Minggu, Februari 28, 2021

Manusia Indonesia Dalam Kemunduran

Percakapan Marsinah dan Malaikat

Siapa namamu? Nama saya Marsinah, Tuan. Saya adalah buruh di sebuah pabrik arloji yang saban hari dihukum waktu. Saya sering lembur meski tidak dapat uang...

Evolusi Terorisme dan Dangkalnya Ingatan Publik

Penusukan oleh sepasang suami-istri terhadap Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto, Kamis (10/10) merupakan salah satu bentuk evolusi serangan terorisme. Kalau kita cermati,...

Benarkan PNS Tidak Produktif?

Pengawai Negeri Sipil atau PNS dalam kacamata masyarakat luas memiliki stigma tak bagus lantaran kurang produktif, kurang kompeten dan malas bekerja meskipun berbagai upaya...

Eksil, Eks Tapol dan Usaha Merawat Kewarasan

Surat dari Praha yang menceritakan tentang eksil dengan segala cinta serta tetap Indonesia walaupun terbuang dari negerinya. Dalam film yang diproduseri oleh Glenn Fredly,...
Muhammad Arkhan
Penyair. Penulis cerita mini. Esais

Aku sudah membaca buku Manusia Indonesia yang berisi ceramah Mochtar Lubis di Taman Ismail Marzuki pada tanggal 6 April 1977. Ceramahnya sendiri berisi berbagai kritikan terhadap sifat-sifat manusia Indonesia. Diantaranya yang hendak aku bahas disini adalah sifat munafik dan sifat enggan bertanggung jawab.

Sifat munafik. Apa yang dikatakan dan apa yang diperbuat bertolak belakang. Contoh: Seorang berkata bahwa berzinah itu perbuatan tercela, namun dirinya diam-diam menikmati PSK di lokalisasi.

Mochtar Lubis beranggapan bahwa sifat munafik manusia Indonesia ini berakar dari budaya feodal. Ia berujar, “Akibat dari kemunafikan manusia Indonesia, yang berakar jauh ke masa kita sebelum dijajah bangsa asing maka manusia Indonesia pada masa kini terkenal dengan sikap ABS-nya (Asal Bapak Senang).

Sikap ABS ini telah berakar jauh ke zaman dahulu, ketika tuan feodal Indonesia merajalela di negeri ini, menindas rakyat dan memperkosa nilai-nilai manusia Indonesia. Untuk melindungi dirinya terpaksalah rakyat memasang topeng ke luar, dan tuan feodal, raja, sultan, sunan, regent, bupati, demang, tuanku laras, karaeng, teuku dan tengku, dan sebagainya, selalu dihadapi dengan inggih, sumuhun, ampun duli tuanku, hamba patik tuanku!”

Manusia Indonesia bersikap munafik supaya tetap “aman” dan mendapat “tempat” di masyarakat. Tidak dianggap “membangkang.” Sikap ini malah melahirkan mentalitas menjilat dan sok alim.

Keengganan untuk bertanggung jawab adalah sifat manusia Indonesia yang juga dikritisi oleh Mochtar Lubis. Ia berujar, “Ciri kedua utama manusia Indonesia masa kini adalah segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, putusannya, kelakuannya, pikirannya, dan sebagainya. ‘Bukan saya’ adalah kalimat yang cukup populer pula di mulut manusia Indonesia.”

Aku jadi teringat akan suatu hal. Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 11 SMA, aku menjadi saksi keributan kecil murid-murid kelasku yang gagal melakukan persentasi di dalam kelas. Si A menuding si B tidak belajar. “Sia sih teu belajar (kamu sih ngga belajar),” Kira-kira begitulah kata si A kepada si B. “Ah, eta mah sia weh nu teu belajar, teu ngaku (ah, itu mah kamu aja yang ngga belajar, ngga ngaku),” begitulah kira-kira si B menimpali.

Hal yang sama pun terjadi antara si C dengan si D. Saling menuding. Saling mencari pembenaran dengan maksud supaya tidak kehilangan muka.

Akibatnya pun mereka tak mendapat apa-apa selain penilaian yang buruk dari guru. Tak ada pelajaran yang bisa diambil. Tak ada perubahan yang bisa dicapai. Diam di tempat. Sikap enggan bertanggung jawab membuat mereka tak maju.

Evaluasi Diri

Isi buku ini cukup mengguncang dan lantang. Mochtar Lubis mengkritik sifat-sifat manusia Indonesia yang membuat bangsa ini menjadi terbelakang. Membaca buku ini berarti mendorong diri kita sendiri untuk bisa mengevaluasi kesalahan-kesalahan kita sebagai manusia Indonesia. Apakah kita sering bersikap munafik, berkata ,”iya” padahal di dalam hati berteriak, “tidak”? Apakah kita sering enggan bertanggung jawab, mencerca orang lain atas kesalahan kita sendiri?

Jika jawabannya iya, maka mulai dari sekarang kita musti membersihkan diri kita. Membersihkan muka dari riasan kemunafikan. Dan membersihkan tangan kita yang penuh “tinja” karena doyan menuding orang yang tak berdosa.

Buku ini bagus untuk dibaca siapapun. Baik itu pelajar, mahasiswa, guru, politisi, dokter, dst yang tertarik mempelajari sifat-sifat negatif manusia Indonesia.

Muhammad Arkhan
Penyair. Penulis cerita mini. Esais
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terlalu Jauh Menjadikan 4 Nakes Penista Agama

Kasus Pemantang Siantar sungguh membuat kita semua kaget. Empat petugas kesehatan (Nakes) digugat oleh seorang suami yang istrinya meninggal karena Covid-19. Empat petugas kesehatan...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Robert Morey dan Orientalisme yang Melapuk

Orientalisme adalah satu diskursus ketimuran, yang bercokol pada kajian-kajian Barat dalam menginterpretasikan khazanah Timur—khususnya Islam. Pada kajian ini Islam dipandangan dalam objektifikasi Barat, namun...

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.