Minggu, Februari 28, 2021

Melawan dengan Tagar #CrazyRichSurabayan

Menyoal Debat Raja Juli Antoni dan Fadli Zon

Perdebatan sengit antara Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Raja Juli Antoni dengan Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon yang juga Wakil Ketua Umum...

Otonomi Daerah dan Penyingkiran Rakyat Biasa Dalam Politik Lokal

Secara etimologis, politik berasal dari bahasa Yunani yaitu polis (Negara-Kota). Kata polis ini juga dapat bermakna "polities" yang dapat berarti juga kewarganegaraan. Politik yang...

Mudik dan Kehidupan

Mudik, pulang, atau dalam bahasa inggris “home”, yang biasa juga digunakan untuk menunjuk arti rumah, atau tempat tinggal sesungguhnya. Orang-orang yang mudik juga begitu. Kita...

Mengokohkan Peran dan Kedudukan KPPU

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sebagai pengejawantahan dari ketentuan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat telah...
Murdianto An Nawie
Dosen Program Pascasarjana IAI Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Twitter diramaikan dengan tagar #CrazyRichSurabayan pada pertengahan September 2018. Barangkali guyon terhadap gaya hidup dan perilaku orang tajir Surabaya bisa ditafsirkan sebagai lucu-lucuan semata, namun ada yang lebih dari itu semua. Kita mencermati ada semacam semangat tersembunyi dalam #CrazyRichSurabayan yakni perlawanan kelompok sosial tertentu secara tersembunyi.

Warganet (netizen) yang mayoritas kaum muda kelas menengah dan (sedang terancam turun kelas), rupanya sedang menteralisir rasa sakit dan ingin membangun perlawanan tersembunyi terhadap kesenjangan sosial yang ada dengan status guyonan dan lucu-lucuan pada dinding media sosialnya.

Praktek perlawanan kelompok sosial, bisa diibaratkan posisi seorang editor surat kabar yang bekerja di bawah sensor yang ketat dari atasannya. Penuh siasat dalam menyisipkan pesan dalam pekerjaannya.

Situasi tersebut sebagaimana dialami oleh sekelompok masyarakat kelas pinggiran, atau mereka yang kurang beruntung secara sosial ekonomi, atau masyarakat kelas bawah yang mendapati dirinya dalam posisi serba sulit dihadapan kelas masyarakat yang jauh lebih beruntung dibandingkan mereka.

Posisinya yang lemah membuat kelompok sosial harus berlaku sedemikian rupa sehingga ia tetap bisa menyampaikan pesan yang dikehendakinya tanpa terlihat menantang norma yang hidup dimasyarakat. Dibutuhkan upaya uji coba tanpa henti dan kreatifitas menggunakan semua celah untuk mengekspresikan misi dan perlawanannya atas situasi sosial yang sedang terjadi.

Saat suara kelompok sosial tertentu, dianggap menyinggung kelompok sosial lain dan dapat dinilai sebagai tindakan melawan norma, mengguncang stabilitas dan kenyamanan sosial, maka muncul apa yang disebut sebagai perlawanan tersembunyi. James C Scott dalam buku yang telah klasik yakni Weapon of Weak (1985) telah menggambarkan apa yang disebut sebagai ‘perlawanan tersembunyi’. Setidaknya ada tiga bentuk perlawanan tersembunyi tersebut yakni anonimitas (anonymity), penghalusan ungkapan (euphemism), dan kadang berupa perlaku menggerutu (grumbling).

Siasat Perlawanan melalui Media Sosial

Dalam era informasi digital saat ini, anonimitas muncul sangat nyata dalam bentuk penyamaran profile pelaku perlawanan di balik identitas lain atau bahkan disembunyikan sepenuhnya dengan apa yang sebut sebagai akun Anonim. Bentuk ini ibarat orang yang menembak musuh dari persembunyian. Menyembunyikan jatidiri ini adalah langkah dari kelompok sosial marginal yang seringkali menyembunyikan suara hatinya yang sesungguhnya karena takut terhadap pembalasan kelompok dominan, namun mereka mencari celah untuk tetap bersuara sambil menyembunyikan dirinya.

