Rabu, Oktober 28, 2020

Mari Rukun dan Saling Mendukung

UU Pemilu Baru dan Legitimasi Demokrasi

Semangat perubahan undang-undang pemilu rutin setiap 5 tahunan yang ditata kembali bertujuan menjamin prinsip keterwakilan, keterpilihan, akuntabilitas, legitimasi dan demokratisasi yang lebih luas. Nyatanya...

Memahami Sastra

Ketika berbicara tentang sastra biasanya orang seringkali hanya mengartikannya secara sempit sebagai bidang studi yang mengkaji tentang novel, puisi, atau cerpen. Definisi ini meskipun...

Gibran Kena Bully, Gibran Menjadi

Masalah perundungan (bullying) masih terjadi di mana-mana, di berbagai bidang. Perundungan dapat menimpa siapa saja. Mulai dari anak kecil sampai orang dewasa, bahkan juga...

Ratna Sarumpaet Raih Piala Oscar 2019 (Satire)

Ratna Sarumpaet berhasil menyabet piala Oscar 2019 sebagai aktris terbaik untuk kategori film Hoaks. Akting Ratna dalam Film Operasi Plastik mampu meluluhkan hati para juri,...
Asy Syaffa Nada A
Mahasiswa Jurnalistik. Penulis serabutan.

Suzan Forward pernah menulis buku berjudul Toxic Parents: Overcoming Their Hurtful Legacy dan Reclaiming Your Live pada 2002. Buku tersebut berisi tentang sikap-sikap orang tua yang ternyata merupakan racun (toxic) bagi anak-anaknya.

Sikap itu diantaranya adalah orang tua yang melatih kedisiplinan anak dengan menekankan hukuman fisik berlebih, melibatkan anak untuk menyelesaikan masalah pribadi, dan mengiming-imingi sang anak dengan uang. Dalam bukunya, sebuah pertanyaan yang diajukan menjadi menarik bagi saya: Apakah orang tua Anda  membuat Anda merasa bahwa apapun yang Anda lakukan tidak berharga?

Pada hakikatnya, orang tua selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya: memberikan kasih sayang dan rasa aman. Namun, hal itu tidak selalu berjalan dengan semestinya. Sebagian orang tua memiliki pemaknaan yang berbeda dalam menunjukkan kasih sayang, hingga tanpa disadari justru membuat anak-anaknya terluka secara emosi dan mental.

Perilaku orang tua yang tanpa disadari mampu merusak psikis anak, salah satunya adalah mengkritisi apa yang dilakukan sang anak dan tidak percaya bahwa mereka bisa melakukannya dengan benar. Berada dalam lingkaran tipe orang tua seperti ini sungguh melelahkan.

Tipe orang tua beracun atau biasa disebut dengan toxic parents seperti itu memang bukan sesuatu hal yang mudah untuk dihindari. Terlebih lagi, budaya pola asuh di Indonesia yang cenderung membiarkan anak untuk hidup dalam satu rumah, bahkan hingga mereka berkeluarga. Sehingga, tidak ada celah untuk menepi dari tuntutan menjadi anak yang perfeksionis dari toxic parents.

Orang tua yang baik adalah mereka yang mau mendengarkan dan percaya dengan anak-anaknya. Meskipun banyak orang tua—terutama mereka yang menjadi orang tua baru—mengatakan bahwa menjadi pendidik pertama bagi anak agar mampu bertahan di dunia sosial yang besar, bukanlah perkara mudah.

Membangun keluarga tidak lantas hanya terdiri dari menyatukan cinta, membuat dan mengurus anak. Terkadang, kita melihat beberapa pasangan yang baru saja menikah, ingin segera memiliki buah cinta agar dapat memenuhi tuntutan dari masyarakat. Hingga akhirnya, berdampak pada pola asuh yang belum sepenuhnya disiapkan.

Selain itu, orang tua ‘beracun’ seringkali menyalahkan anak-anaknya untuk hal-hal buruk. Salah satu contohnya adalah mengatakan bahwa, mereka menjadi miskin karena terus membiayai pendidikan anaknya. Adapula celetukan tentang semestinya tidak perlu dilahirkan, karena menambah beban dalam keluarga.

Kehidupan keluarga yang tidak berjalan dengan baik adalah sesuatu hal yang lumrah dialami oleh setiap keluarga. Tetapi, bagaimana Bapak dan Ibu atau salah satunya menghadapi tidak baiknya keluarga. Jangan kemudian memberikan beban pada anak, seakan-akan mereka adalah biang masalah dari segala keburukan hidup.

Sejatinya setiap orang tua harus memahami, bahwa menjadi toxic parents bukanlah sesuatu yang baik. Apalagi ketika orang tua tidak menyadari sama sekali tentang sikap mereka yang memiliki dampak psikis terhadap anak.

Sejahat apapun masa lalu dan pengalaman hidup, orang tua yang baik harus tetap memberikan pembelajaran yang pantas bagi anak-anaknya. Hal tersebut bisa diciptakan melalui hubungan komunikasi yang intim. Komunikasi merupakan satu hal krusial untuk menjaga sebuah hubungan agar tetap berjalan.

