Selasa, Maret 9, 2021

Mata Najwa Edisi Baru, Ada yang Ganjil?

Duet Rhoma Irama-Via Vallen: Kekuasaan Meredup Perlawanan Menuai Titik Terang

Harapan tinggi dialamatkan kepada Via Vallen untuk ‘mengangkat’ citra dangdut koplo di belantika musik tanah air. Pasalnya dangdut koplo mengalami ‘kesialan’ berlipat, yakni dianggap...

Salahkah Suatu Bangsa Menghendaki "Negara"?

Post world war dan Cold war era menandai munculnya banyak Negara berdaulat di dunia. Pada era sebelumnya, Negara, praktis hanya diwakili oleh para kolonialis...

Inilah Alasan untuk Percaya Telur Palsu

Masyarakat kita tampaknya suka menantang logika. Setelah bosan dengan isu beras palsu hingga gorengan yang menyala jika dibakar, kini muncul lagi isu telur palsu....

Pentingnya Vitamin bagi Tubuh Di Era New Normal

Daya tahan tubuh atau imunitas menjadi benteng untuk mencegah virus masuk dan menyerang tubuh kamu. Dengan dimulainya aktivitas di luar rumah lagi di masa...
Arif Hidayat
Berusaha Konsisten Membangun http://visionergroup.id/

Mata Najwa “edisi baru” telah berjalan episode kedua. Sambutannya sungguh luar bisa. Maklum, masyarakat sudah menunggu kedatangan presenter cantik nan cerdas, Najwa Shihab untuk kembali ke layar kaca. Tentu, tak ketinggalan saya sendiri, saya juga bisa di bilang salah satu penggemar Nana, sapaan akrab Najwa.

Selain karena cantik, Nana dalam talkshow-nya memberikan hal yang segar dan tajam sekali melontarkan pertanyaan pada tamu-tamunya. Bahkan seringkali tamu undangan keder untuk menghadiri acara yang di bawakan Nana ini, menjadi sangat berdinamika.

Namun jujur sebagai salah satu penggemar, saya lumayan kaget dengan desain acara yang belum lama ini dibawakan dalam episode yang kedua. Temanya “Berebut Tahta Jawa”, dan yang diundang deretan calon gubernur dan wakil gubernur yang bertarung di tiga provinsi yang ada di pulau jawa. Kalau dilihat sekilas tak ada yang aneh, bahkan sesuai dengan karakter media, pastinya akan menayangkan hal yang sedang hangat diperbincangkan, atau juga bisa di sebut hal yang komersil. Lalu kenapa saya kaget? Akan saya jawab pelan-pelan.

Dalam dua episode awal itu saya begitu heroik mengikuti detik-perdetik acaranya. Di episode yang pertama, tema yang diangkat adalah “Indonesia Rumah Kita”, dengan mengundang sederet tokoh tanah air. Dalam episode pertama ini yang ingin saya sorot adalah ketika Nana sedang berbincang dengan para Gubernur dua periode, ada Pakde Karwo, Ahmad Heryawan, M. Zainul Majdi, Irwan Prayitno, dan Syahrul Yasin Limpo.

Dalam sesi yang mewawancarai mereka, Nana mengatakan, “Terimakasih, lengkap ini, dari berbagai provinsi, semua pimpinanya hadir. Dan supaya tidak dibilang memihak pilkada, sengaja, selain karena lima-limanya baru saja dapat penghargaan dari Kemendagri, kebetulan lima-limanya sudah dua periode, jadi tidak akan lagi maju pilkada, jadi Mata Najwa gak akan dituduh promosikan salah satu, jadi jelas ini”.

Kalau boleh saya inti sarikan dari kata-kata Nana itu, Nana sengaja mengundang para gubernur yang sudah dua periode, yang pastinya mereka tidak akan ikut bertarung lagi. Hal itu dilakukan agar Mata Najwa tidak dituduh promosi calon kontestan pilkada. Namun apa yang terjadi di episode yang ke-2, adalah kebalikanya. Nana malah mengundang para kontestan pilkada yang akan bertarung nanti, alias kurang konsisten dengan apa yang disampaikan di episode perdana.

