Banner Uhamka
Jumat, September 25, 2020
Banner Uhamka

Mana Mengerikan, Wabah Taun atau Virus Corona?

RAPBD Tersandera Kepentingan Politik

Pembahasan RAPBD (Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) merupakan sesuatu yang cukup sensitif, terutama saat membahas KUA PPAS (Kebijakan Umum Anggaran Prioritas Plafon Anggaran...

Sebelah Mata Novel, Setelah Dua Tahun

Kamis, 11 April 2019 lalu, adalah bertepatan dengan peringatan dua tahun kasus penyiraman air keras yang dialami oleh salah satu penyidik KPK (Komisi Pemberantasan...

Kekerasan, Dorongan Glorifikasi, dan Perangkap Globalisasi

Aksi radikalisme, kekerasan dan teror yang terkait dengan simbol-simbol agama memunculkan dugaan adanya hubungannya dengan pemahaman keagamaan. Meskipun banyak pakar menyebut, aspek pemahaman keagamaan...

Jalan Panjang Kebenaran dan Rekonsiliasi di Aceh

Tepat tanggal 24 Oktober 2017 yang lalu, Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh berusia satu tahun. Komisi ini dibentuk berdasarkan mandate qanun no 17...
Pone Kamaruddin
Penulis amatir. Bisa dihubungin lewat wa 085290455150

Pada akhir tahun 18 Hijirah atau 639 Masehi. Pada masa kepemimpinan amirul mukminin Umar Bin Khattab. Sebuah negeri yang berada di bawah kekuasannya mengalami wabah taun. Dimana wabah tersebut menewaskan kurang lebih dua puluh ribu jiwa.

Masa inkubasi wabah tersebut relatif sangat singkat, dimana saat korban terserang wabah di pagi hari maka akan meninggal di malam hari. Begitupun sebaliknya jika korban terserang wabah di malam hari maka dapat dipastikan akan meninggal keesokan harinya. Jika dilihat dari masa inkubasi wabah tersebut, maka virus corona jauh lebih lama dibandingkan dengan wabah taun serta kemungkinan untuk sembuh dari virus corona sangat besar. Lalu jika dibandingkan dengan wabah taun, mana yang lebih mengerikan antara virus corona dengan wabah taun?

Kembali ke wabah taun. Pada saat Amr Bin Ash yang menjadi gubernur dari daerah yang mengalami wabah taun tersebut. Amr Bin Ash langsung mengultimatum untuk dilakukan lock down seperti yang sekarang sedang dilaksanakan diberbagai negara di seluruh dunia untuk mencegah penyebaran virus corona.

Dan hasilnya Amr Bin Ash berhasil menghentikan penyebaran mata rantai wabah taun. Lalu apa kabar dengan Indonesia? Jika wabah taun yang sangat mengerikan ini bisa hilang di muka bumi ini, kenapa tidak dengan virus corona yang levelnya di bawah wabah taun?

Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Terus berusaha dan berdoa setelah itu serahkan semuanya pada Allah. Yakinlah saat kita bersatu melawan virus corona. Menjalankan peraturan pemerintah maka Virus ini akan berlalu. Seperti kata R.A Kartini. Habis gelap terbitlah terang. Setelah hura-hara tentang virus corona ini berlalu maka yakinlah kehidupan lebih baik menanti kita.

Melihat negara lain yang melakukan lock down seperti China khususnya di Wuhan, Vietnam dan beberapa negara lain yang berhasil menyatakan diri bebas dari virus corona tersebut. Indonesia patut untuk mencontohnya. Menjalankan aksi lockdown untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona tersebut.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk bisa lepas dari virus corona. Mulai dari meniadakan UN hingga dengan adanya PSBB. Namun tetap saja Indonesia belum mampu menyatakan diri lepas dari virus corona.

Satu-satunya cara untuk lepas dari virus tersebut dengan cara lockdown. Beberapa yang pro pada pemerintah akan mengatakan bahwa itu sulit untuk dilakukan. Mengingat anggaran yang begitu besar yang harus pemerintah keluarkan. Namun disisi lain jika terus seperti ini maka besar kemungkinan kita akan seperti yang diberitakan selama ini. Harus hidup berdampingan dengan virus corona. Waw.. its amzing. Pasti seperti itu tanggapan orang luar tentang pilihan hidup warga Indonesia ini.