Membina hubungan keluarga dengan komunikasi yang intim, dapat dimulai dengan bersedia mendengarkan setiap cerita, keluh kesah ataupun lanturan dari sang anak. Mungkin akan terdengar membosankan, ataupun ingin sekali rasanya menimpali cerita tersebut dengan deretan nasihat. Namun, tunggu dulu. Ada saatnya anak ingin sekali memiliki tempat bercerita yang aman dan nyaman tanpa penghakiman.

Tidak hanya menjadi teman bercerita, agar tidak menjadi orang tua ‘beracun’ juga dapat memulai dengan mengatakan hal-hal baik. Toxic Parents seringkali meminta sang anak untuk disiplin terhadap segala sesuatu hal, terutama dalam menempatkan barang-barang di rumah. Tetapi, mereka tidak memberikan contoh nyata dari apa yang mereka perintahkan kepada sang anak. Malah, toxic parents meminta bantuan tanpa mengatakan kata sederhana, seperti “tolong”.

Sehingga ketika memulai dengan mengatakan hal-hal baik yang dilakukan secara konkret, anak akan merasa bahwa mereka dihargai. Setiap apa yang dilakukannya dapat diapresiasi. Hingga puncaknya, mereka meniru hal tersebut dan mematahkan lingkaran setan toxic parents.

Keluarga seperti halnya sebuah tim sepakbola. Memiliki perannya masing-masing dan menjaga harmonisasi hubungan agar permainan bisa berjalan dengan baik dan benar. Dalam keluarga, Ayah memang merupakan kepala tertinggi, pengambil keputusan dan pemegang hak peraturan penuh. Tetapi hal tersebut, tidak semestinya membuatnya menjadi seperti seorang diktator yang hidup ditengah-tengah keluarga.

Sementara Ibu, sebagai wakil pemimpin tertinggi, boleh saja beranggapan bahwa anak harus menurut apa yang dikatakan orang tua. Karena mereka lahir dari rahim Ibu dan dibesarkan dengan susah payah bersama Ayah.

Namun, hal tersebut tidak lantas membuatnya berhak untuk menurunkan kepercayaan diri anak, mengatakan hal-hal negatif yang meruntuhkan. Seperti, “dulu Ibu waktu masih muda enggak jerawatan” atau “lho kok nilainya jelek enggak kayak si A?” dan lain sebagainya.

Menjadi seorang anak seringkali serba salah. Merasa tertekan karena sifat toxic orang tua, dianggap berlebihan dan durhaka. Diam saja dan menerima segala ucapan toxic orang tua, malah membuat hidup berada dalam bayang-bayang kekhawatiran.

Anak memang tidak bisa memilih dengan siapa ia dilahirkan. Bahkan, kehidupan seperti apa yang nantinya ia jalani. Tetapi, berada dalam lingkungan keluarga yang telah ditakdirkan oleh Illahi, bisa dibentuk dengan rukun dan saling menghargai.

Seperti pada cuplikan lirik dari lagu Keluarga Cemara:

                          “Harta yang paling berharga adalah keluarga…

                                  …Istana yang paling indah adalah keluarga”

Keluarga merupakan harta yang paling berharga. Sekalipun memiliki orang tua yang ‘beracun’ dari segi kata-kata ataupun sikapnya, anak harus menajadi number one supporter untuk menyadarkan toxic parents agar tidak berlanjut memberikan rasa sakit psikis.

Kesadaran yang penting dalam mengasuh anak juga harus meredam ego yang dimiliki. Begitupula sang anak, juga wajib untuk meredam ego mereka. Pada akhirnya, keluarga tidak hanya terdiri dari Bapak, Ibu dan Anak. Namun, juga ada rasa cinta, saling menghargai dan mendukung satu sama lain agar kehidupan dalam keluarga bisa terus berjalan harmonis.

Selain itu, keluarga merupakan jembatan untuk membentuk pribadi sang anak di dalam masyarakat. Sehingga penting kiranya bagi orang tua untuk memperhatikan bagaimana mereka mendidik anak. Jangan sampai, tanpa disadari mereka mendidik anak dengan cara ‘beracun’ demi memuaskan hasrat pribadi dalam mencari kesempurnaan dan membuat sang anak tertekan secara emosional. Karena tidak mengingnkan hal tersebut, menjadi bagian dari kehidupannya.

Semoga di Hari Keluarga ini, semua anak dan orang tua yang hidup dalam satu wadah bernama keluarga, mampu hidup rukun dan saling mendukung. Hingga kemudian, tidak ada lagi sebutan toxic parents ataupun toxic children…….

Asy Syaffa Nada A
Mahasiswa Jurnalistik. Penulis serabutan.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Politik dan Monopoli Media Sosial

Saat ini, kita hidup di era cyberspace (dunia maya). Era yang pertama kali diperkenalkan oleh William Gibson dalam buku Neuromancer itu, dimaknai sebagai suatu...

Candu Media Sosial, Kajian Filosofis dan Psikologis

Bermain ria di “alam medsos” terkadang meng-asyikkan. Tapi akhirnya menganggap dunia nyata jadi tak menarik untuk bersosialisasi dan mengemban hidup secara hakiki. Untuk melihat...

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Mengenal Dua Tokoh Ateisme: Feuerbach dan Marx

Ludwid Feuerbach (1804-1872) dan Karl Marx (1818-1883) menjadi dua tokoh besar ateisme dalam sejarah peradaban manusia. Keduanya digolongkan filsuf materialistis karena bagi mereka pemikiran...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.