Terlebih ini soal pilkada, dengan begitu, terkesan bahwa Nana ini tidak netral. Ya, benar sekali bahwa kalau manusia adalah tempatnya khilaf, namun dalam konteks ini, kesalahan seorang Nana dalam mendudukkan persoalan pilkada di acara Mata Najwa, saya fikir akan ada dampak besar bagi integritas acaranya itu, yang sudah dibangun sedemikian rupa image nya. Sehingga harus lebih teliti dan hati-hati soal ini.

Di dalam industri berita sekarang ini memang seakan sudah biasa, media ini condong ke itu dan media itu condong ke ini. Tapi sungguh disayangkan, kalau sekaliber talkshow Mata Najwa ikut-ikut seperti itu. Dan saya agak curiga bahwa ini kok seperti keinginan stasiun tvnya, karena seingat saya Nana biasanya akan sangat mengingat, apa yang sudah ia katakan. Apalagi baru satu minggu sela waktu antara episode pertama dan episode yang ke-2, masak sih sudah lupa? Sehingga saya merasa harus menyampaikan keluhan saya ini. Jangan sampailah kejadian di stasiun tv sebelumnya terulang kembali.

Terkhusus untuk Nana pribadi, sebagai penggemar, saya menganggap ia adalah salah satu tokoh besar negeri ini. Layaknya tokoh besar pasti punya hegemoni atau pengaruh yang besar pula. Apalagi untuk generasi milenial, yang di mana sosok Nana adalah idola mereka.

Maka dari itu, sebagai penggemar, disertai dengan hormat dan kerendahan hati saya, dari lubuk hati yang paling dalam saya ingin sedikit berpesan, walaupun saya bukan siapa-siapa. Bahwa sebagai sosok yang hegemonik, Nana harus lebih konsisten dalam tutur kata dan tindakan. Kalau dalam falsafah jawa, tidak boleh “isuk tempe sore dele”. Artinya tidak boleh inkonsisten dalam perkataan maupun tindakan. Kemaren berkata begini, sekarang begitu, dst.

Ini saya buat sebagai harapan, agar Mata Najwa tetap eksis sesuai karakternya yang kritis, tajam, dan juga berintegritas. Dan tetap dalam rel, menjalankan fungsi kontrol pemerintah. Dalam istilah mutakhir, media sering kali disebut sebagai salah satu pilar demokrasi yang menjalankan fungsi kontrol terhadap penguasa.

Lebih dari itu, Nana dan Mata Najwanya semoga juga menjadikan nalar dan wawasan masyarakat Indonesia makin tercerahkan dengan sajianya di setiap pekan. Dan semoga Nana selalu dalam lindungan Tuhan, diberi kesehatan, untuk menjalani semua kegiatan.

Arif Hidayat
Berusaha Konsisten Membangun http://visionergroup.id/
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mereformulasi Pengaturan Hukum Mitigasi Bencana

Bencana alam seringkali tidak dapat diprediksikan. Dimana jenis bencana alam yang terjadi tersebut turut menimbulkan korban jiwa, kerugian materil ataupun kerugian imateril kepada masyarakat...

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Euforia Bahasa Arab

(Ilustrasi) Pameran busana tradisional Arab dalam Pekan Kebudayaan Saudi Arabia di Jakarta, Minggu (27/3). ANTARA FOTO/Rosa Panggabean. Entah apa yang ada di dalam pikiran sejumlah...

Madinah, Tinjauan Historis

Yatsrib atau yang sekarang dikenal dengan nama Madinah merupakan salah satu daerah yang subur di Jazirah Arab pada masa itu. Penduduk Madinah sebelum Islam...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.