Rabu, Oktober 21, 2020

Makna Hari Ibu dan Belenggu Patriarki

Kerentanan PRT Migran Mendesak Disahkannya RUU P-KS

Budaya Patriarki masih sangat kuat bercokol di kebudayaan masyarakat indonesia. “Jangan sekolah tinggi-tinggi. Ngapain perempuan sekolah kuliah nanti juga ujung-ujungnya menikah ngurus anak!”, itulah...

Partai Oposisi (Masih) Dibutuhkan

Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang bersifat final dan mengikat telah menjadi akhir dari sekelumit perjalanan panjang proses pemilu sebelum akhirnya Komisi Pemilihan Umum (KPU)...

Pengajaran yang Benar Pembentukan Karakter Siswa Secara Holistik

Undang-Undang No 20 tahun 2003 tentang Sisten Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa fungsi pendidikan adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat...

Indonesia Baik-Baik Saja

Siapa bilang ekonomi Indonesia jeblok? Ekonomi Indonesia sepertinya masih baik-baik saja. Survei LSI Denny JA pada 10-19 November 2018 di 32 provinsi membuktikan kita...
Wahyu Hendra
Mahasiswa FKIP-UMM, Ketua Umum IMM Komisariat Raushan Fikr 2019-2020.

Sejarah mencatat bahwa setiap tanggal 22 Desember, Indonesia memperingati hari ibu. Tidak hanya Indonesia, di beberapa Negara juga terdapat hal yang serupa, atau kita kenal sebagai Mother’s Day (Internasional), hanya saja setiap Negara memiliki tanggal dan sejarah yang berbeda dalam momentumnya. Setiap Negara juga mempunyai versinya masing-masing dalam memperingatinya.

Sebut saja Perancis, di Perancis Hari Ibu dirayakan setiap tanggal 26 Mei. Peringatan tersebut untuk menghormati para istri yang ditinggal gugur suaminya dalam Perang Dunia I. Dulu, beberapa walikota di Perancis menganugerahi medali khusus untuk para ibu terpilih. Sedangkan untuk saat ini, Hari Ibu dirayakan dengan memberikan hadiah dan kue berbentuk bunga kepada ibu.

Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya teknologi, peringatan Hari Ibu di Indonesia mengalami penyempitan makna. Hari Ibu di Indonesia diperingati hanya untuk sebatas berterimakasih kepada Ibu yang telah melahirkan, merawat dan membesarkan seseorang. Bentuk terimakasih seorang anak kepada Ibu juga diberikan karena Ibu telah melakukan tugasnya di wilayah domestik dengan baik.

Dalam menelaah makna Hari Ibu di Indonesia, sejarah pergerakan perempuan di Indonesia harus dikaji ulang. Pengetahuan sejarah sangatlah penting untuk memberikan makna pada suatu momentum besar. Selain itu, mengetahui kultur dalam suatu Negara juga dapat sebagai alat untuk menginterpretasikan suatu makna tersebut.

Pentingnya Sejarah Untuk Mencari Makna

Sebelum membahas lebih spesifik tentang lahirnya Hari Ibu di Indonesia, seyogianya kita melihat kilas balik peta pergerakan perempuan di Indonesia. Secara sederhana, pergerakan perempuan di Indonesia dimulai pada masa penjajahan Belanda, penjajahan Jepang dan sampai saat ini. Pembahasan ini akan fokus pada dua periode, yaitu masa penjajahan Belanda dan Jepang. Karena dua periode tersebut akan mengantarkan pada pemahaman tentang sejarah Hari Ibu.

Pada periode penjajahan Belanda gerakan perempuan intens pada perlawanan untuk membebaskan Bangsa Indonesia dari belenggu kolonialisme. Perempuan pada masa itu terlibat secara fisik dalam proses perlawanan. Beberapa tokoh yang sampai saat ini bisa kita jadikan teladan antara lain Cut Nyak Dien, Nyai Ageng Serang, Cut Mutia dan lain-lain.

