Kamis, Januari 21, 2021

Melaksanakan Pilpres Melalui MPR, Yakin?

Joker dan Standar Kenormalan Ala Foucault

Jauh sebelum film Joker (2019) yang turut menyisipkan pesan tentang kegilaan muncul di layar lebar, Foucault telah merumuskan filsafatnya tentang kegilaan. Dalam buku-bukunya Foucault...

Upah Minimum Regional (UMR), Tidak Berlaku Lagi

Akhir pekan ini upah minimum regional jogja menjadi trending topik di twitter. Banyak cuitan-cuitan dengan tagar #UMRJogja. Padahal sejak terbitnya Keputusan Menteri Tenaga Kerja...

Rokok, Pulsa, dan Gizi

Isu swasembada pangan selalu menarik untuk diulas, dan  krusial ketika  jadi bagian tema pada momentum debat capres tahap kedua pada Minggu malam (17/2) lalu....

Tipping Point Berlaku untuk Perekonomian Indonesia

Kecenderungan atau minat merupakan suatu yang mungkin bisa diprediksi namun tidak dapat diperhitungkan. Kecenderungan sendiri hampir sangat terpengaruh dengan minat. Menurut Crow dan Crow,...
Fathul Yasin
Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Jambi dan Ketua Rayon PMII Fisipol Universitas Jambi

Hiruk pikuk demokrasi di Indonesia begitu meriah, dengan berbagai macam isu dan aspirasi yang disampaikan langsung oleh begitu banyak pihak, serta memiliki cara tersendiri.

Beberapa minggu ini begitu hangat perbincangan mengenai proses pemilihan presiden melalui Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Wacana tersebut timbul dari beberapa kritik mengenai proses pemilihan umum yang dirasa kurang memberikan banyak dampak yang cukup baik bagi perkembangan bangsa Indonesia. Maka timbul berbagai macam isu mengenai amandemen undang-undang untuk mekanisme pemilihan presiden hingga masa jabatan presiden.

Proses pemilihan yang selama ini diusung negara Indonesia yaitu melakukan pemilihan dengan pemilu langsung ke rakyat, baik itu pemilihan eksekutif maupun legislatif. Perubahan tersebut terjadi sejak amandemen undang-undang pada Tahun 2002, yang semula di lakukan oleh MPR, disepakati untuk dilakukan langsung oleh rakyat dan dari rakyat sehingga pilpres pun dimasukkan dalam rangkaian pemilu. Sehingga dengan adanya wacana pemilihan pilpres melalui MPR maka timbul berbagai sentimen dari berbagai pihak.

Timbulnya berbagai macam sentiment tersebut karena berkaca pada masa orde baru di mana pemilihan presiden dilaksanakan melalui pemilihan oleh MPR, di mana dalam masa itu banyak sekali permasalahan korupsi, kolusi dan nepotisme terjadi. Sehingga tak mengherankan banyak sekali yang merasa takut kembali ke sistem pemilihan presiden model lama tersebut. Akan tetapi pada nyatanya pemilihan melalui MPR ini mirip sekali dengan proses pemilihan di negara Amerika Serikat yang bertahan dari dulu hingga kini.

Mari kita bandingkan bagaiman sistem pemilihan Presiden Indonesia saat ini dan amerika serikat, Amerika serikat dalam proses pemilihan presiden menggunakan system electoral vote, dimana presiden tidak dipilih langsung tetapi melalui elector/perwakilan yang dipilih langsung oleh rakyat.

Dalam sistem ini suara terbanyak rakyat dalam memilih presiden belum tentu memenangkan presiden dengan suara terbanyak, akan tetapi yang menjadi kunci kemenangan adalah suara terbanyak elector yang ada di negara bagian amerika serikat. Di Amerika Serikat terdiri dari 532 orang elector, sehingga apabila ingin memenangkan menjadi presiden berarti membutuhkan lebih dari 267 suara elector. Apabila terjadi suara yang imbang maka presiden di pilih oleh DPR dan senat.

Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia dalam sistem pimilihan presiden saat ini menggunakan pemilihan umum langsung. Dimana suara terbanyak rakyatlah yang menentukan kemenangan presiden terpilih. Berbeda dengan Amerika yang menggunakan suara keterwakilan melalui electoral/perwakilan dari rakyat, Indonesia partisipasi rakyat dalam memilih presiden yang begitu menentukan kemenangan. Sehingga tak jarang banyak terjadi praktik money politik untuk menarik masyarakat untuk ikut memilih calon kandidat presiden yang maju.

Dari dua negara tersebut melalui sistem pemilihannya memiliki ciri khas masing-masing, Amerika Serikat yang menggunakan keterwakilannya dan Indonesia dengan partisipasi masyarakatnya. Jika kita berkaca kembali dengan masa orde baru dan dengan sistem yang digunakan Amerika Serikat selama hampir 200 tahun kurang lebih sama mekanisme pemilihannya.

Akan tetapi dalam prosesnya sendiri di Indonesia dari yang kita lihat dalam prospek kemajuan bangsa maka kita jauh tertinggal dengan negara Amerika Serikat. Amerika Serikat sebagai negara maju nomor satu di dunia sedangkan Indonesia masih pada tahap pada negara berkembang.

Dalam proses pemilihannya sendiri pemilu langsung di Indonesia begitu banyak menimbulkan permasalahan, salah satu yang begitu menghebohkan dikutip dari CNN indonesia Total 554 Orang KPPS, Panwas dan Polisi Tewas di Pemilu 2019 yang dilaksanakan secara langsung dan serentak dalam kurun waktu satu hari.

Dapat kita ketahui itulah salah satu dampak yang terjadi dalam proses pemilihan langsung, bahkan bukan hanya itu saja, dikutip dari tirto.id pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 24,8 triliun untuk penyelenggaraan Pemilu dan Pilpres 2019.

Dengan begitu banyaknya dampak dalam pelaksanaan pemilu secara langsung kasus korupsi, kolusi dan nepotisme belum juga kunjung tertangani. Menurut data indeks presentasi korupsi Indonesia saat ini berada di angka 89 jauh tertinggal dengan negara-negara maju yang cenderung menganut sistem kerajaan seperti Denmark peringkat satu dan inggris ke 11.

Seharusnya dengan dilaksanakannya demokrasi yang mengikutsertakan partisipasi masyarakat dampak mengurangi masalah KKN, ternyata tak sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Selain daripada itu selama kita mendapatkan kemerdekaan dari tahun 1945 hingga sekarang kita tidak pernah merasakan presiden selain dari orang pulau jawa dalam masa pemilihan umum yang pernah dilaksanakan di Indonesia (Habibie menggantikan jabatan Soeharto).

Apalagi dalam proses pemilihan langsung, maka suku/daerah terbanyaklah yang cenderung meraup suara terbanyak. Politikus David Barton dalam bukunya The Electoral College: Preserve It or Abolish It? menjelaskan mengapa sistem pemilihan electoral vote (Amerika Serikat) yang akhirnya dipilih.

Menurutnya, sistem ini memiliki dua filosofi, yakni memelihara bentuk pemerintahan republik dan menyeimbangkan kekuasaan antarnegara bagian dan antardaerah dengan luas wilayah dan latar belakang yang berbeda. Hal inilah yang kita rasakan dan kita takutkan, mengingat Indonesia negara yang memiliki daerah yang luas, pulau yang banyak dan suku yang begitu beragam

Dari pemaparan penulis tersebut dapat kita tarik kesimpulan bahwasanya pemilihan keterwakilan dan pemilihan langsung memilik kelebihan masing-masing. Kelebihan pemilihan keterwakilan lebih hemat anggaran, lebih singkat dan lebih mudah terkontrol. Sedangkan pemilihan langsung lebih demokratis dan dapat dipertanggungjawabkan legitimasinya kepada rakyat.

Walaupun begitu sistem pemilihan padanya hanyalah sebuah jalan untuk menuju perbaikan negara yang baik, semuanya tergantung siapa yang berjalan di jalan tersebut untuk memperbaiki dan membangun bangsanya dengan baik serta menyejahterakan rakyat.

Fathul Yasin
Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Jambi dan Ketua Rayon PMII Fisipol Universitas Jambi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.