sensor yang ketat dari atasannya. Penuh siasat dalam menyisipkan pesan dalam pekerjaannya.

Situasi tersebut sebagaimana dialami oleh sekelompok masyarakat kelas pinggiran, atau mereka yang kurang beruntung secara sosial ekonomi, atau masyarakat kelas bawah yang mendapati dirinya dalam posisi serba sulit dihadapan kelas masyarakat yang jauh lebih beruntung dibandingkan mereka.

Posisinya yang lemah membuat kelompok sosial harus berlaku sedemikian rupa sehingga ia tetap bisa menyampaikan pesan yang dikehendakinya tanpa terlihat menantang norma yang hidup dimasyarakat. Dibutuhkan upaya uji coba tanpa henti dan kreatifitas menggunakan semua celah untuk mengekspresikan misi dan perlawanannya atas situasi sosial yang sedang terjadi.

Saat suara kelompok sosial tertentu, dianggap menyinggung kelompok sosial lain dan dapat dinilai sebagai tindakan melawan norma, mengguncang stabilitas dan kenyamanan sosial, maka muncul apa yang disebut sebagai perlawanan tersembunyi.

James C Scott dalam buku yang telah klasik yakni Weapon of Weak (1985) telah menggambarkan apa yang disebut sebagai ‘perlawanan tersembunyi’. Setidaknya ada tiga bentuk perlawanan tersembunyi tersebut yakni anonimitas (anonymity), penghalusan ungkapan (euphemism), dan kadang berupa perlaku menggerutu (grumbling).

Siasat Perlawanan melalui Media Sosial

Dalam era informasi digital saat ini, anonimitas muncul sangat nyata dalam bentuk penyamaran profile pelaku perlawanan di balik identitas lain atau bahkan disembunyikan sepenuhnya dengan apa yang sebut sebagai akun Anonim. Bentuk ini ibarat orang yang menembak musuh dari persembunyian.

Menyembunyikan jatidiri ini adalah langkah dari kelompok sosial marginal yang seringkali menyembunyikan suara hatinya yang sesungguhnya karena takut terhadap pembalasan kelompok dominan, namun mereka mencari celah untuk tetap bersuara sambil menyembunyikan dirinya.

Kelompok marginal memiliki cara yang cukup beragam untuk menyembunyikan identitas dirinya sambil pada saat yang sama tetap bersuara kritis. Teknik-teknik yang biasa dilakukan adalah membuat gosip, melakukan serangan hacker melalui dunia maya atau bahkan menggunakan jasa paranormal, sampai membuat rumor yang terkadang jatuh pada penyebaran Hoax.

Anonimitas pelaku melalui dunia digital dan internet pada saat ini akan mudah mendapatkan balasan, selain karena mudah dilacak, pelaku biasanya melakukan perlawanan terlalu agresif sehingga mudah untuk ditemukan. Namun ada cara lain penghalusan kata (baca plesetan) semacam viral #CrazyRichSurabayan.

Jika yang pertama yang disamarkan adalah messenger atau pemberi pesannya, maka yang kedua ini yang disamarkan adalah message-nya (pesannya). Jika anonimitas bisa berupa perlawanan vulgar, maka eufemisme menunjukkan perlawanan dengan “kehalusan” bahasa.

Bentuk ketiga perlawanan kelompok marginal adalah gerundelan (grumbling). Kita barangkali sudah teramat terbiasa mendengar gerundelan pada komunitas para pekerja di ruang pekerjaanya. Gerundelan tersebut dapat dilihat sebagai bentuk dari komplain terselubung.

Seringkali, tujuan di balik gerundelan adalah untuk mengomunikasikan ketidakpuasan tanpa harus melakukannya secara terbuka dan spesifik. Ia mungkin sangat jelas bagi pendengarnya jika dilihat dalam satu konteks tertentu, namun melalui gerundelan, pelaku  menghindari suatu insiden dan jika ditekan, dia bisa mengingkari tujuan gerundelannya.

Barangkali ada yang menganggap ekspresi perlawanan tesembunyi ini bukan sebagai perlawanan yang sesungguhnya. Memang perlawanan ala tagar-tagaran semacam #CrazyRichSurabayan ini bisa jadi belum memenuhi persyaratan perlawanan yang bersifat organik, sistematik, memiliki prinsip dan tidak mementingkan diri sendiri dan tak berdampak pada suatu tindakan berkonsekuensi revolusioner.

Namun justru karena warganet dengan tagar ini bergerak tak terkoordinasi, namun perlawanan ini justru memiliki kelenturan dan ketahanan diri. Disinilah letak keunggulan perlawanan tersembunyi ini.

Barangkali warganet dengan tagarnya tidak dapat memusnahkan kesenjangan sosial yang mereka hadapi, namun mereka kenyinyiran warganet ini dapat menghabiskan tenaga kelompok lain yang dikritiknya. Warganet yang sedang bergerak dengan #CrazyRichSurabayan barangkali tidak akan dapat merubah kesenjangan sosial yang nyata dihadapan mereka, namun dengan itu mereka akan dapat bertahan hidup dengan tersenyum dalam sistem yang tak adil tersebut.

Bisa jadi pula upaya-upaya mereka yang terus menerus untuk memberi kritik terhadap gaya hidup  kaum tajir mungkin tidak membawa hasil yang memuaskan, tapi bisa jadi berbagai gerutu, gerundelan dan bahkan olok-olok yang mereka buat dapat mengurangi rasa sakit mereka dalam hidup serba terbatas, mereorganisasi batas-batas dominasi kelas atas,  bahkan bisa mengubah perilaku kelompok sosial elite, dan bahkan arah kebijakan kekuasaan. Semua serba mungkin…

Murdianto An Nawie
Dosen Program Pascasarjana IAI Sunan Giri (INSURI) Ponorogo
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.