Rabu, Desember 2, 2020

Masyarakat Indonesia dan Kesadaran Sejarah

Lambe Turah dan Komunikasi Era Digital

Jaman sekarang ini, tentu orang-orang tidak asing dengan keberadaan dari media massa maupun media sosial. Media massa dan media sosial sudah tidak dapat dipisahkan...

Umrah “Plus-Plus”, Plus Silaturahmi Politik

Umrah merupakan ibadah sunnah bagi umat muslim. Baru-baru ini, netizen dihebohkan oleh beberapa elit bangsa, elit parpol sebut saja ketua umum Gerindra, Prabowo Subianto,...

KPK Dibekukan? Berapa Celsius?

"Berapa cescius?" begitulah guyonan dari salah satu pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Saut Situmorang menanggapi manuver beku-bekuan ala parlemen di Senayan. Manuver beku-bekuan dari...

Harga Barang Naik, Fenomena Tahunan Ramadhan

Tak sedikit orang yang sangat menantikan bulan penuh berkah ini. Keimanan para umat Muslim biasanya akan meningkat di bulan Ramadhan, namun bukan hanya keimanan...
Fitrah
Mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.

Apakah yang terlintas di benak kita (warga masyarakat) setiap kita mendengar kata sejarah? Umumnya masyarakat kerap menghubungkan kata sejarah dengan suatu ingatan peristiwa atau kejadian, tanggal, statistik, dan nama orang-orang.

Sementara yang lain menghubungkan dengan sesuatu yang antik dan tua. Ada pula yang menghubungkan dengan sesuatu yang membosankan, sesuatu yang tidak hidup, dan kepingan suatu peninggalan.

Dalam kehidupan sehari-hari, di kedai kopi, sekolah-sekolah, kampus, medsos, dan lain-lain melihat dan mendengar ungkapan klise seperti, “Masa lalu biarlah masa lalu atau yang lalu biarlah berlalu, yang sudah terjadi biarlah terjadi untuk apa di kenang lagi”.

Mungkin pernyataan di atas ada benarnya juga, tetapi tidak semua peristiwa yang terjadi masa lalu dilupakan semua apa yang terjadi. Karena setiap dibalik peristiwa ada hikmah atau pelajaran yang bisa di ambil, dengan kejadian atau peristiwa di masa lalu masyarakat lebih mudah menghadapi peristiwa serupa sehingga dapat menjalani hari yang akan datang dengan baik dan sempurna.

Dan hingga saat ini, ada sebagian warga masyarakat Indoensia yang beranggapan bahwa dengan mengingat sejarah hanya membuat hidup kita statis, terpasung, terlena, dalam menghadapi masa depan.

Tentu saja, ada yang memandang sejarah dengan cara yang lain. mereka mempertimbangkan sejarah sebagai sesuatu yang patut dihargai. Hal ini, misalnya, banyak di wujudkan dalam nilai-nilai orang Filipina yang menghargai nilai-nilai masa lampau, sebab menurut mereka masa lampau membuat persiapan untuk masa sekarang dan masa depan.

Oleh karena itu, orang filipina sering mengatakan, “ang hindi lumingon sa pinanggalingan, hindi makararating sa parorooan. Seseorang yang tidak menoleh ke masa lampau atau tidak mempertimbangkan masa lampau tidak dapat mencapai tujuannya (Alex Sobur, 2004).

Ironisnya, pada kebanyakan masyarakat indonesia, masa lampau atau kebudayaan masa lampau sama sekali tidak menarik perhatian kita. Sejarah agaknya tidak mampu berbicara apa-apa sekarang ini. Semua produk seni nenek moyang ratusan ribu tahun yang lalu tidak pernah menggerakan rasa haru kita.

Sehingga dengan demikian tidak sayang jika harta budaya itu hilang begitu saja ditelan waktu. Kita tidak pernah merasa peduli atau khawatir terhadap buku-buku kuno atau budaya di masa mapau (Komunikasi Narasi, Paradigma, Analisis, dan Aplikasi drs. Alex Sobur, M. Si hal 260).

Seperti contoh di Jakarta terdapat 60 lebih museum dan budaya serah. tetapi kini, kota jakarta lebih dikenal sebagai kota metropolitan, industri, kota fashion ketimbang kota museum atau kota budaya sejarah.

