Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

Mata Najwa, Mata Novel, dan Mata Kita, Bukan Mata Dewa

BPJS dan Konsep Gotong Royong

Sistem jaminan kesehatan nasional di Indonesia mengalami perubahan dan pertumbuhan yang bisa dibilang lambat. Hal ini tidak lepas dari siapa dan bagaimana pengelolaannya. Kendati...

Format Baru Kepemimpinan di Era Disrupsi

Baru-baru ini bangsa Indonesia diisukan dengan adanya penambahan masa jabatan kepemimpinan presiden hingga tiga periode, ataupun ada yang mengusulkan pemilihan presiden dilakukan secara demokratis...

Menjaga Marwah Agama dalam Kontestasi Politik

Sebagai ajaran yang paripurna (Q.S. al-Ma’idah : 3), Islam memberi panduan terkait urusan politik. Misalnya, wajib taat kepada pemerintah, asalkan sesuai dengan ketaatan kepada...

Pertemuan di MRT Sinyal Reposisi?

Paska putusan Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan Joko Widodo–Ma’ruf Amin tidak terbukti melakukan pelanggaran Pemilu seperti apa yang dituduhkan kubu Prabowo-Sandi, seketika tensi politik perlahan...
Avatar
Wahyu Aji
Penulis Lepas dan Peneliti Lepas, Kontak: kuprivata@gmail.com

Mata penyidik Novel Baswedan yang rusak, menjadi simbol pemberantasan korupsi yang terbajak

Catatan Mata Najwa

Ada catatan yang menyentuh tentang tragedi Novel Baswedan dalam wawancara ekslusifnya, Senin, 26 Juli 2017, Najwa mencatat iba tentang wajah pemberantasan korupsi di tanah air kita, Indonesia. Najwa bilang, mata penyidik Novel Baswedan yang rusak, menjadi simbol pemberantasan korupsi yang terbajak.

Entah kenapa tiba-tiba saja secara mengejutkan, Malam Selasa, 8 Agustus 2017, lewat akun Twitter resminya, Najwa Shihab mengumumkan bahwa produksi program talkshow Mata Najwa resmi dihentikan. Kata Najwa, eksklusif bersama Novel Baswedan menjadi episode live terakhir Mata Najwa. Ada apakah gerangan dengan Mata Najwa? Apa hubungannya dengan Mata Novel? Lantas, kenapa pula dengan Mata Kita?

Andai benar program Mata Najwa berhenti karena “Mata Novel” barangkali ada yang salah dengan “Mata Kita” sebagai manusia. Program televisi yang berusaha menyajikan dan mencari kebenaran atas sebuah persoalan bangsa, akan berhenti tayang atau bisa jadi diminta berhenti tayang, artinya ada yang salah dengan akal sehat kita, begitu bukan? Baiklah kita lanjutkan penjelasan Najwa.

Dalam tiga minggu ke depan, Mata Najwa akan menghadirkan kolase berbagai episode lama yang ia dan tim anggap penting dan berharga. Sementara di penghujung Agustus, Mata Najwa akan menayangkan episode finalnya yang bertajuk “Catatan Tanpa Titik”. Najwa juga menyampaikan bahwa penghentian program Mata Najwa sekaligus menjadi akhir dari perjalannya di Metro TV.

Najwa mengutarakan, Agustus ini bukan hanya menjadi yang terakhir bagi Mata Najwa saja. Menjadi reporter Metro TV pada bulan Agustus 2000, perjalanannya bersama Metro TV juga akan berakhir pada bulan yang sama. Ini adalah Agustus penghabisan. Nah, apakah kasus Novel Baswedan juga akan dihabiskan saja tanpa titik terang?

Dalam sebuah artikel tentang penanganan kasus Novel, ada kutipan begini:

“Anda pasti tak dapat membayangkan, mungkin saja saat ini pelaku lagi melenggang bebas ke sana-ke sini, wara-wiri, pelesir, santai di pantai, berpesta selangkangan, main ke mall, ngupi, update status di facebook. Lalu Novelnya? Lebaran dengan biji mata yang hampir rusak, Pak Polisi. Lucu kan?. Pak Polisi, piye Novel Baswedan? Saya malah justru ingin serius bertanya kepada Pak Kapolri. Pak Tito, Piye Novel Baswedan?”.

Catatan Najwa bukan lagi bertanya kepada Pak Tito saja, tetapi sudah meminta jawaban kepada Presiden. Catatan Najwa menyampaikan, penyelesaian hukum kasus Novel Baswedan, menjadi ujian keras Presiden untuk berlaku transparan. Jika warga dan negara sekeras baja memberantas korupsi, tak akan mungkin kita biarkan teror ke Novel Baswedan terjadi berkali-kali.

Demi moral kita bersama, lanjut Najwa, Presiden harus turun tangan langsung, memastikan hukum masih bisa tegak membusung. Kita perlu membentuk tim independen pengusutan fakta, demi jaminan keseriusan penyelesaian masalah. Apa kata anak cucu kita sekarang dan nanti, jika negara bungkam melihat KPK hendak diinjak mati.

Kepada Pak Kapolri, Najwa mengatakan, kita tahu ada begitu banyak pejabat murka, melihat operasi korupsi mereka diusik KPK. Kepada publik Pak Kapolri harus membuktikan, utang kasus Novel Baswedan yang menuntut penuntasan. Jangan biarkan para drakula koruptor berjaya, merasa bisa menghisap darah negara dengan membunuh KPK.

Ya sudahlah. Mata Najwa bukanlah Mata Dewa. Mungkin, mungkin saja, pada peringatan 72 Tahun Indonesia Merdeka, ada sebuah kado tentang kejelasan dalam penuntasan kasus Novel Baswedan. Dan, semoga Mata Najwa akan tetap tayang, tapi bukan di tempat stasiun televisi yang sekarang, kalau memang sudah tak ada lagi jalan.

Akhirnya, untuk Najwa, pada kedalaman sorot matanya nan indah, semoga selalu ingat pesan Gus Mus, “Tetaplah menjadi manusia karena Tuhan memuliakan manusia”. Merdeka.

 

Avatar
Wahyu Aji
Penulis Lepas dan Peneliti Lepas, Kontak: kuprivata@gmail.com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

The Social Dilemma, Algoritma Media Sosial Manipulasi Pengguna

Di masa pandemi virus corona, kita sangat bergantung pada perangkat-perangkat lunak agar kita tetap bisa berhubungan dengan teman, keluarga dan rekan kerja yang tidak...

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.