Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Mbah Moen, dari Pesantren ke Hal-hal Penting

Realitas Pajak Kendaraan di Balik Kampanye Penghapusannya

Sore itu ada satu hal menarik yang cukup ramai menjadi perbincangan di kalangan warganet sekitar. Sebuah spanduk partai menuliskannya dengan gamblang kebijakannya yang akan...

Apa Itu Tasalsul? Mengapa Tasalsul Mustahil?

Berbeda halnya dengan para teolog (al-Mutakallimun) yang bersandar pada dalil al-Huduts (dalam kebaruan alam), para filsuf Muslim pada umumnya menggunakan dalil al-Imkan (dalil kemungkinan...

Pemilu 2019 dan Upaya Menghimpun Harapan

Tahun 2018 sudah memasuki bulan penghabisan. Tak ayal lagi, sebagai tahun di mana keputusan-keputusan politik sudah disepakati, tentu pergumulan mengenai taktik dan strategi menuju...

Historiografi Gerakan 30 September1965 dalam Pandangan Asvi Warman Adam

Setelah lebih dari setengah abad peritiwa kelam bangsa ini berlalu, historiografi  terhadap peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S) terus mengalami perkembangan yang...
khoiril yaqub
Esais, tinggal di Pontianak

Mbah Moen, Mbah Maimoen Zubair adalah salah seorang benteng umat, pengayom bangsa. Pribadi karismatik yang kini telah mangkat. Jenis keberangkatan yang membuat iri para alim.

Mbah Moen, atas izin Allah, dengan jelas mengabarkan kepada kita kelas keulamaannya. Semua tergambar pada caranya hidup dan caranya pergi. Bahwa Mbah Moen kiai besar, banyak orang telah mengerti. Bagi saya yang pernah nyantri ini, sungguh beruntung bisa mengalami perjumpaan dengannya.

Saya berjumpa dengan Mbah Moen dari sebuah jarak, dari Pesantren Darul Hidayah. Perjumpaan ini dimulai dalam kelas saat mengaji Fathul Qarib. Waktu itu saya masih duduk di kelas satu aliyah.

Ketika mengaji kitab tersebut, kami oleh ustaz diberi sanadnya Fathul Qarib sekaligus diijazahi Yasin Fadhilah. Itu semua berasal dari Mbah Moen. Ya, ada salah satu ustaz di pesantren kami pernah nyantri di Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang. Dari sinilah saya mengalami perjumpaan dengan kiai se-alim Mbah Maimoen Zubair.

Saya merasa telah berjumpa walau Mbah Moen tidak. Berjumpa bukan karena fisik bertatap muka, tetapi karena sanad yang terhubung. Jarak Pontianak-Sarang membuat saya tak bisa mendekat secara ruang. Perasaan ini menyiksa karena pada etape kemudian, saya yang berlatar santri dengan salah satu tradisi pentingnya yaitu sowan kiai tak bisa saya lakukan. Inilah dunia batin yang penting untuk dihidupkan.

Dunia santri, dunia yang semula saya akrabi begitu memesona. Sebab keberhasilannya mempertemukan yang mestinya dijadikan ideologi kultural negeri ini: adab dan ilmu. Di tingkat inilah saya merasa iri pada teman-teman yang rajin sowan kiai. Mengetahui Mbah Moen telah mangkat, seketika itu sangat saya sesali karena walau hanya sekali tak pernah sowan dan meminta doa. Dulu saya pernah membatin, kelak bisa melakukan perjalanan sowan ke kiai-kiai termasuklah sowan Mbah Moen. Tetapi, saya tak mendapat kesempatan tersebut.

Syukurlah, alam masih menghadiahi saya kenikmatan lain lewat Pesantren Darul Hidayah. Lewat pesantren ini saya mengalami perjumpaan dengan banyak kiai besar lainnya. Saya mengimani pernah belajar di pesantren merupakan pintu menuju keberkahan. Rasa ini saya sembunyikan rapat karena ia terlalu absurd untuk dikabarkan apalagi kepada orang yang tak memiliki latar belakang kebudayaan ini. Semacam romantisme keberkahan, hanya bisa ditakar, diukur, dan diungkap melalui matematika rasa.

Ada pertanggung jawaban ilmiah yang dimiliki oleh pesantren. Kita tak temukan ini di pendidikan selainnya. Sebuah transmisi dari guru ke guru, dan mudah-mudahan sampai pada Kanjeng Nabi Muhammad. Ini penting, karena kita tak hidup sezaman dengan Rasulullah. Kepada siapa lagi kita menimba ilmu kalau bukan kepada al-ulama’ waratsatul anbiya’, ulama’ pewaris para nabi. Menjadi kekhawatiran kalau ilmu yang kita peroleh tak terhubung pada kanjeng rasulullah Muhammad.

Ini merupakan peringatan bagi kita semua dalam hal memilih guru. Menganalisa terlebih dahulu agar tidak sembarangan. Mengingat, sekarang ini banyak sekali ustaz-ustaz, dai-dai yang bermunculan. Profesi ini paling mudah untuk dikerjakan, tidak seperti dokter atau pengacara misalnya. Kalau kita ingin menjadi pengacara ia harus sarjana hukum dan telah melewati beberapa pendidikan keadvokatan.

Sudah jamaknya, dengan modal kamera, youtube, kemudian live streaming, semua sudah bisa berceramah. Kita tidak bisa menghalangi setiap orang untuk berceramah. Menghalangi untuk berbicara, mengungkap pendapat. Ini soal perkembangan zaman dengan segala kemajuannya. Tidak ada yang salah dengan zaman, keliru bila menyalahkannya.

Menjadi biang soal ketika ustaz-ustaz, dai-dai tak memiliki kualifikasi yang jelas. Kita mengerti bahwa Imam Malik dulu tidak berani menjawab pertanyaan, ada puluhan pertanyaan, mayoritas dijawab dengan tidak tahu. Bayangkan sekualitas Imam Malik loh. Eh, sekarang ini mudah sekali apapun pertanyaannya bisa dijawab, perkara benar atau tidak, urusan belakangan.

Dengan banyaknya persebaran youtube, video-video pendek penceramah, kita perlu hati-hati. Tidak asal menyebutkan dalil lalu kita sudah mempercayainya. Kita memang harus menelusurinya terlebih dahulu. Melihat sanad keilmuannya, belajarnya di mana dan kepada siapa. Apakah ia benar-benar layak menyampaikan satu ayat atau bahkan ribuan ayat.

Saya sangat bersyukur bisa tersambung ke Sang Paku Bumi Tanah Jawa: Mbah Kiai Haji Maimoen Zubair. Sebab Pesantren Darul Hidayah saya seperti ketiban ndaru, tertimpa keberuntungan. Pertanggung jawaban ilmiahnya tersambung ke Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, juga ke Pesantren Lirboyo Kediri. Sangat menggembirakan, dari sini saya telah menyiapkan dialog bakal kelak dalam kubur. Saya membayang akan terjadi dialog seperti ini;

“Man rabbuka (siapa Tuhanmu)?”

“saya santri Darul Hidayah”.

*mendadak malaikatnya meriang*

“Ampun, maaf”.

“Hmmm…

Maturnuwun Mbah Yai, mugi panjenengan husnul khatimah. Lahul Fatihah.

khoiril yaqub
Esais, tinggal di Pontianak
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

The Social Dilemma, Algoritma Media Sosial Manipulasi Pengguna

Di masa pandemi virus corona, kita sangat bergantung pada perangkat-perangkat lunak agar kita tetap bisa berhubungan dengan teman, keluarga dan rekan kerja yang tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.