Banner Uhamka
Sabtu, September 19, 2020
Banner Uhamka

Malaysia punya Proton, Indonesia Punya Apa?

Peran Aktif Pemuda Zaman Now dalam Membangun Desa

Pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa dalam upaya mendukung implementasi Undang-undang Desa, perlu melibatkan semua unsur kelompok masyarakat desa, salah satunya adalah pemuda/pemudi. Merupakan hak masyarakat...

Dari Etos Kompetitif Menuju Etos Kolaboratif

Agaknya tidak ada teori yang lebih kontroversial dari Teori Evolusi Darwinian. Setelah mengarungi lautan menumpang KMS Beagle dan mengklaim ide ‘evolusi kompetitif’-nya di Galapagos,...

Asimilasi Napi, Kesalahan Terbesar Yasona

Pada Tanggal 1 April 2020 kemarin, Kementerian Hukum dan HAM mengeluarkan Permenkumham No. 10/2020 dan Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI No. M.HH-19 PK.01.04.04...

Pilpres 2019 Usai, Yuk Move On!

Hajatan besar bagi bangsa ini sudah kita lewati bersama, yakni pemilihan presiden (pilpres) 2019. Padahal pada pemilihan umum (pemilu) 2019 ini bukan hanya ajang...
Herlina Butar-Butar
Laboratorium Medis, Manajer di Alkes, Owner Laboratorium, Wartawan, NGO, Mendirikan BUMDES pertambangan (Non-Mercurial Gold Mining Project)

Sekelompok anak muda skeptis mencibir Indonesia yang belum mampu membuat produk motor dan mobil sendiri. Kelompok anak muda skeptis ini mencibir Indonesia punya apa, sambil juga mengingatkan bahwa sampai hari ini, mobil ESEMKA cuma janji.

Malaysia punya Proton, Indonesia punya apa?

Kebijakan memproduksi mobil dan motor buatan di Indonesia bukanlah tanpa kendala. Lika-liku detail pembuatan komponen mobil dan motor, harus berpadu padan dengan kerumitan pembuatan body, akurasi mesin, uji emisi, persiapan suku cadang sebagai jaminan keberlangsungan pasar.

Belum lagi lika-liku perizinan yang menyatakan bahwa, bila produksi kendaraan masih lebih banyak komponen impor, maka pabrikan dianggap tidak lebih hanya perusahaaan perakitan kendaraan semata.

Ada berbagai hal yang patut jadi pemikiran kita.

Berbagai jenis mobil dan motor yang lalu-lalang di jalan-jalan di Indonesia, ada ratusan merk. Mulai dari Honda, Yamaha, Suzuki, Toyota, Mercedes Benz, Peugeot, Ford hingga merk Wuling yang baru muncul di pasaran.

Kita tidak bisa menafikan, Indonesia adalah pasar besar kendaraan bermotor. Kita juga tidak bisa menafikan, industri otomotif Jepang merajai pasar Indonesia. Satu lagi, kita tidak bisa menafikan bahwa ASTRA adalah pemasok lebih dari 50 persen pasar motor dan mobil di Indonesia.

Bayangkan, setiap merk motor dan mobil Honda, Yamaha, Suzuki, Toyota yang rodanya bergelinding di Indonesia merupakan pemasukan besar bagi pundi-pundi uang ASTRA Group.

Baru-baru ini, Jokowi dengan bangganya memamerkan sebuah motor merk Gesits yang diklaim sepeda motor listrik karya anak bangsa. Inovasi Gesits dikembangkan sejak 2015 dan sudah uji coba dari Jakarta ke Bali. Satu-satunya produk impor di Gesits adalah baterai lithium iona. Upaya seorang Jokowi memberikan semangat pada produksi mobil ESEMKA adalah sebuah motivasi bagi anak muda agar berani membuat gagasan untuk memproduksi mobil sendiri.

Pertanyaan yang perlu kita lontarkan:

  1. Apakah bila kita mampu memproduksi mobil dan motor sendiri, maka pasar mobil dan motor Jepang akan terganggu?
  2. Apakah bila pasarnya terganggu, maka Jepang akan diam saja?
  3. Apakah pundi-pundi ASTRA akan terganggu?
  4. Apakah bila pasarnya terganggu, maka ASTRA akan diam saja?

