OUR NETWORK

Masjid Istiqlal: Tujuan Wisata Semua Agama

Jika Anda datang ke Istiqlal maka Anda akan menemukan banyak wisatawan mancanegara yang datang berkunjung. Rata-rata dalam sehari tercatat sekitar 50 – 60 orang wisatawan asing yang berwisata di Masjid Istiqlal, mereka diperbolehkan masuk untuk melihat keadaan bagian dalam masjid. Masjid Istiqlal dibuka untuk umum sejak pertama kali diresmikan yakni pada tahun 1978. Tamu wisatawan dapat mengunjungi Masjid Istiqlal pada pagi hari hingga menjelang magrib atau sekitar pukul 6 sore.

Mungkin sebagian Anda bertanya apa boleh seorang nonmuslim memasuki masjid? Ya, memang ada perbedaan pendapat ulama mengenai hal ini, namun sebagian ulama berpendapat bahwa seorang nonmuslim diperbolehkan masuk masjid dengan menjaga adab, tujuan yang baik, dan tentu diizinkan oleh umat muslim. Hal yang sama juga disampaikan oleh Bapak Parlin, salah satu staf protokol petugas informasi dan pelayanan jamaah & tamu Masjid Istiqlal, “Islam itu terbuka untuk siapa saja, bisa jadi mereka diberikan hidayah dengan memasuki masjid”, ungkapnya dan diakhiri dengan tawa ringan.

Wisatawan yang datang dan masuk melalui pintu Al-Fattah akan langsung dilayani oleh petugas di meja informasi, kemudia mereka akan diarahkan untuk menuju ruang tamu. Di ruang tamu tersebut telah tersedia fasilitas untuk para wisatawan, mulai dari loker penyimpanan alas kaki, loker penitipan tas hingga pakaian tertutup bagi wisatawan yang datang dengan pakaian terbuka. Semua pelayanan yang diberikan tanpa dipungut biaya apapun.

Bagi wisatawan nonmuslim, mereka akan dipandu oleh petugas untuk berkeliling melihat bagian dalam Masjid Istiqlal. Wisatawan nonmuslim akan langsung diarahkan menuju lantai 2 dan tidak diperbolehkan memasuki lantai utama masjid, namun dari lantai 2 mereka dapat melihat jamaah yang sedang beribadah maupun suasana dan interior masjid. Mereka juga dapat berfoto dan bertanya kepada petugas yang mendampingi mereka.

Wisatawan mancanegara yang beragama muslim diberikan kebebasan untuk beribadah dan melihat suasana masjid, namun jika mereka ingin didampingi petugas, petugas akan senang hati menemani mereka berkeliling di sekitar masjid. Wisatawan muslim biasanya akan langsung menuju lantai utama masjid untuk beribadah dan sekedar berfoto, selanjutnya mereka akan berjalan di sekitar koridor masjid untuk melihat foto-foto an kaligrafi yang dipamerkan.

Saya sempat mewawancarai beberapa orang wisatawan mancanegra yang mengunjungi Masjid Istiqlal. Sofhia, wisatawan berambut pirang yang berasal dari Switzerland ini bercerita bahwa ia penasaran dengan masjid, sebab di negaranya ia jarang menemukan masjid dan kalaupun ada masjid, ia tidak diizinkan masuk oleh petugas masjid. Ia juga mengaku kagum dengan bangunan Masjid Istiqlal sekaligus heran melihat prosesi ibadah umat muslim, sebab ia seorang atheis dan tidak pernah beribadah sebelumnya.

Ada cerita menarik yang saya dapatkan dari Haraguchi Takeshi, seorang mualaf yang berasal dari Jepang. Ia sudah genap satu tahun sebagai seorang muslim, namun ia belum tahu banyak tentang ibadah dalam Islam, sebab di negaranya ia kesulitan untuk menemukan sesorang yang bisa menjelaskan dan mengajarkannya ibadah dalam Islam. Tujuannya datang ke Indonesia adalah hanya untuk berkunjung dan beribadah di Masjid Istiqlal, ia mengaku menemukan ketenangan dan kedamaian saat melalukan ibadah, terutama di masjid terbesar di Asia Tenggara itu.

Anthonia Rothe, seorang mahasiswa Jerman beragama Kristen yang sedang belibur di Indonesia ini sengaja mengatur jadwal liburannya untuk mengunjungi Masjid Istiqlal. Ia bercerita bahwa di negaranya warga muslim adalah minoritas, dan jumlah masjid disana terbatas. Ia senang sekali diizinkan masuk dan melihat langsung dari dekat proses ibadah umat islam. “Apparently, Islam isn’t like what I think before”, komentarnya dengan sangat ekspresif. Ia berfikir bahwa islam adalah agama yang tertutup dan keras, namuan ternyata ia diizinkan untuk masuk tempat ibadah umat islam bahkan menyaksikan bagaimana mereka beribadah.

Li Wei Dong, ia datang bersama keluarga besarnya ke Masjid Istiqlal. Ia berasal dari China dan beragama Konghuchu. Karena mereka datang dengan celana pendek, mereka harus menggunakan pakaian yang telah disediakan. Ia mengaku kunjungannya ke Masjid Istiqlal adalah kunjungan yang spesial, karena ia baru pertama kali mengunjungi dan memasuki tempat ibadah umat islam. Mengetahui mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, ia menjadi benar-benar tertarik untuk mengunjungi Masjid Istiqlal sebelum ia dan keluarganya kembali ke China.

Para wisatawan juga dapat melihat sebuah beduk bersejarah yang ada di pelataran masjid sekaligus belajar cara memukul beduk. Ada petugas yang siap memandu para wisatawan yang ingin belajar cara memukul beduk. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan, sebab beduk yang ada di Masjid Istiqlal berukuran sangat besar. Panjang beduk adalah 3 meter dengan berat 2,30 ton dan berdiameter 2 meter. Beduk diletakkan di atas penyangga setinggi 3,80 meter. Beduk ini sangat spesial karena terbuat dari kayu meranti merah yang berumur 300 tahun dari hutan Kalimantan Timur.

Segala ornamen interior dan kegiatan ibadah jamaah Masjid Istiqlal menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan asing yang ingin melihat secara langsung aktivitas umat muslim di dalam tempat ibadahnya. Jangan ragu, segera siapkan waktu Anda untuk mengunjungi masjid terbesar di kawasan Asia Tenggara ini.

My name is Syifa. I love to read book and I learn to be good writer

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…