Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Mati Segan Hidup Tak Mau, Suramnya Literasi Indonesia

Redefinisi Kemiskinan

"Spare no effort to free our fellow men, women, and children from the abject and dehumanizing conditions of extreme poverty" Perang melawan kemiskinan global telah...

Nasionalisme Bagaimana?

Bulan Agustus tahun 2019 sudah berada di awal pekan. Di jalanan banyak orang berdagang bendera merah putih. Bahkan beberapa rumah sudah memasang bendera negara Indonesia...

Tongkat Otoritas : Bukti Kesesatan Kelompok Bahtera

Ini foto tongkat otoritas yg sangat banyak digunakan di kelompok saya yg lalu.Fungsinya sebagai senjata profetik yaitu sebagai lambang pemegang kuasa otoritas yg dari...

Paradoks Perkara yang Berat (Agama)

Siapa tak kenal Imam Malik, seorang mujtahid besar yang diakui kealiman dan kesholehannya. Meski demikian, Ulama yang sempat bercita-cita menjadi penyanyi dimasa kecilnya ini,...
Andreas Mazland
Kolumnis dan pecinta kopi

Perkembangan literasi di kalangan generasi milenial Indonesia barangkali telah masuk dalam fase impoten, bahkan bisa mencapai tahap mandul, apabila gairah berliterasi di Indonesia –masih- sayu dan layu.

Padahal, segala macam ilmu pengetahuan, baik itu sains, filsafat, sastra, sejarah, dan dan lain sebagainya, yang mempengaruhi perkembangan dunia, dewasa ini dapat kita pelajari hanya dengan menekan tombol read di laman pencarian Google Books dan sebangsanya.

Sampai detik ini tidak ada tanda-tanda generasi muda akan memanfaatkan berbagai kemudahan dan keterbukaan sumber ilmu pengetahuan tersebut untuk memajukan akal, menampilkan gagasan, dan memperkuat kedudukan narasi intelektual dalam bentuk literasi.

Generasi muda justru malah asyik-masyuk tenggelam dalam kecanduan kronis dengan segala sesuatu yang terkait dengan kemewahan aplikasi digital, baik berupa game maupun media sosial (medsos), bahkan ada yang sampai gila karenanya. Segala macam kesibukan digital generasi muda yang tidak jauh-jauh dari hedonisme dan sama sekali tidak mendukung kemajuan literasi itulah, kita dapat menujumkan bahwa masa depan literer kita menyuramkan.

Survei dari Central Connecticut State University (CCSU) juga mempertegas tanda-tanda menyuramkan itu. CCSU pernah merilis data berjudul World’s Most Literate Nation Ranked pada tahun 2016, yang menunjukkan semangat literasi orang Indonesia dalam angka yang terbilang cukup mengkhawatirkan.

Dari total 61 negara yang diteliti, Indonesia berada diperingkat 60, satu tingkat di atas Bostwana. Jangan tanya dan cari tahu tentang keterbukaan ilmu dan informasi bernas yang disediakan teknologi pada generasi muda Bostwana dan sebagian negara yang berada di daratan Afrika (yang peringkatnya berada di atas Indonesia) lainnya. Sebab untuk urusan perut saja, mereka seringkali hampir meregang nyawa.

Jika berkaca pada hasil penelitian yang disajikan oleh CCSU tersebut, bukan hanya pesimis, kekhawatiran kita sudah mencapai batas mustahil dan tidak percaya bahwa masa depan literasi Indonesia bakal cerah.

Ada dua faktor mengapa kita tidak yakin akan masa depan literasi Indonesia: pertama, kecintaan akan literasi tidak dipupuk sejak masa kanak-kanak, baik di rumah maupun di sekolah. Hingga hari ini tidak ada satu pun sekolah di tanah air (pasca merdeka) yang menetapkan bacaan wajib kepada para anak didiknya, baik berupa sastra atau segala bacaan yang mampu mendongkrak kemampuan intelektual generasi muda.

Kedua, sepanjang perjalanan Republik Indonesia: tidak sekali dua kali kita melihat bahwa ada banyak sekali pegiat literasi dan karyanya yang tidak mendapat tempat di negeri sendiri, malah lucunya tulisan mereka dijadikan bacaan wajib diberbagai sekolah di belahan dunia, seperti buku karangan Muchtar Lubis, Pramoedya, dan yang terbaru Andrea Hirata (Trilogi Laskar Pelangi) dan Ahmad Fuadi (Trilogi 5 Menara).

Miris sekali memang jika dibawa ke hati: ketika literatur kita, dimanfaatkan oleh bangsa asing untuk membangun peradabannya, kita malah meninggalkan karya mereka dan terjebak dalam ruangan maha luas (dunia digital) yang dibangun oleh bangsa berperadaban maju yang menghargai literasi itu. Hal ini terjadi barangkali karena pemerintah Indonesia sepanjang perjalanannya belum menyadari, bahwa kemajuan suatu teknologi dan peradaban setiap bangsa besar dirancang oleh gagasan yang diikat dalam bentuk literasi. Bahkan Indonesia pun merdeka, karena literasi.