Pada masa penjajahan jepang, perjuangan gerakan perempuan lebih bersifat penyadaran, hal itu tidak bisa lepas dari ide-ide feminisme yang diadopsi dari barat. Gerakan tersebut menginisiasi adanya egaliter antara laki-laki dan perempuan di ranah publik, peran politik, pendidikan, hukum dan budaya. Pada masa inilah kilas balik perjuangan perempuan perintis kemerdekaan yang juga ada kaitannya dengan sejarah Hari Ibu.

Tonggak sejarah Hari Ibu dimulai dari kongres perempuan pertama yang dilaksanakan pada tanggal 22-25 1928 di Yogyakarta. Kongres tersebut dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan. Isu yang diangkat dalam kongres tersebut lebih bersifat kebangsaan, mulai dari pelibatan perempuan dalam pembangunan bangsa, penolakan terhadap eksploitasi anak dan perempuan dan ihwal kesetaraan gender. Barulah tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu, keputusan tersebut dihasilkan dari kongres perempuan ketiga pada tahun 1938.

Kita semua menyadari bahwa perjuangan perempuan tentu berbeda dari masa pra-kemerdekaan sampai pasca-kemerdekaan. Dari pengalaman sejarah setidaknya kita tau goresan perjuangan lahirnya Hari Ibu memiliki spirit yang bersifat emansipatif. Tapi kini realita berdeda, seorang perempuan khususnya ibu telah terjebak dalam dominasi struktur, dimana seorang perempuan dianggap berhasil jika telah menyelesaikan tugas domestik dengan baik.

Interpretasi Makna Hari Ibu untuk Melepas Belenggu Patriarki

Konsep patriarki berasal dari kata patriarkat, yang artinya struktur yang memberikan peran laki-laki sebagai penguasa tunggal, sentral, dan segala galanya. Sistem patriarki mendominasi kebudayaan masyarakat yang kemudian menyebabkan adanya kesenjangan dan ketidakadilan gender yang mempengaruhi hak-hak perempuan di ranah publik maupun privat.

Laki-laki berperan sebagai kontrol utama di tengah masyarakat, sedangkan perempuan hanya memiliki sedikit pengaruh atau bisa dikatakan tidak memiliki hak pada wilayah wilayah umum dalam masyarakat, baik secara ekonomi, sosial, politik dan budaya.

Posisi perempuan dalam budaya patriarki dapat dibilang dalam posisi yang tersubordinasi. Jelasnya seorang perempuan hanya berhak berkutat di wilayah domestik, yang itu tentu saja merengguk hak-hak perempuan di ranah publik khususnya peran perempuan dalam menentukan nasibnya sendiri. Dalam konteks Hari Ibu, tulisan ini mencoba mengemas makna Hari Ibu sebagai anti-tesis atas budaya patriarki yang menyelimuti bangsa ini.

Jika kini peringatan Hari Ibu dimaknai dalam konteks domestik, dimana seorang ibu dianggap telah berhasil menjadi Ibu karena telah menyelesaikan tugas domestiknya dengan baik. Maka dari itu, mulai dari sekarang logika semacam itu harus dihilangkan dan segera diganti. Melalui fakta sejarah dan sosial tersebut seharusnya menjadi pelajaran yang penting.

Sudah saatnya kita meluruskan makna Hari Ibu yang bersifat patriarkis di bangsa ini. Melalui momentum ini, interpretasi yang harus dibangun tentang makna Hari Ibu adalah interpretasi untuk melepas belenggu patriarki. Makna Hari Ibu harus segera dapat mengakhiri buta gender yang kini telah mengaburkan pandangan tentang kesetaraan dan keadilan. Akhir kata, kita sepakat bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk berekspresi di ranah publik.

 

Wahyu Hendra
Mahasiswa FKIP-UMM, Ketua Umum IMM Komisariat Raushan Fikr 2019-2020.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Flu Indonesia

“Indonesia sedang sakit, tapi cuma flu biasa....” Di pojok gemerlapnya kota metropolitan, jauh dari bising suara knalpot kendaraan, dan bingar-bingar musik dugem, tentu ada masyarakat...

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Jangan Bully Ustazah Nani Handayani

Ya, jangan lagi mem-bully Ustazah Nani Handayani “hanya” karena dia salah menulis ayat Al-Qur’an dan tak fasih membacakannya (dalam pengajian “Syiar Kemuliaan” di MetroTV...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.