Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Melalui Sambat, Kaum Urban Mencari Perhatian

Pentingnya Pendidikan Karakter Era Milenial

Setiap tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas. Hari Pendidikan Nasional ditetapkan pemerintah Indonesia untuk memperingati kelahiran Ki Hadjar Dewantara. Ki Hadjar...

Kado Manis Awal Tahun, Kapitalisasi Hak Atas Tanah di Kampong Riwang

Tadinya aku pengin bilang, aku butuh rumah Tapi lantas kuganti dengan kalimat : setiap orang butuh tanah Ingat : setiap orang! - Wiji Thukul pada Tentang Sebuah...

Wujud Sholat dalam Kitab Fihi Ma Fihi Jalaluddin Ar-Rumi

Berapa banyak kita melakukan sholat tapi selalu beriringan dengan jalannya maksiat. Sudah banyak kita mendengar para penceramah mengatakan “Sesungguhnya sholat itu dapat mencegah perbuatan...

Open House dan Silaturahmi Senyap

Seperti biasanya, pada saat Hari Raya Idul Fitri, sejumlah pejabat negara menggelar acara Open House di kediamannya masing-masing. Acara gelar griya ini dimaksudkan sebagai...
FayaLusaka
Mahasiswi Ilmu Komunikasi salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Perempuan ini menyukai kegiatan travelling.

Kawasan perkotaan besar biasanya padat dipenuhi oleh penduduk yang datang dari pedesaan, masyarakat inilah yang disebut dengan masyarakat urban. Mereka berbondong-bondong merantau ke kota untuk menuntut ilmu atau mencari nafkah demi kebutuhan hidupnya. Masyarakat urban ini kemudian dalam kehidupannya mengikuti perkembangan zaman yang ada atau mengalami modernisasi.

Masyarakat urban memiliki kehidupan dengan kebiasaan-kebiasaan yang berbeda atau tidak biasa dilakukan oleh masyarakat lainnya. Kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat perkotaan ini kebanyakan dipengaruhi oleh aktivitas yang dilakukannnya atau lingkungan sekitarnya.

Salah satu contoh yang biasa dilakukan oleh masyarakat urban yaitu mengeluh atau saat ini sering disebut dengan istilah “sambat”. Kata sambat merupakan bahasa jawa yang berarti ngeluh. Sambatan diekspresikan baik secara langsung maupun menggunkan media sosial yang dimiliki. Untuk saat ini sendiri masyarakat modern lebih sering mengungkapkan sambatannya melalui media sosialnya. Hal-hal yang menjadi bahan sambatan oleh kaum urban ini sangat beragam, mulai dari hal kecil hingga masalah besar yang sebenarnya privasi diri sendiri.

Hal kecil yang biasanya menjadi sambatan pengguna media sosial yaitu seperti saat ada yang mengeluh malas melakukan aktivitas atau istilah kerennya adalah mager. Hal ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang harus dikeluhkan, tetapi karena sudah terbiasa semua tentang kehidupannya selalu dianggap menjadi beban maka dengan sendirinya spontan mengeluh.

Jika hal kecil atau sepele saja selalu dikeluhkan hingga dipertunjukkan ke orang lain dengan menggunakan media daringnya, begitu pula dengan masalah yang cukup berat. Masalah yang seharusnya menjadi rahasia pribadinya justru dipublikasikan dan menjadi konsumsi publik. Contoh dari masalah rumit yang menjadi bahan sambatan di media sosial seperti bab percintaan, pertemanan atau bahkan mengenai kesulitan ekonomi.

Tujuan dari mempublish sambatan individu urban tersebut sangat bervariasi. Ada yang memiliki tujuan hanya untuk sekedar bercanda saja, atau bahkan sambatan tersebut bertujuan untuk mencari perhatian dari netizen lain yang menjadi pengikut atau teman di media sosialnya. Contoh dari sambatan yang memiliki tujuan untuk mencuri perhatian biasanya mengenai masalah percintaan.

Mempublikasikan sambatannya tidak hanya mencuri perhatian dari pasangannya, akan tetapi hal ini juga dapat memicu netizen yang lainnya. Biasanya publik akan terpancing dengan sambatan tersebut dan menunjukkannya dengan komentar yang diberikan. Respon yang ditunjukkan oleh netizen bisa dengan cara bercanda atau bahkan serius. Untuk saat ini sendiri netizen yang sebagian besar terdiri dari kaum urban lebih cenderung menunjukkan tanggapannya dengan cara bercanda.

