Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Masa Depan Aceh dan Kenduri Kebangsaan

Muslim Kiri, Adakah?

Sejak sosialisme didaulat sebagai “ideologi kiri” maka segala gerakan yang bercorak sosialistik hampir selalu diafiliasikan dengan Marxisme-Leninisme. Meski sebenarnya tidak selalu demikian, dalam beberapa...

Babak Baru Ketegangan AS-Iran, Perang Dunia III?

Sudah puluhan tahun berlalu sejak meletusnya Perang Dunia II yang konon menewaskan 60 juta jiwa. Sejak saat itu, eskalasi konflik di beberapa belahan dunia...

Harga Sebuah Tenun Kebangsaan

Oxford Dictionary pada tahun 2016 menjadikan kata ‘post-truth’ sebagai ‘The word of the Year’. Post Truth menjadi term baru yang sangat populer di dalam jagat...

Pandemi Covid-19 dan Ruang Baru Masyarakat Digital

Belum ada tanda pandemi global akan berakhir. Pandemi Corona virus disease (covid-19) telah tersebar keseluruh penjuru negeri. Sampai saat ini telah ditemukan sebanyak 2.572.776 kasus...
Avatar
Gantyo Koespradono
Mantan Jurnalis, Pemerhati Sosial dan Politik.

Membicarakan Aceh tak pernah selesai. Tiga pekan yang lalu di grup WA beredar foto spanduk bertuliskan “Selamat dan Sukses kepada Pemerintah Aceh atas Prestasi Menjadi Juara Bertahan sebagai Provinsi Termiskin se-Sumatera”.

Benarkah Aceh adalah provinsi termiskin di Sumatera? Tampaknya begitu. Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh belum lama ini merilis data terbaru mengenai kemiskinan di Sumatera.

Aceh disebut masih menempati sebagai provinsi termiskin di Sumatera dan nomor enam se-Indonesia. Per September 2019, jumlah penduduk miskin di Aceh mencapai 810.000 orang atau 15,01%

Namun, menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Wahyudin, angka kemiskinan tersebut berkurang sebanyak 9 ribu orang dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2019 yang jumlahnya 819 ribu orang atau 15,32%.

Berbagai suara minor pun bermunculan ketika fakta membuktikan kemiskinan masih mengancam provinsi serambi Mekah itu. Intinya, suara-suara tersebut menjawab pertanyaan mengapa kemiskinan akut terjadi di provinsi itu?

Ada yang bilang kemiskinan di sana lantaran efek otonomi daerah. Masyarakat di sana “sok” menerapkan hukum agama, tapi keblabasan. Andai saja masyarakat dan aparat di sana berpikiran maju, sangat mungkin banyak investor yang akan berinvestasi di provinsi ini, sehingga membuat masyarakat di sini sejahtera.

“Teman saya yang sebelumnya tinggal di Medan minta pulang setelah tiga bulan bekerja di Aceh,” kata anggota grup WA yang para anggotanya sering menshare berita-berita politik.

Yang lain menimpali, pemerintah daerah di sana mengeluarkan kebijakan yang membuat takut investor. Ya wajarlah kalau Aceh nggak maju-maju. Pihak-pihak yang bikin ekonomi berjalan di sana kabur ke provinsi lain.

Padahal, masih menurut suara yang berkembang, dana otonomi khusus (otsus) buat Aceh, lumayan besar. Kabarnya Aceh ingin menjaring wisatawan asing, tapi fasilitasnya tidak pernah dibenahi.

“Keadilan” (hukum cambuk) hanya berlaku buat rakyat biasa dan tidak pernah diterapkan buat pejabat yang jelas-jelas melanggar hukum dan menilep dana otsus.

Benarkah dana otsus buat Aceh besar? Ini faktanya. Tahun 2020, Aceh memperoleh dana otsus Rp 8,374 triliun, tidak jauh berbeda dengan tahun 2019 yang Rp 8,357 triliun.

Anggota DPD Fachrul Razi menjelaskan rata-rata pertumbuhan dana otsus Aceh mencapai 4,3 persen dari tahun 2015-2019.

Lazimnya, dana itu digunakan untuk mendanai pembangunan dan pemeliharaan insfrastruktur, pemberdayaan ekonomi rakyat, pengentasan kemiskinan serta pendanaan pendidikan, sosial dan kesehatan.

Lalu mengapa program pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi rakyat di Aceh seolah berjalan di tempat?

Pertanyaan inilah yang membuat para tokoh nasional asal Aceh, termasuk Forbes (Forum Bersama) anggota DPR dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) galau, “Aceh, kok, begini terus?”

Beberapa anggota Forbes asal Aceh pun kemudian “ngeriung” demi masa depan Aceh. Di Jakarta, mereka bertemu dengan sejumlah tokoh, dan pengurus Yayasan Sukma Bangsa.

