Senin, November 30, 2020

Marak Razia Buku (Kiri), HMI Malah Membisu

Merajut Simpul Gerakan Masyarakat Sipil Internasional

Kembali, selama hampir satu pekan induk organisasi Negara-negara di dunia menghelat pelaksanaan Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke 71, september tahun lalu (2016)...

Peran Pemangku Kebijakan dalam Penanggulangan HIV AIDS

Masalah kesehatan masih menjadi salah satu pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan pemerintah Indonesia. Setidaknya ada empat masalah utama yang menjadi pekerjaan rumah bagi...

Belajar dari Muslim Cordoba

Dalam sejarah Spanyol, kita pernah disuguhkan sebuah peradaban masyarakat yang plural dan beradab. Kekuasaan Al-Andalus yang mewarisi tradisi abrahamik, mulai dari Yudaisme, Kristen dan...

Kenapa Jokowi Tidak Memilih Mahfud MD?

Secara integritas mungkin Mahfud MD lebih mumpuni. Segudang prestasi beliau yang sudah pernah meduduki jabatan politik pada 3 pilar demokrasi dari mulai eksekutif, legislatif,...
Naufal Madhure
Penulis Lepas dan Aktivis Forum Libertarian Indonesia, Wilayah Sumenep, Madura.

Tirto.id merilis daftar penyitaan buku (kiri) di era Jokowi sebanyak lima kali. Yaitu, pada tanggal 10 Mei 2016, di Penerbit Narasi Yogyakarta, pada tanggal 11 Mei 2016 di Grobogan, Jawa Tengah, 12 Mei 2016, Polres Sukoharjo, Jawa Tengah, menyita buku berjudul “The Missing Link G 30 S: Misteri Sjam Kamaruzzaman & Biro Chusus PKI” dari sebuah toko buku, dan yang paling mutakhir adalah penyitaan yang sedang ramai diperbincangkan beberapa pekan mutakhir, yaitu pada tanggal 28 Desember 2018 di Kediri, Jawa Timur dan 8 Januari 2019 di Jalan HOS Cokroaminoto, Padang Barat, Kota Padang (11/01/2019).

Rentetan razia buku ini menjadi suatu ironi karena harus terjadi di era yang kita sebut era demokrasi. Di mana, kebebasan menjadi salah satu nilai yang paling diagungkan. Dan lebih ironis lagi, HMI sebagai organisasi yang mengklaim dirinya sebagai organisasi intelektual, tidak pernah sekali pun melakukan gerakan penolakan atau kecaman terhadap (tragedi) razia buku.

HMI malah membisu di tengah-tengah maraknya razia buku. Padahal, ia merupakan ancaman yang serius bagi dinamika intelektualisme kita, yang kian hari semakin tumbuh subur, seiring terbukanya kran demokrasi pasca reformasi.

Membincang tentang intelektualisme bukan barang baru bagi HMI. HMI dan intelektualisme layaknya dua mata uang, keduanya tak dapat terpisahkan. Terbukti, HMI melahirkan banyak tokoh intelektual; mulai dari akademisi, penulis, negerawan, ulama, hingga politisi. Sebut saja, misalnya, Cak Noer, Ahmad Wahib, Dawam Rahardjo, Azyumardi Azra, Komaruddin Hidayat, Akbar Tandjung, Jusuf Kalla, Mahfud MD dll.

Para intelektual yang lahir dari rahim HMI tersebut tiada lain karena keakrabannya dengan buku, tanpa membedakan antara buku kiri dan buku kanan, atau buku yang halal dibaca dan yang haram. Semua buku, dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan beragam paham dan ideologi mereka lahap. Dibaca, didiskusikan dan ditulis. Tradisi membaca, berdiskusi dan menulis lah yang membuat HMI didaulat sebagai organisasi intelektual. Masa-masa itu tentu boleh, jika saya sebut sebagai masa keemasan HMI.

Masa keemasan HMI kini telah pudar, seiring pudarnya minat baca kader HMI dan menjadikan buku sebagai instrumen untuk menggali ilmu pengetahuan dan gagasan. Membaca, kini tidak lagi menjadi ritual keseharian di HMI, demi terciptanya kader intelektual. Malah, kader HMI kita lebih suka disibukkan oleh hal-hal yang tidak ada sangkut-pautnya dengan intelektualisme yang mampu menjadikan HMI tetap eksis hingga hari ini.

HMI hari ini adalah HMI yang lebih menyerupai partai politik dari pada organisasi perkaderan dan intelektual. Terbukti, konflik internal hanya demi berebut kekuasaan dan struktural mendominasi di tubuh HMI, sebagaimana yang terjadi di internal PB HMI hari ini. Sehingga kaderisasi terabaikan dan kualitas intelektualnya patut diragukan.

Suka atau tidak, tetap harus kita akui bahwa, membisunya HMI atas rentetan razia buku adalah salah satu bukti, bahwa HMI sudah tidak lagi peduli dengan buku dan intelektualisme yang sepanjang sejarah HMI menjadi khas utama. Ketidakpedulian HMI terhadap buku dengan berbagai macam jenisnya (kanan dan kiri) merupakan era kegelapan HMI.

Juga, membisunya HMI atas razia buku merupakan salah satu bentuk delegitimasi HMI sebagai organisasi pembela kebenaran. Karena apapun alasannya, merazia buku, apalagi tanpa proses pengkajian terlebih dahulu adalah tindakan yang tidak benar dan konyol. Karena merazia buku berarti merazia ilmu pengetahuan dan kebenaran yang hendak disampaikan oleh buku tersebut. Di sini lah HMI diharapkan kehadirannya untuk membela kebenaran itu.

Dan jika pun buku-buku (kiri) tersebut terbukti benar mengandung dan menyebarkan paham yang merusak ideologi Pancasila dan kesesatan, maka merazia buku bukanlah jalan yang membijak. Seharusnya ide-ide dan isme-isme yang terkandung di dalamnya itu dilawan dengan ide-ide dan isme-isme juga, bukan malah diberangus. Di sini juga lah, seharusnya HMI hadir untuk menciptakan ruang diskusi dan intelektualisme, bukan malah bungkam.

Sangat disayangkan, organisasi setua dan sebesar HMI lebih memilih bungkam dan membisu di saat terjadi kriminalisasi terhadap buku yang menjadi sumber intelektualisme. Dan malah terkesan membiarkan atau bahkan mengamini tindakan kesewenang-wenangan itu.

Entah lah, virus apa yang sedang menjangkiti HMI, sehingga persoalan yang begitu urgen untuk diselesaikan malah tidak mendapat perhatian, atau persolan semacam ini (razia buku) terlalu remeh-temeh untuk diselesaikan oleh organisasi kemahasiswaan paling akbar, paling masyhur, paling intelektual sekaligus paling jompo di negeri ini, atau HMI masih sibuk mengurusi persoalan politik kita yang kian hari semakin silang sengkarut.

Atau karena yang dirazia adalah buku-buku kiri yang dianggap mengusung dan menyebarkan PKI, marxisme, komunisme, dan leninisme, yang secara historis HMI mempunyai sejarah hitam dan beberapa kali terlibat benturan dengan PKI. Sehingga buku-bukunya tidak perlu dibela, dan bahkan haram untuk sekedar diperbincangkan dan didiskusikan. Entah lah.

Jika tingkah HMI tetap seperti ini, maka keberadaannya di muka bumi ini mubadzir alias sia-sia. “Wujuduhu ka’adhamihi,” kata orang Arab. Dan klaim sebagai organisasi intelektual dan pembela kebenaran patut dipertanyakan.

Dalam konteks ini, HMI seharusnya sedikit malu dengan nama besarnya yang menggaung di seantero negeri. Juga harus malu dengan kemasyhurannya sebagai organisasi intelektual yang selama ini melekat pada dirinya, jika tidak bisa membela dan berteriak lantang akan tragedi razia buku yang marah terjadi di negeri ini.

Mari bangkit dan lawanlah kesewenag-wenangan terhadap buku ini! karena HMI bukan sekedar Himpunan Mahasiswa Islam, melainkan Harapan Masyarakat Indonesia, sebagaimana pernah dikatakan Jendral Soedirman.

Naufal Madhure
Penulis Lepas dan Aktivis Forum Libertarian Indonesia, Wilayah Sumenep, Madura.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nostalgia Dinasti Politik Pemimpin Negara

Pasca bergulirnya reformasi 1998, khususnya dengan terbitmya UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah serta peraturan-peraturan pemerintah yang...

Tebet, Megamendung, dan Petamburan

Pandemi corona makin liar. Jika sebelumnya cluster penyebaran corona menyeruak di rumah sakit, perkantoran, sekolah, pesantren, perumahan, restoran, dan RT/RW -- kini tengah ramai...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Pentingnya Vitamin bagi Tubuh Di Era New Normal

Daya tahan tubuh atau imunitas menjadi benteng untuk mencegah virus masuk dan menyerang tubuh kamu. Dengan dimulainya aktivitas di luar rumah lagi di masa...

Saatnya Mempertanyakan Amatiran Politik Sumatera Barat

..."Kami simpulkan sedikit inti tulisan sebelumnya. Menurut data BPS, Sumatera Barat hari ini memiliki kue ekonomi kecil, produktivitasnya rendah, dan kesejahteraannya yang tidak sedang...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Bukankah Allah Menegaskan Dunia Ini Tak Akan Pernah Sama?

Kenapa ada orang yang bersikeras mengharuskan umat manusia berada di bawah satu panji atau berprilaku dengan satu cara (manhaj). Apakah demikian yang diajarkan Al-Quran?...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.