OUR NETWORK

Malang Diambang Magrib

Tapi, sayang sungguh sayang.

Kokok ayam bersahutan mengantarkan ayam – ayam pejuang nafkah menaiki pohon ataupun masuk ke sangkar. Tampak beberapa ekor berhasil dilahap musang yang tak segan – segan melumat dengan bengis ruas demi ruas tubuh ayam yang lengah.

Demikian gambaran Malang Raya dalam beberapa bulan terakhir ini. “Malang Diambang Maghrib” adalah narasi yang tepat untuk menggambarkan kondisi ini. Ada bayang hitam tak berwujud menjadikan dirinya sebagai tuan bagi pelaku intervensi isi kepala para koruptor.

Tapi, sayang sungguh sayang. Ayam Jago yang pandai melumat habis Padi di Ladang Rakyat teramat Lincah, dengan cekat meloncat ke dahan dan pura -pura terlelap ketika sang musang memberontak dibawah rerimbunan dahan tempat si Jago bertender.

Ternyata musang ini berpura – pura menjelma menjadi kambing agar tidak dapat memanjat pohon dengan alasan dirinya tak berkuku.

Tumbal demi tumbal berjatuhan yang kecil diblender habis -habisan dengan gigi runcing sang Musang sementara yang besar dibiarkan bersantai menikmati aroma anggur impor dan bergudang- gudang padi petani hasil jarahan.

Fonemena Malang Raya dalam lingkaran manipulasi ayam jago yang lincah bermain peran layaknya pemain opera berpengalaman ataupun pemain drama teater senior.

Lantas, apakah sang sang musang sedangkal ini menampar mangsa? Ataukah musang yang nama besar dan aroma tubuhnya tercium di jarak yang jauh ini membiarkan sang Ayam Jago terus bersantai di dahan bak istana itu.

Damanhury Jab S.H, M.H

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…