Notice: Undefined index: HTTP_REFERER in /home/geotimes/wordpress/wp-content/plugins/Plugin/plug.php on line 23
Mau ‘Jewer’ Haedar Nashir, Memang Amien Rais Siapa? | GEOTIMES
Selasa, Maret 9, 2021

Mau ‘Jewer’ Haedar Nashir, Memang Amien Rais Siapa?

Merdeka dari Kebencian

Akhir Desember 2015, BBC melaporkan, di tahun yang sama adalah tahun kebencian bagi Inggris. 2015: The Year that Angry Won The Internet, begitu bunyi judulnya. Laporan...

Masa Depan Aceh dan Kenduri Kebangsaan

Membicarakan Aceh tak pernah selesai. Tiga pekan yang lalu di grup WA beredar foto spanduk bertuliskan "Selamat dan Sukses kepada Pemerintah Aceh atas Prestasi...

Indonesia dan Energi Batu Bara, Ada Apa?

Indonesia masih tertinggal dari negara lain dalam penggunaan energi terbarukan di dunia. Alih-alih mendukung dalam pengurangan dampak krisis iklim pada Conference of the Parties...

Peradaban Tontonan, Fenomena Artis Masuk Senayan

  Mario Vargas-Llosa pernah ngomel-ngomel, pasalnya kepala Negara dari Negara yang ia kagumi kemajuan peradabannya –Perancis- kepincut dengan seorang penyanyi kondang. Carla Bruni, memang begitu...
Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal

Penasehat PP Muhammadiyah Amien Rais mengatakan akan ‘menjewer’ Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir karena tidak segera menentukan sikap bagi warga Muhammadiyah jelang pilpres 2019 mendatang. Merespon ‘ancaman’ itu, Haedar nyantai saja dan terkesan tidak takut menghadapi ‘gertakan’ Amien Rais. Kok, Amien maksa-maksa sih, memang dia siapa?

Di tengah-tengah kalang kabutnya Amien Rais, justru Haedar malah semakin menegaskan bahwa ormas Muhammadiyah menolak terlibat dalam politik praktis sekaligus membebaskan warga Muhammadiyah untuk memilih pasangan capres-cawapres nomor urut 01 atau pasangan capres-cawapres nomor urut 02.

Penegasan Haedar ini secara langsung telah menyimpulkan bahwa Muhammadiyah tetap berada dalam garis politik kebangsaan dan berusaha keras mencegah terjadinya perpecahan bangsa dengan tidak memainkan politik identitas agama dalam kontestasi pilpres 2019.

Warga Muhammadiyah Cerdas

Sikap Amien Rais jelas-jelas telah menunjukkan bahwa elektabilitas Prabowo-Sandi memang perlu dikatrol karena posisi pasangan capres-cawapres nomor urut 02 itu, sudah semakin diabaikan rakyat, maka tak heran kalau Amien terus berkoar-koar membela Prabowo-Sandi dengan berbagai pernyataan nyeleneh yang terkadang memalukan bangsa ini.

Memangnya siapa Amien Rais maksa-maksa Haedar Nashir dan warga Muhammadiyah untuk mendukung Prabowo-Sandi? Jangan mentang-mentang menjadi penasehat PP Muhammadiyah, Amien Rais bisa dengan seenaknya mengintimidasi warga Muhammadiyah untuk terjun ke politik praktis.

Sadarkah Amien bahwa Muhammadiyah itu bukan miliknya semata. Amien Rais bukan siapa-siapa lagi di Muhammadiyah. Suara Amien sudah ngak laku lagi di Muhammadiyah dan di kalangan umat muslim. Warga Muhammadiyah sudah sangat  cerdas dan berkualitas, terutama dalam menentukan siap politiknya dan mereka tidak perlu dipaksa-paksa. Sampai di sini seharusnya Amien bisa mawas diri.

Setelah gagal membawa kelompok Ijtima ulama (jilid1 dan jilid 2), FPI, PA 212, dan GNPF untuk mendukung Prabowo-Sandi, Amien Rais terlihat sangat frustasi dan mungkin mengalami depresi kejiwaan yang akut. Hal ini disebabkan karena dirinya yang sangat takut kalau pasangan Prabowo-Sandi kalah dalam kontestasi pilpres 2019.

Haedar Tidak Takut 

Mungkin satu-satunya jalan untuk memperkuat suara Prabowo-Sandi, Amien mencoba menekan Muhammadiyah agar segera bersikap mendukung pasangan capres-cawapres nomor urut 02. Amien berharap, bila Muhammadiyah pro ke Prabowo-Sandi, maka akan banyak efek ikutannya, terutama dari kalangan muslim terdidik dan modern untuk mendukung Prabowo-Sandi. Selain itu, Amien juga ingin meraup massa mengambang yang hingga kini belum menentukan pilihannya, termasuk diantaranya kelompok milenial kelas menengah ke atas.

Namun, sayangnya manuver Amien yang mengancam akan ‘menjewer’ Haedar Nashir sia-sia belaka, karena sosok Ketua Umum PP Muhammadiyah itu, tidak takut kepada Amien Rais. Selama ini, Haedar juga tidak pernah melontarkan pernyataan yang sifatnya dukung-mendukung pasangan capres-cawapres yang akan berkompetisi di tahun 2019.

Haedar sangat paham bahwa bila Muhammadiyah terlibat dalam politik praktis, maka kemunginan besar akan terjadi perpecahan antar umat muslim (NU dan Muhammadiyah). Haedar tahu betul bahwa antara NU dan Muhammadiyah merupakan dua ormas yang menjadi ‘acuan’ bagi kaum muslim Indonesia, sehingga kalau salah satu ormas itu bermain politik praktis, maka perpecahan tak bisa dihindari lagi karena masing-masing ormas memiliki pendukung fanatik dan sangat loyal kepada pimpinannya.

Sampai hari ini, Haedar Nashir mampu membawa warga Muhammadiyah menjadi salah satu kelompok umat muslim yang peduli terhadap politik kebangsaan dengan menempatkan Islam sebagai alat pemersatu bangsa, diantara majemuknya status sosial masyarakat. Selain itu, tokoh-tokoh elit Muhammadiyah juga sudah mencium adanya kelompok-kelompok radikal yang mencoba memanfaatkan umat muslim, terutama warga Muhammadiyah untuk merebut kekuasaan politik dengan cara-cara yang kotor dan membahayakan persatuan antarumat dan persatuan bangsa.

Di sisi lain, Amien Rais justru semakin tidak cerdas dalam menyikapi perkembangan politik kebangsaan. Nalar dan naluri politik Amien Rais semakin tertutup oleh ambisi kekuasaan yang tanpa disadarinya, justru akan merusak moral dan metal bangsa dan konflik antarumat untuk jangka waktu yang panjang. Saya berharap, Amien Rais mau belajar untuk tahu diri dan tahu malu serta santun dalam berpolitik. Mudahan-mudahan Amien Rais kembali ke jalan yang lurus. Wassalam.

Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.