Minggu, Maret 7, 2021

Mana Mengerikan, Wabah Taun atau Virus Corona?

Perang Narasi Politik dan Pilpres 2019

Jika kita membahas mengenai Pemilihan Presiden tahun 2019 yang akan datang, banyak sekali perspektif yang dapat kita sampaikan dan diskusikan. Pilpres tahun depan menjadi...

Panggung Kaum Intelektual, Roboh?

Sejak berdirinya NKRI tercinta ini, kaum intelektual mendapatkan posisi yang sangat besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tulisan-tulisannya diterbitkan oleh surat kabar, yang tidak...

Dibalik Netralitas Mahfud MD

Negarawan merupakan sebutan yang pantas bagi siapa-siapa yang memberi sumbangsih besar bagi negaranya, ahli dalam kenegaraan, dan atau berkontribusi dalam dinamika pembangunan negara dari...

Dilema Kasus Pelecehan Seksual yang Semakin Marak Terjadi

Dengan kondisi yang demikian, saat ini, terjadi banyak kasus pelecehan dan kekerasan seksual yang dapat merugikan pihak-pihak tertentu, terutama perempuan. Melalui data dari CATAHU...
Pone Kamaruddin
Penulis amatir. Bisa dihubungin lewat wa 085290455150

Pada akhir tahun 18 Hijirah atau 639 Masehi. Pada masa kepemimpinan amirul mukminin Umar Bin Khattab. Sebuah negeri yang berada di bawah kekuasannya mengalami wabah taun. Dimana wabah tersebut menewaskan kurang lebih dua puluh ribu jiwa.

Masa inkubasi wabah tersebut relatif sangat singkat, dimana saat korban terserang wabah di pagi hari maka akan meninggal di malam hari. Begitupun sebaliknya jika korban terserang wabah di malam hari maka dapat dipastikan akan meninggal keesokan harinya. Jika dilihat dari masa inkubasi wabah tersebut, maka virus corona jauh lebih lama dibandingkan dengan wabah taun serta kemungkinan untuk sembuh dari virus corona sangat besar. Lalu jika dibandingkan dengan wabah taun, mana yang lebih mengerikan antara virus corona dengan wabah taun?

Kembali ke wabah taun. Pada saat Amr Bin Ash yang menjadi gubernur dari daerah yang mengalami wabah taun tersebut. Amr Bin Ash langsung mengultimatum untuk dilakukan lock down seperti yang sekarang sedang dilaksanakan diberbagai negara di seluruh dunia untuk mencegah penyebaran virus corona.

Dan hasilnya Amr Bin Ash berhasil menghentikan penyebaran mata rantai wabah taun. Lalu apa kabar dengan Indonesia? Jika wabah taun yang sangat mengerikan ini bisa hilang di muka bumi ini, kenapa tidak dengan virus corona yang levelnya di bawah wabah taun?

Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Terus berusaha dan berdoa setelah itu serahkan semuanya pada Allah. Yakinlah saat kita bersatu melawan virus corona. Menjalankan peraturan pemerintah maka Virus ini akan berlalu. Seperti kata R.A Kartini. Habis gelap terbitlah terang. Setelah hura-hara tentang virus corona ini berlalu maka yakinlah kehidupan lebih baik menanti kita.

Melihat negara lain yang melakukan lock down seperti China khususnya di Wuhan, Vietnam dan beberapa negara lain yang berhasil menyatakan diri bebas dari virus corona tersebut. Indonesia patut untuk mencontohnya. Menjalankan aksi lockdown untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona tersebut.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk bisa lepas dari virus corona. Mulai dari meniadakan UN hingga dengan adanya PSBB. Namun tetap saja Indonesia belum mampu menyatakan diri lepas dari virus corona.

Satu-satunya cara untuk lepas dari virus tersebut dengan cara lockdown. Beberapa yang pro pada pemerintah akan mengatakan bahwa itu sulit untuk dilakukan. Mengingat anggaran yang begitu besar yang harus pemerintah keluarkan. Namun disisi lain jika terus seperti ini maka besar kemungkinan kita akan seperti yang diberitakan selama ini. Harus hidup berdampingan dengan virus corona. Waw.. its amzing. Pasti seperti itu tanggapan orang luar tentang pilihan hidup warga Indonesia ini.

Jika kita semua bersatu melawan virus corona, yakinlah bahwa kita semua pasti bisa lepas dari virus tersebut. dengan cara bantuan sembako serta uang yang telah pemerintah turunkan ke warga bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin dengan program seperti ini:

Minggu pertama diadakan pendataan secara akurat mengenai siapa yang pantas mendapatkan bantuan tersebut. kemudian dimintai persetujuannya. Mungkin saja di mata orang lain mereka berhak menerima bantuan tetapi orangnya sendiri merasa mampu. Seperti yang terjadi saat ini, begitu banyak penerima bantuan mengembalikan bantuan pada pemerintah sebab dianggap salah sasaran.

Pada minggu kedua diturunkan bantuan tersebut secara serentak. Jika bisa pemerintah membentuk kesatuan khusus untuk penyaluran bantuan tersebut agar sampai pada orang yang berhak untuk mendapatkannya.

Pada minggu ke tiga diumumkan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk memanfaatkan sebaik mungkin bantuan tersebut untuk kebutuhan lock down di minggu ke empat.

Pada minggu ke 4 serentak seluruh Indonesia melakukan lock down sampai batas yang pemerintah tentukan. Dengan demikian diharapkan virus corona mampu meninggalkan ibu pertiwi. Harapannya sih seperti itu. Namun kenyataannya kadang berbeda dengan apa yang diharapkan. Beberapa argument lahir dikalangan masyarakat seperti :

Uang segitu mana cukup untuk hidup sebulan dengan keluarga. Emang tidak cukup untuk hidup sebulan dengan keluarga dua orang anak cukup. Tetap bantuan tersebut cukup untuk melaksanakan lockdown, sehingga kita bisa lepas dari virus corona yang menguncang perekonomian negeri ini. Kalau nggak keluar rumah. Kami mau makan apa?

Kalau memaksakan keluar rumah. Dan perekonomian tetap terguncang bukankah hasilnya akan tetap minus? Tetap aja kurang. Bahkan petani menjerit karena pandemi ini harga pangan jatuh drastis. Warung kecil tutup dan berbagai masalah yang sudah diketahui oleh masyarakat luas namun disepelekan.

Indonesia harusnya lebih sabar sedikit. Memanfaatkan bantuan semaksimal mungkin untuk bisa melawan pandemi ini. Setelah Indonesia dinyatakan bersih dari virus corona semua bisa beraktifitas kembali seperti sedia kala. Perekonomian membaik. Dan kita hidup normal seperti sebelum virus corona ini menyerang.

Tetapi kembali lagi pada diri masing-masing. Sekeras apa pun pemerintah berjuang untuk rakyatnya jika rakyat sendiri tidak peduli dengan keselamatannya. Sibuk mementingkan diri sendiri dan lebih nikmat keluyuran ketimbang diam di rumah saja. Tetap virus corona menyebar di negeri tercinta kita ini dan tidak menutup kemungkinan bahwa virus corona ini benar-benar menjadi seleksi alam bagi kita semua.

Pone Kamaruddin
Penulis amatir. Bisa dihubungin lewat wa 085290455150
Berita sebelumnyaBias Tragedi Mei 1998
Berita berikutnyaSudah Tua Masih TK
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.