Respon bercandaan dari para netizen mengenai sambatan-samabatan yang berseliweran di beranda media sosial, mengakibatkan beberapa kaum urban menjadi kreativ. Yang dimaksud dengan kreativ disini yaitu untuk mengungkapkan keluhan yang dihadapinya dengan semenarik mungkin atau pilihan kata yang unik agar mendapat respon yang unik juga. Justru saat ini keluhan bisa menjadi konten untuk media sosial.

Karena memang pengguna media sosial saat ini akan merasa senang atau puas apabila postingannya mendapatkan banyak respon dari pengikutnya. Sehingga sebenarnya perhatian yang akan didapat adalah tujuan utama dari pempostingan konten tersebut.

Sambat saat ini bukan hanya menjadi konten dari perorangan saja. Dengan semakin banyaknya pengguna media sosial yang sering bersambat ria, maka memicu adanya akun @nksthi. Akun yang merupakan singkatan dari Nanti Kita Sambat Tentang Hari Ini adalah sebuah perwujudan dari semakin maraknya kaum urban yang mengeluhkan kehidupannya melalui jejaring sosial. Terlihat dari nama akunnya yang menggunakan kata “sambat” maka sambatan yang sering dipublikasikan pun menggunakan bahasa jawa.

Akun yang baru ada semenjak akhir tahun 2018 lalu ini sudah banyak memiliki pengikut. Para pengikut ini merasa kicauan yang disampaikan oleh akun tersebut sangat sesuai dengan keluhan yang sedang dihadapinya. Contoh dari kutipannya itu seperti “Katane tugas kelompok, tapi sing ngarap aku dewe!” atau yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti “Katanya tugas kelompok, tapi yang mengerjakan hanya aku sendiri!”.

Tidak hanya itu saja, sambatan yang dikutip juga biasanya hanya sebatas hal sepele seperti saat kedingan yang diungkapkan dengan “adem”. Meskipun hanya sebatas kutipan pendek seperti itu, akan tetapi mendapat respon yang cukup banyak dari pengikutnya. Karena hal tersebut memang sedang dikeluhkan oleh kaum urban tersebut.

Tidak hanya sebatas mengutip sambatan-sambatan, akun ini juga mempelopori adanya #selasasambat. Tanda pagar ini merupakan ajang untuk menunjukkan ekspresi keluhan dari para kaum urban yang dilalui selama hari tersebut. Dengan begitu semakin maraklah kebiasaan mengeluh di media sosial.

Akun sambat ini memiliki banyak respon yang baik, salah satu yang mendukung @nksthi adalah penerbit “Buku Mojok”. Salah satu bentuk dukungannya tersebut yaitu dengan cara menerbitkan buku dengan judul yang sama seperti akun media sosialnya “Nanti Kita Sambat Tentang Hari Ini”. Buku tersebut berisikan mengenai kumpulan-kumpulan sambatan yang sangat sesuai dengan netizen kaum urban saat ini.

Melihat fenomena bab persambatan yang terjadi seperti saat ini menunjukkan bahwa kaum urban adalah masyarakat yang sangat terbuka dengan kehidupannya. Bahkan mengenai privasinya pun mereka sangat dengan mudah membagikannya kepada khalayak umum. Entah karena memang ingin mendapatkan perhatian dari orang lain, atau memang kaum urban bingung harus bersambat dengan siapa. Karena memang dengan semakin berkembangnya zaman saat ini membuat masyarakat modern di perkotaan lebih mengandalkan teknologi dalam kehidupannya.

Disadari atau tidak, sambat yang awalnya hanya sebatas bentuk ekspresi diri atas apa yang tengah membebaninya justru saat ini menjadi salah satu kebiasaan untuk mencari perhatian dari orang lain.

FayaLusaka
Mahasiswi Ilmu Komunikasi salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Perempuan ini menyukai kegiatan travelling.
Berita sebelumnyaBandung sebagai Calon Ibu Kota
Berita berikutnyaPemberian dan Lebaran
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.