OUR NETWORK

Manusia Silver: Pengemis Era Milenial?

Karena meminta-minta pada kenyataannya merendahkan marwah dirinya sendiri. Ketika tubuh masih kuat, sanggup bekerja dengan lebih baik, maka mengemis dipandang tabu dan tidak pas untuk dijadikan pekerjaan.

Baru-baru ini terjadi kehebohan oleh adanya manusia perak. Yaitu seseorang yang membaluri tubuhnya dengan warna perak (silver). Kemudian orang tersebut bergaya layaknya patung di perempatan atau pinggir jalan. Proses ini dilakukan sebagai bagian dari mencari kehidupan (uang).

Adalah Baim Wong yang membuat manusia silver ini kembali mencuat. Melalui kanal youtube, Baim Paula, pada Rabu (6/5/2020) menayangkan sebuah konten tentang kenyataan manusia silver. Tayangan tersebut kemudian viral dan manusia silver kembali menjadi perbincangan.

Manusia silver kenyataannya bukan menjadi sebuah pilihan. Tersebab oleh keadaan ekonomi yang memaksa sebagian orang berprofesi sebagai pengemis. Manusia silver adalah bagian dari pengemis itu sendiri.

Sebenarnya manusia silver sudah ada jauh sebelum viralnya youtube Baim Wong. Manusia silver dapat dianggap sebagai bentuk peminta-minta era milenial. Pengemis dengan model kekinian dengan tujuan sama agar ada orang yang berbalas kasih. Memberikan uang.

Namun demikian, apapun bentuk dan caranya mengemis, kita harus mempunyai pendekatan humanis. Jangan samapai merendahkan, mencaci, memaki, dan bentuk pelecehan lainnya.

Kasta Pengemis

Dalam norma sosial, menjadi peminta-minta atau pengemis dipandang sebagai pekerjaan rendah (baca: hina). Karena meminta-minta pada kenyataannya merendahkan marwah dirinya sendiri. Ketika tubuh masih kuat, sanggup bekerja dengan lebih baik, maka mengemis dipandang tabu dan tidak pas untuk dijadikan pekerjaan.

Pengemis identik dengan seorang pemalas. Orang yang ingin mendapatkan riski tapi dengan jalan mudah dan gampang. Hanya dengan menadahkan tangan, ia mendapatkan receh dari orang-orang yang ada di sekitar. Tentu saja perbuatan ini telah menurunkan derajat dirinya sendiri.

Secara normatif tidak ada orang yang bercita-cita menjadi pengemis. Tetapi dalam realita kehidupan, tidak jarang seseorang yang menggantungkan penghasilan dengan cara mengemis. Padahal kondisi tubuh normal dan masih sangat kuat untuk bekerja. Tetapi karena sudah menjadi karakter, maka jiwa pengemis menjadi pilihan.

Pengemis Menurut Islam

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Hubsyi bin Junaadah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Brangsiapa yang minta-minta tanpa adanya kebutuhan (fakir), maka seakan-akan ia memakan bara api.” (HR. Ahmad, Ibnu Khuzaimah, dan At-Thabrani dalam kitab al-Mu’jamul Kabir).

Hadis di atas jelas mengatakan bahwa seseorang yang tidak berkebutuhan (baik jasmani maupun rohani) tidak boleh meminta-minta. Haram hukumnya bagi orang yang masih sehat, kuat, dan waras untuk menjadi pengemis. Hal ini karena mengemis –tanpa adanya kebutuhan khusus– telah melanggar hak fakir miskin.

Tidak jarang, karena merasa malu dan rendah diri seseorang berpantang menjadi pengemis. Orang yang demikian perlu perhatian khusus, terutama dari pemerintah. Karena sudah jelas di pasal 34 UUD ’45 mengatkaan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.

Islam melarang seseorang berprofesi sebagai pengemis. Jika ada orang yang terpaksa mengemis, maka Alquran mengatakan, “Dan adapun orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardik(nya).” (SQ. Ad-Dhuha: 10).

Terpaksa Mengemis

Menjadi seorang pengemis bukanlah sebuah pilihan. Senyatanya karena terpaksa, dipaksa, dan diperkosa oleh keadaan. Banyak kasus terjadi anak-anak yang dipaksa oleh orang tuanya (juga oleh orang lain yang sudah dewasa) untuk menjadi pengemis. Hal yang seperti ini harus menjadi perhatian. Jangan sampai berlarut-larut dan semakin carut marut.

Harus ada antisipasi dari pemerintah, dalam hal ini dinas sosial untuk memberikan pendampingan agar tidak terjadi pemerkosaan dalam mengemis. Antisipasi diikuti dengan program asimilasi agar karakter pengemis berubah menjadi jiwa pebisnis.

Menjadi peminta-minta bukan sebuah pilihan. Mengemis jelas menurunkan harkat, martabat, serta mengebiri marwah jiwa manusia. Sebagai makhluk sosial yang diunggulkan dari makhluk lainnya, harkat nurani ini harus tetap dijunjung dan dijadikan pegangan sebagai insan yang hebat.

Pendekatan yang humanis diperlukan. Karena bagaiman pun pengemis juga manusia. Sebagai manusia yang harus diperlakukan dengan hormat. Tidak merendahkan. Tidak menghinakan dan mencaci. Serta terus menerus  beusaha memberikan pemahaman dan (jika memungkinkan) dana serta pekerjaan.

Selebihnya kita serahkan kepada takdir Tuhan. Ikhtiar telah dilakukan. Di penghujung usaha dan upaya adalah takdir yang harus kita terima dengan lapang dada. Tetapi Allah swt telah membuat takdirnya dengan firman-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaum, hingga kaum itu sendiri yang merubah nasibnya sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11). Wallahu A’lam!

Rusdi El Umar lahir dan besar di Sumenep, alumni PP Annuqayah, sebagai pengajar di SMP Negeri 1 Batang-Batang dan MTs. Darul Ulum Batuputih. Beberapa artikel sudah dimuat di mass media seperti Majalah MPA, Surabaya Pos, Banjarmasin Pos, Radar Banyuwangi, Majalah Edukasi, Radar Madura, dll. Beberapa buku tunggal dan antologi bersama juga sudah diterbitkan. Buku terakhir yang diterbitkan tunggal adalah antologi puisi “Setajam Rindu Abandira.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…