Senin, Januari 25, 2021

Manusia Indonesia Dalam Kemunduran

Fenomena Pers Boneka dan Pembungkaman Digital

Ketika informasi telah diwartakan seluas-luasnya kepada masyarakat yang menjadi tuntutan saat penjatuhan rezim Orde Baru, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers disahkan. Kini, berbagai...

Tentang Perilaku yang Merusak Karya Seni

Karya seni sedang populer di Indonesia, sayangnya popularitas itu disertai cerita tentang rusaknya berbagai karya seni dan para pengunjung yang hanya sibuk melakukan swafoto...

Jokowi Tersandera Ambisi, ASEAN Ompong di Laut Cina Selatan

8 Agustus 2018 bertepatan dengan 51 tahun Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) berdiri. Asosiasi yang awalnya terdiri dari negara Malaysia, Indonesia, Filiphina, Singapura dan...

Meretas Perbedaan dengan Kesenian

Diskriminasi merupakan suatu pokok permasalahan yang selalu hadir dalam relung-relung sejarah, dan menjadi suatu bahasan yang seakan tidak pernah selesai hingga saat ini. Praktik diskriminasi...
Muhammad Arkhan
Penyair. Penulis cerita mini. Esais

Aku sudah membaca buku Manusia Indonesia yang berisi ceramah Mochtar Lubis di Taman Ismail Marzuki pada tanggal 6 April 1977. Ceramahnya sendiri berisi berbagai kritikan terhadap sifat-sifat manusia Indonesia. Diantaranya yang hendak aku bahas disini adalah sifat munafik dan sifat enggan bertanggung jawab.

Sifat munafik. Apa yang dikatakan dan apa yang diperbuat bertolak belakang. Contoh: Seorang berkata bahwa berzinah itu perbuatan tercela, namun dirinya diam-diam menikmati PSK di lokalisasi.

Mochtar Lubis beranggapan bahwa sifat munafik manusia Indonesia ini berakar dari budaya feodal. Ia berujar, “Akibat dari kemunafikan manusia Indonesia, yang berakar jauh ke masa kita sebelum dijajah bangsa asing maka manusia Indonesia pada masa kini terkenal dengan sikap ABS-nya (Asal Bapak Senang).

Sikap ABS ini telah berakar jauh ke zaman dahulu, ketika tuan feodal Indonesia merajalela di negeri ini, menindas rakyat dan memperkosa nilai-nilai manusia Indonesia. Untuk melindungi dirinya terpaksalah rakyat memasang topeng ke luar, dan tuan feodal, raja, sultan, sunan, regent, bupati, demang, tuanku laras, karaeng, teuku dan tengku, dan sebagainya, selalu dihadapi dengan inggih, sumuhun, ampun duli tuanku, hamba patik tuanku!”

Manusia Indonesia bersikap munafik supaya tetap “aman” dan mendapat “tempat” di masyarakat. Tidak dianggap “membangkang.” Sikap ini malah melahirkan mentalitas menjilat dan sok alim.

Keengganan untuk bertanggung jawab adalah sifat manusia Indonesia yang juga dikritisi oleh Mochtar Lubis. Ia berujar, “Ciri kedua utama manusia Indonesia masa kini adalah segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, putusannya, kelakuannya, pikirannya, dan sebagainya. ‘Bukan saya’ adalah kalimat yang cukup populer pula di mulut manusia Indonesia.”

Aku jadi teringat akan suatu hal. Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 11 SMA, aku menjadi saksi keributan kecil murid-murid kelasku yang gagal melakukan persentasi di dalam kelas. Si A menuding si B tidak belajar. “Sia sih teu belajar (kamu sih ngga belajar),” Kira-kira begitulah kata si A kepada si B. “Ah, eta mah sia weh nu teu belajar, teu ngaku (ah, itu mah kamu aja yang ngga belajar, ngga ngaku),” begitulah kira-kira si B menimpali.

Hal yang sama pun terjadi antara si C dengan si D. Saling menuding. Saling mencari pembenaran dengan maksud supaya tidak kehilangan muka.

Akibatnya pun mereka tak mendapat apa-apa selain penilaian yang buruk dari guru. Tak ada pelajaran yang bisa diambil. Tak ada perubahan yang bisa dicapai. Diam di tempat. Sikap enggan bertanggung jawab membuat mereka tak maju.

Evaluasi Diri

Isi buku ini cukup mengguncang dan lantang. Mochtar Lubis mengkritik sifat-sifat manusia Indonesia yang membuat bangsa ini menjadi terbelakang. Membaca buku ini berarti mendorong diri kita sendiri untuk bisa mengevaluasi kesalahan-kesalahan kita sebagai manusia Indonesia. Apakah kita sering bersikap munafik, berkata ,”iya” padahal di dalam hati berteriak, “tidak”? Apakah kita sering enggan bertanggung jawab, mencerca orang lain atas kesalahan kita sendiri?

Jika jawabannya iya, maka mulai dari sekarang kita musti membersihkan diri kita. Membersihkan muka dari riasan kemunafikan. Dan membersihkan tangan kita yang penuh “tinja” karena doyan menuding orang yang tak berdosa.

Buku ini bagus untuk dibaca siapapun. Baik itu pelajar, mahasiswa, guru, politisi, dokter, dst yang tertarik mempelajari sifat-sifat negatif manusia Indonesia.

Muhammad Arkhan
Penyair. Penulis cerita mini. Esais
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Sastra dan Jalan Lain Filsafat

Persinggungan eksistensial manusia dengan beragam realitas peradaban tidak mengherankan melahirkan berbagai pertanyaan fundamental – filosofis. Mempertanyakan, membandingkan, dan memperdebatkan beragam produk peradaban, salah satunya...

Ujian Konsistensi Penanganan Konsistensi Sengketa Hasil Pilkada

Jelang sengketa hasil pemilihan kepala daerah di Mahkamah Konstitusi kerap timbul bahasan atau persoalan klasik yang selalu terjadi. Sebagai lembaga peradilan penyelesai sengketa politik,...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Menteri Agama Memang untuk Semua Agama, Mengapa Tidak Kita Dukung?

Pernyataan Menteri Agama, Gus Yaqut, bahwa dirinya adalah “menteri agama untuk semua agama” masih menyisakan perdebatan di kalangan masyarakat. Bagi mereka yang tidak sepakat,...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.