Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Melampaui Slogan Politik Ala Trump

Kekuatan Literatur

Habakuk  2:2 Lalu  TUHAN menjawab aku, demikian: "Tuliskanlah penglihatan itu dan  ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanyaMenulis Adalah Salah Satu Perintah...

Wiranto Sang Jenderal

Jenderal TNI (Purn) Dr. H. Wiranto, S.H. putra kelahiran Yogyakarta. Wiranto merupakan tokoh militer. Wiranto pernah menjabat Panglima TNI Periode 1998-1999. Wiranto sekarang menjabat...

Generasi Baper

Generasi milenial memiliki proses berfikir yang luar biasa berbeda dari generasi sebelum-sebelumnya. Perbedaan pandangan ini menjadikan generasi ini trus di-spotlight sekaligus dicibir. Cemoohan-cemoohan yang dilontarkan...

Atribut Kesalehan yang Salah Tempat

Seberapa nyaman atribut dan pemampilan yang kita pakai? Nyaman bagi kita yang memelihara dan memakai haruslah nyaman pula bagi mereka yang melihat atau memandang. Kalau...
Murdianto An Nawie
Dosen Program Pascasarjana IAI Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

America First Donald Trump, kembali menjadi salah satu tema perdebatan para politisi dan pengamat politik di Indonesia. Saat jargonya ‘Make America Great Again’ akan ditiru menjadi slogan ‘Indonesia First‘. Dalam konteks Indonesia, rupanya ada beberapa kalangan yang tertarik menjadikan slogan “Indonesia First” sebagai cara untuk  membangkitkan semangat untuk menjadi yang terbaik, disegala bidang.

Namun jika melihat kondisi Indonesia, tentu berbeda dengan Amerika. Penggunaan slogan ini tidak mesti tepat. Amerika tidak sedang bermimpi. Amerika telah merasakan menjadi salah satu kekeuatan nomor wahid, kekuatan Adikuasa selama beberapa dasawarsa terakhir.

Meskipun kini muncul Tiongkok sebagai kekuatan baru yang mengancam superioritas mereka. Sementara kita, menjadi nomor wahid, barangkali itu salah satu mimpi besar. Tapi, jika kita mau realistik tentu terlalu banyak yang harus di perbaiki, sebelum bermimpi menjadi first, menjadi yang terbaik.

Meskipun demikian, kita melihat juga fakta bahwa dalam berbagai kesempatan peringatan hari besar nasional akhir-akhir ini, semangat untuk bangkit, dengan slogan Indonesia Hebat terus disosialisasikan kepada publik.

Meskipun demikian, diakui atau tidak, masyarakat kita tampak heroik dan berkobar kobar saat terlibat dalam momen momen peringatan hari besar nasional, kita lihat baru saja dalam hari santri dan hari Pahlawan. Dengan berbagai yel-yel, kita seolah nampak sebagai ‘pejuang sejati’, rela mati demi tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik  Indonesia. Namun semangat membara itu harus di ikuti oleh kerja keras dan kreativitas.

Pada masa kolonialisme, baik Belanda maupun Jepang, pengorbanan dalam bentuk tindakan nyata benar-benar tampak mata. Tidak berhenti pada slogan dan teriakan dalam rapat-rapat umum. Namun paradoks dengan situasi masa kini, slogan ini bertebaran dalam baliho, meme di media sosial, video kampanye yang tersebar di Youtube, sampai diucapkan dalam kampanye, baik oleh para calon legislatif maupun calon presiden.

Beberapa pertanyaan ini penting untuk kita jawab: apakah semboyan untuk bangkit melalui slogan Indonesia Hebat telah membawa perubahan yang baik menuju cita-cita sebagai bangsa yang disegani? Apakah nasionalisme telah menjadi energi perjuangan melawan kolonialisme, telah benar benar kita terapkan secara konsisten dan menjadi energa penggerak untuk kita mencapai kebesaran peradaban yang diakui dunia? Tentu pertanyaan itu harus dijawab dengan berbagai data.

Tentu kita juga menghargai sekelompok politisi yang berupaya mengadaptasi slogan ala Trump, yakni Make Indonesia Great Again, untuk slogan dalam kampanyenya.  Namun untuk itu butuh pengorbanan yang harus benar-benar tampak nyata. Pengorbanan yang tidak hanya sloganistik.

