in

Mata Najwa, Mata Novel, dan Mata Kita, Bukan Mata Dewa

Mata penyidik Novel Baswedan yang rusak, menjadi simbol pemberantasan korupsi yang terbajak

Catatan Mata Najwa

Ada catatan yang menyentuh tentang tragedi Novel Baswedan dalam wawancara ekslusifnya, Senin, 26 Juli 2017, Najwa mencatat iba tentang wajah pemberantasan korupsi di tanah air kita, Indonesia. Najwa bilang, mata penyidik Novel Baswedan yang rusak, menjadi simbol pemberantasan korupsi yang terbajak.

Entah kenapa tiba-tiba saja secara mengejutkan, Malam Selasa, 8 Agustus 2017, lewat akun Twitter resminya, Najwa Shihab mengumumkan bahwa produksi program talkshow Mata Najwa resmi dihentikan. Kata Najwa, eksklusif bersama Novel Baswedan menjadi episode live terakhir Mata Najwa. Ada apakah gerangan dengan Mata Najwa? Apa hubungannya dengan Mata Novel? Lantas, kenapa pula dengan Mata Kita?

Andai benar program Mata Najwa berhenti karena “Mata Novel” barangkali ada yang salah dengan “Mata Kita” sebagai manusia. Program televisi yang berusaha menyajikan dan mencari kebenaran atas sebuah persoalan bangsa, akan berhenti tayang atau bisa jadi diminta berhenti tayang, artinya ada yang salah dengan akal sehat kita, begitu bukan? Baiklah kita lanjutkan penjelasan Najwa.

Dalam tiga minggu ke depan, Mata Najwa akan menghadirkan kolase berbagai episode lama yang ia dan tim anggap penting dan berharga. Sementara di penghujung Agustus, Mata Najwa akan menayangkan episode finalnya yang bertajuk “Catatan Tanpa Titik”. Najwa juga menyampaikan bahwa penghentian program Mata Najwa sekaligus menjadi akhir dari perjalannya di Metro TV.

Najwa mengutarakan, Agustus ini bukan hanya menjadi yang terakhir bagi Mata Najwa saja. Menjadi reporter Metro TV pada bulan Agustus 2000, perjalanannya bersama Metro TV juga akan berakhir pada bulan yang sama. Ini adalah Agustus penghabisan. Nah, apakah kasus Novel Baswedan juga akan dihabiskan saja tanpa titik terang?

Baca Juga :   Berlindung di Belakang Jargon Islam

Dalam sebuah artikel tentang penanganan kasus Novel, ada kutipan begini:

“Anda pasti tak dapat membayangkan, mungkin saja saat ini pelaku lagi melenggang bebas ke sana-ke sini, wara-wiri, pelesir, santai di pantai, berpesta selangkangan, main ke mall, ngupi, update status di facebook. Lalu Novelnya? Lebaran dengan biji mata yang hampir rusak, Pak Polisi. Lucu kan?. Pak Polisi, piye Novel Baswedan? Saya malah justru ingin serius bertanya kepada Pak Kapolri. Pak Tito, Piye Novel Baswedan?”.

Catatan Najwa bukan lagi bertanya kepada Pak Tito saja, tetapi sudah meminta jawaban kepada Presiden. Catatan Najwa menyampaikan, penyelesaian hukum kasus Novel Baswedan, menjadi ujian keras Presiden untuk berlaku transparan. Jika warga dan negara sekeras baja memberantas korupsi, tak akan mungkin kita biarkan teror ke Novel Baswedan terjadi berkali-kali.

Demi moral kita bersama, lanjut Najwa, Presiden harus turun tangan langsung, memastikan hukum masih bisa tegak membusung. Kita perlu membentuk tim independen pengusutan fakta, demi jaminan keseriusan penyelesaian masalah. Apa kata anak cucu kita sekarang dan nanti, jika negara bungkam melihat KPK hendak diinjak mati.

Kepada Pak Kapolri, Najwa mengatakan, kita tahu ada begitu banyak pejabat murka, melihat operasi korupsi mereka diusik KPK. Kepada publik Pak Kapolri harus membuktikan, utang kasus Novel Baswedan yang menuntut penuntasan. Jangan biarkan para drakula koruptor berjaya, merasa bisa menghisap darah negara dengan membunuh KPK.

Ya sudahlah. Mata Najwa bukanlah Mata Dewa. Mungkin, mungkin saja, pada peringatan 72 Tahun Indonesia Merdeka, ada sebuah kado tentang kejelasan dalam penuntasan kasus Novel Baswedan. Dan, semoga Mata Najwa akan tetap tayang, tapi bukan di tempat stasiun televisi yang sekarang, kalau memang sudah tak ada lagi jalan.

Baca Juga :   Mencari Intelektual Sekuler: Antara Arief Budiman, Goenawan Mohamad, dan Rocky Gerung

Akhirnya, untuk Najwa, pada kedalaman sorot matanya nan indah, semoga selalu ingat pesan Gus Mus, “Tetaplah menjadi manusia karena Tuhan memuliakan manusia”. Merdeka.

Written by Wahyu Aji

Wahyu Aji

Penulis Lepas dan Peneliti Lepas, Aji Samaran adalah "Nama Pena" Kontak: kuprivata@gmail.com

Leave a Reply

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR