Senin, April 12, 2021

‘Masturbasi’ Politik Ala Poros Ketiga (Kalau Terbentuk Lho!)

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Kemerdekaan yang Terakhir

Siapa manusia yang enggan untuk merdeka? Saya rasa tidak ada manusia yang tidak mau menjadi manusia yang merdeka. Menjadi merdeka berarti dapat meraih kesejahteraan,...

Filsafat Melawan Niat Jahat

Siang itu, suasana lain terjadi dalam sebuah restoran yang sederhana. Untuk pertama kalinya, diskusi filsafat dihadiri oleh banyak tokoh. Tidak berhenti disitu, komunitas filsafat,...

Mengapa Industri Film Indonesia Miskin Apresiasi?

Apa yang salah dengan industri perfilman Indonesia saat ini? Apakah ini karena sejarah masa lampau? Jika menilik kembali, masyarakat Indonesia mulai mengenal film pada...
Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal

Konflik internal berkepanjangan antar politisi di kubu PKS dan PAN semakin meruncing jelang pendaftaran capres dan cawapres, Agustus 2019 mendatang. Tingginya perbedaan arah politik dua kelompok elit politik Gerindra yaitu antara yang mendukung Jokowi dengan yang mengusung Prabowo, juga semakin meresahkan para pengikut setia parpol berlambang kepala burung garuda ini.

Wacana pembentukan Poros Ketiga (kalau jadi terbentuk) oleh Gerindra, PKS, PAN plus Demokrat menjadi salah satu bentuk pelarian politik yang bertujuan untuk memperkuat posisi tawar politik masing-masing parpol.

Sejumlah politisi dan para pendukung keempat parpol di atas, disinyalir juga telah melakukan ‘bedol desa’ dan membelot ke parpol koalisi pendukung Jokowi yang non partisan.

Rebutan Jabatan

Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah yang sudah dipecat dari PKS, pernah mengatakan bahwa dia akan melaporkan sejumlah tindak pidana yang diklaimnya telah dilakukan Presiden PKS, Sohibul Iman. Kabarnya, Fahri memiliki bukti-bukti sejumlah kasus, antara lain pencemaran nama baiknya dan pemufakatan jahat yang dilakukan Sohibul.

Sebelumnya, Sohibul Iman di media sosial telah menuding Fahri membangkang dan berbohong terkait statusnya di PKS. Di sisi lain, Fahri sudah menang melawan PKS di Pengadilan Tata Usaha Negara, baik di tingkat pertama maupun banding. Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid pun semakin bingung atas konflik kedua pentolan PKS ini.

Jauh hari sebelumnya, PKS yang telah memecat Fahri, pernah memilih Ledia Hanifa untuk menggantikan posisi Fahri sebagai Wakil Ketua DPR. Fahri menolak. Sampai hari ini, PKS gagal melengserkan Fahri dari DPR RI. Bahkan, di ujung konflik, Fahri berharap agar Sohibul segera mundur dari jabatannya. Akibat buruk dari konflik yang tak jelas ujung pangkalnya ini ialah para pendukung PKS mulai meragukan kejujuran kedua tokoh ini dan PKS pun mulai ditinggalkan para pengikutnya.

Dilema Capres

Sama halnya dengan PKS, Partai Amanat Nasional (PAN) juga mengalami perpecahan internal antar elit politiknya. Konflik internal inilah yang pada akhirnya membuat PAN sulit menentukan sikap politiknya menjelang pilpres 2019. Konflik internal diduga terjadi antara kubu yang mendukung Jokowi dengan kubu yang ingin mengusung Prabowo.

Sebagian kelompok politisi PAN yang dikomandoi Amien Rais tampaknya memang cenderung mendukung Prabowo. Sedangkan, Ketum PAN Zulkifli Hasan lebih tertarik untuk mengusung Jokowi. Saling tarik-menarik antara Amien Rais dan Zulkifli Hasan ini, mengakibatkan dampak yang cukup keras ke massa pendukung PAN di akar rumput. Mereka tidak lagi percaya kepada Amien Rais dan Zulkifli Hasan. Massa PAN pun mulai membelot ke parpol lain.

