Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Melawan dengan Tagar #CrazyRichSurabayan

Konsumsi dan Pergeseran Orientasi

Sektor konsumsi menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini. Konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang terbesar Produk Domestik Bruto Indonesia. Data Badan Pusat Statistik...

Emansipasi

Feminisme adalah sebuah gerakan pemikiran yang dilakukan para aktifis perempuan di penjuru dunia guna menuntut emansipasi atau kesetaraan hak dengan laki-laki. Secara historis, gerakan...

Menyelami Pemikiran Gus Dur, Sebagai Penawar Racun Fanatisme

”Gus Dur memancing tawa saat menyelingi pembicaraannya dengan Castro bahwa semua presiden Indonesia punya penyakit gila. Presiden pertama Bung Karno gila wanita, presiden kedua...

Menuju Satu Data Penduduk Indonesia

Sesuai yang diamanatkan UU Nomor 16 tahun 1997 tentang statistik, Badan Pusat Statistik (BPS) bertugas menyediakan data statistik dasar. Termasuk di dalamnya adalah penyelenggaraan...
Murdianto An Nawie
Dosen Program Pascasarjana IAI Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Twitter diramaikan dengan tagar #CrazyRichSurabayan pada pertengahan September 2018. Barangkali guyon terhadap gaya hidup dan perilaku orang tajir Surabaya bisa ditafsirkan sebagai lucu-lucuan semata, namun ada yang lebih dari itu semua. Kita mencermati ada semacam semangat tersembunyi dalam #CrazyRichSurabayan yakni perlawanan kelompok sosial tertentu secara tersembunyi.

Warganet (netizen) yang mayoritas kaum muda kelas menengah dan (sedang terancam turun kelas), rupanya sedang menteralisir rasa sakit dan ingin membangun perlawanan tersembunyi terhadap kesenjangan sosial yang ada dengan status guyonan dan lucu-lucuan pada dinding media sosialnya.

Praktek perlawanan kelompok sosial, bisa diibaratkan posisi seorang editor surat kabar yang bekerja di bawah sensor yang ketat dari atasannya. Penuh siasat dalam menyisipkan pesan dalam pekerjaannya.

Situasi tersebut sebagaimana dialami oleh sekelompok masyarakat kelas pinggiran, atau mereka yang kurang beruntung secara sosial ekonomi, atau masyarakat kelas bawah yang mendapati dirinya dalam posisi serba sulit dihadapan kelas masyarakat yang jauh lebih beruntung dibandingkan mereka.

Posisinya yang lemah membuat kelompok sosial harus berlaku sedemikian rupa sehingga ia tetap bisa menyampaikan pesan yang dikehendakinya tanpa terlihat menantang norma yang hidup dimasyarakat. Dibutuhkan upaya uji coba tanpa henti dan kreatifitas menggunakan semua celah untuk mengekspresikan misi dan perlawanannya atas situasi sosial yang sedang terjadi.

Saat suara kelompok sosial tertentu, dianggap menyinggung kelompok sosial lain dan dapat dinilai sebagai tindakan melawan norma, mengguncang stabilitas dan kenyamanan sosial, maka muncul apa yang disebut sebagai perlawanan tersembunyi. James C Scott dalam buku yang telah klasik yakni Weapon of Weak (1985) telah menggambarkan apa yang disebut sebagai ‘perlawanan tersembunyi’. Setidaknya ada tiga bentuk perlawanan tersembunyi tersebut yakni anonimitas (anonymity), penghalusan ungkapan (euphemism), dan kadang berupa perlaku menggerutu (grumbling).

Siasat Perlawanan melalui Media Sosial

Dalam era informasi digital saat ini, anonimitas muncul sangat nyata dalam bentuk penyamaran profile pelaku perlawanan di balik identitas lain atau bahkan disembunyikan sepenuhnya dengan apa yang sebut sebagai akun Anonim. Bentuk ini ibarat orang yang menembak musuh dari persembunyian. Menyembunyikan jatidiri ini adalah langkah dari kelompok sosial marginal yang seringkali menyembunyikan suara hatinya yang sesungguhnya karena takut terhadap pembalasan kelompok dominan, namun mereka mencari celah untuk tetap bersuara sambil menyembunyikan dirinya.

