OUR NETWORK

Masa Depan Kota dan Teror Pseudo Demokrasi

Momentum pemilihan kepala daerah langsung tahun ini—yang konon katanya merupakan manifestasi demokarasi dari 39 kota, dan 115 kabupaten harus dipahami dan dihayati dengan segenap kesadaran.

Untuk menuju pada demokrasi yang ideal, tentunya tidak lepas dari terpilihnya kepala daerah yang visioner dan memahami keunggulan kompetitif kota dan daerahnya. Seyogianya setiap calon gubernur, calon bupati, dan calon wali kota harus memiliki konsep dalam membangun kota yang unggul dan berkelanjutan.

Calon walikota dan bupati hendaknya merupakan seorang city planer yang kelak akan menjadi arsitek pembangunan daerah/kotanya melalui imajinasi kreatif dan konsep-konsep perencanaan pembangunan yang workable dan achievable.

Nasib Demokrasi 

Hingar bingar politik kali ini hendaknya menjadi persemaian masyarakat untuk berperan sebagai subjek politik. Kontestan dan institusi politik tidak boleh lagi menjadikan masyarakat sebagai objek politik terlebih pesakitan politik melalui rejim pencitraan yang tak hentinya menggedor setiap ruang publik, ruang sosial melalui strategi marketing politik yang keblinger dan salah kaprah.

Demokrasi yang mahal kini telah ternodai oleh politik transaksional, kampanye hitam dan politik pencitraan yang memanfaatkan media sosial seperti Istagram, Facebook, Whatsup, Path, twitter dll dengan menciptakan teror viral yang hyperreality

Dalam catatan ini saya sependapat dengan Jean Baudrillard dalam Simulacra and Simulation (1981) yang menekankan pada esensi filsafat semiotik posmodernisme Jean Baudrillard yang melihat perpektif Simulacra dan Simulation dengan melihat realitas yang “tidak sesungguhnya” tetapi dicitrakan sebagai realitas yang mendeterminasi kesadaran “kita” itulah yang disebut dengan realitas semu hyper-reality.           

Selain itu juga dalam Symbolic Exchange (1993) Jean Baudrillard beranggapan bahwa Simbolis atau Citra bukanlah satu konsep, satu agen, satu kategori, atau pun satu struktur, tapi satu ulah dari pertukaran dan satu hubungan sosial yang mana mengakhiri kenyataan, memecahkan realitas atau kenyataan, dan pada waktu yang sama menuju ke posisi diantara nyata dan imajiner. Tergambar dengan jelas bahwa Baudrillard sangat apatis terhadap sebuah citra.

Rejim pencitraan telah menyeret Demokrasi dalam kubangan politik yang teramat kotor yang dihiasi oleh renik-renik peristiwa politik yang telah tercerabut dari nilai demokrasi itu sendiri. Demokrasi telah kehilangan marwahnya menjadi prseudo demokrasi. Demokrasi malih menjadi hantu-hantu politik yang haus kekuasaan, ditaktor dan koruptif. Kita tengah dalam ancaman Pseudo Demokrasi yang lahir di era virtual dengan dukungan kekuatan modal dalam politik, yang enggan bersinggungan dengan integritas, kapabilitas yang mewarnai setiap kontestasi pilkada.

Mengembalikan Inisiatif Kepemimpinan Kota

Potret muram demokrasi hendaknya memecut kita untuk terus berbenah dan menyiapkan calon-calon pemimpin daerah yang berkualitas. Calon pemimpin daerah yang akan mengikuti kontestasi pilkada harus memiliki pemahaman konseptual, leaderhip dan mindset global yang futuris dalam membangun kotanya kelak.

Calon Wali Kota harus memahami konsep dasar dasar pembangunan kota. Seperti yang di sampaikan oleh Cecilia Wong (1998) dalam Determining Factors for Local Economic Development ada 11 (sebelas) faktor kunci harus diperhatikan dalam pembangunan ekonomi urban diantaranya adalah: aspek lokasi, karakteritik fisik, ifrastruktur, sumber daya manusia, finance dan capital, pengetahuan dan teknologi, struktur industri, kualitas hidup, kapasitas institusional, kultur bisnis dan pemberdayaan komunitas.