Dominasi Amien Rais di PAN masih cukup kuat dibandingkan Zulkifli Hasan. Sebenarnya, sejumlah elit politik PAN yang pro Zulkifli berharap agar Zulkifli Hasan segera menentukan sikap politiknya. Tujuannya ialah untuk mengantisipasi ‘kaburnya’ para simpatisan PAN dan meredam sikap politik Amien Rais.

Galau Elektabilitas

Dilain pihak, partai Gerindra yang menjadi salah satu parpol oposisi dan Poros Ketiga, saat ini eksistensinya semakin terpuruk. Kabarnya, Ketum Gerindra, Prabowo Subianto galau untuk nyapres karena elektabilitasnya tak sisgnifikan.

Namun, para kader Gerindra tetap ngotot agar Prabowo nyapres. Mereka tidak peduli dengan anjlognya elektabilitas Prabowo. Sesungguhnya, Prabowo sangat menyadari bahwa mesin politik Gerindra gagal untuk mengatrol elektablitasnya. Prabowo khawatir dirinya akan kalah saat bertarung dengan Jokowi (kalah dua kali 2014 dan mungkin 2019, ini sangat memalukan).

Selain itu, tampaknya Prabowo juga sudah bisa memprediksi bahwa sebagian besar para pendukungnya secara perlahan tetapi pasti, mulai meninggalkan Gerindra. Oleh karena itulah, hingga saat ini Prabowo, masih belum berani mendeklarasikan dirinya untuk nyapres sesuai amanat kader Gerindra. Rencana untuk membentuk Poros Ketiga dengan PKS, PAN dan Demokrat juga, tampaknya masih mengalami kesulitan, karena masing-masing parpol membawa kepentingan politiknya sendiri-sendiri. Keadaan ini tentu saja akan menguntungkan parpol koalisi pendukung Jokowi.

Egoisme SBY

Sementara itu, parpol Demokrat juga belum memutuskan sikap politiknya dalam pilpres 2019 mendatang. Demokrat tetap berambisi mengusung Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai capres. Egoisme dan dominasi SBY masih terlihat kental di Demokrat. Sejumlah pihak meyakini, tampaknya SBY sangat ngotot untuk menjadikan AHY capres dan menolak jabatan cawapres.

Kemungkinan besar, posisi tawar politik yang disampaikan Demokrat ke PKS, PAN dan Gerindra ialah SBY bersedia membentuk Poros Ketiga dengan satu syarat mutlak yaitu mengusung AHY sebagai capres. Sedangkan Prabowo (Gerindra), Zulkifli Hasan (PAN), Sohibul Imam (PKS) mungkin merupakan tiga nama yang diusulkan SBY untuk menjadi cawapres AHY.

Sikap egoisme SBY inilah yang pada akhirnya membuat Poros Ketiga sulit terbentuk. Demokrat bersedia menjadikan AHY sebagai cawapres, apabila SBY berkoalisi dengan parpol koalisi pendukung Jokowi.

Dinamika dan polemik politik di tubuh keempat parpol ini, masih akan terus berlanjut hingga menjelang pendaftaran capres dan cawapres 2019, Agustus mendatang. Dorongan kuat untuk melakukan konsolidasi politik diantara keempat parpol ini masih sangat tinggi. Semuanya nafsu untuk menjagokan kadernya menjadi capres. Kisruh politik yang muncul akibat aspirasi politik keempat parpol yang ambisius ini ialah cuma melahirkan ‘masturbasi’ politik ala Poros Ketiga (kalau jadi terbentuk lho).

Kalkulasi politik nasional jelang pilpres 2019 akan menjadi sangat kontras, apabila dua dari empat parpol yang berencana membuat Poros Ketiga, secara tegas mengubah haluan politiknya yaitu dengan menyeberang ke kubu Jokowi.

Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.