OUR NETWORK

Mbah Moen, dari Pesantren ke Hal-hal Penting

Saya berjumpa dengan Mbah Moen dari sebuah jarak, dari Pesantren Darul Hidayah

Mbah Moen, Mbah Maimoen Zubair adalah salah seorang benteng umat, pengayom bangsa. Pribadi karismatik yang kini telah mangkat. Jenis keberangkatan yang membuat iri para alim.

Mbah Moen, atas izin Allah, dengan jelas mengabarkan kepada kita kelas keulamaannya. Semua tergambar pada caranya hidup dan caranya pergi. Bahwa Mbah Moen kiai besar, banyak orang telah mengerti. Bagi saya yang pernah nyantri ini, sungguh beruntung bisa mengalami perjumpaan dengannya.

Saya berjumpa dengan Mbah Moen dari sebuah jarak, dari Pesantren Darul Hidayah. Perjumpaan ini dimulai dalam kelas saat mengaji Fathul Qarib. Waktu itu saya masih duduk di kelas satu aliyah.

Ketika mengaji kitab tersebut, kami oleh ustaz diberi sanadnya Fathul Qarib sekaligus diijazahi Yasin Fadhilah. Itu semua berasal dari Mbah Moen. Ya, ada salah satu ustaz di pesantren kami pernah nyantri di Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang. Dari sinilah saya mengalami perjumpaan dengan kiai se-alim Mbah Maimoen Zubair.

Saya merasa telah berjumpa walau Mbah Moen tidak. Berjumpa bukan karena fisik bertatap muka, tetapi karena sanad yang terhubung. Jarak Pontianak-Sarang membuat saya tak bisa mendekat secara ruang. Perasaan ini menyiksa karena pada etape kemudian, saya yang berlatar santri dengan salah satu tradisi pentingnya yaitu sowan kiai tak bisa saya lakukan. Inilah dunia batin yang penting untuk dihidupkan.

Dunia santri, dunia yang semula saya akrabi begitu memesona. Sebab keberhasilannya mempertemukan yang mestinya dijadikan ideologi kultural negeri ini: adab dan ilmu. Di tingkat inilah saya merasa iri pada teman-teman yang rajin sowan kiai. Mengetahui Mbah Moen telah mangkat, seketika itu sangat saya sesali karena walau hanya sekali tak pernah sowan dan meminta doa. Dulu saya pernah membatin, kelak bisa melakukan perjalanan sowan ke kiai-kiai termasuklah sowan Mbah Moen. Tetapi, saya tak mendapat kesempatan tersebut.

Syukurlah, alam masih menghadiahi saya kenikmatan lain lewat Pesantren Darul Hidayah. Lewat pesantren ini saya mengalami perjumpaan dengan banyak kiai besar lainnya. Saya mengimani pernah belajar di pesantren merupakan pintu menuju keberkahan. Rasa ini saya sembunyikan rapat karena ia terlalu absurd untuk dikabarkan apalagi kepada orang yang tak memiliki latar belakang kebudayaan ini. Semacam romantisme keberkahan, hanya bisa ditakar, diukur, dan diungkap melalui matematika rasa.

Ada pertanggung jawaban ilmiah yang dimiliki oleh pesantren. Kita tak temukan ini di pendidikan selainnya. Sebuah transmisi dari guru ke guru, dan mudah-mudahan sampai pada Kanjeng Nabi Muhammad. Ini penting, karena kita tak hidup sezaman dengan Rasulullah. Kepada siapa lagi kita menimba ilmu kalau bukan kepada al-ulama’ waratsatul anbiya’, ulama’ pewaris para nabi. Menjadi kekhawatiran kalau ilmu yang kita peroleh tak terhubung pada kanjeng rasulullah Muhammad.

Ini merupakan peringatan bagi kita semua dalam hal memilih guru. Menganalisa terlebih dahulu agar tidak sembarangan. Mengingat, sekarang ini banyak sekali ustaz-ustaz, dai-dai yang bermunculan. Profesi ini paling mudah untuk dikerjakan, tidak seperti dokter atau pengacara misalnya. Kalau kita ingin menjadi pengacara ia harus sarjana hukum dan telah melewati beberapa pendidikan keadvokatan.

Sudah jamaknya, dengan modal kamera, youtube, kemudian live streaming, semua sudah bisa berceramah. Kita tidak bisa menghalangi setiap orang untuk berceramah. Menghalangi untuk berbicara, mengungkap pendapat. Ini soal perkembangan zaman dengan segala kemajuannya. Tidak ada yang salah dengan zaman, keliru bila menyalahkannya.

Menjadi biang soal ketika ustaz-ustaz, dai-dai tak memiliki kualifikasi yang jelas. Kita mengerti bahwa Imam Malik dulu tidak berani menjawab pertanyaan, ada puluhan pertanyaan, mayoritas dijawab dengan tidak tahu. Bayangkan sekualitas Imam Malik loh. Eh, sekarang ini mudah sekali apapun pertanyaannya bisa dijawab, perkara benar atau tidak, urusan belakangan.

Dengan banyaknya persebaran youtube, video-video pendek penceramah, kita perlu hati-hati. Tidak asal menyebutkan dalil lalu kita sudah mempercayainya. Kita memang harus menelusurinya terlebih dahulu. Melihat sanad keilmuannya, belajarnya di mana dan kepada siapa. Apakah ia benar-benar layak menyampaikan satu ayat atau bahkan ribuan ayat.

Saya sangat bersyukur bisa tersambung ke Sang Paku Bumi Tanah Jawa: Mbah Kiai Haji Maimoen Zubair. Sebab Pesantren Darul Hidayah saya seperti ketiban ndaru, tertimpa keberuntungan. Pertanggung jawaban ilmiahnya tersambung ke Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, juga ke Pesantren Lirboyo Kediri. Sangat menggembirakan, dari sini saya telah menyiapkan dialog bakal kelak dalam kubur. Saya membayang akan terjadi dialog seperti ini;

“Man rabbuka (siapa Tuhanmu)?”

“saya santri Darul Hidayah”.

*mendadak malaikatnya meriang*

“Ampun, maaf”.

“Hmmm…

Maturnuwun Mbah Yai, mugi panjenengan husnul khatimah. Lahul Fatihah.

Esais, tinggal di Pontianak

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…