Untuk diketahui, Yayasan Sukma Bangsa punya sekolah Sukma Bangsa di Bireuen. Sekolah ini punya kurikulum khusus, sehingga para lulusannya memiliki cinta kepada Aceh dan bangsa.

Hasil “ngeriung”, mereka bersepakat akan menghelat kegiatan bertajuk “Kenduri Kebangsaan” di Bireuen pada 22 Februari 2020 mendatang.

Informasi yang saya peroleh, sebanyak 6.000 orang akan hadir, termasuk 10 menteri Kabinet Indonesia Maju. Tidak tanggung-tanggung, 20 ekor lebih sapi akan dipotong untuk kebutuhan kenduri.

Dalam kenduri yang menurut rencana akan dihadiri Presiden Joko Widodo itu, panitia bakal menyiapkan panggung megah dan modern seukuran setengah lapangan sepak bola. Akan diisi pula dengan peusijuek, pertunjukan seni, dialog publik, dan kuliah umum.

Ada tiga tema besar yang akan diusung dalam Kenduri Kebangsaan, yaitu pertama terkait dengan keislaman; kedua keacehan, dan ketiga keindonesiaan.

Ketua Forbes Nasir Djamil menjelaskan, perhelatan tersebut digelar sekaligus sebagai forum silarurahmi dan rekonsiliasi untuk mendorong kemajuan Aceh.

Sejarah membuktikan, tiga tema itu tidak bisa dipisahkan dari Aceh. Dalam soal keislaman misalnya, pada suatu masa, Aceh dikenal sebagai wilayah yang menjadi pusat kejayaan peradaban Islam di Asia Tenggara.

Aceh banyak menyimpan bukti kebesaran sejarah Islam. Namun, sayangnya “kebesaran” tersebut tidak terurus, bahkan ditelantarkan.

Soal keacehan, siapa yang tidak kenal dengan budaya Aceh yang begitu indah dan luhur. Namun, belakangan, berdasarkan informasi yang saya peroleh dari teman-teman dari Aceh, budaya luhur itu terkikis oleh zaman dan konflik berkepanjangan.

Di Aceh ada tradisi sayam. Sayam dikenal sebagai sebuah kearifan masyarakat Aceh dalam menyelesaikan sengketa berdarah. Sayam sering juga disebut sebagai diyat, yakni uang pengganti tumpahnya darah.

Fakta tidak bisa ditutup-tutupi bahwa konflik — di dalamnya banyak orang Aceh yang meninggal dunia — pernah terjadi di Aceh.

Kini konflik itu sudah tidak ada lagi. Namun, menurut Nasir Djamil, pascakonflik, di Aceh masih ada milisi. Pasca konflik, masyarakat Aceh, khususnya di Aceh bagian tengah pernah mendengar janji bahwa mereka akan direkrut menjadi tentara. Namun, sampai sekarang, janji itu tidak pernah terealisasi.

Masyarakat Aceh yang tinggal di utara bahkan sampai sekarang masih menganggap bahwa konflik itu tetap ada. Pasalnya, pasca konflik, mereka menganggap tidak ada masa pemulihan.

Artinya ibarat orang sakit, mereka belum sembuh. Penyakit itu masih bercokol di tubuh mereka. Masyarakat Aceh yang pernah mengalami konflik, disebut-sebut ada 10.000-an. Mereka tidak mendapat kompensasi apa-apa.

Persoalan-persoalan seperti itu sebenarnya bisa diselesaikan lewat tradisi sayam. Namun, ya itu tadi, sayam sepertinya sudah hilang, padahal lewat sayamlah semua masalah bisa diakhiri karena di dalamnya ada permintaan maaf dan pengampunan. Total.

Pada dahulu kala, saat sayam digelar, lazimnya dibarengi dengan potong lembu (sapi), semua bersukaria melupakan luka-luka masa lalu yang tidak elok untuk dikenang.

Nah, dalam semangat seperti itulah Kenduri Kebangsaan digelar. Sebagaimana telah saya sebut di atas, dalam kenduri nanti, panitia akan memotong sedikitnya 20 ekor sapi.

Menghadapi Kenduri Kebangsaan, para tokoh Aceh yang selama ini merantau ke Jakarta dan telah meraih sukses bersepakat akan pulang kampung. Mereka bersepakat akan mengembalikan kejayaan Aceh.

Mereka akan melakukan kenduri bukan untuk meratapi masa lalu, melainkan untuk melihat masa depan Aceh, masa depan Indonesia.

Semoga pasca Kenduri Kebangsaan, di Aceh tidak ada lagi spanduk ucapan selamat datang yang kalimatnya nyinyir lantaran Aceh terus terbelakang dan warganya ogah diajak maju.[]

Avatar
Gantyo Koespradono
Mantan Jurnalis, Pemerhati Sosial dan Politik.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.