Kelompok marginal memiliki cara yang cukup beragam untuk menyembunyikan identitas dirinya sambil pada saat yang sama tetap bersuara kritis. Teknik-teknik yang biasa dilakukan adalah membuat gosip, melakukan serangan hacker melalui dunia maya atau bahkan menggunakan jasa paranormal, sampai membuat rumor yang terkadang jatuh pada penyebaran Hoax.

Anonimitas pelaku melalui dunia digital dan internet pada saat ini akan mudah mendapatkan balasan, selain karena mudah dilacak, pelaku biasanya melakukan perlawanan terlalu agresif sehingga mudah untuk ditemukan. Namun ada cara lain penghalusan kata (baca plesetan) semacam viral #CrazyRichSurabayan. Jika yang pertama yang disamarkan adalah messenger atau pemberi pesannya, maka yang kedua ini yang disamarkan adalah message-nya (pesannya). Jika anonimitas bisa berupa perlawanan vulgar, maka eufemisme menunjukkan perlawanan dengan “kehalusan” bahasa.

Bentuk ketiga perlawanan kelompok marginal adalah gerundelan (grumbling). Kita barangkali sudah teramat terbiasa mendengar gerundelan pada komunitas para pekerja di ruang pekerjaanya. Gerundelan tersebut dapat dilihat sebagai bentuk dari komplain terselubung. Seringkali, tujuan di balik gerundelan adalah untuk mengomunikasikan ketidakpuasan tanpa harus melakukannya secara terbuka dan spesifik. Ia mungkin sangat jelas bagi pendengarnya jika dilihat dalam satu konteks tertentu, namun melalui gerundelan, pelaku  menghindari suatu insiden dan jika ditekan, dia bisa mengingkari tujuan gerundelannya.

Barangkali ada yang menganggap ekspresi perlawanan tesembunyi ini bukan sebagai perlawanan yang sesungguhnya. Memang perlawanan ala tagar-tagaran semacam #CrazyRichSurabayan ini bisa jadi belum memenuhi persyaratan perlawanan yang bersifat organik, sistematik, memiliki prinsip dan tidak mementingkan diri sendiri dan tak berdampak pada suatu tindakan berkonsekuensi revolusioner.

Namun justru karena warganet dengan tagar ini bergerak tak terkoordinasi, namun perlawanan ini justru memiliki kelenturan dan ketahanan diri. Disinilah letak keunggulan perlawanan tersembunyi ini.

Barangkali warganet dengan tagarnya tidak dapat memusnahkan kesenjangan sosial yang mereka hadapi, namun mereka kenyinyiran warganet ini dapat menghabiskan tenaga kelompok lain yang dikritiknya. Warganet yang sedang bergerak dengan #CrazyRichSurabayan barangkali tidak akan dapat merubah kesenjangan sosial yang nyata dihadapan mereka, namun dengan itu mereka akan dapat bertahan hidup dengan tersenyum dalam sistem yang tak adil tersebut.

Bisa jadi pula upaya-upaya mereka yang terus menerus untuk memberi kritik terhadap gaya hidup  kaum tajir mungkin tidak membawa hasil yang memuaskan, tapi bisa jadi berbagai gerutu, gerundelan dan bahkan olok-olok yang mereka buat dapat mengurangi rasa sakit mereka dalam hidup serba terbatas, mereorganisasi batas-batas dominasi kelas atas,  bahkan bisa mengubah perilaku kelompok sosial elite, dan bahkan arah kebijakan kekuasaan. Semua serba mungkin.

Murdianto An Nawie
Dosen Program Pascasarjana IAI Sunan Giri (INSURI) Ponorogo
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pilkada dan Jerat Klientelisme

Perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 mulai semarak. Kurang lebih 270 daerah (Kota/Kabupaten dan Provinsi) akan menyelenggarakan pesta demokrasi elektoral ini. Tentunya Pilkada tahun...

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

ARTIKEL TERPOPULER

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.