Mengenaskan memang, kita (warga masyarakat indonesia) selama ini terkesan abai terhadap apapun yang berbau masa lampau. Kita selalu beranggapan, segala yang telah lampau biarlah berlalu bersama bergulirnya waktu, berdebu, mati, dan hanya patut dikuburkan tanpa tanda-tanda. Kita barangkali lupa atau tidak mau belajar dari pengalaman negara-negara barat yang kini telah arif dalam memperlakukan sejarah. Mungkin banyak di antara kita terheran-heran mengetahui mengapa rakyat Amerika, misalnya, tak bosan-bosan mengunjungi gubuk Lincoln, Forge, atau melihat dan tulisan tangan penyair Emily Dickinson.

Dan orang-orang perancis berduyun-duyun tiap liburan mengunjungi rumah-rumah di mana Napoleon pernah hidup, Victor Hugo pernah menulis, mengapa orang-orang inggris memelihara baik rumah Shakespeare, rumah Dickens. dan pula mengapa orang-orang jerman tidak rela mati dulu sebelum menengok bekas rumah yang di tinggali Goethe atau Beethoven, dan di sana mengagumi kertas-kertas usang bekas tulisan-tulisan mereka yang cakar ayam. padahal, orang-orang itu telah lebih dari sekali membaca tulisan seniman-seniman itu dengan huruf-huruf cetak di buku-buku.

Kita patut bertanya mengapa orang-orang dari bangsa-bangsa besar itu menjunjung tinggi terhadap sejarah dan kebudayaan-kebudayaan masa lampau.

Filsuf Yunani Kuno, Cicero berkata, “historia vitae magistra”. sejarah adalah guru kehidupan yang paling baik. Filsuf asal spanyol Geoge Santayana (1863-1952) berkata, “mereka yang gagal mengambil pelajaran dari sejarah dipastikan akan mengulangi pengalaman sejarah itu” (Those who fail to learn the lessons of history are domed to repeat them).

Dan Jaguar D Saluo sejarawan berkata, “Sejarah adalah harta manusia yang akan menunjukan jalan menuju masa depan”. Dengan belajar dari sejarah kita mendapat motivasi, semangat yang kokoh untuk menatap masa depan yang lebih baik.

Barzun Sejarawan berkata, “sejarah menggembleng jiwa manusia menjadi kuat dan tahan dalam menghadapi teror kekacauan dalam kehidupan kita”.

Artinya adalah bahwa dari sejarah kegagalan, kehancuran, kemunduran masa lalu warga masyarakat tetap dapat berada dalam semangat, kejernihan jiwa dan pikiran menjalani setiap persoalan di masa depan. Warga masyarakat yang tidak mau, acuh tak acuh atau mengabaikan sejarah tidak akan pernah menjadi masyarakat yang damai, sejahtera, dan sempurna untuk mencapai kesuksesan masa depan.

Dengan demikian, belajar atau kesadaran adalah bukan mengingat kekalahan, kehancuran, peperangan, dan kejadian suram masa lalu. Melainkan kesadaran sejarah adalah mengambil atau memetik setiap kejadian masa lalu sebagai hikmah, pemicu dan pemacu semangat perjuangan untuk menata dan merencana agenda masa kini agar dapat mencapai kesuksesan dan kejayaan di masa depan.

Penulis mengakhiri tulisan ini dengan mengutip salah satu Hadist mengenai pentingnya belajar dari sejarah atau kesadaran sejarah,  Hadist Nabi Muhammad SAW berkata: “Barangsiapa yang yang memiliki masa sekarang yang lebih bagus dari masa lalunya, ia tergolong orang yang beruntung; bila masa sekarangnya sama dengan masa lalunya, ia tergolong orang yang merugi; bila masa sekarangnya lebih buruk dari masa lampaunya, ia tergolong orang yang bangkrut.”

Fitrah
Mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

Gejala ‌Depresi‌ ‌Selama‌ ‌Pandemi‌ ‌Hingga‌ ‌Risiko‌ Bunuh Diri

Kesehatan mental seringkali diabaikan dan tidak menjadi prioritas utama seseorang dalam memperhatikan hal yang di rasakannya. sementara, pada kenyataannya kesehatan mental sangat mempengaruhi banyak...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.