Namun justru dapat dilihat dari rekam jejak para pengusuh jejak itu. Apakah para calon pelayan masyarakat yang kita pilih, sehari-harinya mampu hidup bersahaja dan sederhana layaknya pemimpin kita pada masa perjuangan merebut kemerdekaan? Atau justru sebaliknya, dengan rumah  dan kendaraan mewah, dan aset yang besar dan kekayaan yang menggunung. Jadi slogan Make Indonesia Great Again, jika ingin disosialisasikan harus dimulai dengan keluar dari tradisi retorika kosong, bahkan cenderung olok-olok kepada sekelompok warga bangsa uang lain.

Nasionalisme kita dimasa kini harus diupayakan dengan melakukan dua upaya nyata dengan menjadikan seluruh slogan yang diusung para capres yakni Indonesia Hebat atau Indonesia Adil Makmur sebagai alat penggerak melakukan perlawanan terhadap penguasaan baru yang makin kompeks dan canggih.

Bisa jadi adalah kapitalisme neoliberal, yang berwujud dalam gaya hidup, budaya konsumeristik, sampai kebijakan nasional yang lebih berpihak pada kepentingan nasional.  Kita harus beranjak lebih jauh dari heroisme semu dalam bentuk teriakan-teriakan, dengan melakukan tindakan yang bersifat kolektif.

Fakta Hibriditas dan Melampaui Nasionalisme Sloganistik

Generasi  masa kini tentu tak bisa hanya di bumbui dengan jargon nasionalisme dan ke-Indonesia-an sebagai kata baku yang identik dengan perjuangan hidup dan mati. Nasionalisme dan Ke-Indonesiaan yang sloganistik yang selama ini kita lihat, adalah warisan orde lalu yang perlu di transformasikan secara lebih membumi.

Nasionalisme dan ke-Indonesiaan kita harus realistik dan tidak terpaku pada aspek-aspek literer, yuridis dan sloganistis semata. Karena kemampuan kita untuk keluar dari jebakan dimensi nasionalisme yang sloganistik dan selanjutnya membiasakan keIndonesiaan kita mencair dalam bentuk kedamaian dalam kebhinekaan kita.

Jika impian First Indonesia digelorakan, bukan berarti serta merta mengharamkan tampilnya identitas yang jamak. Indonesia Hebat, bukanlah bentuk sikap rasisme atas kelompok, ras dan agama tertentu. Sikap yang sering dialamatkan pada Trump dalam proyek Make America Great Again, tentu tidak bisa di copy paste dalam kondisi keIndonesiaan kita. .  

Justru kita harus belajar banyak dari sejarah, kebangkitan Indonesia sesungguhnya disokong dari kebangkitan identitas-identitas lokalistik yang beragam. Pergerakan kemerdekaan dilahirkan oleh berbagai ras, suku dan agama. Bahkan ras yang dianggap asing, seperti Arab, China, dan bahkan kulit putih yang dapat kita lihat pada sosok EE Douwess Dekker.

Generasi Indonesia kini adalah yang dilahirkan dari interaksi lokalitas dan globalitas itu secara terus menerus. Slogan Indonesia Hebat atau Indonesia Adil Makmur yang di sosialisasikan para elite politik, sesungguhnya harus membangkitkan narasi kebangkitan lokus-lokus kecil, dan mampu merangkum berbagai hibriditas  (percampuran-percampuran lokalitas dan globalitas) sebagai kekuatan utama.

Dengan demikian impian yang terus menerus di jajakan setiap Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden ini akan dapat melahirkan energi yang lebih kreatif dan dinamis. Lokalitas yang berkembang pesat secara bersama-sama, akan melahirkan kekuatan yang bersifat trans-lokal, yang tetap diikat oleh semangat Kebhinekaan.

Dengan ruang terbuka bagi kebangkitan lokalitas dalam berbagai kreasi oleh kelompok minoritas sekalipun, akan membuat bangsa ini menjadi organisme yang benar benar hidup, organisme yang bangkit. Sel-sel identitas lokal akan dapat bergerak berkembang biak dalam tubuh Ke-Indonesia-an tanpa harus di hantui oleh ancaman rasisme.

Murdianto An Nawie
Dosen Program Pascasarjana IAI Sunan Giri (INSURI) Ponorogo
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.