OUR NETWORK

Makna Spiritual dan Sosial Idhul Adha

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin’ berkata bahwa setan senantiasa membisiki umat muslim, “Untuk apa beribadah kalau tidak ihlas, lebih baik tidak usah beribadah”.

Hari Raya Idul Adha merupakan momentum pengorbanan personal seorang muslim kepada Allah SWT, seperti dicontohkan Nabi Ibrahim AS terhadap putranya Ismail. Allah SWT mengabadikan Idul Adha dalam surat As Shaffat, ayat 102-109.

Dalam surat itu, dikisahkan sejarah qurban yakni ketika Ismail berusia remaja, Ibrahim ayahnya menceritakan kepada Ismail bahwa dia telah mendapatkan perintah dari Allah SWT melalui mimpi untuk menyembelih Ismail. Ibrahim bertanya ke Ismail, “Bagaimana menurutmu, wahai Ismail?”

Ismail menjawab: “Wahai ayah, laksanakan perintah Allah SWT. Saya sabar dan ikhlas atas perintahkan Allah,” ujar Ismail. Ibrahim mendapatkan perintah Allah SWT untuk menyembelih Ismail sebanyak 3 (tiga) kali dalam mimpi. Setelah yakin, Ibrahim dengan ikhlas menyembelih Ismail. Saat penyembelihan Allah SWT mengganti Ismail menjadi domba.

Makna spiritual dari kisah yang tertulis dalam surat As Shaffat itu ialah hari raya Idul Adha merupakan petunjuk dari Allah SWT bagi umat muslim untuk selalu memiliki keteguhan hati dan keyakinan atas kebenaran perintah Allah. Dalam hal ini umat muslim wajib untuk selalu ihklas, taat dan menjaga kesabaran. Allah SWT secara jelas memberi peringatan kepada umat muslim agar selalu sanggup mengorbankan diri, keluarga dan harta benda yang disayanginya karena Allah Ta’ala.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin’ berkata bahwa setan senantiasa membisiki umat muslim, “Untuk apa beribadah kalau tidak ihlas, lebih baik tidak usah beribadah”.

Sedangkan, makna sosial yang terkandung dalam Idul Qurban ialah memperkuat solidaritas dan bersedekah dalam bentuk saling berbagi antarsesama mahluk ciptaan Tuhan, terutama para fakir miskin.

Berharap Pahala

Namun saat ini, sebagian umat muslim cenderung memandang agama hanya sebagai ritual sakral semata. Ibadah qurban hanya didasari oleh keinginan untuk memperoleh pahala, maka efek ibadah qurban ini hanya berdampak kepada kepuasan psikologis seseorang.

Bahkan, patut disayangkan ketika seseorang berqurban, dia masih berpikir bahwa hartanya akan berkurang. Sikap umat muslim seperti itu, mendapat peringatan dari Rasulullah SAW dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah, “Barang siapa yang mempunyai kemampuan tetapi ia tidak berqurban maka janganlah ia mendekati (menghampiri) tempat shalat kami.”

Terkait ketaqwaan dalam berqurban, Allah SWT dalam surat Al Hajj ayat 37, juga menegaskan, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan daripada kamulah yang dapat mencapainya.”

Sakralitas Ibadah

Di sisi berbeda, sosiolog Emile Durkheim menginterpretasikan sakralitas ibadah merupakan kekuatan yang memaksa manusia dalam bertingkah laku serta mengukuhkan nilai-nilai moral kelompok pemeluk agama. Dalam pandangan Durkheim, saya menilai sakralitas ibadah ini mengakibatkan umat muslim tidak lagi memahami makna moral dan sosial dalam melaksanakan pengorbanan di hari raya Idul Adha. Dengan semakin kencangnya arus globalisasi, Idul Adha perlahan tetapi pasti mulai meninggalkan peradaban sosial dan moral.

Manusia acapkali menafsirkan sejarah para nabi dengan format yang lebih personalistik. Seorang psikolog sosial, Roland Barthes memandang bahwa banyak peristiwa spiritual diterjemahkan manusia dalam tataran personal. Akhirnya, manusia menjadi otoritatif dalam menerjemahkan nilai-nilai keagamaan. Sebenarnya, pesan Idul Adha adalah penghormatan dan penghargaan umat muslim tentang pentingnya nyawa manusia. Menurut Imam Syatibi dalam ‘magmum opusnya al Muwafaqot’, satu diantara nilai universal Islam (maqoshid al syari’ah) adalah Islam menjaga hak hidup (hifdzu al nafs). Dengan disyari’atkannya qurban, umat muslim dituntut untuk mempertebal rasa kemanusiaan, peka terhadap masalah sosial, menunjukkan sikap saling menyayangi antarsesama makhluk hidup.

Penyembelihan hewan qurban dalam Idul Adha bukanlah sebuah ritual yang tanpa makna. Idul Adha mengandung nilai sosial dan spiritual yang melingkupi manifestasi taqwa kepada Allah SWT, yaitu menghilangkan sifat hubbud dunya (cinta terhadap dunia), membuang perilaku serakah.

Umat muslim terkesan mulai melupakan makna berqurban. Penyembelihan hewan dilakukan semata-mata hanya untuk mengikuti jejak historis Nabi Ibrahim AS. Dalam merayakan Idul Qurban, umat muslim tidak cukup hanya dengan mempertahankan semangat berqurban, tetapi juga wajib mempertahankan karakter keimanan, ketaqwaan, moral dan solidaritas antarsesama makhluk ciptaan Tuhan yang beraneka ragam. Selamat Hari Raya Idul Adha 1439 H.

Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…