Sebelas faktor kunci tersebut harus menjadi milestone untuk setiap produk kebijakan dan strategi pembangunan kota yang harus dipahami oleh setiap calon pemimpin kota.

Oleh karenanya dengan mengembalikan inisiatif kepemimpinan kota pada makomnya adalah sebentuk ikhtiar menuju kota yang berdaya saing Internasional melalui penciptaan competitive advantages. Tugas mulia para kontestan dalam pilkada tidak hanya menjadi pejabat (Wali Kota) saja, akan tetapi bagaimana menjadi inisiator kepemimpinan dan perubahan kota.

Belajar dari Kota Unggul

Kota-kota inspiratif seperti seperti Melborne dan Viena yang telah dinobatkan sebagai The Most Liveable City berdasarkan survey yang dilakukan oleh Economist Intelligence Unit’s (EIU) 2017. Berdasarkan data EIU kota Melborne mencapai rating liveable tertinggi, 97,5% disusul oleh Viena.

Sebagian besar warganya merasa nyaman tinggal di sana alasannya adalah di kota tersebut karena banyaknya taman-taman kota dan ruang publik yang aman dan nyaman dengan dukungan kesenian dan teknologi. Selain itu, survey yang dilakukan The Mercer Quality of Living Survey pada tahun 2017 juga telah mengukuhkan kota Melbourne dan Vianna sebagai kota yang memiliki penduduk paling bahagia sedunia.

Nampaknya para calon pemimpin kota yang akan terjun dalam kontestasi politik 2018 harus belajar dari keberhasilan kota-kota tersebut. Contoh lain adalah Copenhagen, disana besar warganya bersepeda dan jalan kaki dalam melakukan rutinitas pekerjaannya, bahkan penggunaan mobil dibatasi dan nyaris tidak ada kemacetan disana. Dalam hal ini kota yang lestari tidak hanya kota yang memiliki kecepatan dalam akslerasi ekonomi dan pembangunan secara fisik saja, akan tetapi banyak dimensi yang harus diperhatikan dalam melihat kualitas sebuah kota.

Seharusnya kita sadar bahwa kita sedang bergerak mundur. Padahal kota-kota yang unggul tengah berderap menuju modernitas dan memaksimalkan perkembangan techno-science dengan tetap menjunjung tinggi kohesitas sosial serta humanisme dan nilai-nilai inclusiveness. Dibalik kota-kota yang unggul maka akan lahir creative-class (meminjam istilah Richard Florida) yang lahir laksana lokomotif pendorong kekuatan ekonomi kota.

Richard Florida (2004) dalam Cities and the Creative Class mengungkapkan bahwa untuk menciptakan kota yang maju dan berkelanjutan perlu ada basis penekanan pada 4 pilar pembangunan kota “The Fourth T” antara lain: Technology, Talent, Tolerance, dan Territory Assets. Maka dari itu, kota dengan segala kerumitannya memang harus diurai dari berbagai dimensi.

Kota memang melahirkan segala kompleksitas dan dinamika. Senada dengan apa yang disampaikan oleh Raymond Williams (1976) bahwa “culture” is one of the two or three most difficult words in the English language, but I would add that “urban” must surely also rank close to the top. Ungkapan sastrawan, novelis bahkan sosiolog kelahiran Wels (Raymond Williams) nampaknya nyata adanya, membicarakan tentang kota atau fenomena kota beserta dinamikanya jauh lebih rumit dibandingkan dengan budaya.

Memahami tentang dinamika perkotaan menguras energi yang sangat besar. Untuk itu diperlukan adanya inisiatif kepemimpinan kota yang menekankan pada kepemimpinan yang visioner, trasnformatif, inovatif, dan inklusif yang ditopan oleh sains dan teknologi. Demi mengembalikan marwah Kota dan Demokrasi!

Pengajar di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Pandanaran Semarang. Aktif di beberapa kegiatan dibidang Demokrasi dan Kepemiluan. Juga bergabung dalam Aliansi Akademisi Untuk Kendeng Lestari.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…