in

Media Sosial dan Elektabilitas Politik


Beberapa waktu yang lalu Indonesia sempat dihebohkan dengan kasus korupsi mega proyek KTP elektronik. Tak tanggung-tanggung, nama ketua DPR, Setya Novanto, pun tertarik dalam kasus tersebut. Bahkan ia sempat beberapa kali dipanggil KPK untuk datang ke pengadilan.

Ada yang menarik ketika Setya Novanto dipanggil KPK dalam statusnya sebagai tersangka, yang seharusnya ia datang ke pengadilan, tiba-tiba Setya Novanto terserang sakit dan mesti dirawat di Rumah Sakit, bahkan hingga memakai alat medis yang begitu lengkapnya sebagaimana fotonya beredar di dunia maya. Namun ternyata warganet yang melihat beredarnya foto Setya Novanto terbaring di Rumah Sakit nampak meragukan kondisi Setya Novanto apakah benar-benar sakit ataukah tidak. Masalahnya adalah ada di foto yang beredar dianggap banyak kejanggalan yang ada sehingga banyak orang mengira itu seolah dibuat-buat saja. Keyakinan warganet menganggap sakitnya Setya Novanto itu palsu bertambah ketika beberapa hari setelah sidang pra peradilan Setya Novanto mengabulkan pencabutan status tersangka dirinya tiba-tiba Setya Novanto sembuh dan bisa beraktifitas kembali, bahkan sudah langsung memimpin rapat partainya kala itu. Entah apakah Setya Novanto benar-benar jujur atau membohongi mungkin hanya dia, Tuhan, dan beberapa pihak terkait yang tahu.


Pada zaman dahulu, ketika kita tidak setuju dengan suatu tindakan seorang tokoh, atau pejabat negara, cara untuk mengekspresikannya hanya bisa melalui tulisan-tulisan di media cetak seperti koran atau orasi ditengah orang banyak, namun tidak semua orang memiliki kesempatan seperti ini. Lain halnya dengan zaman sekarang, dimana setiap orang dengan mudah mengemukakan kekecewaan mereka hanya dengan bermodal smartphone yang kini dimiliki hampir oleh setiap orang.

Media sosial memang sangat berpengaruh besar saat ini. Jika dahulu dalam sebuah koran, tulisan-tulisan orang hebat seperti Tjokroaminoto, Seokarno, hingga Agus Salim yang bisa menggugah pikiran rakyat, di masa ini konten-konten yang ada di media sosial pun bisa masuk dan meracuni pikiran rakyat. Gawatnya, media sosial ini dimainkan oleh siapa saja, tak peduli orang baik ataupun jahat, orang pintar ataupun bodoh. Jika dahulu hanya yang memiliki pemikiran luar biasa yang bisa menulis di media cetak seperti koran dan dibaca orang banyak, kini orang bodoh pun bisa saja membuat tulisan dan menyebarkannya di media sosial dan dibaca orang banyak.

Dalam kasus Setya Novanto, pada akhirnya bermunculan “meme” atau gambar-gambar lelucon mengenai dirinya yang seolah-olah begitu sakti bisa terbebas dari status tersangkanya. Gambar-gambar tersebut sempat viral dan bertebaran di media sosial bahkan sampai masuk ke media berita nasional dan TV pula. Hal ini menjadi penggiringan opini publik terhadap citra Setya Novanto itu sendiri.

Jika kita memperhatikan berita-berita yang ada dan tersebar di media sosial pun, hampir setiap hari memuat berita tentang busuknya kehidupan politik negeri kita. Dikhawatirkan hal ini akan membuat banyak orang menjadi antipati terhadap politik, pada akhirnya menyebabkan angka golput ketika Pemilu melonjak. Tentunya hal ini karena kurangnya rasa percaya publik terhadap orang-orang yang akan mengisi perpolitikan di Indonesia. Rasa kekecewaan itu bisa juga membuat rakyat menjadi pasif dan anti terhadap kebijakan pemerintah yang akan menghambat pembangunan.

Memang hal ini tak lepas dari tingkah laku para aktor politik negeri kita juga, ditambah lagi dengan kecanggihan media sosial yang semakin mempercepat arus informasi. Seolah menjadi dua mata pisau, jika informasi yang beredar lagi-lagi buruk maka tingkat kepercayaan rakyat pun bisa saja menurun, dan elektabilitas pemerintah pun juga menurun. Seharusnya hal ini pun menjadi perhatian mereka para pejabat pemerintah agar bisa selalu menjaga sikap dan amanah yang diberikan kepada mereka. Rakyat sudah semakin pintar dan canggih dengan teknologi yang mereka kuasai, tak bisa lagi dibodohi, bahkan terkadang rekam jejak digital itu lebih tajam dibandingkan pedang lawan.


Written by Syaidina Sapta

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR