Sabtu, Oktober 31, 2020

Manusia Silver: Pengemis Era Milenial?

Akar Kearifan Lokal Gerakan Perempuan di Nusantara

Ada kecenderungan dalam berbagai kajian terhadap tradisi dan kebudayaan nusantara, terdapat temuan yang menunjukkan kecenderungan untuk mengidentikkan ‘kepemimpinan’ dengan ‘laki-laki’. Citra ini yang terbentuk...

Lambe Turah dan Komunikasi Era Digital

Jaman sekarang ini, tentu orang-orang tidak asing dengan keberadaan dari media massa maupun media sosial. Media massa dan media sosial sudah tidak dapat dipisahkan...

Jamrud Khatulistiwa, Keberkahan atau Kutukan

Negeri ini dikenal dengan sebutan Jamrud Khatulistiwa karena gugusan Geografis pulau pulau yang berwarna hijau menyejukan mata bagaikan batu Jamrud.Hijaunya geografis Indonesia kalau di...

Untuk Penghuni Negara yang Sedang Sakit

Tulisan ini dibuat untuk kita semua sebagai masyarakat negara yang sedang sakit ini. Sebuah pesan sarat arti tentang segala situasi yang sedang terjadi di...
Rusdi El Umar
Rusdi El Umar lahir dan besar di Sumenep, alumni PP Annuqayah, sebagai pengajar di SMP Negeri 1 Batang-Batang dan MTs. Darul Ulum Batuputih. Beberapa artikel sudah dimuat di mass media seperti Majalah MPA, Surabaya Pos, Banjarmasin Pos, Radar Banyuwangi, Majalah Edukasi, Radar Madura, dll. Beberapa buku tunggal dan antologi bersama juga sudah diterbitkan. Buku terakhir yang diterbitkan tunggal adalah antologi puisi “Setajam Rindu Abandira.”

Baru-baru ini terjadi kehebohan oleh adanya manusia perak. Yaitu seseorang yang membaluri tubuhnya dengan warna perak (silver). Kemudian orang tersebut bergaya layaknya patung di perempatan atau pinggir jalan. Proses ini dilakukan sebagai bagian dari mencari kehidupan (uang).

Adalah Baim Wong yang membuat manusia silver ini kembali mencuat. Melalui kanal youtube, Baim Paula, pada Rabu (6/5/2020) menayangkan sebuah konten tentang kenyataan manusia silver. Tayangan tersebut kemudian viral dan manusia silver kembali menjadi perbincangan.

Manusia silver kenyataannya bukan menjadi sebuah pilihan. Tersebab oleh keadaan ekonomi yang memaksa sebagian orang berprofesi sebagai pengemis. Manusia silver adalah bagian dari pengemis itu sendiri.

Sebenarnya manusia silver sudah ada jauh sebelum viralnya youtube Baim Wong. Manusia silver dapat dianggap sebagai bentuk peminta-minta era milenial. Pengemis dengan model kekinian dengan tujuan sama agar ada orang yang berbalas kasih. Memberikan uang.

Namun demikian, apapun bentuk dan caranya mengemis, kita harus mempunyai pendekatan humanis. Jangan samapai merendahkan, mencaci, memaki, dan bentuk pelecehan lainnya.

Kasta Pengemis

Dalam norma sosial, menjadi peminta-minta atau pengemis dipandang sebagai pekerjaan rendah (baca: hina). Karena meminta-minta pada kenyataannya merendahkan marwah dirinya sendiri. Ketika tubuh masih kuat, sanggup bekerja dengan lebih baik, maka mengemis dipandang tabu dan tidak pas untuk dijadikan pekerjaan.

Pengemis identik dengan seorang pemalas. Orang yang ingin mendapatkan riski tapi dengan jalan mudah dan gampang. Hanya dengan menadahkan tangan, ia mendapatkan receh dari orang-orang yang ada di sekitar. Tentu saja perbuatan ini telah menurunkan derajat dirinya sendiri.

Secara normatif tidak ada orang yang bercita-cita menjadi pengemis. Tetapi dalam realita kehidupan, tidak jarang seseorang yang menggantungkan penghasilan dengan cara mengemis. Padahal kondisi tubuh normal dan masih sangat kuat untuk bekerja. Tetapi karena sudah menjadi karakter, maka jiwa pengemis menjadi pilihan.

Pengemis Menurut Islam

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Hubsyi bin Junaadah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Brangsiapa yang minta-minta tanpa adanya kebutuhan (fakir), maka seakan-akan ia memakan bara api.” (HR. Ahmad, Ibnu Khuzaimah, dan At-Thabrani dalam kitab al-Mu’jamul Kabir).

Hadis di atas jelas mengatakan bahwa seseorang yang tidak berkebutuhan (baik jasmani maupun rohani) tidak boleh meminta-minta. Haram hukumnya bagi orang yang masih sehat, kuat, dan waras untuk menjadi pengemis. Hal ini karena mengemis –tanpa adanya kebutuhan khusus– telah melanggar hak fakir miskin.

Tidak jarang, karena merasa malu dan rendah diri seseorang berpantang menjadi pengemis. Orang yang demikian perlu perhatian khusus, terutama dari pemerintah. Karena sudah jelas di pasal 34 UUD ’45 mengatkaan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.

Islam melarang seseorang berprofesi sebagai pengemis. Jika ada orang yang terpaksa mengemis, maka Alquran mengatakan, “Dan adapun orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardik(nya).” (SQ. Ad-Dhuha: 10).

Terpaksa Mengemis

Menjadi seorang pengemis bukanlah sebuah pilihan. Senyatanya karena terpaksa, dipaksa, dan diperkosa oleh keadaan. Banyak kasus terjadi anak-anak yang dipaksa oleh orang tuanya (juga oleh orang lain yang sudah dewasa) untuk menjadi pengemis. Hal yang seperti ini harus menjadi perhatian. Jangan sampai berlarut-larut dan semakin carut marut.

Harus ada antisipasi dari pemerintah, dalam hal ini dinas sosial untuk memberikan pendampingan agar tidak terjadi pemerkosaan dalam mengemis. Antisipasi diikuti dengan program asimilasi agar karakter pengemis berubah menjadi jiwa pebisnis.

Menjadi peminta-minta bukan sebuah pilihan. Mengemis jelas menurunkan harkat, martabat, serta mengebiri marwah jiwa manusia. Sebagai makhluk sosial yang diunggulkan dari makhluk lainnya, harkat nurani ini harus tetap dijunjung dan dijadikan pegangan sebagai insan yang hebat.

Pendekatan yang humanis diperlukan. Karena bagaiman pun pengemis juga manusia. Sebagai manusia yang harus diperlakukan dengan hormat. Tidak merendahkan. Tidak menghinakan dan mencaci. Serta terus menerus  beusaha memberikan pemahaman dan (jika memungkinkan) dana serta pekerjaan.

Selebihnya kita serahkan kepada takdir Tuhan. Ikhtiar telah dilakukan. Di penghujung usaha dan upaya adalah takdir yang harus kita terima dengan lapang dada. Tetapi Allah swt telah membuat takdirnya dengan firman-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaum, hingga kaum itu sendiri yang merubah nasibnya sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11). Wallahu A’lam!

Rusdi El Umar
Rusdi El Umar lahir dan besar di Sumenep, alumni PP Annuqayah, sebagai pengajar di SMP Negeri 1 Batang-Batang dan MTs. Darul Ulum Batuputih. Beberapa artikel sudah dimuat di mass media seperti Majalah MPA, Surabaya Pos, Banjarmasin Pos, Radar Banyuwangi, Majalah Edukasi, Radar Madura, dll. Beberapa buku tunggal dan antologi bersama juga sudah diterbitkan. Buku terakhir yang diterbitkan tunggal adalah antologi puisi “Setajam Rindu Abandira.”
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.