Menanam Kembali Bibit Literasi

Jika pun, ada yang melestarikan literasi di Indonesia hari-hari ini: lajunya ibarat orang yang “mati segan, hidup tak mau”: alias sayup-sayup. Dan angkanya pun terbilang sangat menyedihkan untuk dikalkulasikan. Tak dapat dibayangkan bagaimana jadinya bangsa Indonesia yang besar dengan budaya tradisional sastra yang mengagumkan di setiap daerah, bahkan mampu merubah tradisi lisan menjadi tulisan dalam sekejap mata, namun di masa depan malah, fakir budaya literasi.

Persoalan paling mendasar yang perlu diketahui untuk menanam kembali bibit literasi adalah; kecakapan menulis bukanlah sebuah kemampuan bawaan lahir yang simsalabim abrakadabra langsung jadi, melainkan memerlukan sebuah usaha yang dibiasakan hingga menjadi rutinitas yang harus kita tunaikan setiap saatnya. Langkah selanjutnya yang harus kita tempuh agar mampu menjadi pelestari literasi adalah dengan cara menjalin hubungan intim dengan buku (rajin membaca).

Tidak ada satu pun penulis besar yang lahir ke dunia, tanpa memiliki dasar dari bahan bacaan yang selama ini ia konsumsi. Membaca selain menambah wawasan, ia juga akan memperkenalkan kita dengan beraneka macam prosa baru guna menambah kekayaan bahasa kita dalam membuat sebuah tulisan yang menawan. Maka dari itu peran sekolah dan pemerintah sangat diharapkan untuk terlibat, salah satunya adalah dengan cara menetapkan bacaan wajib bagi para anak didiknya, sebagaimana sekolah-sekolah di negara-negara maju.

Sebab, literasi lebih mewah daripada sekedar tulisan; ia adalah gagasan yang ditawarkan pada publik untuk dapat menyelesaikan berbagai macam persoalan bangsa, bahkan dunia. Selain itu dengan literasi suatu permasalahan penting yang awalnya tidak berpola, mampu disusun secara baik dan akhirnya bisa dijadikan tulisan yang terpola, sehingga dapat memotivasi manusia lainnya untuk bergerak maju ke arah perubahan.

Lihat saja contohnya, bagaimana tulisan Tan Malaka yang berjudul, “Naar de Republiek” menginspirasi seluruh tokoh pergerakan untuk berjuang sehabis-habisnya agar dapat membentuk republik yang merdeka dan terbebas dari segala bentuk penjajahan. Hayati juga bagaimana puisi Muhammad Yamin yang berjudul “Tanah Air” menambah deretan kosa-kata penting bangsa kita dalam mempertahankan Indonesia waktu itu, walaupun nyawa tantangannya.

Bukti dari kebenaran sebuah diktum klasik “dengan menulis engkau akan hidup selamanya”: telah teruji kesahihannya. Tidak peduli berapa ribu tahun yang lalu para pegiat literasi wafat, akan tetapi literatur yang mereka tinggalkan, tetap dimanfaatkan dan digunakan untuk berbagai kepentingan dunia. Nama mereka pun abadi dalam karyanya: tidak lapuk di makan zaman, tidak hancur di telan api. Atau dalam konsep Islam, para penulis ini telah berhasil mendapatkan amal jariyah (amal yang tidak terputus-putus hingga hari kebangkitan) dari usahanya.

Esensi inilah yang harus kita tanamkan kembali dalam di dalam akal generasi milenial, agar mereka tahu bahwa kemajuan dunia yang sedang mereka nikmati berasal dari susunan kata (tulisan) para pemikir dunia, dan sadar juga bahwa kemerdekaan yang sedang mereka nikmati hari ini, karena jasa para pahlawan dalam bidang literasi.

Jika tidak juga tercerahkan, maka pernyataan tentang suramnya masa depan literasi kita akan dikembalikan pada generasi muda dalam bentuk pertanyaan; sudah siapkah kita hidup tanpa pedoman literasi di masa depan? Dan selalu mengekor pada kemajuan bangsa besar lainnya? Semua itu ada di tangan kita: generasi muda Indonesia.

Andreas Mazland
Kolumnis dan pecinta kopi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pilkada dan Jerat Klientelisme

Perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 mulai semarak. Kurang lebih 270 daerah (Kota/Kabupaten dan Provinsi) akan menyelenggarakan pesta demokrasi elektoral ini. Tentunya Pilkada tahun...

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

ARTIKEL TERPOPULER

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.