Senin, April 12, 2021

Masih Bisakah Para Elite Politik Tersenyum?

Pandemi, Kepanikan, dan Hegemoni

Pembebasan pidanan korupsi di tengah pandemi corona virus 19 (covid 19) berbutut pajang. Ide dari menteri Hukum dan HAM Yasona Laoly tersebut menuai pro-kontra...

Jogja Darurat Vandalisme

Jogja Istimewa, hampir setiap orang yang pernah berkunjung maupun yang menetap di kota ini pasti akan sepakat berkata bahwa Yogyakarta memang daerah yang istimewa....

Pengaruh Fatwa MUI dalam Melegitimasi Kekerasan terhadap Jamaah

Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah lembaga masyarakat non-pemerintah yang menghimpun Ulama, Zuama, dan Cendekiawan Muslim Indonesia. Majelis ini berdiri pada tanggal 7 Rajab 1395...

KPK Dibekukan? Berapa Celsius?

"Berapa cescius?" begitulah guyonan dari salah satu pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Saut Situmorang menanggapi manuver beku-bekuan ala parlemen di Senayan. Manuver beku-bekuan dari...
MK Ridwan
Alumnus Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif, Awardee MAARIF Fellowship (MAF) MAARIF Institute for Culture and Humanity, Alumnus Qur'anic Studies IAIN Salatiga

Ketika ingin menulis opini ini, saya teringat pada sebuah kata-kata inspiratif dari William Arthur Ward bahwa “Senyum yang hangat adalah bahasa universal kebaikan”. Lantas saya pun berfikir, bagaimana bisa pertikaian politik bangsa ini terjadi? Apakah para elit politik bangsa ini sudah tidak mampu tersenyum dengan hangat? Sehingga mereka telah kehilangan bahasa universal untuk menyampaikan kebaikan atau sekadar bertingkah secara baik?

Masyarakat awam bisa menggambarkan fenomena pertikaian akibat perbedaan politik dengan beragam persepsi dan tanggapan. Ada yang mungkin meniru sikap politik elit bangsa, bersikap netral atau bahkan cuek dan tidak mau tahu. Semua ekspresi tersebut adalah buah hasil dari kegagalan politikus di Indonesia.

Bahwa kegagalan terbesar para politikus adalah ketidakmampuannya mencitra baik wajah politik. Wajah yang suram, beringas, penuh dengan kebencian dan kekerasan ataupun pertengkaran, membuat masyarakat lambat laun mulai jengah dengan wajah politik dewasa ini.

Kondisi seperti inilah yang menyebabkan kita kemudian bertanya, apakah para elit politik masih bisa menunjukkan wajah senyum dari dunia politik? Senyum bukan saja sebuah gerakan menarik bibir ke dua arah pipi sambil memerkahkan raut muka. Lebih jauh dari itu, senyum memiliki power yang luar biasa.

Senyum mampu menciptakan koneksi dengan siapa saja, bahkan orang yang asing sekalipun, atau seorang yang tidak berbicara dalam bahasa kita. Senyum juga akan memiliki efek menular. Begitu Anda tersenyum pada orang lain, ia akan terserang “virus senyum” yang menyebabkan ia akan tersenyum balik kepada Anda. Meskipun hal akan terlihat sedikit janggal dan canggung.

Namun inilah senyum, senyum menciptakan kenyamanan, perdamaian dan persaudaraan. Senyum menjadi media komunikasi terbaik manusia dalam menyampaikan cinta kasih, penghargaan dan penghormatan terhadap perbedaan.

Kondisi carut marutnya percaturan politik di Indonesia yang ditandai dengan banyaknya aksi-aksi pertikaian, baik sikap vandalisme kaum oposisi maupun sikap represif-otoritatif rezim pemerintahan, telah secara bersama-sama membawa beban psikologis bagi masyarakat.

Di mana dalam hal ini, masyarakat lebih banyak hanya berperan sebagai penonton dan juga korban. Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat hanya bisa berharap bahwa para elit politik bangsa ini tidak benar-benar kehilangan senyum mereka. Senyum adalah penawar luka, peredam dendam dan amarah, serta perekat perbedaan.

Maka, tersenyumlah wahai para elit politik bangsa, karena senyum Anda akan merangsang munculnya hormon-hormon seratonin, dopamine dan hormon-hormon lainnya yang memberikan rasa senang dan bahagia kepada Anda. Senyum Anda juga dapat memperkebal sistem imun tubuh, mengurangi stress, menurunkan tekanan darah dan meningkatkan citra positif Anda.

Setiap kebahagiaan dalam senyuman itu nantinya diharapkan akan terpancar bentuk aksi-aksi kebajikan dalam memimpin negeri ini. Dan, pada akhirnya masyarakat akan memandang indah wajah tersebut serta membalasnya dengan senyuman. Mari tersenyum, karena senyum itu pun mudah dan gratis.

MK Ridwan
Alumnus Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif, Awardee MAARIF Fellowship (MAF) MAARIF Institute for Culture and Humanity, Alumnus Qur'anic Studies IAIN Salatiga
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.