OUR NETWORK

Mati Segan Hidup Tak Mau, Suramnya Literasi Indonesia

Sampai detik ini tidak ada tanda-tanda generasi muda akan memanfaatkan berbagai kemudahan dan keterbukaan sumber ilmu pengetahuan tersebut untuk memajukan akal, menampilkan gagasan, dan memperkuat kedudukan narasi intelektual dalam bentuk literasi.
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/aww/17.

Perkembangan literasi di kalangan generasi milenial Indonesia barangkali telah masuk dalam fase impoten, bahkan bisa mencapai tahap mandul, apabila gairah berliterasi di Indonesia –masih- sayu dan layu.

Padahal, segala macam ilmu pengetahuan, baik itu sains, filsafat, sastra, sejarah, dan dan lain sebagainya, yang mempengaruhi perkembangan dunia, dewasa ini dapat kita pelajari hanya dengan menekan tombol read di laman pencarian Google Books dan sebangsanya.

Sampai detik ini tidak ada tanda-tanda generasi muda akan memanfaatkan berbagai kemudahan dan keterbukaan sumber ilmu pengetahuan tersebut untuk memajukan akal, menampilkan gagasan, dan memperkuat kedudukan narasi intelektual dalam bentuk literasi.

Generasi muda justru malah asyik-masyuk tenggelam dalam kecanduan kronis dengan segala sesuatu yang terkait dengan kemewahan aplikasi digital, baik berupa game maupun media sosial (medsos), bahkan ada yang sampai gila karenanya. Segala macam kesibukan digital generasi muda yang tidak jauh-jauh dari hedonisme dan sama sekali tidak mendukung kemajuan literasi itulah, kita dapat menujumkan bahwa masa depan literer kita menyuramkan.

Survei dari Central Connecticut State University (CCSU) juga mempertegas tanda-tanda menyuramkan itu. CCSU pernah merilis data berjudul World’s Most Literate Nation Ranked pada tahun 2016, yang menunjukkan semangat literasi orang Indonesia dalam angka yang terbilang cukup mengkhawatirkan.

Dari total 61 negara yang diteliti, Indonesia berada diperingkat 60, satu tingkat di atas Bostwana. Jangan tanya dan cari tahu tentang keterbukaan ilmu dan informasi bernas yang disediakan teknologi pada generasi muda Bostwana dan sebagian negara yang berada di daratan Afrika (yang peringkatnya berada di atas Indonesia) lainnya. Sebab untuk urusan perut saja, mereka seringkali hampir meregang nyawa.

Jika berkaca pada hasil penelitian yang disajikan oleh CCSU tersebut, bukan hanya pesimis, kekhawatiran kita sudah mencapai batas mustahil dan tidak percaya bahwa masa depan literasi Indonesia bakal cerah.

Ada dua faktor mengapa kita tidak yakin akan masa depan literasi Indonesia: pertama, kecintaan akan literasi tidak dipupuk sejak masa kanak-kanak, baik di rumah maupun di sekolah. Hingga hari ini tidak ada satu pun sekolah di tanah air (pasca merdeka) yang menetapkan bacaan wajib kepada para anak didiknya, baik berupa sastra atau segala bacaan yang mampu mendongkrak kemampuan intelektual generasi muda.

Kedua, sepanjang perjalanan Republik Indonesia: tidak sekali dua kali kita melihat bahwa ada banyak sekali pegiat literasi dan karyanya yang tidak mendapat tempat di negeri sendiri, malah lucunya tulisan mereka dijadikan bacaan wajib diberbagai sekolah di belahan dunia, seperti buku karangan Muchtar Lubis, Pramoedya, dan yang terbaru Andrea Hirata (Trilogi Laskar Pelangi) dan Ahmad Fuadi (Trilogi 5 Menara).

Miris sekali memang jika dibawa ke hati: ketika literatur kita, dimanfaatkan oleh bangsa asing untuk membangun peradabannya, kita malah meninggalkan karya mereka dan terjebak dalam ruangan maha luas (dunia digital) yang dibangun oleh bangsa berperadaban maju yang menghargai literasi itu. Hal ini terjadi barangkali karena pemerintah Indonesia sepanjang perjalanannya belum menyadari, bahwa kemajuan suatu teknologi dan peradaban setiap bangsa besar dirancang oleh gagasan yang diikat dalam bentuk literasi. Bahkan Indonesia pun merdeka, karena literasi.

Menanam Kembali Bibit Literasi

Jika pun, ada yang melestarikan literasi di Indonesia hari-hari ini: lajunya ibarat orang yang “mati segan, hidup tak mau”: alias sayup-sayup. Dan angkanya pun terbilang sangat menyedihkan untuk dikalkulasikan. Tak dapat dibayangkan bagaimana jadinya bangsa Indonesia yang besar dengan budaya tradisional sastra yang mengagumkan di setiap daerah, bahkan mampu merubah tradisi lisan menjadi tulisan dalam sekejap mata, namun di masa depan malah, fakir budaya literasi.

Persoalan paling mendasar yang perlu diketahui untuk menanam kembali bibit literasi adalah; kecakapan menulis bukanlah sebuah kemampuan bawaan lahir yang simsalabim abrakadabra langsung jadi, melainkan memerlukan sebuah usaha yang dibiasakan hingga menjadi rutinitas yang harus kita tunaikan setiap saatnya. Langkah selanjutnya yang harus kita tempuh agar mampu menjadi pelestari literasi adalah dengan cara menjalin hubungan intim dengan buku (rajin membaca).

Tidak ada satu pun penulis besar yang lahir ke dunia, tanpa memiliki dasar dari bahan bacaan yang selama ini ia konsumsi. Membaca selain menambah wawasan, ia juga akan memperkenalkan kita dengan beraneka macam prosa baru guna menambah kekayaan bahasa kita dalam membuat sebuah tulisan yang menawan. Maka dari itu peran sekolah dan pemerintah sangat diharapkan untuk terlibat, salah satunya adalah dengan cara menetapkan bacaan wajib bagi para anak didiknya, sebagaimana sekolah-sekolah di negara-negara maju.

Sebab, literasi lebih mewah daripada sekedar tulisan; ia adalah gagasan yang ditawarkan pada publik untuk dapat menyelesaikan berbagai macam persoalan bangsa, bahkan dunia. Selain itu dengan literasi suatu permasalahan penting yang awalnya tidak berpola, mampu disusun secara baik dan akhirnya bisa dijadikan tulisan yang terpola, sehingga dapat memotivasi manusia lainnya untuk bergerak maju ke arah perubahan.

Lihat saja contohnya, bagaimana tulisan Tan Malaka yang berjudul, “Naar de Republiek” menginspirasi seluruh tokoh pergerakan untuk berjuang sehabis-habisnya agar dapat membentuk republik yang merdeka dan terbebas dari segala bentuk penjajahan. Hayati juga bagaimana puisi Muhammad Yamin yang berjudul “Tanah Air” menambah deretan kosa-kata penting bangsa kita dalam mempertahankan Indonesia waktu itu, walaupun nyawa tantangannya.

Bukti dari kebenaran sebuah diktum klasik “dengan menulis engkau akan hidup selamanya”: telah teruji kesahihannya. Tidak peduli berapa ribu tahun yang lalu para pegiat literasi wafat, akan tetapi literatur yang mereka tinggalkan, tetap dimanfaatkan dan digunakan untuk berbagai kepentingan dunia. Nama mereka pun abadi dalam karyanya: tidak lapuk di makan zaman, tidak hancur di telan api. Atau dalam konsep Islam, para penulis ini telah berhasil mendapatkan amal jariyah (amal yang tidak terputus-putus hingga hari kebangkitan) dari usahanya.

Esensi inilah yang harus kita tanamkan kembali dalam di dalam akal generasi milenial, agar mereka tahu bahwa kemajuan dunia yang sedang mereka nikmati berasal dari susunan kata (tulisan) para pemikir dunia, dan sadar juga bahwa kemerdekaan yang sedang mereka nikmati hari ini, karena jasa para pahlawan dalam bidang literasi.

Jika tidak juga tercerahkan, maka pernyataan tentang suramnya masa depan literasi kita akan dikembalikan pada generasi muda dalam bentuk pertanyaan; sudah siapkah kita hidup tanpa pedoman literasi di masa depan? Dan selalu mengekor pada kemajuan bangsa besar lainnya? Semua itu ada di tangan kita: generasi muda Indonesia.

Kolumnis dan pecinta kopi

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…