OUR NETWORK

Manifesto Pendidikan Karakter Ki Hajar Dewantara yang Terlupakan

“Tugas terbesar negara adalah mengedukasi rakyatnya dan memberi mereka pekerjaan… Tapi ada dua hal yang orang-orang benci: bersekolah dan bekerja.” – George Carlin (2001)

Pendidikan, dari kacamata Ki Hadjar Dewantara (1889-1959), adalah sebuah upaya untuk menyempurnakan manusia. Secara mendetail, Ki Hadjar (dalam Marzuki dan Khanifah, 2016, h.175) mendefisikan pendidikan sebagai upaya “menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan serta kebahagiaan yang setinggi-tingginya.”

Marzuki dan Khanifah (2016) yang mengembangkan pemikiran Ki Hadjar lantas mengintisarikan kalau idealitas pendidikan tidak berhenti pada upaya memproduksi “robot cerdas”, tetapi juga manusia berkarakter.

Sejauh tulisan ini dibuat, sudah banyak sekali para peneliti dan pakar yang mengkaji nilai, konsep, dan cita-cita Ki Hadjar terkait pendidikan dari pelbagai aspek, dari perspektif edukasi keislaman, perbandingannya dengan tokoh pendidikan dari negara lain, hingga pengimplementasianya dalam pembentukan karakter pelajar.

Namun sepertinya, ada celah yang sedikit dilewatkan walau jelas-jelas tertera dalam pesan Ki Hadjar di atas, yakni pertalian antara kebahagiaan sebagai tujuan pendidikan itu sendiri.

Pendidikan memang seyogianya berlandaskan pada kebahagiaan dan berorientasi pada pembentukan karakter yang membahagiakan, bukan sebaliknya. Ki Hadjar pun sudah lama menyadari itu.

Menurutnya, seperti dijabarkan oleh Samho (2013), sistem pendidikan penjajah Belanda yang bersifat perintah, hukuman, serta ketertiban (regering, tucht, orde) cenderung merugikan mentalitas, prinsip, dan identitas pelajar pribumi. Pasalnya, metode tersebut justru menjurus pada upaya pembentukan karakter rakyat jajahan yang menguntungkan si pihak penjajah sekaligus membuat mereka lebih haus akan jabatan dan kekayaan.

Sayangnya, metode pedagogi bernuansa kolonial itu masih belum sepenuhya terkelupas dalam praksisnya di Tanah Air. Sementara Finlandia – yang sejak era milenium dipandang sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik sedunia – sudah menyadari manfaat dari pengkondisian aktivitas belajar-mengajar yang fun. Mereka sendiri telah menerapkan kurikulum berbasis kebahagiaan di sekolah-sekolah komprehensifnya (sekolah tingkat menengah yang mengombinasikan kurikulum sekolah umum, sekolah teknik, dan sekolah modern) sejak tahun 2016 (Walker, 2017).

Samho (2013), yang beramunisikan visi pendidikan ideal ala Ki Hadjar Dewantara, berargumen bahwa momentum kebangkitan intelegensia bangsa Indonesia perlu digarap secara serius. Langkah terpentingnya berupa penataan pendidikan berbekal landasan yang sudah dicanangkan Ki Hadjar sedemikian apiknya sembari tak menanggalkan elemen kebahagiaan yang juga dipesankan oleh pendiri Taman Siswa tersebut.

Mungkin, fenomena kekerasan dalam pendidikan Indonesia seperti tawuran antarpelajar dan penganiayaan guru terhadap murid (yang bahkan belakangan juga marak terjadi sebaliknya) bisa ditekan dengan proses pendidikan karakter yang mengadopsi humor.

Sebab, dari kajian yang sudah dilaksanakan, humor di kelas mempunyai banyak dampak positif. Saat dipraktikkan dengan wajar di dalam kelas, humor dapat memfokuskan, memicu ketertarikan dan kreativitas, hingga meredam stres para pelajar.

Di sisi pendidik, humor pun berguna untuk membangun koneksi positif dengan murid (Lowman, 1995; Booth-Butterfield, Booth-Butterfield, & Wanzer, 2007). Bahkan guru dengan selera humor yang baik juga cenderung lebih populer dan dihormati di kalangan muridnya (Martin, 2007).