Kelompok marginal memiliki cara yang cukup beragam untuk menyembunyikan identitas dirinya sambil pada saat yang sama tetap bersuara kritis. Teknik-teknik yang biasa dilakukan adalah membuat gosip, melakukan serangan hacker melalui dunia maya atau bahkan menggunakan jasa paranormal, sampai membuat rumor yang terkadang jatuh pada penyebaran Hoax.

Anonimitas pelaku melalui dunia digital dan internet pada saat ini akan mudah mendapatkan balasan, selain karena mudah dilacak, pelaku biasanya melakukan perlawanan terlalu agresif sehingga mudah untuk ditemukan. Namun ada cara lain penghalusan kata (baca plesetan) semacam viral #CrazyRichSurabayan. Jika yang pertama yang disamarkan adalah messenger atau pemberi pesannya, maka yang kedua ini yang disamarkan adalah message-nya (pesannya). Jika anonimitas bisa berupa perlawanan vulgar, maka eufemisme menunjukkan perlawanan dengan “kehalusan” bahasa.

Bentuk ketiga perlawanan kelompok marginal adalah gerundelan (grumbling). Kita barangkali sudah teramat terbiasa mendengar gerundelan pada komunitas para pekerja di ruang pekerjaanya. Gerundelan tersebut dapat dilihat sebagai bentuk dari komplain terselubung. Seringkali, tujuan di balik gerundelan adalah untuk mengomunikasikan ketidakpuasan tanpa harus melakukannya secara terbuka dan spesifik. Ia mungkin sangat jelas bagi pendengarnya jika dilihat dalam satu konteks tertentu, namun melalui gerundelan, pelaku  menghindari suatu insiden dan jika ditekan, dia bisa mengingkari tujuan gerundelannya.

Barangkali ada yang menganggap ekspresi perlawanan tesembunyi ini bukan sebagai perlawanan yang sesungguhnya. Memang perlawanan ala tagar-tagaran semacam #CrazyRichSurabayan ini bisa jadi belum memenuhi persyaratan perlawanan yang bersifat organik, sistematik, memiliki prinsip dan tidak mementingkan diri sendiri dan tak berdampak pada suatu tindakan berkonsekuensi revolusioner.

Namun justru karena warganet dengan tagar ini bergerak tak terkoordinasi, namun perlawanan ini justru memiliki kelenturan dan ketahanan diri. Disinilah letak keunggulan perlawanan tersembunyi ini.

Barangkali warganet dengan tagarnya tidak dapat memusnahkan kesenjangan sosial yang mereka hadapi, namun mereka kenyinyiran warganet ini dapat menghabiskan tenaga kelompok lain yang dikritiknya. Warganet yang sedang bergerak dengan #CrazyRichSurabayan barangkali tidak akan dapat merubah kesenjangan sosial yang nyata dihadapan mereka, namun dengan itu mereka akan dapat bertahan hidup dengan tersenyum dalam sistem yang tak adil tersebut.

Bisa jadi pula upaya-upaya mereka yang terus menerus untuk memberi kritik terhadap gaya hidup  kaum tajir mungkin tidak membawa hasil yang memuaskan, tapi bisa jadi berbagai gerutu, gerundelan dan bahkan olok-olok yang mereka buat dapat mengurangi rasa sakit mereka dalam hidup serba terbatas, mereorganisasi batas-batas dominasi kelas atas,  bahkan bisa mengubah perilaku kelompok sosial elite, dan bahkan arah kebijakan kekuasaan. Semua serba mungkin.

Murdianto An Nawie
Dosen Program Pascasarjana IAI Sunan Giri (INSURI) Ponorogo
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Robert Morey dan Orientalisme yang Melapuk

Orientalisme adalah satu diskursus ketimuran, yang bercokol pada kajian-kajian Barat dalam menginterpretasikan khazanah Timur—khususnya Islam. Pada kajian ini Islam dipandangan dalam objektifikasi Barat, namun...

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.