Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

Manusia, Akhlak, dan Alam Semesta

Student Loan, Bukti Adanya Komersialisasi Pendidikan

Jemari saya gatal rasanya untuk menulis ketika membaca artikel hasil dibagikan oleh salah satu kawan saya di salah satu grup media sosial. Artikel yang...

Bendera Tauhid: Masalah Simbol dan Pemakaiannya

Baiklah, terlebih dahulu kita dudukkan persoalan pembakaran bendera yang terjadi belakangan ini. Pertama, dalam rangka memperingati Hari Santri, perayaan awalnya berjalan lancar, sampai datanglah...

Totem Pro Parte Menjelang Pilkada

Pilkada membuat kehidupan masyarakat sedikit ‘bergeser’. Masyarakat pendukung kandidat mulai bergerak, melakukan sosialisasi, mengajak atau membujuk pihak lain. Hal yang bisa dilakukan dalam menyakinkan...

Peran Pengamat Politik Sebagai Sarana Pembentuk Opini Publik

Di tengah maraknya berita-berita politik yang kredibilitasnya sangat memprihatinkan, salah satu sumber alternatif lain yang seringkali digunakan oleh masyarakat adalah pengamat politik sebagai tokoh...
Fitrah
Mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.

Akhlak yang mulia/baik adalah semulia-mulianya sesuatu, sebaik baiknya manusia. Dengan akhlak baik, manusia menjadi lebih tinggi derajatnya ketimbang derajat binatang! Manusia hanyalah sosok yang terdiri daging, urat dan darah.

Demikian pula binatang. Ia juga sosok yang terdiri dari daging, urat dan darah. Kedua makhluk ini hanya bisa dibedakan melalui akhlak dan kecerdasan. Andai saja kedua hal ini lenyap, maka tidak ada lagi perbedaan antara manusia dan binatang. Tak pelak lagi, keduanya akan sama-sama bodoh.

Bedanya, manusia bisa berbicara, sementara binatang tidak. Selain itu, kerapkali manusia berbicara keji, sesuatu yang tak pernah dilakukan binatang. Pada saat seperti itulah berlaku ketetapan: Yang diam lebih baik daripada yang berbicara.

Yang tak bersuara lebih baik daripada yang tak bersuara. Para filosof berupaya mengkaji bagaimana caranya agar manusia dapat membebaskan diri dari martabat hina-dina ini menuju martabat yang tinggi dan mulia, suatu martabat yang membuatnya lepas dari karakteristik binatang, martabat yang telah dikhususkan oleh Allah untuknya, dan demi martabat inilah manusia diciptakan.

Suatu martabat yang mengharuskan dia menjadi khalifah di muka persada ini! agar dengan begitu, menyebarluaslah di muka bumi ini keadilan ilahi, dan menyebar pulalah moral mulia yang digariskan Nabi saw. Para filosof berpendapat bahwa, karena akal dan akhlak baiklah manusia berbeda dengan binatang, dan karena itulah mereka menulis banyak buku, di mana dengan karangan tersebut agar dapat membawa manusia menuju akhlak mulia dan sempurna dan menyelamatkannya dari kehancuran (Ibnu Miskawaih,Hal:25).

Oleh karena itu, keutamaan seseorang diukur dengan sejauh mana dia mengupayakan dan mendambakan kebajikan. keutamaan ini akan semakin meningkat, ketika dia semakin memperhatikan jiwanya dan berusaha keras menyingkirkan segala yang merintanginya mencapai keutamaan ini.

Pembahasan yang lalu sudah menjelaskan apa-apa yang menjadi kendala kita dalam mencapai keutamaan ini. Kendala itu berupa apa saja yang sifatnya badani, inderawi, serta yang berhubungan dengan keduanya. Sedang keutamaan-keutamaan itu sendiri, tidak mungkin bisa kita capai, kecuali setelah jiwa kita suci dari perbuatan perbuatan keji, yang merupakan kebalikan dari keutamaan.

Yang saya maksdukan dengan perbuatan-perbuatan keji itu adalah nafsu badani yang hina serta nafsu keji hewani yang tercela. Dengan begitu, jika seseorang mengetahui bahwa hal-hal di atas tadi bukanlah keutamaan, tetapi justru kenistaan, dia akan segera menjauhinya, serta tidak suka kalau dirinya diketahui memilikinya. Akan tetapi, jika dia mengira bahwa yang demikian justru keutamaan, dia pun akan membiasakannya.(Ibnu Miskawaih, hal. 39).

Sebab utama masalah-masalah sebuah bangsa adalah bukan kekurangan sumber daya alam dan bukan pula kekurangan orang pintar, sarjana dan pakar dalam berbagai bidang. Negara kita Indonesia ini kaya dengan sumber daya alam dan banyak orang pintar dan sarjana. Tetapi, sebab utama masalah-masalah bangsa adalah kerusakan moral atau akhlak masyarakatnya. Akibat kerusakan moral para pemimpin-pemimpin kita adalah kenyataan bahwa rakyat tidak merasakan keadilan, kemakmuran, keharmonisan dan kesejahteraan. Kejatuhan suatu bangsa dan suatu peradaban disebabkan terutama faktor moral.

Semua masalah bangsa yang sangat memprihatinkan kita tidak akan pernah dapat diselesaikan bila kerusakan moral masih parah. Karena itulah maka, kita sebagai masyarakat indonesia yang memiliki hak dan kewajiban, agar supaya kita mawas diri, menumbuhkan kesadaran dan meneguhkan kembali mengenai peran dan nilai sebuah moralitas atau akhlak baik dalam berinteraksi dan berperilaku dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.Bagi orang-orang muslim, sumber utama ajaran etika atau moral adalah al-qur’an.

Fazlul Rahman, pemikir Islam neo-modernisme terkemuka, berulang-ulang menekankan bahwa elemen dasar moral adalah al-qur’an, yang memberikan penekanannya terhadap monoteisme maupun keadilan sosial. Hukum moral adalah abadi, manusia tidak dapat membuat atau memusnahkan hukum moral itu, ia harus menyerahkan dirinya kepada hukum tersebut, penyerahan diri ini disebut islam dan manifestasinya dalam kehidupan disebut ibadah atau pengabdian kepada Tuhan. Lebih lanjut, menurut Fazlul Rahman, konsep moral terpenting adalah Taqwa yang biasanya diterjemahkan dengan kesalahan atau rasa takut kepada Allah swt. (Jurnal Titik Temu, Hal:13-144).

Sejarah telah membuktikan, bahwa jatuh dan bangun suatu bangsa atau masyarakat lebih kuat ditentukan oleh tinggi atau rendahnya akhlak mereka. Selagi masyarakat memegang teguh nilai-nilai budi pekerti yang luhur lagi mulia, bangsa tersebut akan mendapatkan penghargaan dari orang atau negara lainnya.

Sebaliknya bila budi pekerti dari suatu masyarakat telah rusak, demoralisasi telah meraja lela pada setiap lapisan dan tingkat, nilai-nilai kebaikan telah di injak-injak bagaikan sampah yang tiada berharga maka alamat kehancuran masyarakat tersebut telah mendekat.

Dengan demikian, penulis ingin mengakhiri artikel ini dengan mengutip peribahasa indonesia yang berbunyi bahwa, “Tegak rumah karena sendi, Runtuh budi rumah binasa. Sendi Bangsa ialah budi. Runtuh budi, runtuhlah bangsa”. dan Tokoh Muhammadiyah Buya Hamka mengatakan bahwa, “Kemunduran negara tidak akan terjadi, kalau tidak kemunduran budi dan kekusutan jiwa”.

Oleh karena itu, dari pernyataan tokoh-tokoh diatas dapat di simpulkan bahwa, maju dan mundurnya atau gagal dan suksesnya sebuah negara adalah bukan dilihat dari kekayaan sumber daya alam dan sumber daya manusianya/penduduknya.

Melainkan dilihat atau dinilai dari kualitas moralitas atau akhlak masyarakatnya itu sendiri dalam menerapkan akhlak mulia yang kompak, dinamis dan kolektif baik dari kalangan pemimpin pemerintahan, menteri, politisi, guru besar dan dosen, tokoh masyarakat dan agamawan, mahasiswa dan masyarakat di kalangan bawah (grass root), seluruh elemen masyarakat yang hidup dalam sebuah negara itu sendiri.

Fitrah
Mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.