in

Manusia Dibakar Hidup-Hidup dan Keislaman Kita

Pernah suatu ketika Nabi Muhammad SAW pergi ke masjid, selalu mendapatkan hinaan, cacian bahkan sering dilempar kotoran. Apa yang dilakukan oleh orang lain kepadanya tidak dibalas dengan hal serupa, justru Nabi Muhammad membalas dengan kebaikan. Saat orang yang selalu mencacinya sakit, justru beliau menjenguknya.

Cerita itu sudahlah sangat familiar bagi kaum muslim. Teladan yang selalu diceritakan di bangku sekolah dasar untuk menunjukkan, sebagai orang muslim janganlah mudah marah. Walaupun dilecehkan dan dirugikan, Nabi Muhammad memberikan teladan agar tetap sabar, santun dan pemaaf.

Sikap-sikap yang ada pada Nabi Muhammad menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keramahan. Beliau menampilkan Islam ramah, sekalipun kepada orang yang membencinya. Bagi orang yang marah pun, Nabi Muhammad menganjurkan agar ia duduk kalau dia sedang dalam keadaan berdiri. Apabila duduk masih dalam keadaan marah, maka sebaiknya berbaring.

Begitu lembutnya akhlak Nabi Muhammad. Marah merupakan sifat manusiawi, tetapi marah bisa dikendalikan kalau berdasarkan nasihatnya. Bagi orang yang sedang marah, sebaiknya untuk bisa mengendalikan. Orang yang dalam keadaan marah ia akan mengalami tegangan syaraf dan sedang bergelut dengan subuah hawa nafsu.

Kemarahan

Sungguh ironi, baru diduga mencuri amplifer atau mesin pengeras suara Mushalla, pria berinisial MA (30) di Bekasi dibakar hidup-hidup. Sangat disesalkan oleh banyak masyarakat, bahwa kasus main hakim sendiri masih terjadi di negara hukum. Dari kasus tersebut kita bisa belajar, kemarahan tidak bisa mengatasi sebuah masalah, melainkan akan menimbulkan masalah baru dan bisa berujung kriminalitas.

Kasus pembakaran pria di Bekasi merupakan satu di antara banyak kasus orang-orang yang memiliki sifat sumbu pendek atau mudah marah. Apalagi jika kasus yang “dibumbui” atau menyangkut sedikit dengan agama, orang-orang semacam itu akan cepat reaksi dan mudah marah, mengklaim orang lain kafir, bahkan sering kita menemukan yang mengeluarkan kata-kata arogan. Apabila sifat semacam itu kian marak dan tidak terkendali hukum rimba akan menjalar di negara ini.

Baca Juga :   Mari Bernostalgia Wahai Pemuda

Pantas apabila Nabi Muhammad menyarankan kepada orang yang sedang marah untuk bisa mengelolanya dan meredakannya. Karena marah akan menyebabkan hal yang negatif walaupun apa yang dilakukan oleh orang tersebut awalnya mempunyai maksud yang benar. Maksud yang benar akan menjadi kebenaran apabila dilakukan dengan tenang, santun dan tabayyun. Begitu juga sebaliknya, maksud benar akan berujung kemadharatan apabila dilalui dengan hawa nafsu dan kemarahan.

Kemarahan-kemarahan yang tampak di publik, banyak yang dilandasi karena ia ingin menghakimi kesalahan orang tertentu. Karena ada orang yang dianggap keluar dari hukum atau aturan agama, lantaran banyak yang ingin menjadi hakim. Padahal seharusnya tidak demikian, apabila ada orang yang berbuat salah atau melanggar aturan maka ingatkan mereka dan ajaklah dengan baik untuk menuju jalan yang benar yang sesuai aturan berlaku.

Dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 125, dijelaskan bagaimana cara berdakwah yang baik dan benar. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Dari ayat Al-Qur’an tersebut jelas, bahwa Allah yang lebih tahu mana orang yang bersalah dan mana orang yang benar. Ajaran Islam tidak pernah mengajarkan berbuat keji terhadap orang yang melakukan kesalahan. Kunci dari metode dakwah adalah dengan hikmah, apabila sampai berdebat maka debatlah dengan cara yang baik pula.

Kekuasaan menjatuhkan azab dan memberikan pahala atas perbuatan berada di tangan Allah. Apa yang dinilai manusia baik belum tentu dinilai oleh Allah baik, begitu juga sebaliknya. Karena yang mengetahui isi hati manusia adalah Allah.

Baca Juga :   Peradilan Adat, Kemana Mau Melangkah ?

Islam mengajarkan keramahan

Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjelaskan, Islam mengajarkan hidup tanpa kekerasan. Satu-satunya alasan untuk menggunakan kekerasan, adalah jika kaum Muslimin diusir dari tempat inggal mereka. Itupun menurut Gus Dur masih diberdebatkan, bolehkah kaum muslim ini membunuh orang lain, jika jiwanya sendiri tidak terancam? Demikianlah Islam berjalan beradab-abad lamanya tanpa kekerasan, termasuk penyebaran agama tersebut di negeri ini.

Nabi Muhammad diutus oleh Allah SWT untuk menyempurnakan akhlak manusia. Di tengah-tengah masyarakat Arab jahiliyah beliau diutus untuk menuntun umat manusia agar hidup berdampingan, saling membantu dan menerapkan akhlak terpuji. Dari hal tersebut jelas, bahwa Islam diturunkan untuk perdamaian bukan untuk kekerasan. Adapaun ada kekerasan yang mengatasnamakan agama merupakan pemahaman yang kurang tepat terhadap Islam sendiri.

Agama mengajarkan pentingnya menghargai rasa kemanusiaan. Banyak dalil yang mengatakan, bahwa umat manusia sama dihadapan Allah, sedangkan yang membedakan adalah ketakwaannya. Persamaan antara sesama manusia, baik kaya atau miskin, kulit hitam atau putih sangat dihargai dalam Islam. Islam tidak pernah membedakan mana orang yang kaya, pintar dan mana yang tidak.

Perilaku manusia dapat dilihat dari seberapa jauh ia memahami agama. Kalau ia berkembang sebagai pribadi yang mudah marah, ia memahami agama hanya secara formal. Berbeda dengan orang yang memahami substansi agama khususnya Islam, ia akan berperilaku yang baik, karena Nabi Muhammad sendiri diutus untuk menyempurnakan akhlak.

Written by Nur Solikhin

Nur Solikhin, pegiat keberagaman Komunitas Santri Gus Dur Yogyakarta, dan pegiat media bangkitmedia.com

Leave a Reply

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR