OUR NETWORK

Media Indonesia dalam Pusaran Terorisme

Selain mengabarkan media juga bisa melibatkan diri sebagai solusi yang tidak melulu menuntut satu pihak untuk berbuat sesuatu dalam menyikapi suatu peristiwa.

Peristiwa Bom Gereja Santa Maria di Surabaya (2018) dan serangkaian aksi teror beruntun baru-baru ini merupakan andil dari glorifikasi pemberitaan yang dibuat oleh media-media Indonesia. Bermula dari peristiwa Rutan Mako Brimob yang merupakan cabang dari Rutan Salemba, menyebarnya percakapan negosiasi antara Aman Abdurahman dengan salah satu tahanan pada salah satu media online menjadi percikkan peristiwa berdarah yang memakan banyak korban jiwa di Indonesia.

Colarik (2006) menjelaskan pemanfaatan infrastruktur teknologi informasi global sebagai alat utama kelompok teroris membuat mereka dapat beroperasi dengan leluasa. Kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) menjadi kelompok yang paling mengandalkan teknologi tersebut untuk mendapatkan eksistensinya di seluruh dunia termasuk Indonesia. Tercatat pada tahun 2014 ISIS pertama kali masuk ke Indonesia melalui media sosial Youtube dengan video berjudul Join the Rank.

Peran Media

Media dalam peristiwa terorisme kerap kali mengkapitalisasi dari kebingungan dan ketakutan yang disebabkan serangan teroris untuk menghasilkan berita yang dramatis dan menarik perhatian publik.

Pada kasus teror yang terjadi di Indonesia kita bisa secara gamblang melihat terdapat pola aksi–reaksi yang dilakukan oleh kelompok teroris dalam menanggapi peristiwa kerusuhan pada Rutan Mako Brimob. Sasarannya jelas, kelompok lain yang dianggap berlainan dan aparat penegak hukum yang dianggap terlibat paling besar.

Profesor Taha Najem, seorang Profesor media pada Universitas Naif Arab dalam artikelnya The Symbiotic relationship between media and terrorism menjelaskan bahwa teroris secara tepat memperhitungkan ruang lingkup, lokasi dan waktu dari serangan mereka untuk menghasilkan banyak perhatian media atau dengan kata lain menghasilkan iklan secara gratis. Tujuannya untuk skala yang lebih besar.

Beredarnya rekaman tersebut menjadi sebuah angin segar bagi kelompok teroris dalam memperluas pengaruh serta melancarkan teror pada masyarakat Indonesia. Faktor pemahaman yang kurang dari pegiat media lagi-lagi menjadi salah satu batu sandungan tersendiri dalam upaya penanganan terorisme di Indonesia.

Di satu sisi masyarakat perlu mendapatkan pemberitaan, di satu sisi terdapat agenda tersembunyi dari propaganda terorisme melalui eksistensi mereka pada setiap aksinya.

Pemberitaan yang disebarkan oleh media-media tersebut kemudian menjadi pencapaian, pengaruh dan kekuatan teroris tersebut dalam bentuk popularitas, kekuatan, uang dan pengaruh ideologi di samping tujuan teror yang ingin dicapai. Pada banyak kasus peristiwa terorisme yang terjadi di seluruh dunia kerap kali ditemukan identitas para teroris pada lokasi tempat kejadian dimana umumnya adalah bom bunuh diri.

Self Sensorship dan Keberpihakan Media

Peristiwa terorisme yang terjadi pada tahun 2012 di Perancis menjadi salah satu pijakan penting dalam sejarah media negeri tersebut. The Guardian (2016) mengabarkan La Monde, LA Croix dan Europe 1 radio serta beberapa organisasi media baik cetak, radio dan televisi memutuskan untuk tidak lagi mempublikasikan dan menyiarkan nama serta foto-foto pelaku yang bertanggungjawab atas peristiwa terorisme demi menghindari glorifikasi para pelaku.

Hal ini tentu menjadi contoh yang sepatutnya perlu mulai disadari oleh media serta para pegiatnya di Indonesia. Media harus menunjukan keberpihakan yang diturunkan dalam bentuk nyata melalui komitmen dari berbagai pihak organisasi dalam mengabarkan berita terkait peristiwa terorisme. Selain mengabarkan media juga bisa melibatkan diri sebagai solusi yang tidak melulu menuntut satu pihak untuk berbuat sesuatu dalam menyikapi suatu peristiwa.

Tuntutan yang selama ini beredar hanya pada subjek Pemerintah yang perlu bertindak tegas dalam merespon peristiwa terorisme, namun peran ulama antar agama di Indonesia serta penyajiaan pemberitaan dari media-media di Indonesia memiliki andil besar dalam terwujudnya penanganan terorisme yang ideal.

Self sensorship menjadi salah satu jalan yang sepatutnya menjadi inisiasi dari para pegiat media di Indonesia. Walaupun dalam implementasinya pada konteks media sosial hal ini menjadi sulit dilakukan. Tentunya hal ini dimaklumi dengan dasar bahwa perbedaan media dengan media sosial adalah pihak yang bertanggungjawab dalam menyajikan pemberitaan tersebut.

Merupakan sarjana Kriminologi Universitas Indonesia pada bidang Kejahatan Transnasional. Tengah bekerja sebagai asisten peneliti di Center For Detention Studies (CDS). Menyukai isu-isu seputar terorisme, kebebasan beragama atau berkeyakinan, dan isu pemenjaraan. Selain aktif dalam dunia penelitian, ia juga gemar melakukan advokasi terkait isu perkotaaan, khususnya tentang kota kelahirannya. Dapat dihubungi melalui Rinaldi.ikhsan@gmail.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…