Minggu, Oktober 25, 2020

Masalah Properti Milenial dan Land Value Tax

Dampak Pengesahan RUU PKS

Masih ingat dengan kasus pemerkosaan salah seorang mahasiswi India pada tahun 2012 hingga menyebabkan kematiannya? Ada cerita menarik tentang kasus tersebut, yakni pelimpahan kesalahan yang...

Tragedi Rohingya dan penerimaan pada pengungsi lintas batas

Tragedi kekerasan yang menimpa suku minoritas Rohingya menyentak kemanusiaan kita. Banyak pihak mengecam tindakan brutal yang dilakukan junta militer Myanmar maupun diskriminasi yang dialami...

Mengapa Tiongkok Mengincar Natuna?

Akhir-akhir ini Indonesia dibuat resah oleh kapal-kapal nelayan Tiongkok yang hilir mudik di perairan Natuna yang masih termasuk Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia. Kehadiran kapal-kapal...

Jokowi-Ma’ruf Amin, Demi Umat dan Bangsa

Akhirnya misteri siapa Cawapres Jokowi terjawab juga, yakni KH. Ma'ruf Amin dari unsur ulama. Keputusan itu bisa jadi sebagai produk dari politik dialektika, ada...
Gilang Ramadhan
Mahasiswa Akuntansi Politeknik Keuangan Negara STAN

Tanah merupakan aset berharga yang mampu memberikan imbal hasil tinggi bagi pemiliknya. Imbal hasil tersebut didapatkan dari meningkatnya harga jual tanah setiap tahunnya.

Imbas dari peningkatan harga tanah yang signifikan setiap tahun ialah meningkatnya harga jual properti bagi masyarakat. Padahal seperti yang kita ketahui, papan (rumah tempat tinggal) merupakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi manusia. Di sisi lain, peningkatan pendapatan masyarakat tidak mengikuti peningkatan harga tanah tersebut.

Milenial atau generasi Y merupakan mayoritas kelas menengah pada tatanan masyarakat Indonesia saat ini. Generasi milenial ini merupakan sasaran untuk pemasaran properti sebab mayoritas belum memiliki rumah. Namun, salah satu ciri generasi ini ialah berpikiran praktis. Milenial lebih memilih memiliki mobil, traveling, atau membeli elektronik daripada membeli rumah. Hal tersebut disebabkan oleh peningkatan pendapatan yang terlampau kecil dibanding peningkatan harga properti. Dikutip dari detikFinance, survei Rumah123 menemukan bahwa hanya 5% milenial yang dapat memiliki rumah di Jakarta pada tahun 2020 mendatang. Tak lain salah satu penyebabnya ialah mahalnya harga tanah.

Sejak melambungnya harga tanah di tahun 2012 hingga sekarang. Pasar properti terus mengalami peningkatan harga terutama dari tanah. Beberapa pengembang yang memiliki tanah sejak jauh-jauh hari mulai untuk merencanakan pembangunan.

Salah satunya Lippo Group miliki taipan James Riadi dengan proyek Meikarta. Dilansir dari berita Tirto.id, hamparan sawah di daerah Cikarang, Bekasi tempat Meikarta akan dibangun telah dimiliki Lippo sejak awal 1990-an. Harga beli dari pemilik ke Lippo saat ini berkisar Rp5000/m2 hingga Rp7000/m2. Dan saat ini harga jual untuk tanah di Meikarta sudah mencapai Rp2.000.000/m2. Fantastis bukan?

Hal yang dilakukan oleh Lippo dengan Meikarta-nya merupakan salah satu pemicu harga tanah menjadi mahal. Milenial dengan penghasilannya akan kesulitan untuk mendapatkan properti yang terjangkau. Pemerintah perlu mengatur strategi bisnis semacam Meikarta tersebut agar menekan harga tanah tidak terlalu tinggi.

Salah satu caranya ialah dengan menerapkan pajak atas nilai tanah tersebut atau disebut Land Value Tax. Di beberapa negara, jenis pajak ini telah diterapkan. Pajak ini berbeda dengan Pajak Bumi dan Bangunan. Land Value Tax dikenakan pada tanah yang sengaja dianggurkan demi mendapat keuntungan kenaikan nilai tanah.

Land Value Tax dapat menjadi solusi kesulitan kepemilikan properti bagi milenial. Mengingat milenial adalah generasi pelanjut masyarakat berikutnya perlu mendapat perhatian agar terpenuhi kebutuhan primernya.

Land Value Tax diharapkan para pengembang tidak berspekulasi lagi untuk menyimpan tanah tanpa pemanfaatan sedikitpun. Selain sebagai pengatur, Land Value Tax juga dapat diharapkan untuk mengisi kas negara yang setiap tahun sulit mencapai target penerimaan. Dan milenial di masa depan tidak perlu hidup nomaden berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain.

Gilang Ramadhan
Mahasiswa Akuntansi Politeknik Keuangan Negara STAN
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Memperkuat Peran Politik Masyarakat

Salah satu kegagalan konsolidasi demokrasi elektoral adalah tidak terwujudnya pemilih yang cerdas dalam membuat keputusan di hari pemilihan. Menghasilkan pemilih cerdas dalam pemilu tentu...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.