Jika kita semua bersatu melawan virus corona, yakinlah bahwa kita semua pasti bisa lepas dari virus tersebut. dengan cara bantuan sembako serta uang yang telah pemerintah turunkan ke warga bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin dengan program seperti ini:

Minggu pertama diadakan pendataan secara akurat mengenai siapa yang pantas mendapatkan bantuan tersebut. kemudian dimintai persetujuannya. Mungkin saja di mata orang lain mereka berhak menerima bantuan tetapi orangnya sendiri merasa mampu. Seperti yang terjadi saat ini, begitu banyak penerima bantuan mengembalikan bantuan pada pemerintah sebab dianggap salah sasaran.

Pada minggu kedua diturunkan bantuan tersebut secara serentak. Jika bisa pemerintah membentuk kesatuan khusus untuk penyaluran bantuan tersebut agar sampai pada orang yang berhak untuk mendapatkannya.

Pada minggu ke tiga diumumkan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk memanfaatkan sebaik mungkin bantuan tersebut untuk kebutuhan lock down di minggu ke empat.

Pada minggu ke 4 serentak seluruh Indonesia melakukan lock down sampai batas yang pemerintah tentukan. Dengan demikian diharapkan virus corona mampu meninggalkan ibu pertiwi. Harapannya sih seperti itu. Namun kenyataannya kadang berbeda dengan apa yang diharapkan. Beberapa argument lahir dikalangan masyarakat seperti :

Uang segitu mana cukup untuk hidup sebulan dengan keluarga. Emang tidak cukup untuk hidup sebulan dengan keluarga dua orang anak cukup. Tetap bantuan tersebut cukup untuk melaksanakan lockdown, sehingga kita bisa lepas dari virus corona yang menguncang perekonomian negeri ini. Kalau nggak keluar rumah. Kami mau makan apa?

Kalau memaksakan keluar rumah. Dan perekonomian tetap terguncang bukankah hasilnya akan tetap minus? Tetap aja kurang. Bahkan petani menjerit karena pandemi ini harga pangan jatuh drastis. Warung kecil tutup dan berbagai masalah yang sudah diketahui oleh masyarakat luas namun disepelekan.

Indonesia harusnya lebih sabar sedikit. Memanfaatkan bantuan semaksimal mungkin untuk bisa melawan pandemi ini. Setelah Indonesia dinyatakan bersih dari virus corona semua bisa beraktifitas kembali seperti sedia kala. Perekonomian membaik. Dan kita hidup normal seperti sebelum virus corona ini menyerang.

Tetapi kembali lagi pada diri masing-masing. Sekeras apa pun pemerintah berjuang untuk rakyatnya jika rakyat sendiri tidak peduli dengan keselamatannya. Sibuk mementingkan diri sendiri dan lebih nikmat keluyuran ketimbang diam di rumah saja. Tetap virus corona menyebar di negeri tercinta kita ini dan tidak menutup kemungkinan bahwa virus corona ini benar-benar menjadi seleksi alam bagi kita semua.

Pone Kamaruddin
Penulis amatir. Bisa dihubungin lewat wa 085290455150
Berita sebelumnyaBias Tragedi Mei 1998
Berita berikutnyaSudah Tua Masih TK
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Erick Ingin Kerja, Mereka Malah Menganggu!

Akhir-akhir ini, ada gerombolan oknum-oknum yang ingin memaksakan kehendak untuk mengisi kursi-kursi komisaris. Ketika keinginan itu tak tercapai, mereka secara sistematis dan masif melakukan...

Menjarah Mahkota Kemuliaan MK

Revisi Undang-Undang Mahkamah Konstitusi yang disahkan pada 1 September lalu menjadi hadiah sekaligus menjadi dilema bagi kesembilan hakim konstitusi di usianya yang ketujuh belas...

Memahami Kembali Pandemi Covid-19

Wabah Covid-19 yang disebabkan virus corona jenis baru telah memasuki bulan ke-6 sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Per tulisan ini...

Pandemi Dapat Membunuh Populis, Tidak Populisme

Demokrasi atau otoriter? Masa awal pandemi diwarnai dengan perdebatan mengenai tipe rezim mana yang paling efektif dalam menghadapi wabah Covid-19. Namun memasuki kuartal ketiga...

Potret Seorang Feodal Tua sebagai Seniman Serba Bisa

Pada zaman dahulu kala, ketika revolusi tidak ada lagi, Goenawan Mohamad pernah mengibaratkan dirinya, dengan heroisme penyair muda, sebagai Malin Kundang. Tapi kini, Malin...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.