Pentingnya sisipan humor dalam pendidikan barangkali masih membingungkan sebagian orang. Namun, pemikiran Arthur Koestler (1905-1983) terkait kedudukan humor dalam pendidikan lebih kurang bisa memperjelasnya. Koestler berpendapat bahwa humor berada pada level yang sama dengan ilmu pengetahuan (discovery) dan seni (art) (Koestler, 1964). Dari sudut pandang penulis, korelasi antara ketiganya bisa mengutuhkan manusia menurut khitah Ki Hadjar Dewantara.

Dengan ilmu pengetahuan, seseorang menjadi mengerti. Seni membuat seseorang mengenal rasa takjub. Sedangkan selera humor menyempurnakan proses intelektual manusia dengan kemampuan mencerna realita lewat kejenakaan subjektif. Dalam tinjauan lebih jauh, humor pun bisa menjadi impuls perubahan sosial karena keleluasaannya mewadahi dialog ide-ide baru (Quirk, 2015).

Lebih kurang, inilah unsur-unsur yang juga melincinkan internalisasi konsep Tri-Nga dari Ki Hadjar yang terkenal itu dalam diri pelajar, yang terdiri dari Ngerti (kognitif), Ngrasa (afektif), dan Nglakoni (psikomotorik).

Dalam rangka menjawab tantangan abad 21 saat ini, pendidikan adalah ujung tombaknya. Menurut Abidin (2015, dalam Susilo 2018, h.38), pendidikan dibutuhkan untuk membentuk insan yang “kritis dalam intelektual, kreatif dalam pemikiran, etis dalam pergaulan, dan berkarakter dalam berkehidupan.” Untuk itulah, penyadaran kembali dan perwujudan akan vitalnya unsur kebahagiaan dalam pendidikan seperti tertuang dalam orakel Ki Hadjar pun menjadi tugas kita bersama.

Mari bersama-sama tenggelam dalam proses belajar-mengajar yang membahagiakan. Maksimal, kita bisa merealisasikan visi Ki Hadjar Dewantara. Atau minimalnya, tak ada lagi pelajar yang malas bersekolah.

Referensi:

Booth-Butterfield, M., Booth-Butterfield, S., & Wanzer, M. (2007). Funny Students Cope Better: Patterns of Humor Enactment and Coping Effectiveness. Communication Quarterly, 55(3), 299-315. doi: 10.1080/01463370701490232.

Carlin, G. (2001). Napalm & Silly Putty. [Digital Edition].

Dewantara, K.H. (2004). Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan (edisi ketiga). Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.

Koestler, A. (1964). The Act of Creation (edisi Arkana). London: Penguin Group.

Lowman, J. (1995) Mastering the Techniques of Teaching (edisi kedua)San Francisco: Jossey-Bass.

Martin, R. (2007). The Psychology of Humor: An Integrative Approach. Burlington, San Diego, London: Elsevier Academic Press.

Marzuki, & Khanifah, S. (2016). Pendidikan Ideal Perspektif Tagore dan Ki Hajar Dewantara dalam Pembentukan Karakter Peserta Didik. Jurnal Civics, 13(2), h.172-181. doi: 10.21831/civics.v13i2.12740.

Samho, B. (2013). Visi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara: Tantangan dan Relevansi. Sleman: Penerbit Kanisius.

Susilo, S. V. (2018). Refleksi Nilai-Nilai Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam Upaya Upaya Mengembalikan Jati Diri Pendidikan Indonesia. Jurnal Cakrawala Pendas, 4(1), h.33-41. Diakses dari https://jurnal.unma.ac.id/index.php/CP/article/view/710/715.

Quirk, S. (2015). Why Stand-up Matters: How Comedians Manipulate and Influence. London, New Delhi, New York, Sydney: Bloomsbury.

Walker, T. (2017). Teach Like Finland (Mengajar Seperti Finlandia): 33 Strategi Sederhana untuk Kelas yang Menyenangkan. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Peneliti Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3) | www.ihik3.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…