Tapi seorang harus menghadapi kendala, bahwa akan ada upaya Jepang tidak akan diam saja. Jokowi juga harus menghadapi raksasa semacam ASTRA Group tentu akan melakukan segala cara agar Indonesia jangan sampai memproduksi mobil dan motor sendiri.

Dalam dunia dagang, itu sah-sah saja. Tetapi, merupakan hak bangsa ini untuk mampu memproduksi mobil dan motor sendiri. Bahkan bisa dijual juga ke mancanegara, seperti Proton.

Lalu, apakah Jokowi yang akan membuat pabrik mobil dan motor sendiri? Atau Anak-anak Jokowi yang akan membangin pabrik mobil itu?

Tidak, kawan…

Sebagai seorang Presiden, Jokowi tidak mungkin membangun pabrik motor dan mobil sendiri. Anak-anak Jokowi juga tidak mungkin membangun pabrik motor dan mobil sendiri.

Kalo itu terjadi, maka Jokowi menjadi tidak berbeda dengan Presiden sebelumnya, di mana anak Presiden yang boleh membuat pabrik mobil.

Lalu, siapa?

Anak-anak muda yang nyinyir melulu tentu harus mulai berpikir secara rasional, konseptual, bertahap hingga mampu melakukan eksekusi. Bukan melulu berfikir bisa ini, bisa itu, lalu beralasan pemerintah tidak mendukung lalu mulai sibuk mencari-cari kesalahan. Tapi sambil tetap duduk diam dan sibuk dengan hape dan nyinyiran.

Sebenarnya saya sedih jika membaca cibiran anak-anak muda pada negerinya sendiri. Sibuk mengejek, sibuk mengkritik, sibuk cari kesalahan, lalu merasa hebat, tanpa tahu memberi solusi atas negerinya.

Giliran kita mengingatkan untuk mencari solusi, jawabannya adalah, “Itu kan bukan tugas kita! Buat apa ada pemerintah!”. Beginilah mental anak muda yang tidak pernah mau menjadi bagian dari perubahan bangsa. Sibuk nyinyir, lalu minta disuapi. Nanti, setelah tua, sibuk mengeluhkan kemiskinannya. Mental anak muda calon pengemis, benalu di bangsa ini.

Siapapun Presidennya, jika cuma sibuk nyinyir saja, tidak akan mengubah nasibmu. Kritik rasional bukan sambil bermalas-malasan. Negara tidak akan mengubah nasibmu, kecuali kau bangun dari dudukmu, simpan hapemu dan mulai bekerja.

Ayo bangun, lakukan sesuatu buat negaramu! Mengutip kuote milik John Fritzgerald Kennedy:

“Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu!”

Herlina Butar-Butar
Laboratorium Medis, Manajer di Alkes, Owner Laboratorium, Wartawan, NGO, Mendirikan BUMDES pertambangan (Non-Mercurial Gold Mining Project)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Madilog Sekali Lagi

Gerakan modernisasi dan perkembangan teknologi terjadi begitu cepatnya saat ini, memunculkan berbagai dampak, baik positif maupun yang negatif, mulai dari dampak yang terlihat maupun...

Harmonisasi Agama, Negara dan Dakwah (I)

Agama (Islam) mengakui eksistensi ‘kabilah’, kaum, suku dan bangsa untuk saling mengenal dan bekerjasama demi kemanusiaan dan peradaban (surah al-Hujurat 9:13). Islam menekankan pentingnya semangat/cinta...

Solusi Bersama untuk PJJ

Gebrakan dari Mas Manteri Nadiem Makarim di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam memerdekan pendidikan di Indonesia patut diacungkan jempol. Berbagai konsep pendidikan seperti...

Kita Lengah Karena Syariatisasi Ternyata Masih Berjalan

Kebijakan Bupati Gowa yang akan memecat ASN (Aparatus Sipil Negara) yang bekerja di lingkungannya yang buta aksara al-Qur’an membuat kita sadar jika syariatisasi di...

Sepak Bola, Cara Gus Dur Menyederhanakan Politik

Tahun 1998 adalah masa pertama penulis mulai gemar menonton sepak bola. Kala itu, bersamaan dengan momentum Piala Dunia (World Cup) di Prancis. Ketika opening...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.