Sabtu, Oktober 31, 2020

Masih Saktikah Pancasila?

Kebhinnekaan sebagai Simbol Persatuan

Sebagai bangsa yang majemuk, Indonesia bisa menjadi inspirasi bagi peradaban di berbagai belahan dunia dalam merawat kemajemukan yang menjadi keniscayaan sejarah dalam kehidupan berbangsa...

Sandiaga Tidak Perlu ‘Syahadatkan’ Bali Melalui Pariwisa

Tidak ada yang salah dengan ide membantu wisatawan muslim menemukan masjid dan rumah makan halal. Namun, jika gagasan mengenai pariwisata halal akan membuat eksklusifitas...

Duhai Pemerintah, Contohlah Komunikasi ala Upin dan Ipin

Di tengah segala keluhan tentang komunikasi Pemerintah yang dianggap buruk selama ini, penggunaan media film animasi bisa menjadi alternatif pilihan sehingga masyarakat lebih mudah...

Peraturan Kapolri dan Ancaman Bagi Satwa Liar

Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Untuk Kepentingan olahraga tidak bisa dijadikan landasan untuk melakukan jerat hukum....
Sapulete Senny
Nama asli saya Senny Sapulete, tapi terkadang saya memakai nama Stefanus Willy. Lahir di Ambon, dan sekarang tinggal di Jakarta bersama istri saya. Saya seorang penulis lepas, mengerjakan beragam project menulis untuk para client saya. Info lengkap di: http://tiny.cc/d8ncdz

1 Oktober 2019, bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, kita mengingat kembali bagaimana ideologi Pancasila berhasil melewati ujian berat dan menaklukkan ideologi komunis yang mencoba mengambil alih posisinya bukan saja sebagai dasar negara yang sah, tapi juga sebagai identitas dan jiwa bangsa Indonesia.

Sejak Bung Karno untuk pertama kalinya mengemukakan konsep dan rumusan awal Pancasila dalam sidang BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945, peristiwa mana kemudian diperingati sebagai Hari Lahirnya Pancasila, ideologi ini berulang kali mengalami ujian demi ujian. Gerakan separatis di daerah-daerah yang menginginkan pendirian negara sendiri dengan ideologi berbeda, silih berganti mewarnai jalannya sejarah NKRI yang baru berdiri itu.

Peristiwa G30S/PKI seolah-olah menjadi puncak dari segala ujian dan cobaan yang harus dialami bangsa Indonesia dalam mempertahankan ideologi Pancasila. Sampai di titik ini boleh dikatakan Pancasila telah “lulus ujian” dan tetap kukuh tak tergantikan sebagai ideologi negara dan simbol kepribadian dan pandangan hidup bangsa.

Selama 20 tahun pertama dari usia Republik ini, Pancasila menunjukkan “kesaktian”-nya sebagai ideologi. Dan sekarang, setelah 54 tahun berlalu, bagaimana kabarnya Pancasila? Adakah ia masih sesakti dahulu?

Secara formal dan legal, tentu Pancasila hingga hari ini masih tetap sebagai “sumber dari segala sumber hukum” di Indonesia. Simbol Garuda Pancasila masih gagah terpampang menghiasi setiap dinding dalam gedung-gedung pemerintahan, instansi, sekolah, universitas, dan tempat-tempat lain yang oleh undang-undang memang diwajibkan memasangnya. Namun secara ruh dan batiniah, adakah Pancasila masih terpatri dalam sanubari manusia Indonesia?

Mari kita lihat faktanya satu per satu:

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sila pertama ini mencakup antara lain sikap saling menghormati antar sesama pemeluk agama dan kepercayaan yang berbeda-beda, atau toleransi. Apakah sikap ini masih dipegang oleh masyarakat Indonesia?

Faktanya, survey LSI pada tahun 2018 menunjukkan peningkatan intoleransi beragama di Indonesia sejak 2016.

2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Tercakup dalam penerapan sila ke-2 ini adalah penghargaan kepada harkat dan martabat manusia, serta menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.

Faktanya, data BPS menunjukkan angka kejahatan di Indonesia tergolong tinggi: satu tindak kejahatan terjadi di Indonesia setiap 1 menit 33 detik. Suatu indikasi bahwa sikap saling menghargai harkat dan martabat sesama manusia di Indonesia masih memprihatinkan.

3. Persatuan Indonesia.

Sila ke-3 ini mencakup sikap kecintaan kepada Bangsa dan Tanah Air (nasionalisme) dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa benar nasionalisme itu masih ada. Dukungan suporter Timnas Indonesia saat berlaga di lapangan sepak bola, cukup jelas menunjukkan hal itu. Sayang, ekspresi nasionalisme itu sering kebablasan, dilakukan dengan cara-cara destruktif dan di luar kewajaran, mencaci maki dan melempari kubu lawan. Harkat kemanusiaan mereka dari kubu lawan cenderung diinjak-injak, dan sikap ini justru mencemarkan nilai sila ke-2 Pancasila.

Nasionalisme yang dipraktekkan secara tidak wajar, justru mencemari hakekat nasionalisme itu sendiri.

4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.

Tercakup dalam sila ke-4 ini nilai-nilai kebersamaan yang mengakui persamaan kedudukan, hak dan kewajiban satu sama lain sebagai sesama warga negara Indonesia.

Demokrasi, sebagai salah satu pengejawantahan dari sila ke-4 ini, terlihat sangat jelas pada penyelenggaraan pilpres, pileg, dan pilkada, di mana keikutsertaan rakyat yang menggunakan hak suaranya sangat tinggi. Sekilas ini nampak seperti pertanda baik.

Namun patut disayangkan, euforia pesta demokrasi semacam itu sering dicemari pertikaian dan saling menjelekkan antar kubu-kubu yang berkompetisi, dan lebih nampak pada massa pendukung kubu masing-masing, sehingga berulang-ulang menyeret bangsa ini hingga ke pinggir jurang perpecahan.

Ditambah lagi, sering kali isu-isu agama disalahgunakan untuk meraup sebanyak-banyaknya dukungan dan sedapat-dapatnya menjatuhkan elektabilitas kubu lawan. Akibatnya, agama yang seyogyanya hadir sebagai pembawa kesejukan dan kerukunan, di tangan oknum-oknum tak bertanggung jawab ini menjelma menjadi instrumen pemecah-belah dan penghancur kebersamaan antar warga negara.

Demi menegakkan sila ke-4, nilai-nilai luhur sila pertama dan ke-2 justru dihempaskan ke tanah.

5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

“Keadilan sosial” di sini mencakup bagaimana bersikap adil dan seimbang terhadap sesama warga negara, serta menghormati hak-hak orang lain.

Faktanya, hal ini makin langka khususnya di daerah perkotaan, di mana egoisme sangat dominan mewarnai sikap warganya. Saling menyalip di jalan raya, menyabet hak pejalan kaki di trotoir, parkir sembarangan, cuma sekelumit contoh yang terlihat setiap hari.

Menurut data Ditlantas Polda Metro Jaya, angka pelanggaran lalu lintas dari tahun ke tahun terus meningkat. Indikasi kuat bahwa kesadaran tertib berlalu lintas, yang boleh dibilang adalah bentuk paling mudah dan sederhana dari pengamalan sila ke-5, masih sangat jauh dari memadai. Belum lagi pengamalannya dalam hal-hal lain yang lebih besar dan kompleks.

Dari peninjauan sila-sila Pancasila mulai dari yang pertama hingga yang terakhir, serta membandingkannya dengan realita yang kita lihat, jelaslah bahwa masih butuh usaha keras dan perjuangan yang amat panjang untuk menjadikan nilai-nilai luhur Pancasila itu mewujudnyata dalam tingkah laku dan keseharian anak-anak bangsa ini. Penulis meyakini bahwa Pancasila itu masih tetap “sakti”.

Namun “kesaktian” itu baru akan menjelma menjadi kenyataan pada saat nilai-nilai Pancasila itu telah mendarah daging sepenuhnya dalam kehidupan setiap anak bangsa, karena itulah yang akan menghantar bangsa dan Negara tercinta ini menjadi maju, terhormat, “sakti mandraguna” di mata bangsa-bangsa lain di dunia.

Sapulete Senny
Nama asli saya Senny Sapulete, tapi terkadang saya memakai nama Stefanus Willy. Lahir di Ambon, dan sekarang tinggal di Jakarta bersama istri saya. Saya seorang penulis lepas, mengerjakan beragam project menulis untuk para client saya. Info lengkap di: http://tiny.cc/d8ncdz
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.